Kepada: Erwin Sanputra Isi: Kita punya musuh yang sama. Saatnya kita ngobrol serius. Besok, jam 10 pagi, di Kota Kasablanka. Datang sendiri. Ini bukan tentang siapa menang, tapi siapa yang lebih dulu dilenyapkan. Begitu menerima surat elektronik dari Rivo Nadapdap, secara insting, Erwin langsung mengiyakan. Akan tetapi, beberapa teman dekat memperingatkan Erwin. Termasuk pacar Erwin sendiri. "Hati-hati, Win," ujar Mordekhai dengan mata tegas dan memukul bahu Erwin. "Kita udah sama-sama tahu, Rivo itu siapa. Dia pengacaranya CV itu. CV yang di dalamnya penuh orang-orang problematik. Mafia-mafia kelas kakap." "Thank you, Deka," Ganti Erwin memukul bahu Mordekhai, tersenyum. "Gue baik-baik aja. Gue rasa--" "--soal penglihatan, kan?" terka Mordekhai. "I know, I know. Justru karena Indra

