u*****n yang nyaris meluncur keluar dari bibir Gavin, terpaksa ia telan kembali. Saat mengetahui, siapa yang sudah membuat kekacauan pada kemejanya. "Anin?" Wajah gadis itu memucat, dengan rambut yang tercepol asal hingga beberapa helainya jatuh berantakan dan menempel di sekitar kening serta lehernya yang berkeringat. Seolah tak mendengar panggilan pelannya, gadis itu terus membungkukkan tubuh sembari menggumamkan permintaan maaf. "H—hei, sudah, tidak apa-apa." Gavin berusaha menghentikan aksi Anin yang terus meminta maaf padanya. Terlebih, beberapa pengunjung lain yang berlalu lalang, sempat meletakan atensi pada mereka dengan raut wajah penuh rasa penasaran. "Aku benar-benar ceroboh. Maaf ya Kak, sungguh! Aku tidak sengaja." Anin ingin sekali menjedotkan kepalanya sendiri. Bagaiman

