Elard mendengkus. Alih-alih merintih lirih karena kesakitan. Remaja itu justru berdecak saat melihat luka dipunggungnya. Dia tengah berada di dalam kamar mandi, bercermin di depan westafel, hanya dengan handuk yang melilit di pinggang. "Ribet banget mau mandi aja." Elard kesal, karena dia tak bisa mandi dengan bebas. Karena harus berhati-hati pada lukanya. Jadi, selama beberapa hari, hanya mengelap tubuh dengan air hangat. Meski lukanya sudah tak lagi tampak mengerikan seperti awal pertama. Melangkah keluar dari kamar mandi, Elard yang hendak berderap menuju lemari. Justru membelokkan langkahnya saat suara ponsel miliknya berteriak lantang meminta perhatian. Mengacak rambutnya yang setengah basah. Elard mengambil benda pipih itu yang tergeletak di atas tempat tidur. Alis matanya teran

