Jam makan siang membuat sebagian besar siswa berjubel di area kantin. Tak terkecuali dengan Gavin dan dua sahabatnya yang sudah mendudukkan diri dengan nyaman.
"Pesan sana, Ben," minta Raka pada sahabatnya yang sedari tadi sibuk berkutat dengan ponsel. "Lo chatting sama siapa sih? Dari tadi nggak kelar-kelar perasaan." Melongokkan kepala, Raka yang memiliki jiwa kepo tinggi, ingin mengintip layar ponsel milik Ben. Belum sempat tertangkap penglihatan, wajahnya sudah di jauhkan dengan telapak tangan.
"Heh! Ini muka ganteng gue bisa terkontaminasi. Mana tadi abis dari toilet kan lo? Cebok nggak tadi?"
"Nggak, lap doang pakai tisu."
"Ajegile, pantesan bau-bau yang mengusik hidung."
Gavin hanya menggelengkan kepala melihat interaksi kedua sahabatnya yang duduk di depannya. "Gue aja yang pesan. Kalian mau apa?"
Raka tersenyum sumringah, "emang lo doang yang paling pengertian Gav." Kekehnya sembari mengacungkan jempol. "Gue mau mie ayam, sama es teh aja."
"Ben?"
"Es teh, sama Baso, bihun tanpa mie kuning dan seledri. Bawang goreng banyakin, jangan terlalu pedas, kecap secukupnya."
"Heh! Udah nitip, ngerepotin lagi lo!" Omel Raka yang menepuk punggung Ben, sementara cowok itu hanya mengedikkan bahu tak acuh.
"Yaudah, gue pesan dulu sebelum makin rame." Bangkit dari duduknya, Gavin meninggalkan dua sahabatnya berserta kotak bekal yang di letakkan di atas meja.
"Si Gavin bawa bekal, ngapain pesan lagi?" Tanya Raka, sembari menarik kotak bekal mendekat kearahnya.
Ben yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku seragam sekolahnya, lagi-lagi hanya mengedikkan bahu tak acuh.
"Ah, ngomong sama lo bikin emosi terus bawaannya Ben." Gerutu Raka sembari membuka kotak bekal Gavin dan menatap takjub isinya. "Wih ... Sushi?"
"Itu kimbap," koreksi Ben dengan wajah datar.
"Beda tipis," elak Raka yang gengsi karena sudah salah menebak.
"Beda negara, beda isian, beda—"
"Iye, iye, maaf." Dengkus Raka sebal sembari mencomot satu kimbap dari dalam kotak bekal. Memakannya dengan satu kali suapan hingga mulutnya menggembung lucu. "Woah, inhi enhyak bhanget." Ucapnya tak jelas karena berbicara dengan mulut penuh.
Ben hanya menatap datar sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Lo belum minta izin sama yang punya. Jangan asal telan." Peringatnya karena Raka seenaknya memakan bekal milik Gavin.
Menelan dengan susah payah, Raka berdecak, "nggak bakal marah dia, sejak kapan seorang Gavin jadi pelit?"
"Sejak sekarang kayakanya." Ucap Gavin yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan kedua sahabatnya yang tadi sibuk berdebat, dan kini menolehkan wajah secara bersamaan kearahnya. "Ck! Jangan makan itu, Rak. Lo boleh beli apa aja dikantin ini, nggak apa-apa, biar gue yang bayar." Meletakan nampan berisi makan siang miliknya dan kedua sahabatnya. Gavin mendudukkan diri sembari menarik kotak bekal yang sudah terbuka. Seharusnya, dia tak membawanya. Biar saja disimpan dalam kolong meja atau tasnya.
Bukannya pelit, seperti yang Raka katakan sebelumnya. Dia tak pernah perhitungan dengan orang lain. Terutama kedua sahabatnya. Hanya saja, untuk yang satu ini menjadi pengecualian. Mengingat, makanan tersebut berasal dari seseorang yang spesial.
Meringis tak enak hati, Raka menggaruk belakang kepalanya. "Maaf Gav, nggak tau gue, lo bakal marah."
"Sebenarnya, bukan marah soal makanannya. Tapi ini dari—" menggigit bibir bawahnya, Gavin menghentikan ucapannya. Hal yang membuat Raka kesal karena sudah dilanda rasa penasaran.
"Dari? Dari siapa?" Tanya Raka yang masih belum terpuaskan rasa penasarannya.
"B—bukan, bukan apa-apa. Sudah, ayo kita makan. Setelah jam istirahat kita ada ulangan matematika. Butuh banyak asupan biar bisa menjawab soal."
"Mana ada hubungannya, banyak makan sama bisa jawab soal?" Tanya Raka sembari melilitkan mie ayam pada garpunya.
"Ya ada," elak Gavin tak mau kalah, "kalau ulangan pas perut lapar, mana bisa konsentrasi jawab soal?"
Terdiam sebentar, Raka akhirnya menganggukkan kepala sebelum kemudian tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya. "Benar juga," ucapnya dan mulai menyantap makan siangnya. Bersama Ben yang sejak tadi sudah lebih dulu menikmati basonya.
Sementara Gavin, nyaris saja menyuap soto yang dipilihnya sebagai makan siang, dengan sendok yang sudah berada tepat di depan bibir yang hampir terbuka, tapi kembali terkatup. Saat netranya menangkap kehadiran seseorang yang membuat jantungnya selalu jumpalitan.
Ya, siapa lagi kalau bukan Fany? Yang duduk diapit dua temannya. Tapi satu lagi sosok yang juga dekat dengan gadis itu, seseorang yang memberikan kotak bekal berisi kimbap padanya, justru tak tampak.
Tunggu!
Kenapa Gavin mencari-cari keberadaan gadis itu?
Menggelengkan kepala, Gavin melanjutkan makan siangnya. Sembari sesekali mencuri pandang kearah Fany.
***
Anin menatap punggung yang kini berada di depannya. Dia nyaris ikut bersama Fany untuk makan siang, saat seseorang tiba-tiba saja memasuki kelas dan berhasil membuat teman-temannya yang masih tersisa di dalam, seketika bungkam.
"Ikut gue," ucap cowok berambut ikal dengan slayer merah yang terikat dikepalanya. Hal yang membuat Anin, termasuk teman-temannya menatap was-was. Tak terkecuali Fany yang melempar tatapan penuh arti, seolah berkata, 'lo—harus—jelaskan—ke gue—nanti!'
Tak ingin membuat teman-temannya kian tak nyaman. Anin akhirnya menurut untuk ikut. Meski tak tau, apa yang akan dilakukan cowok berslayer merah yang dikenalnya sebagai salah seorang anak buah Elard itu?
Dug!
"Aduh!" Anin mengusap keningnya yang menubruk punggung seseorang di depannya yang tiba-tiba berhenti. Sekaligus berhasil membuyarkan lamunan.
"Ck! Lo ya, bisa-bisanya jalan sambil melamun."
Mengerjap-ngerjapkan mata, Anin mengedarkan pandangan ke sekitar. Dan baru sadar, jika saat ini, dia berada di area belakang sekolah. Tempat di mana waktu itu membantu Gavin yang nyaris dikerjai Elard dan kelompoknya.
"Lama banget lo?!"
Suara seseorang yang mulai tak asing tertangkap pendengaran Anin. Membuatnya refleks meremas rok abu-abunya, dengan kedua tangan dimasing-masing tubuh yang kini berdiri kaku. Keringat dingin bahkan terasa mengaliri punggungnya.
Tidak mungkin!
Anin mencoba untuk menepis dugaan yang kini bercokol di kepala.
Tidak mungkin itu dia. Bukannya cowok itu sendiri yang bilang, jika tak bisa masuk sekolah karena mendapat skorsing, setelah mengikat adik kelas di pohon mangga?
"Maaf Bos, kan dari kelasnya dia ke sini lumayan jauh." Dava mencoba memberikan alasan. Tak ingin bos besarnya yang tengah dalam mood buruk kian kesal.
Anin memejamkan mata sejenak, sial, pupus sudah keyakinan yang coba dibangun. Nyatanya, sudah pasti, sosok itu adalah Elard. Dan benar saja, saat pergelangan tangan kanannya ditarik perlahan oleh Dava, agar berdiri bersisian dengannya. Anin kini bisa melihat keberadaan Elard yang duduk bersilang kaki di sebuah kursi. Di kelilingi oleh dua anak buahnya yang berdiri di sisi kanan dan kirinya. Ketiganya tampak tak mengenakan seragam sekolah. Hanya jeans belel dengan kaus yang dilapisi jaket bomber sesuai warna slayer yang biasa ketiganya kenakan.
apa mereka selalu begitu? Berpenampilan dengan hanya satu warna? Tidak bosan apa? Pikir Anin yang sayangnya hanya terendap di dalam kepala. Tak berani mempertanyakannya secara langsung.
"Heh! Sini, lo!" Titah Elard dengan jari telunjuk yang digerak-gerakkan, membuat Anin dan David menolehkan kepala secara bersamaan.
"Siapa Bos?" Tanya David, lalu menunjuk dirinya sendiri, "gue?"
"Ck! Ya, bukanlah! Lo nggak penting!"
Panca dan Dika terbahak, tapi seketika bungkam setelah masing-masing mendapat pelototan dari Elard.
"Mentang-mentang gue kalah bening, Bos."
"Iyalah, gue nggak doyan yang bulukan kaya lo." Mengedikkan bahu tak acuh, Elard kembali memfokuskan pandangannya pada Anin, "heh! Sini lo! Dari tadi gue panggil juga."
Mengela napas, Anin mengayunkan langkah dengan kaku kearah Elard. Berdiri tepat dihadapan cowok itu yang bahkan masih sedikit lebih tinggi padahal dalam posisi duduk. Hal yang membuat Anin meringis dalam hati, karena menyadari tubuhnya yang memang begitu mungil.
"Mana bekal gue?" Todong Elard langsung sembari menengadahkan tangan.
"Hah?" Mengerjap-ngerjapkan mata, Anin meneguk ludah kelu. Berharap, jika pendengarannya yang salah menangkap perkataan Elard.
"Hah? Hah? Terus lo! Nggak ada stok kata lain apa?"
Mengelus belakang lehernya, Anin meringis canggung.
"Bekal gue mana?" Tagih Elard sekali lagi, "helo ...." Ucapnya sembari menjentikkan jari.
"T—tapi kan, tadi Kak El bilangnya nggak bisa."
"Cie ... Dipanggil Kak El-nya manis banget kaya gula tebu asli," goda Panca sembari menaik turunkan alis mata.
"Mau dong, dipanggil semanis itu tanpa pemanis buatan." Kali ini Dika ikut menyahut.
"Lo berdua, ngoceh lagi. Gue gantung di pohon beringin samping laboratorium ya." Ancam Elard yang membuat keduanya bungkam seketika.
Dava terbatuk-batuk, hanya agar menyamarkan keinginannya untuk terbahak. Tak ingin ikut kena semprot bosnya yang hari ini begitu sensitif.
"Jadi, mana bekal gue?" Tagih Elard lagi, "gue udah jauh-jauh ke sini."
"Iya, mana harus manjat tembok belakang, sampai celana gue mau melorot." Tambah Dika yang kemudian mengangkat jari telunjuk, juga jari tengahnya hingga membentuk huruf V. Cowok itu menepuk bibirnya sendiri yang tak bisa diam dan memancing kekesalan bosnya.
Sementara itu, Anin gelisah di posisinya yang masih berdiri di depan Elard.
Ck! Kenapa kakak kelasnya yang satu ini, begitu menyusahkan?
Siapa yang tadi pagi mengomel saat dihubungi? Mengatakan agar bekalnya di pending hingga tiga hari ke depan? Sekarang, hanya berselang beberapa jam, sudah muncul di depan hidungnya seperti ini?
Masa iya, Anin harus meminta lagi, bekal yang sudah diberikannya kepada Gavin?
Astaga ... Itu tidak mungkin. Mau taruh di mana mukanya?
"T—tapi Kak, bekalnya beneran nggak ada." Ucap Anin sejujurnya.
"Nggak ada gimana?" Elard yang sebelumnya duduk bak seorang raja. Kini bangkit dari 'singgasananya'. Menjulang di depan Anin yang harus mendongakkan kepala, mengingat perbedaan tinggi badan di antara mereka. Tinggi Anin hanya di bawah dagu cowok itu.
"B—bekalnya habis Kak." Bohong Anin, dalam hati meminta maaf karena tak bisa berkata sejujurnya. Bisa-bisa, Gavin mendapat masalah karena keteledorannya.
"Lo makan sendiri?" Menaikan satu alis mata, dengan tangan yang kini dalam posisi bersedekap. Elard memperhatikan gerak-gerik gadis di depannya.
Mengangguk kaku, Anin menggumamkan permintaan maaf.
"A—aku kira, Kak El beneran nggak bisa ambil bekalnya. Dan lagipula, Kakak sendiri yang bilang untuk dipending. Jadi tadi aku makan sendiri buat makan siang."
Menganggukkan kepala, Elard dengan wajah datarnya, menatap Anin yang hanya bisa meneguk ludah kelu. Tampak waspada sembari mengira-ngira, apa yang akan cowok itu lakukan padanya? Karena tak mungkin, seorang Elard berbaik hati dengan melepasnya begitu saja.
"Lo udah buang waktu gue yang berharga. Sebagai gantinya, lo harus ikuti perintah gue, dan kali ini," Elard mencondongkan tubuhnya ke arah Anin yang nyaris memundurkan langkah tapi lengannya segera ditahan, agar tak bergerak. "nggak ada alasan." Ucapnya menambahkan, berbisik di telinga kanan Anin hingga bulu kuduk gadis itu meremang.
"M—maksudnya?"
"Mana ponsel lo?"
"Hah?"
"Ponsel, bukan 'hah?', buruan mana? Gue bukan orang dengan tingkat kesabaran seluas lapangan bola."
Meski masih dicengkeram rasa bingung, Anin tetap merogoh ponsel miliknya dari saku seragam sekolah. Lalu mengulurkannya pada Elard yang segera merampasnya tak sabaran.
"Buluk banget ponsel lo," ucap Elard sembari membolak-balik ponsel milik Anin, yang jika dibandingkan milik teman-temannya yang lain, tentu saja kalah jauh.
Meski kesal, karena Elard menghina ponselnya dengan begitu enteng. Anin jelas tak berani melayangkan protes. Keinginan terbesarnya sekarang, adalah segera pergi sejauh mungkin dari Elard dan teman-temannya.
Mengetikkan sesuatu, Elard kemudian mengembalikan ponsel tersebut pada Anin yang tampak kebingungan, melihat apa yang kini berada dilayar ponselnya.
"Pulang sekolah, datang ke sana. Awas lo nggak datang, gue gantung si Gavin ditiang bendera." Ancamnya yang membuat Anin terbelalak tak percaya. Tapi cowok itu justru menyunggingkan senyuman puas. "Cabut, ketahuan pak kumis bisa diseret ke ruang BP kita. Gue lagi malas berkunjung ke sana." Ucap Elard sembari mengibaskan tangan tak acuh.
"Yah, kok pergi bos? Gue sendirian lagi dong?" Keluh Dava, yang memang menjadi satu-satunya dari kelompok mereka, yang tak dikenakan sangsi skorsing. Mengingat, saat Elard dan lainnya mengerjai adik kelas, dia sedang mendekam di toilet. Terkena sakit perut, akibat sambal yang terlalu banyak sewaktu makan baso.
"Ya lo, gue suruh jangan masuk sekolah biar samaan nggak mau." Ejek Dika, kembarannya yang tersenyum puas.
"Ck! Nggak usah sok nggak tau lo. Bisa diamuk mami kalau harus bolos. Gue ogah ya, dipotong uang jajan dan disita beberapa fasilitas kaya lo." Tersenyum penuh kemenangan, Dava berhasil membalas Dika yang hanya bisa mendengkus kesal padanya.
"Udah, kita cabut. Lo sekolah aja yang bener. Sekalian buat kasih informasi. Kali aja ada hal penting yang terjadi." Titah Elard yang dengan sigap dipatuhi Dava.
Ketiganya kemudian berlalu pergi, kembali memanjat tembok belakang sekolah. Karena tak mungkin melewati gerbang depan.
"Si bos nyuruh apa ke lo?" Tanya Dava kepo.
Anin menolehkan kepala, lalu menggeleng, sebelum kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Dava yang hanya bisa menganga tak percaya. "Ajegile! Makhluk tampan kaya gue, bisa-bisanya terabaikan?" Protesnya sembari menatap kepergian Anin. "Ya emang sih, kalau dibandingkan sama si bos, beda sebelas-dua puluh. Tapi kan gue juga lumayan, kalau buat di ajak kondangan sebagai gandengan." Celotehnya dan menggaruk rambutnya yang ikal. "Tau, ah! Gelap!" Mengibaskan tangan di depan wajah, Dava ikut beranjak meninggalkan belakang sekolah.
Sementara itu, Gavin tengah berjalan di koridor kelas seorang diri. Karena Ben diajak bermain futsal, sementara Raka tengah berusaha mendekati salah seorang adik kelas.
"Ssttt! Ssttt! Si cupu lewat," bisik salah seorang siswa pada temannya yang bersandar di pilar dekat pintu kelas. "Kerjain yuk?" Ajaknya sembari menaik turunkan alis mata.
"Boleh juga, mumpung nggak ada algojonya." Kekeh temannya yang kemudian, dengan sengaja mengulurkan kakinya saat Gavin hendak lewat.
Gavin yang sibuk melihat isi bekal, tak begitu memperhatikan jalan.
Brak!
Bruk!
Kotak bekal yang sebelumnya dalam keadaan terbuka, membuat semua kimbap tersebut jatuh berserakan di atas lantai. Bersamaan dengan tubuh Gavin yang tersungkur.
"Sialan! Kaki gue sakit!" Keluh salah seorang siswa yang tadi sengaja mengerjai Gavin. Sementara temannya hanya sibuk terbahak.
Gavin berusaha bangkit dari posisinya yang tengkurap di atas lantai, tangannya meraba-raba sekitar untuk mencari kacamata yang terlepas. Peristiwa itu, rupanya menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang berlalu lalang. Menahan gebukan amarah, yang kini menguasainya. Gavin yang sudah mengenakan kacamatanya kembali. Kini menatap nyalang sang pelaku. Bukan hanya persoalan dirinya yang sengaja dikerjai hingga tersandung dan jatuh. Tapi kotak bekalnya yang kini teronggok dengan semua isi kimbap yang berceceran di lantai yang membuatnya ingin mengamuk.
Setelah berhasil bangkit berdiri, Gavin menatap tajam dua siswa yang kini mengangkat dagu dengan wajah menantang.
"Ngapain lo melotot kaya gitu? Nggak terima?!"
"Makanya, kalau jalan, mata lo dipake yang benar!" Sahut siswa satunya.
Keberanian yang sudah di atas puncak, tiba-tiba meluruh secara perlahan. Saat melihat wajah dingin dan keras Gavin. Siswa cupu yang selama ini terkenal sebagai sosok penakut yang hanya bisa berlindung di balik ketiak kedua sahabatnya.
"M—mau apa lo? Tanya siswa yang tadi sengaja mengulurkan kakinya untuk mengerjai Gavin hingga terjatuh.
Tanpa suara, Gavin berderap menuju siswa tersebut yang membelalakkan mata tak percaya, dengan keberanian yang Gavin perlihatkan. Kerah bajunya ditarik kasar, sebelum kemudian ....
Buk!
"Aw! Hidung gue! Sialan! Hidung gue sakit!" Teriaknya histeris sembari memegangi hidungnya yang berdenyut-denyut, dengan aroma anyir yang mulai terendus penciuman. "D—darah! Hidung gue, berdarah!" Raungnya kian keras, sementara temannya sibuk menenangkan. Tapi dia tak peduli, sekalipun saat ini, menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang melihat kejadian tersebut.
Gavin sendiri tengah berjongkok, untuk meraih kotak bekal dan memungut satu persatu kimbap yang tergeletak di lantai. Mengabaikan denyutan dikeningnya yang tadi dihantamkan dengan sangat keras, pada hidung siswa yang sudah mengerjainya.
Jangan kira, dia hanya akan diam. Karena Gavin pun, memiliki batas sabar dan bisa tertelan kemarahan.