64. Menagih Janji

2206 Words

Kedua tangan yang berada di masing-masing tubuhnya mengepal. Menatap nanar pada sejoli yang saling mendekap hangat dari balik jendela sebuah kafe yang didominasi dinding kaca. Hingga membuatnya bisa melihat sosok kekasihnya, tengah bersama wanita yang tak lain sahabatnya sendiri.  Terkekeh kering, wajahnya menengadah. Menatap gumpalan awan hitam yang berarak di atas langit. Tampak kelam, seperti suasana hatinya saat ini. Sial! Umpatnya dalam hati. Saat merasakan bulir air mata yang mulai berebut turun tak sabaran untuk membasahi kedua pipinya. Mengusap kasar dengan punggung tangan, meski tak bisa menghentikan derai air mata yang masih berjatuhan. Wanita itu memilih pergi, meninggalkan rasa sakit yang mencabiknya saat ini. Dia berlari, entah untuk menghindari hujan yang mulai berjatuhan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD