Oberon berdiri menunggu di depan pintu disamping para pengawalnya. Senyumnya terlontar saat melihat kereta kuda hitam bertahta ukiran emas diatasnya berjalan memasuki halaman istana.
Pria itu berlari menuju ke kereta kuda dan membukakan pintu untuk Joanna membuat para pengawal memandangnya dengan aneh. Bahkan telah tersebar rumor dikalangan para pelayan istana jika Oberon telah terkena sihir
“Sudah kubilang kan. Andreas pasti akan memilihkan kucing yang paling lucu untukmu,” seru Oberon sembari membantu Joanna keluar dari kereta kuda
Alis Joanna bertaut. “Apa kau tak bisa memecatnya?” tegas Joanna dengan kilatan tajam di matanya
“Andreas?” tanya Oberon keheranan
“YA!! Pecat dia! Lihatlah, dia sudah tiga kali mencekik leherku,” gerutu Joanna kesal sembari memperlihatkan lehernya yang memerah.
Mata Oberon meradang merah memandang Andreas. Namun belum sempat ia memarahi pengawalnya itu, Andreas malah sudah lebih dulu memarahinya
“ITU KARENA DIA MEMAKSA UNTUK MEMBELI KUCING AUDREY!” gertak Andreas sembari menunjuk Joanna tepat di depan mata gadis itu. “Dia bahkan mengatakan jika aku sama tampannya denganmu Kaisar. Sekali lagi saya ingatkan. Hati-hati dengan wanita licik ini,” Andreas melompat turun dari kereta kuda dan pergi dengan marah
“Tapi kan dia memang tampan. Apa yang salah dengan ucapanku,” gerutu Joanna sembari berjalan kembali ke Paviliun Arsenik dengan kucing putih besar dalam gendongannya
Oberon memukul-mukul dadanya kuat. Mendengar Joanna memuji ketampanan Andreas entah bagaimana membuat dadanya sesak.
Perlahan ia berjalan mengekori Joanna menuju ke Paviliun dan membantu gadis itu agar bisa dimaafkan oleh Moris. Karena tak berani menolak titah Kaisar, akhirnya wanita tua itu tak memiliki pilihan lain selain memaafkan Joanna membuat gadis keras kepala itu tersenyum girang. Lalu memeluk Oberon dengan erat.
“Trimakasih Oberon,” ucapnya sembari mencium pipi pria itu. “Dan kau Moris… jangan marah padaku lagi. Aku akan mendengar nasehatmu mulai sekarang,”
Setelah menyelesaikan masalah terberat dalam hidupnya itu. Joanna mengekori Oberon kembali ke istana dan menjelajahi setiap ruangan yang ada disana. Ruang-ruang besar dengan ukiran emas asli di langit-langit ruangan berhasil membuat gadis itu terpukau.
Ketika malam, Joanna sudah berada di kamar tidur Oberon. Gadis berambut hitam mengkilap itu baru saja selesai mandi dan kini ia hanya mengenakan gaun tipis yang transparan. Gaun yang membuat Oberon bisa melihat jika Joanna tak memakai apapun lagi didalam sana. Perlahan ia memijat kepalanya yang berkedut.
“Apa yang kau baca?” tanya Joanna begitu melihat Oberon yang tengah berkutat dengan tumpukan dokumen diatas meja kerjanya.
Gadis itu kini tengah sibuk menata gaun yang ia bawa dalam kotak pakaian kecil dan memindahkannya kedalam lemari pakaian Oberon. Ia menempatkan pakaiannya disamping baju kebesaran Oberon.
“Hanya sedang membaca dokumen perjanjian dagang dengan kerajaan Nuvoleon,” jawab Oberon tanpa mengangkat kepalanya. Mencoba untuk tidak melihat tubuh Joanna agar bisa kembali fokus
“Perjanjian dagang?” tanya Joanna. Gadis itu malah menghampiri Oberon dan melingkarkan tangannya ke pundak kekar pria itu. “Hmm?”
“Iya. Perjanjian jual beli,” jawab Oberon yang semakin menundukkan kepalanya. d**a sintal Joanna menekan lengan Oberon membuat darah mengalir cepat ke satu titik di tubuh pria itu.
Joanna beringsut naik ke atas pangkuan Oberon dan duduk disana. Sedang kedua tangannya masih melingkar di leher tebal pria itu. Joanna menyeringai melihat semburat merah dari pipi Oberon. Manis sekali
Tangan Oberon gemetar saat d**a sintal Joanna menekan lengannya. Dan kini semakin gemetar saat p****t sintal gadis itu menekan juniornya. Kewarasannya semakin menghilang saat aroma vanilla memabukkan menyebar dari tubuh Joanna yang masih basah menyeruak masuk memanjakan indra penciumannya. Benar-benar menyiksa.
“Oberon….” Panggil Joanna dengan lembut
“Apa?” jawabnya sembari melirik gadis dalam pangkuannya
“Apa Andreas bisa mengajariku cara menggunakan pedang? Aku ingin berlatih pedang,” ucap Joanna dengan ekspresi yang susah diartikan
Gadis itu telah bertekad untuk berbaikan dengan Andreas karena Moris yang menyuruhnya. Wanita tua itu pasti akan kembali marah jika Joanna tak mengindahkan nasehatnya. Menurut Moris, Joanna harus dekat juga dengan orang-orang kepercayaan Oberon. Terutama Andreas.
Karena menurut Moris, mendapatkan hati Oberon saja tidak cukup. Joanna juga harus mendapatkan hati dan dukungan orang-orang disekitar Oberon demi keselamatan gadis itu.
Sayangnya Oberon mensalah artikan permintaan Joanna. Pria itu mengira jika Joanna tertarik pada Andreas karena paras tampan pengawal setianya itu
“Biar aku saja yang mengajarimu,” Oberon mencoba menekan kekesalannya karena hasrat yang timbul dari gesekan tubuh Joanna pada tubuhnya meminta sebuah pelepasan
“Tidak! Aku ingin Andreas yang mengajariku,” protes Joanna yang tak ingin melepaskan kesempatan untuk berbaikan dengan Andreas. Kata Moris, Joana harus bisa membuat Andreas berada di pihaknya.
“Jadi kau keberatan jika aku yang mengajarimu?” tanya Oberon dengan memasang ekspresi kurang senang
“Tidak. Bukan begitu maksudku. Kau kan sibuk, Andreas saja yang mengajariku,” kilah Joanna
“Ck!,” perlahan Oberon menurunkan Joanna dari pangkuannya dan berjalan pergi
“Kemana?” teriak gadis itu
“Mandi!. Kau tidur saja lebih dulu,” ucap Oberon yang langsung menghilang dari pandangan Joanna.
Dengan kesal Oberon langsung masuk ke dalam kolam pemandian tanpa melepas bajunya. Lalu menenggelamkan dirinya ke dalam kolam air hangat yang dipenuhi taburan mawar merah untuk menjernihkan pikirannya.
Ia sadar jika kekesalannya terlalu berlebihan. Namun tetap saja ia kesal!
Joanna menarik tubuh Oberon setelah selama lima belas menit pria itu berada di bawah air. “Kau bisa mati bodoh!” gerutunya
“Kenapa kau marah?” tanya Joanna yang turut memasukkan diri ke kolam pemandian dan duduk disamping Oberon. Gaun transparan gadis itu melekat sempurna ke tubuh sexinya membuat kewarasan Oberon semakin menghilang
Dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya dengan menatap langit-langit ruangan.
“Aku tidak marah. Hanya… sedikit kesal,” ucapnya lirih
Alis Joanna bertaut. “Karena Andreas?”
“YA!” jawab Oberon cepat.
Joanna menghembuskan nafas kecil. ‘Dia cemburu pada pengawal kepercayaannya sendiri? Astaga!’
Gadis itu beringsut ke depan Oberon dan kembali melingkarkan tangannya ke leher tebal pria itu lalu naik keatas pangkuan Oberon. Kini mereka duduk saling berhadapan. Begitu dekat sampai Oberon menahan nafasnya
“Aku akan membuatmu melupakan kekesalanmu,”
Joanna menarik kasar rambut Oberon membuat pria itu mendongak kesakitan. Bibir sexynya langsung melumat bibir tebal Oberon dengan kasar dan sesakali memasukkan lidahnya disana. Membuat jantung Oberon berdegup begitu kencang.
Perlahan Joanna meraih kedua tangan Oberon dan meletakkannya diatas keduabelah dadanya membuat tangan Oberon kembali gemetar. Gadis itu meremas tangan Oberon yang secara tidak langsung membuat tangan pria itu meremas dadanya.
“Begitu caranya,” bisik Joanna lirih
Oberon mengangguk dan mulai meremas p******a Joanna dengan perlahan. Begitu kenyal. Menimbulkan sensasi menyenangkan yang belum pernah dirasakannya.
