Yang Pertama

1378 Words
Seketika Dimas dan Laura terpatung. Otak mereka berhenti berpikir. Pandangan mereka kosong. Dan dengan cepat mereka kembali berlari ke tempat mereka berpisah dengan wajah yang panik. "Hei, lo tau sekarang tahun berapa?" tanya Dimas pada Laura. "2022," jawab Laura dengan wajah yang kebingungan. "Arghhh!" teriak keduanya dengan sangat dramatis. "Bentar ini gak masuk diakal. Gue dari tahun 2002 dan sekarang itu tahun 2022, itu berarti sudah dua puluh tahun berlalu?" ucap Dimas mengacak rambutnya. "Kamu ... dari tahun 2002? Aku dari tahun 2012," ucap Laura gugup. "Apa? Jadi lo dari sepuluh tahun yang lalu? Astaga, ini ada apa? Kenapa begini?" ucap Dimas panik. Ia berjalan mondar-mandir dan tetap mencoba untuk berpikir. Sementara Laura tak terlalu menanggapinya dengan serius. "Kok lo diem aja sih? Bantu mikir sih. Apa kek gitu," ucap Dimas membuat Laura mendesah kesal. "Inget gak sih kita kesini naik apa?" tanya Laura dengan tenangnya. "Apa? Gue kesini naik ... kereta." "Aku juga naik kereta. Dan tiba-tiba kita berada di tahun 2022. Wah bukankah itu artinya kita lagi ada di masa depan? Kayak doraemon. Dia bilang dia berasal di abad dua 22. Itu artinya kita beneran ada di tahun 2022." "Kenapa lo seneng banget sih? Ayo kita harus balik naik kereta lagi," ajak Dimas dengan menarik tangan Laura dan membawanya ke jalur mereka turun tadi. "Duh dimana kereta yang tadi?" tanya Dimas pusing sendiri. Sementara Laura terlihat sangat tenang sekali. "Tadi kan!" Laura menarok tangannya dari genggaman Dimas. "Pak petugasnya bilang kalau kereta itu mau diperbaiki. Itu artinya gak akan beroperasi lagi. Percuma mau nunggu di sini juga," jelas Laura dan membuka kamera ponselnya. Ia mengambil selfie dan membuat Dimas melongo melihatnya. "Terus kita harus gimana? Lo ngapain sih?" tanya Dimas kesal melihat tingkah Laura yang seolah tidak perduli. "Kamu gak penasaran?" tanya Laura dan membuat Dimas mengernyitkan dahinya. "Aku sedang mengabadikan moment kita pas lagi di sini. Ini kan tahun 2022. Jadi, aku mau bikin kenangan dan menjadi penemu pertama. Apa ya yang baru dan beberda dari tahun 2012?" jelas Laura lagi. "Ahh lo benar juga. Terus sekarang kita pergi kemana?" tanya Dimas balik dan bersemangat. Ia bahkan menyengir lebar. Membuat Laura ikut tersenyum dan langsung berlari dengan menarik tangan Dimas. Membuat Dimas mau tidak mau mengikuti langkah Laura dengan perasaan yang senang. *** Kini keduanya sedang berada di luar Stasiun. Kaki mereka membawa ke pinggir trotoar dan menatap gedung-gedung yang menjulang sangat tinggi. "Wahh padahal waktu itu gedung tinggi kayak gini jarang banget. Malah kebanyakan pohon," ucap Dimas takjub. "Benarkah? Waktu jaman aku gedung tinggi sudah banyak dan hampir gak kelihatan ada tempat kosong. Kalau sekarang, apa masih ada taman kota yang penuh dengan pohon?" "Mau lihat Monas?" tanya Dimas dan diangguki oleh Laura. Mereka pun hendak berjalan, tapi sebuah kendaran mirip dengan bajai lewat di depan mereka. Mata mereka terbelalak saat kendaran itu lewat. Dimana kendaraan itu terlihat lebih mewah dengan kaca jendela seperti sebuah mobil. Lebih kecil dari bajai dan hanya muat untuk satu orang. Dengan roda satu di depan dan dua dibelakang. Dimas sampai tidak mengedip menatap kendaraan yang baru saja lewat. "Apa itu? Kok mirip banget sama bajai? Tapi lebih bagus dan mewah. Pasti mahal banget," ucap Dimas masih terpana. "Motor listrik," jawab Laura dan mengejutkan Dimas. "Apa di tahun 2012 kendaraan itu sudah ada?" tanya Dimas menoleh dengan takjub. "Enggak. Belum. Tapi aku pernah melihatnya." "Dimana?" "Film Doraemon." Dimas kembali mengernyitkan dahinya tak percaya. "Hei, jangan bilang di tahun 2022 ini apa yang ada di film masa depan itu terwujud semua?" ucap Dimas menyimpulkannya kembali. "Bisa jadi. Apa yang harusnya ada di masa depan?" "Eh ngomong-ngomong, kenalin gue Dimas Anggara. Dari tadi susah banget mau manggil lo," ucap Dimas dengan mengulurkan tangannya. Ia pun tersenyum manis. Laura menatap uluran tangan Dimas dan tersenyum lebar. "Laura Bastian, salam kenal yaa hehhe," ucap Laura dengan riangnya. Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang dan membuat rambut Laura berkibar dengan indahnya. "Cantiknya," lirih Dimas tanpa sadar yang terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari Laura. "Apa?" tanya Laura kaget dan membuat Dimas juga kaget dengan apa yang baru saja ia ucapkan. "Eh itu, salam kenal juga. Tapi, kok nama lo kayak nama bule ya?" "Ah itu ... soalnya papah aku emang orang bule hehhe." "Seriusan? Kok lo gak mirip bule?" "Berisik ah, jadi mau liat Monas gak? Keburu sore nih," ucap Laura jadi kesal. "Iya neng bule, eh lo kelahiran tahun berapa jadinya?" tanya Dimas mulai penasaran. "Kenapa emangnya sih?" "Yah pengen tahu aja, kalau saat ini tuaan siapa?" "Aku lahir tahun 1994 bulan Januari, kecuali kamu lahir di tanggal awal berarti aku lebih tua dari kamu kan?" "Ah gue bulan Juli sih. Tapi tahun 1984. Wah kebetulan kita beda sepuluh tahun yaa." "Enggak, saat ini aku lebih tua dari kamu tau!" "Baiklah, kakak yang cantik jadi kapan kita ke Monasnya?" goda Dimas dan membuat Laura memukul lengan Dimas kesal. "Jangan katakan itu!" "Kenapa? Kan lo emang cantik." "Udah ah, ayo keburu siang ihh," ajak Laura dan berjalan ke arah jembatan penyebrang yang panjang. Dimas kembali takjub dan bingung dengan bentuk jembatan yang sangat berbeda dari pada jamannya. Tak lama mereka pun turun dan memasuki sebuah halte busway. "Wah apaan lagi dah ini?" tanya Dimas semakin heran. "Jaman benar-benar sudah berubah ya," ucapnya lagi dan membuat orang-orang yang sedang mengantri menoleh ke arahnya bingung. "Ngomongnya pelanan dikit napa?" protes Laura yang ikutan malu. "Maaf," bisik Dimas dan masih takjub dengan suasana halte tersebut. "Tapi, Laura dari tadi mereka nempelin apaan ya? Cepet banget itu langsung masuk." "Tara, ini namanya kartu elektronik. Jadi, kayaknya sekarang kalau mau naik busway harus pakai ini deh," ucap Laura dan menunjukkan sebuah kartu berwarna coklat tua itu dan menempelkannya pada mesin dan palang pun terbuka. Laura masuk dengan mudahnya. Dimas kembali melongo melihat keajaiban hal itu. "Hebat kan?" ucap Laura lagi dan kembali menempelkan kartunya untuk membawa Dimas masuk. "Tapi, ngomong-ngomong sekarang biayanya berapa ya?" tanya Laura. "Masih sama Neng, mau kemana?" tanya seorang Ibu-ibu yang memperhatikan sikap keduanya sejak tadi. "Ah itu mau ke Monas. Jadi, masih tiga tibu lima ratus rupah ya Bu?" tanya Laura dengan imutnya. "Iya, emangnya Neng udah jarang pakai ini ya?" "Iya Bu, udah lama banget. Untung masih bisa kepake kartunya hehhe," jelas Laura tersenyum imut. "Astaga, kalian pacaran ya? Mau ngapain ke Monas?" "Eh bukan, dia bukan pacar saya," elak Laura dan Dimas menatapnya dengan heran. "Bener Bu, dia ini kakak saya. Kita kembar tapi tidak serupa. Cuma beda lima enam bulan," celetuk Dimas dan membuat Ibu itu kaget. "Eh maksud saya beda lima menit. Katanya saya kelamaan di dalem perut soalnya ibu kita ngelahirinnya normal," cerita Dimas dan diangguki oleh Ibu itu. "Wah jarang-jarang loh ada yang lahiran normal jaman sekarang, apalagi kalau kembar sekaligus. Banyak yang sesar- eh itu busway yang ke arah Monas!" tiba-tiba Ibu itu menunjuk busway yang baru saja berhenti. Laura dan Dimas terkejut dan terburu untuk menaiki busway itu. "Wah iya, makasih ya Bu," ucap Laura dengan tersenyum dan menarik Dimas untuk segera memasuki busway yang sudah penuh itu. "Astaga, anak perempuan itu mirip banget dengan Laura. Dia terlihat sangat bahagia," gumam itu dan kembali menatap ponselnya. Dimas dan Laura tidak kebagian tempat duduk. Busway saat itu sangat penuh. Membuat Laura hanya bisa bersender pada pintu sebelah kiri yang memang sedang tidak dipakai untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Di depannya Dimas berdiri dengan canggung. Karena posisi mereka yang saling berhadapan. Sementara kedua tangannya berada tepat di atas Laura. Seolah sengaja untuk memblok dorongan agar tidak terkena Laura. "Duh parah gini sih," gumam Dimas yang terus merasa terdesak. "Kamu bisa geser dikit gak? Aku gak nyaman nih berdirinya," tanya Laura pada Dimas dan mencoba untuk bergerak. "Jangan gerak kecuali jidat lo mau gue cium!" ucap Dimas. Belum selesai, tiba-tiba busway mengerem mendadak karena ada kendaraan yang lewat di depannya. Memaksa Laura menarik baju Dimas dan membuat Dimas tak mampu menahan dorongan dari belakangnya. "Cup." Hening . Loading. Sesuatu yang lembut dan lembab menempel di kening Laura. Mata Laura berkedip-kedip tak bisa berpikir. Beberapa detik kemudian, Dimas sedikit demi sedikit menjauhkan wajahnya. Ia kembali membenarkan posisinya. Namun, sesuatu menarik bajunya membuatnya terhenti. Dimas mencoba melirik kebawah dan mendapati sebuah tangan mungil mencengkram kuat bajunya. Dimas menatap wajah Laura yang juga mendongakkan wajahnya menatap wajah Dimas dalam jarak yang sangat dekat. Keduanya pun saling tertegun dengan menatap satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD