Masih di dalam kamar Erwin.
Sekonyong-konyong ia teringat percakapannya dengan Jalu. Itu tentang pengiriman paket yang ternyata heroin, tentang razia tidak biasa, dan tentang utusan misterius dari Pak Laurentius. Semua mulai menyambung seperti kepingan puzzle yang terserak.
Tiba-tiba, notifikasi muncul. Email baru. Pengirimnya tidak dikenal: panggil saja ombob@ymail.com. Subjeknya singkat: “Untukmu, Erwin.”
Dengan hati-hati, ia membuka email itu. Isinya hanya satu kalimat dan satu lampiran.
“Jika kamu ingin tahu siapa sebenarnya Ferdi Welly, tonton ini. Tapi pastikan kamu sendirian.”
Lampiran video berdurasi 2 menit itu ia buka perlahan. Di layar, tampak suasana restoran mewah. Seorang pria berkemeja putih duduk di meja bersama seorang wanita berpakaian resmi. Kamera tampaknya tersembunyi, mengambil sudut agak tinggi. Yang pria, sudah pasti Ferdi Welly. Akhir-akhir ini, Erwin sering bertemu dengan Ferdi Welly.
Suara mereka samar, tapi cukup jelas untuk ditangkap.
“...jadi barang dari Ambon sudah mendarat di Surabaya. Tinggal atur orang dalam biar lolos bea cukai. Sisanya, tinggal pengemasan. Pakai nama kosmetik lokal. Tahu kan caranya?
"Jelas, Koh Ferdi,” jawab si wanita. “Saya sudah biasa atur itu.”
Lalu video berakhir. Erwin membekap mulutnya sendiri. Ini adalah bukti keras. Lebih dari cukup untuk membuat Ferdi Welly masuk dalam radar BNN, bahkan mungkin Interpol, jika benar skala perdagangannya lintas negara.
Namun ini juga berarti bahwa nyawanya dalam bahaya. Nyawa orang-orang terdekatnya juga. Termasuk Gloria Sincia, HTS-nya Erwin.
Ponsel Erwin kembali bergetar. Kali ini dari Gloria.
“Win... kamu bisa jemput aku nggak? Aku lagi nggak enak hati. Tadi ada orang aneh nanya-nanya soal kamu ke satpam apartemenku.”
Erwin langsung bangkit dari kursinya. “Kirim shareloc ke aku sekarang juga. Jangan keluar dari kamar sampai aku tiba.”
*****
Dalam perjalanan ke apartemen Gloria di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Erwin menyusun rencana dalam kepalanya. Ia harus pastikan Gloria aman lebih dulu. Setelah itu, ia akan kembali menemui Pak Ignatius Muchtar, dan jika perlu, membawa video rekaman itu langsung ke KPK atau BNN. Ia tahu, tak semua lembaga bisa dipercaya. Namun selama memiliki pilihan, ia tak akan diam.
Avanza tua itu berlari kencang di jalanan yang masih belum terlalu padat. Ia sempat melirik ke kaca spion. Sejak keluar dari rumah, ia merasa seperti diikuti. Ia langsung mematikan lampu tengah mobilnya. Itu sebuah trik lama agar tak terlihat jelas dari luar.
Sesampainya di apartemen Gloria, ia langsung menelpon.
“Halo, aku lagi di lobby. Kode kamarmu?”
“Lantai 12, unit F. Tapi tadi lift sebelah kanan nggak berfungsi, jadi kamu pakai yang kiri aja.”
Ia naik ke lantai 12 dengan jantung berdegup. Matanya liar menatap cermin-cermin lift. Sesampainya di koridor, suasana sepi. Hanya suara AC sentral yang menderu.
Erwin mengetuk pintu kamar 12F dengan irama tiga ketukan, jeda, lalu dua ketukan. Kode yang biasa mereka gunakan.
Pintu terbuka. Gloria berdiri dengan rambut diikat dan wajah pucat. “Aku nggak tahu, Win. Aku tiba-tiba takut. Tadi waktu aku buka balkon, ada drone lewat. Diam sebentar, baru pergi. Dan tadi siang, ada kurir datang, ngaku kirim barang. Tapi aku nggak pesan apa-apa. Makanya tadi aku tolak. Eh, orangnya maksa-maksa.”
Erwin masuk dan langsung menutup pintu. “Jangan khawatir. Kayaknya aku tahu siapa mereka. Tapi sekarang kamu harus percaya aku sepenuhnya. Gimana?”
Gloria mengangguk cepat. "Kayaknya aku nggak punya pilihan lain."
Erwin duduk dan membuka laptop-nya. Ia tunjukkan video tadi ke Gloria. Wanita itu terdiam, menutup mulut dengan tangan. “Oh Tuhan... ini... ini narkoba? Kosmetik itu...”
“Iya. Dan kurirnya bisa siapa pun.”
“Jadi kamu... kamu udah sejauh ini terlibat... dan tetap diam?”
“Aku nggak mau diam gitu aja, Glo. Aku bakal melawan. Tapi aku nggak bisa lakuin sendiri. Perlu bantuan orang-orang terdekat aja. Termasuk kamu."
Gloria menatap Erwin. “Kamu yakin nggak mau nyerah gitu? Tapi, aku pasti bakal bantu kamu sebisanya aku, Win."
Erwin menggenggam tangannya. “Aku pernah bilang ke kamu dulu kan, waktu kita pertama kali jalan ke sana. Ingat nggak?”
Gloria tersenyum kecil. “Waktu kamu ngomong soal ‘menyulut lilin daripada mengutuk gelap?”
“Kurang lebih gitu, Glo. Sekarang aku sedang menyulut lilin itu. Dan k-kamu adalah alas tempat lilin itu berdiri.”
Gloria memeluk Erwin. Pelukan yang tidak hanya untuk memberi rasa aman, tapi juga sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang penuh ancaman, cinta dan keberanian masih bisa berdampingan.
"Sekarang mending kita pergi, Glo. Aku bantu kamu buang paket laknat ini sejauh-jauhnya. Aku nggak mungkin biarin cewek yang aku cintai ini terjebak kasus sama polisi-polisi bajingan."
Wajah Gloria sontak memerah. Tak pernah sebelumnya Erwin mengucapkan kata “cewek yang aku cintai” dengan nada sekeras dan sejujur itu. Mereka memang sudah lama saling tahu perasaan masing-masing, tapi belum pernah ada pengakuan sejelas malam ini.
“T-tunggu dulu... a-apa ini artinya, kamu bilang kamu cinta aku, Win?” tanya Gloria pelan, nyaris seperti bisikan. Matanya masih menatap ke d**a Erwin, tak berani menatap langsung wajahnya.
Erwin menarik napas panjang. Ia tahu, sudah terlalu lama menunda, terlalu sering bersembunyi di balik alasan kesibukan, pekerjaan, dan status yang tak jelas.
“Ya, Glo. Aku cinta kamu. Udah lama. Cuma aku takut, bakal jadi beban buat kamu. Hidupku isinya penuh konflik, pengadilan, sama urusan gelap. Aku takut kamu nyesel kalau mutusin buat bareng aku.”
Gloria menggeleng pelan, dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, ia menatap langsung mata Erwin. “Aku nggak pernah nyesel. Yang aku sesalin, cuma satu... kenapa kita berdua terlalu lama pura-pura kuat sama perasaan masing-masing.”
Erwin tersenyum tipis, memeluknya kembali sejenak, sebelum akhirnya mengambil bungkusan mencurigakan yang sempat dikirim kurir siang tadi. Plastik hitam itu tak berat, tapi terasa seperti beban bom waktu. Ia tidak ingin barang ini ditemukan di apartemen Gloria kalau sampai penyusup kembali datang.
“Aku tahu satu tempat. Dulu waktu Om Tasman masih hidup, dia sering ngajak aku ke tempat pembuangan limbah lama di daerah sekitar Cimanggis. Sekarang udah tutup, tapi masih ada jalan kecil buat masuk. Kita buang barang ini di sana, dan jangan pernah lihat ke belakang lagi.”
“Naik mobil kamu?” tanya Gloria.
“Mending kita pakai mobil kamu. Biar lebih aman. Aku yang nyetir. Kamu tetap tenang aja. Nanti aku pulangin kamu ke sini sebelum subuh.”
Gloria hanya mengangguk. Dalam diam, ia tahu bahwa langkah ini tak akan mengakhiri semuanya, tapi setidaknya mereka bisa membersihkan satu titik bahaya dalam hidup mereka malam ini.