"Itu apaan?"
Anin yang nyaris membuka pintu mobil di kursi depan, menghentikan pergerakan saat Fany yang ternyata belum masuk ke dalam mobil, meski pintu bagian penumpang di belakang, yang biasa gadis itu tempati telah dibukakan oleh Karyo yang ikut mencuri pandang pada kotak bekal berukuran sedang yang berada di tangannya.
"O—oh, ini?" Tersenyum canggung, Anin mengangkat kotak bekal yang membuat Fany penasaran. "Buat makan siang, Fan." Ucapnya yang tak sepenuhnya bohong. Kotak bekal berisi kimbap itu untuk makan siang. Ya, meskipun bukan Anin yang akan menyantapnya. Tapi cowok paling ditakuti seantero sekolah dan dengan seenaknya, mendeklarasikan diri sebagai bos Anin. Ck! Yang benar saja?
Untuk memenuhi semua hal yang dititahkan Fany saja, sudah membuat Anin kelimpungan. Dan sekarang? Ia harus menuruti semua keinginan dua orang yang memiliki watak hampir sama. Yaitu, suka seenaknya!
"Oh," mengibaskan rambut, Fany yang sudah tak lagi berminat. Akhirnya segera masuk ke dalam mobil. Di ikuti Anin, juga Karyo yang berlari kecil untuk sampai di tempatnya yang berada di balik kemudi.
Setelah beberapa lama berkendara, mobil yang Karyo kendarai, sampai di sekolah yang sudah di penuhi para siswa yang juga baru saja sampai.
Seperti biasa, dua teman dekat Fany, Sela dan Mona, dengan heboh segera menghampiri. Ketiganya kemudian sibuk bergosip dengan Anin yang mengekor di belakang. Tapi gadis itu kemudian menghentikan langkah. Merogoh saku seragamnya untuk mencari ponsel. Lalu mengetikan sebuah pesan.
'Kak, di mana? Aku udah bawa bekalnya.'
Cukup lama Anin tak mendapat balasan hingga membuatnya kesal karena masih berada di lorong kelas. Memilih sedikit menyingkir agar tak mengganggu siswa lainnya yang tengah berlalu lalang.
"Ck! Ke mana sih ini orang? Lama banget." Kesal, karena tak kunjung mendapat jawaban, Anin akhirnya memutuskan untuk menghubungi nomor Elard.
Sama seperti pesan yang dikirimkan, Teleponnya pun cukup lama diabaikan. Rasanya, Anin ingin bersikap tak peduli. Tapi sayang, rasa khawatir kembali bercokol saat mengingat ancaman Elard yang akan menyampo rambut Gavin dengan kecap. Dan Anin jelas tau, jika apa yang cowok itu ancamkan padanya, bukan sekadar gertakan. Dia saja nyaris dipaksa sikat gigi dengan wasabi.
Mencari peruntungan, Anin menelan kesal dan mencoba untuk menghubungi Elard lagi.
Bersyukur dalam hati karena teleponnya kali ini diangkat cowok itu.
"Apaan?" Suara Elard terdengar sewot dan seperti tengah mengejan.
Mengerutkan kening, Anin tampak bingung. Tapi kemudian berusaha untuk tak acuh. Yang penting, urusannya dengan cowok itu secepatnya selesai.
Berdeham untuk menemukan kembali suaranya setelah beberapa saat terdiam, Anin mengatakan secara langsung keperluannya menghubungi pria itu. "Kak El di mana? Ini aku udah bawa bekalnya."
"Gile, gede banget! Makan apaan dah gue?"
Lagi-lagi Anin dibuat kebingungan dengan ocehan cowok yang masih tersambung telepon dengannya itu. "Kak?" Panggil Anin lagi karena Elard sibuk mengocehkan sesuatu yang tak Anin mengerti.
"Pantesan susah keluarnya. Gue udah kaya orang mau lahiran dari tadi. Ck! Sampai keringetan gini." Keluh Elard melanjutkan ocehannya. Mengabaikan apa yang Anin tanyakan sedari tadi.
"Kak!" Seru Anin cukup keras, tapi kemudian disesali gadis itu karena beberapa siswa yang kebetulan beralalu lalang di sekitarnya sempat menolehkan kepala. Meski hanya sambil lalu. Tetap saja Anin malu.
"Apaan sih lo?" Tanya Elard di seberang sambungan. Dan lagi-lagi dengan nada suara yang jauh dari kata ramah.
Mengais kesabaran yang sudah berserakan, Anin mengembuskan napas panjang. "Kak El sebenarnya di mana? Aku mau antar bekal yang Kakak minta. Asal janji jangan ganggu Kak Gavin."
