Ternyata Aksi itu Ketahuan

1259 Words
Dugaan Erwin dan Gloria benar. Saat paket berisi heroin itu dibuang di tempat tersebut, ternyata ada yang melihat. Tenang saja, karena yang melihat itu adalah... bisa dibilang satu dari sekian penggemarnya Gloria Sincia. Omong-omong, Gloria Sincia, selain bekerja di industri event organizer, dia juga seorang selebgram. Terjunnya dia sebagai seorang selebgram, itu pun tak direncanakan sama sekali. Bermula dari saat ia masih berkuliah di jurusan Komunikasi di sebuah kampus yang ada di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Selama di kampus, ia sempat mengikuti kegiatan kemahasiswaan seperti paduan suara. Sering diundang bernyanyi untuk beberapa acara kampus hingga berlanjut ke... dalam sebuah acara, tiba-tiba saja Gloria terpilih sebagai MC. Keseringan menjadi MC, hingga ditawarkan untuk membintangi iklan. Dari iklan komersial di televisi, berlanjut menjadi co-host sebuah acara olahraga. Lambat laut, Gloria mulai naik daun. Punya penggemar juga. Dari sekian penggemar itulah, ada salah satu yang mengenali wajah Gloria. Laki-laki berkulit gelap itu satu dari sekian puluh ribu pengikut i********: Gloria. Dia penasaran, dan diam-diam memata-matai aktivitas antara Gloria dan Erwin. Bingkisan itu dibongkar. Betapa kaget laki-laki tersebut. Hanya saja, mungkin saking mengidolakan, laki-laki itu mengira Gloria sedang ketiban sial. Oleh lelaki itu, bingkisan itu dibawa ke rumahnya. Di sana, baru dibakar. Bagi lelaki yang cukup sering menjadi penonton bayaran di beberapa acara televisi, melakukan itu demi artis idolanya, itu sudah kebanggaan tersendiri. Namun dunia tidak semudah dan semulus yang dibayangkan oleh lelaki itu. Namanya Indra. Lulusan SMA, kini bekerja serabutan. Kadang jadi penonton bayaran di stasiun TV, kadang juga ngojek dengan menggunakan motor ayahnya, bahkan sempat berjualan kaus band metal di Pasar Tanah Abang. Pernah juga Indra menjadi pesuruh artis. Namun satu hal yang membuat Indra berbeda dari kebanyakan orang. Itu adalah fakta di mana ia mengidolakan Gloria Sincia dengan fanatisme yang luar biasa. Boleh dibilang fanatisme buta. Indra tahu semua hal tentang Gloria. Mulai dari makanan favoritnya, merek sepatu yang sering Gloria endorse, bahkan siapa laki-laki yang pernah dekat dengan Gloria. Indra juga tahu kebiasaan Gloria kalau lagi cemas. Gloria suka menggigit kuku tangannya. Maka ketika malam itu ia melihat sosok Gloria turun dari mobil Daihatsu Xenia bersama seorang pria berkacamata, lalu membuang sesuatu ke dalam tong sampah besar di sebuah bangunan kosong, Indra langsung curiga. Ia mengintai dari kejauhan, tak berani mendekat dulu. Namun setelah mobil itu pergi, Indra terburu-buru mendekat dan membuka tong sampah itu. Matanya terbelalak. Sebuah kotak kecil dibungkus plastik. Ia angkat pelan-pelan, lalu buka perlahan. Saat melihat isi di dalamnya, ternyata isinya bubuk putih dalam plastik-plastik kecil. Indra langsung ingat salah satu episode drama yang ia tonton diam-diam dari ponsel temannya. “Heroin?” gumamnya ketakutan. Namun, entah kenapa, bukan rasa takut yang lebih dulu muncul, melainkan dorongan untuk melindungi idolanya. “Kasian Kak Gloria… Pasti dia dijebak,” katanya pada diri sendiri. Ia pun buru-buru membawa paket itu pulang ke rumah petak kontrakannya. Di sana, dengan jantung berdebar-debar dan keringat dingin membasahi punggung, Indra mengambil korek api dan membakar seluruh isi paket itu di belakang rumah. Api menjilat cepat, meninggalkan bau menyengat dan abu yang mengepul ke langit gelap. Ia tidak sadar bahwa dari seberang jalan, seseorang sedang memperhatikannya dengan seksama. ***** Sementara itu, di rumah keluarga Lukmansyah, suasana mulai mencair. Obrolan makan malam tadi malam mulai memantik percakapan-percakapan kecil antara Erwin, Edwin, dan orang tua mereka. Erwin sendiri sedang menatap layar laptop di kamarnya, mengulang-ulang rekaman CCTV dari mobilnya malam itu. Ia ingin memastikan tidak ada orang mencurigakan yang mengikuti mereka setelah membuang paket tersebut. Gloria datang membawa dua gelas teh hangat. Mereka sudah tinggal seatap dua malam ini, meskipun dalam keadaan darurat dan tak ideal. “Masih cemas?” tanya