Semakin lama remasan Oberon menjadi semakin kuat membuat Joanna mendesis lirih. “Ahh,”
“Kau tak ingin menggigitnya?” tanya Joanna lagi sembari melucuti pakaian Oberon satu persatu hingga tak menyisakan seutas benangpun disana.
Joanna menarik turun gaun transparannya hingga ke bawah d**a menampilkan payudaranya yang sintal padat berisi. Bulat sempurna. Begitu indah!.
Dengan ragu, Oberon membenamkan wajahnya kesana dan sedikit menjilatnya
“Ya. Benar begitu,” gumam gadis itu lirih
Oberon menjadi semakin berani dan mulai menyesap putting berwarna merah muda milik Joanna sedang kedua tangannya tak henti meremas dengan kuat.
Ditengah lenguhan manja Joanna, gadis itu dengan sengaja mempercepat gesekan tubuh bagian bawahnya pada satu titik di tubuh Oberon. Membuat pria itu turut melenguh nikmat.
Ditengah kewarasannya yang telah benar-benar menghilang. Oberon dengan cepat memasukkan miliknya ke dalam milik Joanna membuat gadis itu bergerak naik turun dengan tempo yang semakin cepat.
Akhirnya kolam air panas itu menjadi semakin panas karena lenguhan erotis Joanna saat mendapat sebuah pelepasan. Mereka mengakhiri malam yang panas itu dengan tidur diatas ranjang mewah Oberon dalam kondisi tubuh yang masih basah.
“Aku akan menyuruh Andreas mengajarimu pedang mulai besok,” ucap Oberon tanpa melihat paras gadis yang tengah bertengger dalam pelukannya.
Sungguh, kekesalannya belum benar-benar hilang. Namun ia benar-benar tidak bisa menolak permintaan Joanna. Seperti ada sihir disetiap perkataan gadis itu membuat orang lain menurutinya dengan mudah
Joanna luar biasa gembira lalu mencium Oberon bertubi-tubi hingga membuat kekesalan pria itu benar-benar lenyap. Oberon tersenyum tipis. Matanya terpejam menikmati kehangatan tubuh Joanna dan perlahan ia terlelap.
***
Sang mentari sudah sedari tadi menampakkan dirinya di langit timur. Angin berhembus kencang membawa dedaunan yang gugur dari satu tempat ke tempat yang lain. Hawa sejuk menyeruak masuk membuat orang menggemeretakan gigi menahan dingin
Pagi itu, mereka berada di halaman istana yang begitu luas untuk berlatih pedang. Dari kejauhan Oberon bisa melihat Joanna dan Andreas yang tengah duduk bersebelahan sembari memegang pedang kayu di tangan kanan mereka. Andreas terlihat tengah menjelaskan sesuatu pada gadis itu.
Ternyata bukan sebuah penjelasan melainkan sebuah pertengkaran yang terjadi di sana.
Oberon langsung berlari menuju ke arah Joanna saat melihat Andreas mencengkram kuat leher gadis itu. namun ia menghentikan langkahnya dan kembali berlari ke dalam istana saat melihat Joanna menendang pangkal paha Andreas membuat pria itu meringis kesakitan
Oberon benar-benar tak mengerti seburuk apa hubungan kedua orang itu. Namun ia bisa melihat dari balik jendela jika Andreas kembali bangkit dan sekarang mereka tengah belajar pedang bersama.
“Hubungan mereka benar-benar tidak baik. Tapi entah kenapa aku tetap kesal melihatnya,” ucapnya lirih
Sedang dibelakangnya, Tuan Hector tengah berdiri mematung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah hampir limapuluh tahun ia menjadi Kepala Penasehat di Kerajaan Mighal, namun baru kali ini ia melihat seorang Kaisar berdiri membungkuk sembari menyembunyikan dirinya dibalik tirai jendela sembari mencoba menguping pembicaraan di luar sana.
Sedang dihalaman luas itu, Andreas dan Joana sama sekali tidak tau jika ada sepasang mata yang sibuk mengawasi mereka. Kedua orang itu tengah bertengkar. Joanna bersikeras untuk meminta maaf pada Andreas namun lelaki itu masih enggan memaafkannya.
“Kubilang maafkan aku. Apa kau tuli Andreas?”
“Lihatlah bagaimana kau meminta maaf. Apa menurutmu aku akan memaafkanmu?”
Begitulah kira-kira percakapan diantara kedua orang itu dan pertengkaran sengit terjadi.