Awal Pertemuan

1746 Words
Di sebuah kereta antar kota. Terlihat seorang anak laki-laki memakai seragam sekolah putih abu-abu. Dengan hanya tas gendong yang ia taruh di depan dadanya serta sebuah gitar yang ia tenteng di tangannya. Anak laki-laki itu termenung sedih.Wajah tampannya terlihat murung dan tak b*******h. Di sisi lain, seorang siswi berseragam putih abu-abu juga tertunduk sedih. Entah apa yang keduanya pikirkan. Namun, mereka sama sekali tak mendengar suara pemberitahuan yang sedang berkumandang. ".... selamat menikmati perjalanan anda. Semoga menyenangkan dan sampai jumpa dalam sepuluh hari lagi" Tiba-tiba kereta bergoyang seperti gempa bumi. Lampu-lampu dalam kereta pun berkedip-kedip membuat suasana horor tercipta. Kedua murid itu pun kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi. Tanpa mereka sadari sekeliling mereka menjadi berubah total. Hingga tiba-tiba lampu kereta mati total.  Hening.. Dan lampu pun kembali menyala terang dalam lima detik kemudian. Saat mereka membuka mata, keduanya dikejutkan dengan kehadiran masing-masing. Keduanya pun saling tatap bingung. Hingga orang-orang yang berebutan turun dari kereta menyadarkan keduanya. Mereka menatap para orang-orang yang turun dengan penuh tanda tanya. Entah kenapa mereka sedikit heran dengan orang-orang itu. Sampai akhirnya hanya tinggal mereka berdua saja yang tidak turun. Mereka masih menerka dengan apa yang baru saja terjadi. “Oi! Kalian gak turun? Ini pemberhentian terakhir dan kereta tidak akan beroperasi lagi karena harus melakukan perbaikan,” ucap seorang petugas memberitahukan. “Ah iya, maaf,” ucap wanita bernama Laura itu. Ia pun langsung segera turun. Sementara itu pria bernama Dimas itu dengan cengiran yang lebar melambaikan tangannya pada petugas dan mengekori langkah Laura. “Dah,” ucap Dimas tengil sebelum turun dari kereta. Petugas itu hanya menggelengkan kepalanya. “Hahh ... dasar anak muda jaman sekarang. Kalau pacaran pada gak kenal tempat. Untung aja ketahuan, kalau enggak wahh gawat sudah,” gumam petugas itu dan melanjutkan aktifitasnya. Dimas berjalan menelusuri stasiun kereta. Tanpa menyadari semuanya sudah berubah, hingga sebuah suara mesin minuman disampingnya membuat Dimas tersadar. Matanya terbelalak akan pemandangannya. Stasiun yang awalnya hanya sebuah tempat tua dengan bangunan cat yang luntur dan penuh debu. Kini berubah sangat modern. Banyak layar monitor yang terpasang sebagai pengganti papan pengumuman.Tangga yang berubah menjadi eskalator. Dan udara stasiun itu yang terasa sejuk. Bahkan ada mesin yang mengeluarkan uang. “Astaga, gue ada dimana ini? Gue lagi mimpi apa yah? Kenapa nih stasiun berubah kayak di pilem luar negeri dah,” ucap Dimas heran. Ditengah kebingungannya itu, matanya melihat keberadaan Laura yang sedang menatap layar besar di depannya. “Oi, Mba! Neng! Kak! Dek!” panggil Dimas pada Laura yang hanya terbengong ditempatnya. “Eh lo kenapa?” tanya Dimas dengan menyentuh pundak Laura. “Ini dimana sih?” tanya Laura yang juga sama kebingungannya dengan Dimas. “Lah, gue pikir lo tau. Ternyata sama bingungnya kayak gue?” ucap Dimas menepuk jidatnya. “Terus kita harus gimana sekarang?” tanya Laura dengan polosnya. Dimas sempat tertegun sejenak dengan wajah polos itu. Rambut panjang yang berkibar karena hembusan ac standing floor yang terletak tidak jauh dari keduanya. “Gimana?” tanya Laura lagi dengan suara manja dan imut itu. Dimas memalingkan wajahnya seraya bilang,“ehem, yahh gue juga gak tau,” jawab asal Dimas yang salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya ampun, percuma aja aku tanya