Gloria, duduk di sampingnya. “Masih. Dunia hukum, Glo, tahu nggak kamu, kayak hutan belantara. Kita nggak pernah tahu binatang buas mana yang lagi ngintai,” jawab Erwin pelan. Gloria mengangguk. “Aku udah bilang berkali-kali, aku siap jalanin ini sama kamu, Win. Asal kamu nggak jalan sendirian terus. Masih ada kamu, Papa sama Mama kamu, Edwin, dan teman-teman kamu lainnya." Erwin menoleh. Menatap mata perempuan yang selama ini mengisi pikirannya lebih dari sekadar kekasih tak resmi. “Aku juga udah janji ke diri sendiri. Kalau nanti badai datang lagi, kamu bakal jalan di belakang aku. Biar aku yang kena duluan.” Gloria tersenyum tipis. “Asal kamu sadar, kadang yang di belakang bisa narik kita keluar dari lumpur juga, Win. Jadi jangan sok kuat sendirian.” Erwin mengangguk pelan. “Makasih banyak, Glo.” ***** Indra bangun dengan suara ketukan keras di pintu rumahnya. Ia terlonjak kaget. Waktu menunjukkan pukul 07.48. Suara ketukan makin keras, disertai teriakan, “Indra! Buka! Kami dari kepolisian!” Wajahnya pucat. Ia tak sempat menyembunyikan sisa plastik yang terbakar. Pintu didobrak. Lima pria berpakaian preman masuk, langsung membekuk Indra. “Saya nggak salah, Pak! Saya cuma mau bantu Kak Gloria!” teriaknya. “Diam! Kamu menyembunyikan barang bukti, dan membakarnya pula! Kamu pikir ini sinetron?!” Indra digelandang dengan tangan diborgol, sementara para tetangga menonton dari kejauhan. ***** Berita tentang Indra tersebar cepat. Bahkan, tak butuh waktu lama sampai seorang wartawan infotainment melempar pertanyaan pada Gloria lewat DM i********:-nya: “Kak Gloria, apakah Anda mengenal seorang pemuda bernama Indra? Gosipnya dia mengaku membakar paket narkoba yang katanya milik Kakak…" Gloria membaca pesan itu dengan tangan gemetar. Ia menoleh ke Erwin. “Kita harus cari anak itu.” Erwin mendesah panjang. “Kalau Indra udah dibawa ke kantor polisi, apalagi dengan tuduhan menghilangkan barang bukti, itu bisa panjang urusannya, Glo.” “Apa yang harus kita lakuin, Win?” “Kita cari tahu dulu, siapa yang tangani kasusnya. Kalau bisa, aku hubungi Jalu. Siapa tahu dia punya kenalan di sana.” Gloria menggigit bibirnya. “Kamu nggak boleh kena juga, Win…” “Terlambat, lah, Glo, kamu ngomong gitu. Aku udah tenggelam di dalam semua ini.” ***** Di Polres Jakarta Timur, Indra duduk menunduk di ruang interogasi. Di depannya, seorang pria berkemeja batik berdiri sambil menyodorkan berkas. Ia tak memperkenalkan diri sebagai penyidik, tapi Indra tahu, pria ini bukan orang sembarangan. “Kamu yakin nggak ada yang nyuruh kamu bakar paket itu?” tanya si pria. “S-saya cuma penggemar Kak Gloria, Pak… saya nggak mau dia kena masalah aja, Pak.” “Lucu banget yah, kamu,” si pria tersenyum tipis. “Sayangnya, dalam hukum, niat baik tanpa prosedur tetap salah. Tapi kamu masih bisa bantu kami.” “Maksudnya, Pak?” “Bilang aja... kamu lihat Gloria dan seorang pria berbadan tinggi membuang paket itu. Terus, kamu rekam dengan dalih pengen tenar. Nanti kami bantu kurangi hukuman kamu. Gimana? Mau nggak?" Reno terdiam. Ia bingung. Sekilas, ia mengingat wajah Gloria yang tersenyum dalam siaran langsung seminggu lalu. “S-saya nggak bisa, Pak. Saya nggak bisa bohongin orang yang saya percayai.” Pria itu diam, lalu tersenyum sinis. “Kamu ini bodoh atau bagaimana? Gloria itu siapanya kamu? Cuma artis idola aja, lagaknya sudah seperti lama mengenal. Oke, kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan.” ***** Erwin menerima telepon dari Jalu. “Bang… kayaknya yang namanya Indra itu, kemungkinan dia dibungkam. Bukan disiksa, tapi dijanjiin sesuatu. Kalau Indra berubah pikiran dan kasih kesaksian palsu, Kak Gloria bisa ditarik lagi ke kasus.” Erwin mengepalkan tangan. “Mereka main kotor berarti. Oke, aku bakal siapin langkah hukum buat menangani permainan gila ini. Kalau perlu, kita lempar ini ke media. Biar semua tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Gloria menggenggam tangan Erwin erat-erat. Kali ini, bukan karena takut, tapi karena percaya. Bahwa dalam gelapnya dunia hukum dan konspirasi, ada cahaya kecil yang menyala. Meskipun hanya berdua, mereka siap menyalakan nyala itu, meski harus melawan badai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD