"Kak Panca!" Anin berlari menuju sosok kakak kelasnya yang sekadar menolehkan kepala sesaat, ketika namanya diteriakkan. Tapi saat tau Anin yang memanggilnya. Cowok itu hanya mendengkus dan kembali melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat. Membuat gadis yang berusaha mengejarnya kian kepayahan. "Kak! Tunggu! Aku mohon, hanya sebentar saja." Dengan susah payah, Anin akhirnya bisa mensejajarkan diri dengan Panca. Mengabaikan napasnya yang terengah-engah. Dia terus berusaha menyamai langkah Panca yang terus dipercepat, seperti maling yang dicurigai pemilik rumah. "Kak—" "Apa?!" Kesal, Panca akhirnya berhenti dan berteriak saat menghadap Anin. Mengabaikan beberapa siswa yang tampak penasaran dan mencuri pandang kearah mereka. "Stop ganggu gue, Dava, atau pun Dika. Karena lo nggak akan perna