"Tunggu, lo cewek?"
"Hah?" Anin menjauhkan ponselnya dari telinga sejenak. Memastikan jika nomor yang dia hubungi adalah milik Elard. Kakak kelasnya, bukan orang gila. Ya, meskipun Elard kadang agak 'gila'. Ringis Anin dengan pikirannya sendiri. "Kakak ngomong apa sih dari tadi? Perasaan aku nanya ke Utara, jawabnya ke selatan. Aku nanya ke barat, Kak El malah jawab ke timur."
"Etdah, lo ngomong apa bocah? Utara, selatan, barat, timur? Ngabsen arah penjuru mata angin?"
Astaghfirullah ... dosa apa sebenarnya, sampai harus berurusan dengan manusia antik semacam ini? Keluh Anin dalam hati.
"Lo belum jawab gue ya bocah! Lo cewek songong itu kan?"
Meski dengan rasa gondok, Anin tetap bergumam untuk mengiyakan.
"Oh, bilang dong dari tadi. Kirain gue, tadi yang telepon salah satu sohib gue. Ada apaan?"
Ada apaan?
Lagi?
Seingatnya, Anin sudah mengatakan hal yang nyaris sama berkali-kali. Menanyakan keberadaan cowok itu, karena kebingungan menyerahkan bekal yang dibawanya, sebagai 'sogokan', agar Elard tak mengganggu Gavin.
"Kakak—di—mana—sekarang?" Tanya Anin dengan menekankan setiap kata.
"Gue—di—rumah—tepatnya—kamar—mandi—lagi—buang—"
"Oke Kak, aku paham!" Jawab Anin cepat yang tak berminat mendengar kelanjutan kata-kata dari Elard yang kini terdengar tengah terbahak puas.
Setelah tawanya sedikit mereda, Elard kemudian berdeham, "bekalnya, di pending."
"Hah?"
"Pending, bukan 'hah', ngerti?"
"M—maksudnya pending gimana Kak?"
"Ya pending, ganti aja tiga hari lagi. Gue nggak bisa masuk sekolah."
"Kenapa?"
"Cie ... Perhatian?" Goda Elard yang membuat Anin ingin membenturkan keningnya ke selasar yang ada di dekatnya.
"Bukan gitu Kak. Terus ini bekalnya gimana?"
"Astaga, ini bocah! Kan gue udah bilang tadi. Pending dulu, oy! Gue nggak masuk sekolah. Lagi diskors, soalnya kemarin ngiket adek kelas songong di atas pohon mangga belakang sekolah." Jawab Elard yang berhasil membuat Anin ternganga tak percaya. "Nggak asik banget itu bocah. Di belakang sok nantangin. Gue kerjain malah nangis-nangis sampai ngompol. Mana bisanya ngadu-ngadu sama Pak Re. Apa ini gara-gara gue bilang kangen sama dia ke lo ya, soalnya udah lama nggak masuk ke ruang BP? Eh, malah beneran digiring ke ruang BP." Elard kembali sibuk mengoceh sendiri. Sedangkan Anin hanya bisa menebalkan kesabaran.
"Yaudah, nanti aku bikinin lagi kimbap pas Kak El selesai skorsing dan bisa masuk sekolah lagi."
"Dih, siapa bilang gue masih mau kimbap? Gue mau yang lain!"
Astaga ... apalagi ini? Rintih Anin dalam hati.
"Terus, Kakak maunya apa?"
"Gue mau mie dingin."
"Hah?"
"Lo, hah, hah, mulu!" Sewot Elard, "gue bilang, gue mau mie dingin. Bye!"
Tut ... Tut ... Tut ....
Anin ternganga dengan ponsel yang masih menempel ditelinga.
Dia benar-benar takjub. Ternyata, ada yang jauh lebih menyebalkan dari Fany?
Memejamkan mata sejenak untuk mengais ketenangan yang sudah berceceran. Anin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku seragam sekolah. Sebelum kemudian melanjutkan langkah menuju kelas. Karena tak lama lagi, bel penanda masuk akan segera berteriak lantang.
Tapi di tengah perjalanan, Anin justru menghentikan langkah. Saat melihat keberadaan Gavin yang tengah berjongkok membetulkan tali sepatunya yang lepas. Sembari sesekali memperbaiki letak kacamatanya yang nyaris melorot jatuh.
Dengan langkah pelan, Anin berhenti di belakang cowok itu. Yang kemudian berdiri setelah selesai mengikat tali sepatunya yang terlepas, dan nyaris melangkah jika Anin tak secepatnya memanggil.
"K—Kak Gavin!" Panggil Anin sedikit keras agar terdengar.
Cowok bertubuh tambun itu menoleh dan mengernyitkan kening, "ya?" Tanyanya meski kebingungan dengan keberadaan teman dari Fany. Sosok yang dia sukai.
Anin maju beberapa langkah agar berdiri lebih dekat dengan Gavin. "I—ini Kak," gadis itu menyodorkan kotak bekal yang seharusnya ia berikan pada Elard. Entah kenapa, saat melihat keberadaan Gavin. Anin ingin memberikan hasil masakan yang dibuatnya dengan susah payah. Terlebih, ini pertama kalinya dia membuat kimbap. Dan kemudian bisa dipersembahkan pada Gavin. Ada untungnya juga Elard diskors dan tak bisa masuk sekolah.
Anin kemudian meringis, apa dia terdengar jahat?
"Apa itu?" Tanya Gavin yang tak segera menerima. Bukannya tak sopan, dia hanya kebingungan. Tiba-tiba disodorkan sebuah kotak yang tentu saja ia tau adalah kotak bekal. Yang ia maksudkan, tujuan pemberian bekal itu untuknya dan siapa yang mengirimnya? Apa gadis di depannya?
"I—itu," Anin menggigit bibir bawahnya. Dalam hati, ia merutuki diri. Apa yang akan dikatakannya nanti, pasti akan disesali. Tapi tak ada cara lain agar Gavin mau menerimanya. "Dari Fany," ucap Anin akhirnya. "Buat Kak Gavin."
Gavin tentu saja terbelalak tak percaya. Meski ada letupan suka cita yang kini tengah bergemuruh dihatinya.
"T—tapi, dalam rangka apa?" Tanya Gavin yang tiba-tiba ikut merasa gugup. Ck! Tentu saja. Siapa yang tak akan gugup, saat mendapat pemberian dari orang yang kita suka?
"Ini sebagai tanda terima kasih. Karena Kak Gavin sudah menolong saya dari Kak Elard dan gengnya waktu itu." Jawab Anin yang tak menyangka bisa memberikan karangan seperti itu. Ia terpaksa berbohong. Jika mengatakan hal yang sebenarnya, Anin ragu jika Gavin bersedia menerimanya. Jadi, dia menggunakan nama Fany. Hal yang pasti mendapat perhatian lebih dari Gavin.
"T—tapi, bukannya kamu yang nolongin saya? Kalau tidak, mungkin sudah jadi bulan-bulanan Elard dan teman-temannya." Gavin tak mungkin melupakan hari di mana ia nyaris dikerjai Elard dan gengnya. Beruntung, gadis di depannya ini datang. Mengingat hal itu, ada rasa malu yang terselip di sudut hati Gavin. Bahkan, untuk membela dirinya sendiri pun, Gavin tak mampu. Lalu, bagaimana caranya ia bisa melindungi orang-orang yang disayanginya nanti?
Baru saja Anin membuka bibir, bel penanda masuk sudah berteriak lantang.
"Kak, sudah bel. Aku harus segera masuk ke kelas. Kakak juga kan? Jadi tolong, ini diterima. Nanti ... Fany sedih." Dan hanya dengan mengatakan 'Fany sedih', Gavin yang tadinya ragu-ragu, segera meraih kotak bekal yang disodorkan olehnya. Hal yang membuat Anin gamang. Di satu sisi, ia merasa senang karena Gavin bersedia menerima bekal pemberiannya. Tapi di sisi lain, merasa miris karena cowok itu mengira dari Fany. Dan bersedia karena tak mau anak majikannya itu bersedih.
"Sampaikan terima kasih saya sama Fany." Pesan Gavin yang diangguki Anin. Setelahnya, cowok itu berlalu pergi. Meninggalkan Fany yang terdiam, menatap punggungnya yang kian menjauh.
Mengela napas, Anin menguatkan diri. Oh, ayolah, bukankah dia sendiri yang merencanakan ini? Yang terpenting, bekal miliknya diterima Gavin. Ya, meski cowok itu mengira jika itu pemberian dari Fany.
Jika dipikir lagi, kenapa Gavin mempercayai alasannya dengan begitu mudah?
Lagipula, mana mungkin Fany merepotkan diri dengan membuatkan bekal sebagai ucapan terima kasih untuk seseorang yang sudah menolong Anin? Mungkin, di mata orang lain, mereka tampak dekat layaknya sahabat. Meski hal itu bukan yang sebenarnya terjadi. Karena posisi Fany, tak ubahnya majikan bagi Anin.
Membuyarkan lamunan, Anin segera melanjutkan langkah menuju kelas, dengan perasaan yang terasa carut marut.