Pukul 08.23.
Keluarga Lukmansyah sedang makan malam. Selama sekian menit, hanya makan. Tanpa ada satu pun yang bercerita. Sampai akhirnya...
Erwin membuka obrolan, "Pa..."
Pak Abner memelototi Erwin.
"Jangan galak-galak dong, Pa. Aku cuma mau kasih tahu."
"Iya, Wien Senior, Papa tahu. Udah sejak lama, Papa tahu ada yang nggak beres sama Pak Martin itu."
"Bukan cuma itu, Pa. Apa sebaiknya Papa tutup toko bangunan itu? Aku sama Edwin udah cukup mapan. Ditambah lagi, kesehatan Papa sewaktu-waktu bisa memburuk. Mama bilang, asam lambung sama asam urat Papa kumat lagi."
"Erwin bener, Pa..." sela Bu Liana
"Entahlah, Wien Senior. Eh, Wien Junior, apa kamu nggak ada niat nerusin usaha toko bangunan ini? Sayang, Wien, kalau ditutup."
"G-gimana, yah, Pa? Apa nggak sebaiknya dihibahkan ke saudara yang butuh sesuatu buat jadi pengusaha?"
“Saudara yang mana maksudmu?” tanya Pak Abner sambil mengerutkan alis.
Erwin dan Edwin saling pandang. Bu Liana menahan napas.
“Misalnya... Tanto itu. Atau ke Om Harlan. Mereka kan masih suka ngeluh soal kondisi keuangan. Mungkin kalau dikasih kepercayaan kelola toko, mereka bisa bangkit,” ujar Edwin perlahan.
Pak Abner mendengus. “Om Harlan? Yang waktu itu minjam uang buat buka warnet tapi malah habis buat judi bola? Atau si Tanto yang udah dua kali bikin kolaps gara-gara sok-sokan bikin toko servis komputer?"
Sunyi sejenak. Hanya terdengar suara sendok yang menyentuh pinggiran piring.
“Papa nggak nyalahin niat kalian, Wien Senior, Wien Junior. Tapi, warisan itu bukan cuma soal uang atau aset. Itu juga soal martabat. Nama besar keluarga Lukmansyah itu dibangun dari bawah. Dari zaman kakek buyut kalian sewaktu masih tinggal di Cikokol dulu. Yang mulai kerja dari toko pakaian kecil. Dulu masih pakai nama Toko Cikokol Berjaya. Masih ingat kalian?"
Erwin tersenyum dan mengangguk pelan. “Iya, toko itu udah jadi legenda keluarga. Tapi kita juga mesti realistis, Pa. Toko bangunan kita sekarang bukan lagi yang paling kuat di kawasan. Udah kalah saing sama toko-toko yang dikelola lewat online. Kita bukan lagi pusat material satu-satunya di seantero Kebon Jeruk.”
Edwin menambahkan, “Belum lagi tekanan dari distributor besar. Harga, pengiriman, dan sistem digital mereka jauh di atas kita. Paling tinggal lima tahun lagi, semua toko fisik bakal kalah kecuali yang hybrid. Tapi kita nggak punya waktu buat bangun sistem kayak gitu.”
Pak Abner terdiam. Sejenak ia menatap sambal tauco. Lalu menatap Erwin dan Edwin satu per satu.
“Apa kalian mau bilang… sebaiknya toko itu dijual?”
“Bukan dijual. Diakhiri dengan terhormat. Supaya nggak bikin Papa tambah stres. Supaya kita bisa lanjut hidup, bukan terus maksain sesuatu sampai terseret ke arah lingkaran setan, Pa,” ucap Erwin mantap.
“Mungkin bisa dialihfungsikan jadi hal lain,” sambung Edwin. “Coworking space. Mini warehouse. Studio arsitektur. Apa aja. Tapi bukan toko bangunan lagi.”
Pak Abner menghela napas panjang.
“Waktu Papa seusia kalian, Papa nggak pernah bayangin anak-anak Papa ngomong begini. Tapi mungkin kalian benar. Papa juga lelah sebetulnya. Bukan cuma badan Papa, tapi pikiran ini pulak.”
Bu Liana tersenyum tipis, lalu memegang tangan suaminya. “Yang penting sekarang, kita masih bareng-bareng. Anak-anak kita nggak jadi orang jahat, nggak lupa keluarga, dan mereka sayang sama kita, Pa.”
Erwin berdiri dan meraih gelas. “Aku minum teh dulu. Kepala agak berat…”
Saat ia melangkah ke dapur, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Erwin Lukmansyah. Kami sudah tahu kamu buang barang itu. Kamu kira urusan selesai? Belum, b******k. Jangan sok jadi pahlawan. Ini bukan film James Bond, ini dunia nyata, Win."
Erwin menelan ludah. Lalu membalas singkat.
“Siapa lo?”
Tak ada balasan.
Ia kembali ke meja makan. Duduk. Wajahnya tenang, tapi hatinya waspada.
“Koh, elo kenapa?” tanya Edwin yang memperhatikan raut wajah abangnya.
“Nggak, cuma mikir soal pekerjaan. Kasus Jalu belum kelar sepenuhnya.”
Pak Abner menatapnya dalam. “Jaga dirimu, Win. Kadang dunia ini lebih gelap dari yang kita kira.”
“Makanya aku butuh orang-orang seperti kalian, Pa, Ma, Wien Junior. Yang tetap bisa jaga cahaya.”
Sunyi itu berubah menjadi tenang. Sejenak saja, mereka seperti keluarga normal. Hanya saja, di dalam benak Erwin, ia tahu, masa tenang seperti ini takkan lama.
*****
Sementara itu, jauh di sebuah ruko yang digunakan sebagai gudang di bilangan Jakarta Timur, lima pria berbadan kekar berkumpul. Salah satu dari mereka, memakai kaos dalam putih yang sudah agak menguning, membuka laptop.
“Dia udah buang paketnya,” ujar pria itu. “Tapi rekamannya ada di tangan kita.”
Seorang lagi, bertato di lehernya, menyeringai. “Gadis itu cakep juga. Kalau udah ketangkep, kita paksa aja dia ngomong. Atau…”
“Jangan gila,” potong pria tertua di antara mereka. “Kita kerja buat Pak Martin, bukan buat nafsu pribadi. Kita main bersih. Kalau si pengacara itu terlalu pintar, kita tekan dari luar. Mulai dari keluarga, baru kantor hukumnya.”
Terdengar suara motor berhenti di luar. Seseorang masuk tergesa-gesa.
“Bos, barusan ada tamu dari Batam. Mereka bilang, Koh Yudi kirim orang buat ikut ngawasin. Katanya, kasus ini terlalu sensitif buat dibiarin bocor ke media.”
Kelima pria itu saling pandang.
“Kalau Koh Yudi turun tangan sendiri… artinya…”
“…artinya ini udah bukan sekadar soal heroin atau segala t***k bengek per-obat-an itu."
Kembali hening. Tak ada yang bicara. Di layar laptop, terlihat wajah Erwin yang sempat terekam dari kamera tersembunyi di salah satu tiang jalan.
“Erwin Sanputra Lukmansyah,” ucap pria bertato. “Ternyata kamu lebih keras kepala dari yang kita kira.”
*****
Malam itu, sebelum tidur, Erwin menyalakan lampu kecil di kamarnya. Ia membuka buku catatan kulit tua. Buku itu dulu diberikan oleh Om Tasman. Di dalamnya, ada kutipan yang selalu jadi pedomannya:
“Bila kamu berdiri di tengah badai, dan tak ada satu pun orang memegang payung untukmu, jadilah payung itu sendiri. Mungkin kamu basah, mungkin kamu lelah. Tapi seseorang di belakangmu akan tetap kering.”
Ia menutup buku itu. Menatap keluar jendela. Di kejauhan, suara motor meraung di jalan kecil. Lampu-lampu kota masih menyala.
Erwin tahu, perang ini belum usai. Namun dia tidak sendiri. Kini, ia punya Gloria, yang kini sudah berstatus pacarnya. Masih memiliki keluarga juga. Tak lupa, ia masih kebenaran yang tak bisa dibungkam.
“Let’s see,” gumamnya pelan. “Siapa yang akan ketawa paling akhir.”