kamu,” ucap Laura kesal dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas slempangnya. Sebuah benda kotak dengan banyak tombol dibagian datarnya. “Itu apa? Kok kayak familiar,” gumam Dimas menatap tingkah Laura yang ternyata mengeluarkan ponsel Blackberry berwarna pink. Ia memencet tombol kontak dan menelpon nomor seseorang. “Kok gak bisa nyambung sih? Padahal pulsanya banyak. Sinyalnya ... loh kok gak ada sinyalnya?” ucap Laura menatap ponselnya. Ia bahkan mengangkat tangannya seperti menarik sebuah layangan. Membuat Dimas semakin bingung. “Lo ngapain sih? Itu apa? Jangan bilang itu telepon seluler ya. Soalnya gak semua orang bisa punya itu,” tanya Dimas dengan nada yang mengejek. “Masa kayak gini aja gak tau. Emang kamu gak punya Blackberry? Jaman sekarang ini yang lagi populer tau!” ucap Laura menjelaskan. “Hah? Apa? Lo ngomong apa? Itu kan harganya gila. Jutaan rupiah. Dan gak semua bisa beli benda kayak gitu.” “Emangnya tahun sembilan puluhan apa? Ini tuh benda wajib yang harus kamu punya. Ahh ... kamu pasti cuma punya Esia Hidayah kan?” tebak Laura. “A-apa?” “Gak punya juga?” “Hmm ... bukannya gitu. Gue gak punya duit buat beli yang begituan,” jawab Dimas sedikit malu. “Masa? Padahal yang Esia Hidayah murah kan. Cuma tiga ratus ribu rupiah. Aku juga punya hape itu. Tapi udah gak kepake, soalnya gak penting,” ucap Laura dengan santainya. “Murah? Apanya yang murah. Gila tuh duit segitu bisa lo pake buat televisi tau!” “Hah? Televisi apaan sih. Kamu tuh kayak lahir di jaman dulu tau!” “Emangnya ini jaman apa? Jaman milenial hah? Lihat semua orang megang benda yang ... tipis-“ “Dan datar. Layarnya lebar banget,” ucap Laura menyambungkan ucapan Dimas yang terhenti. “Bentar deh, ini kayaknya gue beneran lagi mimpi. Kayaknya orang-orang gak sekaya itu bisa punya begituan semua.” “Semua bisa beli tau, anak sekolahan aja udah wajib punya ini. Dan harus punya f*******: juga. Kalau enggak bakalan dibilang kampungan dan ketinggalan jaman,” balas Laura menimpali ucapan Dimas. “Enggak, jaman gue semua gak bisa seperti itu. Cuma orang-orang kaya aja yang sanggup beli benda kaya gitu!” “Bisa! Di jaman aku benda ini sudah jadi benda yang paling wajib harus punya. Emangnya gak malu pas lagi jalan-jalan sama temen-teman kamu sendirian yang gak pegang hape!” teriak Laura kesal. “Kenapa malah marah? Gue dan teman-teman gue gak kayak gitu ya. Kita banyak habisin waktu buat bermain bersama. Main musik, main game ngobrol dan lain-lain. Apa gunanya benda itu? Emang bisa bikin lo sama temen-temen lo akrab?” jawab Dimas ikut kesal. Ucapan Dimas membuat Laura terhenti. Entah kenapa ucapannya ada benarnya. “Kenapa diam? Gak bisa bales ucapan gue kan? Bener kan apa yang gue bilang?” tanya Dimas lagi. Laura yang menunduk mengangkat pandangannya dan menatap Dimas dengan bibir yang bergetar. “Meskipun itu benar, meskipun hape gak bisa bikin aku dan teman-temanku akrab, setidaknya aku tidak akan ditinggal dan diakui kehadirannya. Mereka gak akan mengucilkan aku karena aku juga sama dengan mereka,” jawab Laura dengan mata yang berkaca-kaca. “Apa pentingnya itu? Lo dianggep temen cuma karena lo punya apa itu tadi hape? Terus kalau lo gak punya hape lo bakal dimusuhi seolah lo bukan orang? Teman macam apa itu?” “Apa sih! Kenapa kamu ikut campur urusan orang. Biarin aja aku dan teman-temanku begini. Terserah kalau kamu senang dengan gaya temenan kamu yang tanpa hape. Aku gak perduli!” Laura yang marah dan kesal pergi meninggalkan Dimas yang sebenarnya ia sendiri bingung dengan apa yang mereka bicarakan. “Arghh ... dasar cewek gak mau kalah. Kenapa malah mikirin hal gak guna gitu sih. Masalahnya ini tuh ada dimana?” ucap Dimas ikutan kesal. Ia pun kembali berjalan dan mendekati seorang petugas yang sedang berjaga pintu keluar. “Permisi Pak, saya mau tanya. Ini tuh ada dimana ya?” tanya Dimas tanpa malu. Petugas yang ditanya samapai bingung mendengar pertanyaannya. “Ini di Stasiun Tanah Abang dek, emang adeknya mau kemana?” tanya petugas ramah. “Ohh, benaran pak? Enggak Pak, mau tanya aja. Tapi, emang sejak kapan stasiun berubah jadi keren begini Pak? Perasaan terakhir kali naik kereta gak kayak gini deh,” ucap Dimas masih bingung. Sementara itu, Laura yang kesal berjalan ke arah toilet. Ia sempat tertegun karena toilet yang begitu bersih dan wangi. “Wah ini beneran toilet ya? Kok kayak lagi di mall sih?” gumam Laura yang ditatap oleh seorang wanita yang sedang memakai lipstik. Laura hendak cuci tangan tapi bingung karena keran wastafel yang tidak ada pegangan kerannya. Tak lama seorang Ibu-ibu keluar dari dalam bilik toilet dan mencuci tangan dengan hanya menaruh tangannya dibawah keran air. “Wahh jadi kayak gitu caranya,” ucap Laura lagi yang memperhatikan. Si Ibu menoleh dan Laura hanya tersenyum lebar. Laura pun mencobanya dan air pun langsung keluar tanpa memencet apa-apa. “Wahh keren, kayak toiletnya orang kaya yaa,” ucap Laura takjub. Wanita yang memakai lipstik tadi masih memperhatikan tingkah Laura yang aneh menurutnya. “Lo dari kampung mana? Nyasar ampe kesini?” tanya wanita itu dan menyindir Laura. “Maksud kakak apa ya? Kenapa bicaranya begitu?” tanya Laura sensitif. “Gue perhatiin sejak tadi gelagat lo aneh tau gak. Dan sejak kapan anak sekolahan pakai rok panjang kalau gak pakai kerudung? Lo Islam?” tanya wanita itu semakin membuat Laura kesal. “Aneh dari mananya sih? Aku itu lahir di Jakarat dan gede di Jakarta juga. Kenapa bicara seolah-olah aku kampungan?” teriak Laura yang kesal. “Yah gue cuma pengen ingetin, cewek norak kayak lo bahaya ada di sini. Jangan pergi sendirian. Lo gak tau apa-apa,” ucap wanita itu seolah memberikan nasihat untuk Laura. “Apaan sih, kok nyebelin banget padahal baru juga kenal. Pakaiannya aja kayak kurang bahan gitu,” gumam Laura kesal. “Ini apaan sih!” Wanita itu tiba-tiba saja mengambil ponsel Laura yang terdapat gantungan hello kittynya. “Astaga, ini bukannya Blackberry? Masih jaman sekarang pakai beginian? Wahh gue bener-bener gak habis pikir sih lo beneran norak. Hape lo aja ketinggalan jaman begini. Ah pasti cuma buat sms-an kan? Loh tanggalnya salah tuh, sekarang bukan tanggal tiga puluh Mei 2012, tapi tahun 2022,” ucap wanita itu memberitahukan pada Laura. Laura terdiam mencoba mengartikan apa yang baru saja diucapkan oleh wanita itu. “Emang kapan kamu naik kereta?” tanya petugas pada Dimas dengan penasaran. “Hmm ... waktu acara liburan sama temen-temen. Awal tahun 2002, ah tiga Januari,” jawab Dimas dengan senyuman lebarnya. “Wah itu berarti kamu liburan dua puluh tahun yang lalu?” “Eh kok dua puluh tahun yang lalu Pak?” tanya Dimas merasa aneh. “Oh bukan ya, karena sekarang tanggal tiga puluh Mei 2022, jadi udah dua puluh setengah tahun yang lalu.” “Apa?” “Sekarang tahun berapa Pak?” “Tadi kakak bilang tahun berapa?” “Sekarang tahun 2022.” Seketika Dimas dan Laura terpatung. Otak mereka berhenti berpikir. Pandangan mereka kosong. Dan dengan cepat mereka kembali berlari ke tempat mereka berpisah dengan wajah yang panik. “Hei, lo tau sekarang tahun berapa?” tanya Dimas pada Laura. “2022,” jawab Laura dengan wajah yang kebingungan. “Arghhh!” teriak keduanya dengan sangat dramatis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD