Anin duduk di sofa panjang bagian sudut. Sejak tadi, dia hanya diam menjadi penonton semua orang yang tampak saling melempar gelak tawa. Berbincang santai sembari menikmati alunan musik yang membuat telinganya pengang. "Mau minum apa?" Suara yang begitu dekat dengan telinga kanannya dan embusan napas yang menerpa tengkuk membuat Anin bergidik. Dia berusaha menjauh tapi tubuhnya sudah terjepit di ujung, tak bisa kemana-mana. Mengerjap, Anin menoleh, hingga tatapannya bersirobok dengan netra coklat milik David. "Mau minum apa?" Tanya David lagi karena gadis yang ia tanyai sibuk terbengong. "Hah? O—oh, itu, mau es teh saja." David tercenung sesaat mendengar jawaban Anin. Berdeham, pria itu menggaruk kepala bagian belakang. "Nggak ada es teh di sini, Nin." Ringisnya yang bersusah-payah ta

