Membuka tutup panci, Anin mengecek keadaan rawon daging buatannya yang sudah hampir matang. Menyeka peluh yang mengaliri kening dan lehernya dengan punggung tangan, gadis itu kembali mencuri pandang pada penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah setengah sepuluh malam, tapi dia masih terjebak di sini. Di tempat asing yang sejujurnya membuat Anin sempat ketakutan. Berada satu apartemen dengan sosok yang tak begitu dikenalnya. Sayangnya, atas dasar penebusan rasa bersalah. Dia harus manut atas titah yang David katakan. Kenapa hidupnya selalu saja diatur-atur orang lain sejak dulu? Lepas dari Fany untuk sementara waktu, kini dijajah David. Pria itu meminta, atau setengah memaksa lebih tepatnya, agar Anin bersedia ikut dengannya. Beralasan jika dia tengah menagih perta

