Pertengkaran kedua orang itu terus berlanjut disela-sela pelatihan yang diberikan Andreas. Tanpa terasa hari sudah mulai senja dan otot-otot tangan Joanna mengeras juga kaku. Gadis itu bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan
“Apa kau bisa mengantarku kembali ke Paviliun? Kakiku sudah mati rasa. Bagaimana ini?” pinta Joanna pada Andreas
Pria itu mengerutkan keningnya tanda tak setuju. Namun saat ingat beratnya siksaan yang sengaja ia berikan saat latihan. Akhirnya ia menyetujuinya.
Sebenarnya Joanna adalah gadis yang cukup penurut. Walau ia banyak mengeluh dan beberapa kali menyumpahi Andreas, namun gadis itu tetap melakukan semua yang diperintahkan Sang Jendral.
Andreas mengulurkan tangannya. “Sini kubantu,”
Joanna segera menyaut tangan Andreas dan ia berjalan dengan tertatih. Sedang Andreas tetap memapah tubuh gadis itu walau ia sangat tidak menyukainya
Setelah sampai di Paviliun, Moris berganti memapah Joanna menuju ke kamarnya. Wanita tua itu terlihat sangat gembira
“Anda sudah berbaikan dengan Jendral Andreas?” tanyanya dengan antusias
“Ya!” jawab Joanna singkat. Gadis itu benar-benar ingin menangis sekarang. Tubuhnya remuk redam. Andreas benar-benar menyiksanya!
Lelaki itu menyuruhnya berjalan jongkok mengitari halaman dengan alasan jika itu adalah sebuah pemanasan yang wajib dilakukan sebelum berlatih pedang. Andreas sialan itu juga beberapa kali memukul tubuhnya menggunakan pedang kayu dengan sengaja. Tapi ia berdalih jika itu adalah sebuah ketidak sengajaan.
Maka tak ayal jika sumpah serapah Joanna keluar untuk mencaci maki pria itu. Dia pantas untuk mendapatkannya!
Gadis itu kini tengah meringis kesakitan saat Moris menyapu tubuhnya dengan air hangat. Bagaimanapun ia harus bergegas untuk menghadiri jamuan makan malam dengan Oberon.
Saat waktu makan malam tiba, Oberon kembali mengirimkan Andreas untuk menjemput Joanna di Paviliun Arsenik. Lelaki itu kini menggandeng tangan Joanna saat memasuki Istana
Para pelayan dan pengawal melihat kedua orang itu dengan takjub. Tak bisa dipungkiri, walau mereka tidak menyukai Joanna namun Permaisuri mereka itu memang memiliki paras yang sangat menawan. Sosok Permaisuri Joanna yang cantik bersanding dengan Jenderal Andreas yang rupawan. Begitu cocok, persis seperti sepasang dewa-dewi di Mitologi Yunani
Oberon yang telah berada di ruang makan itu menatap kedatangan Joanna dan Andreas dengan sedikit kesal. Hatinya teriris perih saat mendengar pembicaraan beberapa pelayan akan kedua orang di depannya
“Benar-benar serasi,” bisik beberapa pelayan
Pria itu menghembuskan nafas kesal dan menatap nanar tangan Joanna yang melingkar di lengan Sang Jendral kepercayaannya
“Maaf karena terlambat datang Kaisar. Dia benar-benar berjalan seperti keong,” ujar Andreas sembari melirik tajam gadis disampingnya
“Kau pikir siapa yang membuatku jadi selambat ini?” Joanna menatap tajam sembari dengan sengaja menginjak kaki lelaki yang tengah menggandengnya itu
Oberon yang sudah sangat kesal segera menarik Joanna kearahnya lalu membantu gadis itu duduk ke kursi di sampingnya
Abigail menghempaskan dirinya kesandaran kursi dan menenggak segelas wine di depannya untuk mengusir kekesalannya pada Andreas. Sedang lelaki itu bergeming tak mengindahkan kekesalah Joanna padanya dan malah duduk disamping gadis itu.
“Selamat malam Kaisar”
Angelina datang dengan beberapa pegawalnya dan Oberon beranjak untuk menyambutnya
“Kuharap kita bisa lebih sering untuk makan malam berdua seperti ini,” ucapnya sambil berjinjit berusaha mencium bibir Kaisar
Namun Oberon menggeser sedikit wajahnya, hingga ciuman itu akhirnya mendarat di pipinya.
Joanna terkekeh dari balik kursi. Mungkin Angelina tak melihatnya karena tertutupi sandaran kursi yang besar dan tinggi
“Wah, gadis gila ini. Siapa yang mengatakan jika kau hanya akan makan berdua dengan Oberon?” cerca Joanna dengan lirih
Andreas turut mengerutkan keningnya. “Sepertinya dia juga tidak melihatku!”
Joanna melirik sekilas. “Jadi Andreas juga tidak menyukainya? Bagus!” ucap gadis itu dalam hati
Wajah Angelina memerah karena malu namun ia kembali menegakkan bahunya. Dan gadis itu bergegas duduk di depan Joanna.
Kini Oberon berada diantara kedua gadis itu membuat Andreas menyeringai padanya.
“Aku senang Kaisar tak keberatan dengan kedatangan hamba,” ucap Angelina sambil tersenyum anggun. Matanya melirik Joanna seolah mengatakan jika Oberon juga mengharapkan kedatangannya malam ini
“Kudengar ilmu pengobatan yang dikembangkan oleh Tuan Regis sangat sukses belakangan ini. Bahkan pemasarannya sudah sampai ke luar negeri. Orang-orang mengatakan jika kemajuan itu karena andil tanganmu di dalamnya,” puji Oberon
Angelina kembali menatap Joanna dan membusungkan dadanya bangga. “Ayah memang pandai berbisnis. Aku hanya membantunya sedikit.”
“Itu hal yang menguntungkan untuk keluarga Duke Alejandro Blaire Regis. Lalu apa yang anda khawatirkan hingga meminta makan malam berdua dengan Kaisar?” sahut Andreas
“Itu memang hal yang menguntungkan tapi sekaligus juga bencana untuk keluargaku. Beberapa pesaing bisnis dari dalam Kerajaan Mighal maupun Kerajaan tetangga mulai mengincar rahasia pengobatan yang dikembangkan ayahku. Mereka bahkan mulai mengirim orang untuk menerobos masuk ke dalam rumahku. Karena itu saya meminta Kaisar untuk melindungi kami.”
“Jika anda memang sangat membutuhkan sebuah perlindungan. Maka seharusnya anda tidak menolak lamaran dari Kerajaan Balters sekiranya,” protes Andreas tiba-tiba
“Bukankah kita harus memilih yang terkuat saat terdesak? Sekiranya itu yang diajarkan ayahku,” balas Angelina sembari menatap tajam pada Sang Jendral
Angelina melirik ke arah Joanna sembari melanjutkan perkataannya. “Sebenarnya hatikulah yang memilih anda Kaisar.”
Gadis itu mengibaskan rambut, memperlihatkan leher jenjang menggiurkan yang dimilikinya. “Karena itu hamba tak hanya ingin anda melindungi hamba, tapi juga memiliki sebuah hubungan pernikahan. Hamba ingin menjadi Permaisuri anda Kaisar.”
“Wah! Begitu terang-terangan dan sangat berani sekali,” ucap Andreas dengan wajah masam
Sedangkan Joanna terus menunduk menatap makanannya. Gadis itu terus mengaduk-aduk makanannya. Entah kenapa kekuatannya seolah menghilang malam ini. Hatinya teriris mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Angelina.
Oberon tersenyum sinis. “Aku sudah memiliki seorang Permaisuri. Dan aku belum terpikirkan untuk memiliki seorang selir”
Andreas sedikit tersedak dan ia sebisa mungkin mencoba menutupi tawanya. “Anda penganut monogami Kaisar? Selain tampan dan berkuasa. Anda ternyata seorang lelaki yang setia. Anda memang yang terbaik Kaisar,” puji Andreas dengan antusias
“Dia keponakan Tuan Zarek!” jelas Angelina. Seolah mengatakan bahwa Joanna adalah bagian dari musuh mereka. Musuh orang-orang yang berdiri di kubu Oberon
Gadis itu mengikuti arah pandangan Oberon yang terus menatap gadis yang tengah memakan steak di depannya dengan penuh kekhawatiran. Seolah menghawatirkan jika pembicaraan mereka akan menyakiti hati dan membuat Joanna salah paham.
“Dia tidak tau apa-apa. Dia tidak terlibat,” tandas Oberon. ‘dia bahkan beberapa kali lupa dengan nama pamannya sendiri,’ ucapnya dalam hati
“Benarkah?” sahut Angelina dan Andreas bersamaan
“Dia benar-benar tidak tau apapun,” ulang Oberon. ‘Jadi kalian jangan mengusiknya,’ itulah arti dari ucapan pria itu
“Tapi bukankah anda sudah menerima lamaran Ayah hamba tempo hari Kaisar?” tanya Angelina yang masih tidak ingin menyerah untuk mendapatkan apa yang ia mau
“Aku berubah fikiran,” jawab Oberon singkat sembari menatap Joanna yang tengah menatap nanar padanya
Gadis itu kembali menunduk dan mengaduk-aduk makanannya setelah mendengar jawaban Oberon membuat pria itu menatapnya dengan bingung
‘Apa dia cemburu?” tanyanya dalam hati
Mendengar penolakan dari Oberon membuat Angelina sangat marah. Rumor penolakan itu pasti akan tersebar dikalangan para pelayan Istana hingga akhirnya sampai di telinga para bangsawan. Memalukan!
Gadis itu beranjak dari kursinya dan berbisik di telinga Oberon. “Jangan terlalu mempercayai gadis itu. Bagaimanapun, dia tetap memiliki darah yang sama dengan Zarek. Ingat, ‘Darah Lebih Kental Dari Air’,”
Angelina berjalan keluar ruangan diikuti beberapa pengawal yang mengantarnya.
Oberon hanya menggelengkan kepalanya sama sekali tak mempedulikan ucapan Angelina
Sedang Joanna menatap kepergian Angelina dengan rasa puas. Namun hatinya masih begitu sakit seolah baru saja dinianati oleh Marco, kekasihnya
Gadis itu mencoba beranjak untuk mengambil sepotong kue dengan selai strawberi yang terletak cukup jauh darinya. Namun segera ia urungkan saat kakinya berdenyut. Ia kesakitan
Andreas yang melihat itu segera mengambilkan sepotong kue itu
“Kue ini?” tanyanya
Joanna mengangguk. “Ya. Ambilkan satu”
Melihat itu membuat Oberon menciptakan senyum diwajahnya. Tapi terlihat sangat dingin. Tangannya menggenggam erat gelas berkaki panjang di depannya
“Oh, Bagus! Setelah King Solomon, sekarang Andreas. Kau benar-benar tak membuang waktu untuk mendekati pria-pria tampan itu,” batin Oberon sembari menatap tajam Joanna
‘Jadi dari tadi dia diam bukan karena cemburu. Tapi karena tidak peduli? Tentu saja, jika kehilanganku. Dia masih memiliki King Solomon dan Andreas di sisinya.” Pikiran random itu memenuhi kepala Oberon membuatnya marah tanpa alasan.