Ningrum berdiri gelisah, dengan tangan yang saling meremas. Entah sudah berapa lama ia menatap pintu masuk yang masih tertutup rapat, berharap tiba-tiba terbuka. Dan sosok keponakannya muncul dari sana. Malam sudah semakin larut, tapi Anin tak kunjung pulang. Seharusnya, dia tadi memaksa untuk ikut mengantar. Atau setidaknya, meminta Karyo menemani kepergian Anin. Melihat berita akhir-akhir ini tentang tindak kriminal di jalanan yang semakin sering terjadi, terutama pada malam hari yang kian meningkat. Membuat Ningrum digerogoti perasaan takut. Meski berusaha untuk mengendapkan segala pemikiran buruk yang bercokol di kepala. "Bi!" Suara panggilan dari arah belakangnya membuat Ningrum memutar tubuh. Dan mendapati sosok anak majikannya yang berderap kearahnya sembari bersedekap tangan.

