Malam semakin larut. Jalanan menuju Cimanggis mulai sepi. Beberapa kali Erwin mematikan lampu utama dan hanya mengandalkan lampu kota, agar tak terlalu mencolok. Mobil Honda Jazz berwarna biru metalik milik Gloria meluncur mulus melewati persawahan kecil yang kini mulai digantikan oleh ruko-ruko semi jadi.
“Win, kamu yakin tempat ini aman?”
“Aman. Nggak ada CCTV. Nggak ada warga juga. Cuma beberapa rumah tua kosong. Bahkan sinyal HP suka nggak stabil di daerah sini.”
Mereka tiba di ujung sebuah gang tanah, dan Gloria mematikan mesin mobil atas arahan Erwin. Keduanya turun. Erwin mengangkat bungkusan hitam itu, lalu mengajak Gloria masuk ke jalan setapak yang mengarah ke semacam jurang kecil. Suara jangkrik dan gesekan pohon di malam hari menambah suasana mencekam.
“Glo, kamu tunggu di sini. Aku turun sebentar. Jangan jauh-jauh dari mobil.”
“Win…”
“Please, percaya sama aku,” Erwin menatapnya lembut. “Kalau nanti ada apa-apa, kamu langsung tancap gas balik ke apartemen. Jangan nunggu-nunggu aku.”
“Jangan ngomong gitu,” bisik Gloria. “Aku nggak bakal tinggalin kamu.”
Erwin hanya tersenyum dan turun membawa paket itu. Butuh waktu sekitar lima menit sebelum akhirnya ia kembali naik ke atas, tangan dan kakinya kotor oleh lumpur. “Sudah,” katanya sambil menghela napas.
“Pastiin kita nggak pernah nyebut-nyebut soal barang itu lagi. Nggak ke siapa pun. Bahkan kalau kita berdua ribut dan pengen saling balas dendam. Paham, yah?!”
Gloria mengangguk.
Mereka masuk kembali ke mobil. Namun sebelum sempat menyalakan mesin, Gloria menyandarkan kepalanya ke pundak Erwin.
“Aku takut besok, Win. Takut kamu kenapa-kenapa.”
“Aku juga. Tapi bukan takut buat aku sendiri. Aku takut kalau nanti kamu tinggal kenangan dan aku nggak bisa apa-apa.”
Gloria mendesah pelan. “Kita terlalu banyak hidup dalam bayang-bayang kayaknya. Tapi aku seneng denger pengakuan kamu tadi itu."
Erwin tersenyum kecut. “Itu nanti aja diomongin. Tapi mungkin sekarang kita bisa mulai nyalain lampu.”
*****
Sesampainya di apartemen, jam sudah menunjukkan pukul 03.45. Jakarta masih tenang. Jalanan mulai diisi kendaraan pengantar sayur dan koran. Erwin menemani Gloria sampai ke depan unitnya, lalu berpamitan.
“Besok aku harus ke kantor KPK,” katanya. “Aku harus kasih tahu Pak Ignatius Muchtar soal ini. Biar dia yang atur jaringan penyelidikan lebih besar.”
“Kamu yakin mereka bisa dipercaya?”
“Aku yakin Pak Ignatius bisa. Dia satu-satunya orang yang dulu nolong Om Tasman waktu hampir dijebak. Aku percaya sama dia.”
“Kalau kamu kenapa-kenapa?”
Erwin tertawa pelan. “Aku bakal baik-baik saja. Karena sekarang aku tahu ada seseorang yang nunggu aku pulang.”
Gloria mengangguk. “Aku bakal terus doain kamu. Teruslah hidup, Win, meski sebagian orang anggap kamu nggak berguna. Jangan pernah mati sia-sia.”
Erwin berjalan pergi, tapi sebelum menghilang di balik lift, ia berbalik. “Dan kamu, Glo…”
“Apa lagi?"
“Mulai malam ini, aku sama kamu bukan hubungan tanpa status lagi.”
Wajah Gloria memerah. “Maksud kamu?”
" Aku pengen kamu jadi pacarku. Dan semoga suatu hari nanti, kamu juga jadi istri aku.”
Gloria tertawa sambil menangis. “Dasar kamu, Win… bisa-bisa aja romantis di tengah situasi begini…”
Erwin melenguh saat Gloria mencubit lengannya.
*****
Malam itu, meski awan tebal masih menggantung di langit Jakarta, satu cahaya kecil mulai menyala dari hati dua orang yang memilih berani daripada terus bersembunyi.
Untuk Erwin Sanputra Lukmansyah, jalan panjang melawan kegelapan baru saja dimulai. Setidaknya, kali ini ia tak melangkah sendirian.
Ia senang bisa menyelamatkan perempuan yang dia cintai dari jeratan hukum yang akan menimpa Gloria. Hanya saja Erwin takut jikalau ternyata ada... yah, boleh dibilang mata-mata. Berharap tidak ada seseorang yang diam-diam merekam aksinya bersama Gloria tadi.
Pikiran itu terus membayang di benak Erwin saat ia menyetir kembali ke rumahnya. Jalanan Jakarta menjelang subuh perlahan mulai menggeliat. Lampu-lampu jalan menyoroti wajahnya yang cemas, penuh pertimbangan. Sebagai pengacara, ia tahu persis. Sekali saja ada bukti visual—entah rekaman, foto, maupun suara—yang memperlihatkan aksi mereka tadi malam, maka semuanya bisa berubah dalam sekejap.
Bukan hanya Gloria yang terancam. Dirinya juga. Bahkan keselamatan seluruh keluarga Lukmansyah akan menjadi taruhannya.
Erwin menginjak pedal gas sedikit lebih dalam. Matanya sesekali melirik kaca spion, memastikan tak ada kendaraan yang mencurigakan mengikutinya. Tiba-tiba, sebuah kenangan muncul—tentang bagaimana Om Tasman dulu pernah berkata:
“Di dunia ini, ada dua jenis mata-mata: yang dibayar dan yang merasa punya misi. Yang pertama bisa kamu beli. Yang kedua bisa menghancurkan hidupmu.”
Erwin menggertakkan giginya. Ia tidak bisa menghapus kemungkinan bahwa sejak awal, sejak Jalu ditangkap, semuanya sudah dipantau. Bahkan, mungkin saat ia datang ke Polsek membawa surat kuasa itu, langkah-langkahnya sudah dihitung oleh pihak-pihak yang ingin menjebaknya.
Sesampainya di rumah, langit mulai berwarna jingga. Burung-burung terdengar berkicau, dan aroma roti panggang dari rumah tetangga mulai tercium. Akan tetapi, semua itu tak membuat hati Erwin tenang.
Ia masuk ke kamar dengan langkah berat, lalu menghidupkan laptop. Tangannya langsung mengetik satu nama di perambam: CV Anugerah Prima. Kali ini ia tak hanya mencari alamat atau nama pemilik, tapi juga metadata yang bisa dikaitkan dengan aktivitas ilegal.
Namun pencariannya terhenti ketika tiba-tiba notifikasi surat elektronik masuk. Dari nama pengirimnya, hatinya langsung mencelos.
Welly_Ferdy@rocketmail.com
Subjek: “Kamu ternyata hobi main-main sama api, Erwin Sanputra.”
Tangannya gemetar ketika membuka isi surel itu. Hanya satu kalimat yang tertulis:
“I kan pernah bilang, jangan pernah ikut campur urusan orang dewasa. You kira you pintar? Sok jadi pahlawan buat selamatin gadis l***e itu, yah? Tunggu aja tanggal mainnya, Erwin."
Erwin menutup laptop-nya pelan, lalu menatap ke arah jendela. Langit Jakarta pagi ini tampak cerah. Akan tetapi, di balik cahaya mentari itu, ia tahu bahwa badai sesungguhnya baru akan datang
Kalimat itu—“Tunggu aja tanggal mainnya, Erwin.”—terus terngiang di benaknya. Nada ancaman yang begitu familiar. Dingin. Mengandung dendam.
Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke jendela. Pandangannya menembus jauh ke jalanan kompleks perumahan yang mulai ramai oleh suara motor ojek, langkah kaki anak-anak sekolah, dan panggilan ibu-ibu penjual sayur. Dunia tetap berputar, seolah tidak ada ancaman apa pun.
Erwin tahu bahwa musuhnya kali ini bukan main-main. Di tengah kegelisahannya, teleponnya berdering. Nama Gloria muncul di layar.
“Halo, Glo,” ucap Erwin, mencoba terdengar tenang.
“Kamu udah baca ini dari si b******n itu?” suara Gloria terdengar panik.
“Iya, aku udah baca. Gak usah panik. Kita udah tahu mereka bakal melakukan ini.”
“Erwin... aku takut. Jangan-jangan mereka tahu di mana aku tinggal. Jangan-jangan mereka—”
“Glo,” potong Erwin dengan suara lembut. “Tenang. Selama kamu nggak keluar rumah dulu, kamu aman. Aku akan urus ini. Mulai sekarang, kamu matikan dulu lokasi di semua aplikasi. Jangan hubungi siapa-siapa yang nggak kamu percaya. Aku yang akan cari tahu siapa sebenarnya Ferdi Welly dan koneksinya ke semua ini.”
Di seberang sana, Gloria terdiam. Lalu terdengar helaan napas. “Erwin… kamu yakin ini bukan salah kita? Kita kan udah kelewat ikut campur."
“Kamu tahu jawabannya, Glo. Kalau kita nggak ikut campur, Jalu bisa di penjara sekarang. Kamu sendiri bisa jadi target jebakan narkoba.”
Hening kembali.
Erwin melanjutkan, “Aku tahu ini berbahaya. Tapi kamu pernah bilang, kamu lebih suka disakiti karena membela yang benar daripada hidup nyaman dalam kepalsuan.”
Gloria menghela napas lagi. “Kamu masih ingat aja, Win..."
“Dan, pernah kamu bilang itu waktu kita nonton film dokumenter di Erasmus Huis. Soal pengacara HAM yang diculik, tapi tetap memilih untuk memperjuangkan kebenaran sampai detik terakhir.”
“Gila... kamu ingat detailnya banget.”
Erwin tersenyum kecil, meski bibirnya terasa berat. “Karena kamu yang ngomong. Dan sekarang, itu bukan lagi dokumenter, Glo. Ini hidup kita. Dan aku gak akan mundur.”
“Oke, oke, makasih banyak udah ngilangin sebagian kecemasan aku. Tapi, bisa nggak kamu janji buat lindungin aku?"
“Aku janji bakal lindungin kamu, dan semua orang yang aku cintai.”