Jenderal Andreas

1899 Words
Joanna telah selesai berendam di kolam pemandian air hangat sampai kulitnya keriput. Ia sengaja memanjakan diri setelah berhasil membuat Angelina menangis. Dan Kini gadis itu telah siap dengan gaun merah muda yang membalut tubuhnya. Begitu cantik! “Apa aku harus memakai gaun-gaun besar ini setiap hari Moris?” tanya Joanna sembari membenarkan korset yang membuat dadanya sesak Moris hanya diam tak menjawab pertanyaan Joanna. Wanita tua itu sibuk menata rambut sang Permaisuri dan memasangkan pita-pita kecil disana “Aku mau gaun baru yang lebih sexy. Aku tidak menyukai semua gaun ini.” Joanna melirik sekilas menunggu reaksi Moris. Namun lagi-lagi wanita tua itu hanya diam tak memperhatikan ucapannya “MORIS! Kenapa kau mengabaikan ucapanku?” dengus gadis itu dengan kesal. Moris bergeming dan memandang dengan wajah masam. “Apa Permaisuri semalam pergi menemui King Solomon?” tanyanya Alis Joanna bertaut kebingungan, ‘Bagaimana Moris bisa tau? Apa Oberon yang memberitaunya?’ “Ya!” jawab Joanna dengan sedikit anggukan. “Tapi aku belum sempat bertemu dengannya. Oberon datang dan membawaku pergi” Wanita tua itu mendengus kecil. Raut wajahnya menyiratkan sebuah kekecewaan. “Tapi kedatangan Permaisuri ke penginapan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat King Solomon salah paham.” Ucapnya “Hamba tidak akan lagi melarang Permaisuri untuk melakukan apa yang anda ingin lakukan. Sungguh, perkataan hamba sangatlah tidak penting untuk seorang Permaisuri terhormat seperti anda.” Moris bergegas pergi meninggalkan kamar Gadis itu bergeming dan berdiri dengan bingung. Terbersit rasa sakit dalam hatinya. Sekelibat ingatan muncul, disana Joanna kecil tengah berlarian di hamparan ladang gandum bersama Moris. Permaisuri Joanna adalah seorang yatim piatu. Walau gadis itu adalah anak perempuan dari adik laki-laki Zarek, namun pria itu tak pernah memberikan perhatian yang cukup untuk Joanna. Morislah yang merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang Wajah gadis itu memucat. “Bagaimana ini? Sepertinya Moris benar-benar marah.” Joanna berlari keluar Paviliun menuju ke Istana tempat Oberon berada Joanna berlari masuk ke dalam Istana tanpa mempedulikan apapun. Ia merasakan sorot mata dingin tajam yang menghujam kepada dirinya. Bukan hanya dari satu orang saja, bahkan Andreas yang merupakan Jenderal kepercayaan Oberon juga tampak nyata menunjukkan kebenciannya. Dibelakang Andreas, para pelayan juga menunjukkan ekspresi serupa. “Jadi orang-orang Oberon sebegitu membenci Permaisuri ?” ucap Joanna dalam hati “Kenapa Permaisuri kesini? Dia benar-benar tidak tahu malu,” bisik seorang pelayan “Stttt! Jangan berisik. Nanti dia mengadu pada pamannya,” jawab yang lainnya Joanna tergesa menaiki tangga Istana dengan cepat tanpa mempedulikan pasang mata yang menatap nanar padanya. “OBERON!!!” Teriak Joanna membuat keributan Andreas berjalan cepat menghampiri gadis itu. “Apa yang kau lakukan? Kaisar sedang sibuk!” ujar pria tampan itu tanpa sedikitpun rasa hormat Joanna tak mengindahkan perkataan Andreas dan terus berjalan menelusuri lorong. “OBERON! Dimana kau?” teriaknya lagi “HEI! Apa kau tuli? Kubilang Kaisar tengah sibuk. Pergi dari sini!” Andreas menghunuskan pedangnya ke leher Joanna membuat gadis itu menghentikan langkahnya “ANDREAS! Singkirkan pedangmu! Beraninya kau!” gertak Oberon dengan marah sembari berlari kecil kearah mereka “A-apa? Anda tidak salah Kaisar?” tanya Andreas meyakinkan. ‘Dia keponakan Zarek, musuh terbesar anda Kaisar’. Tatapan pengawal setianya seolah berkata demikian. “Apa kau meragukan titahku Jenderal?” tanya Oberon balik. “Singkirkan pedangmu sekarang!” perintahnya lagi Andreas mengerutkan dahinya. “Baik Kaisar!” perlahan pria itu menurunkan pedangnya Mereka berjalan beriringan memasuki ruang kerja Oberon. Andreas tak melepaskan pandangannya dari Joanna, takut jika sewaktu-waktu gadis itu menghunuskan belati ke tubuh Kaisar. Lalu mereka duduk di sofa megah berwarna coklat tua ditengah ruangan. Terdapat patung singa besar disampingya. “Apa yang membawamu kesini?” ujar Oberon dengan suara lembut membuat Andreas menatapnya dengan aneh. Alis Joanna kembali bertaut cemas. “Bagaimana ini Oberon…? Ini sangat gawat. Aku bisa mati” Beberapa pelayan yang tengah mengantar teh dan kue disana langsung membeku. Tak ada yang berani bersuara, bahkan mereka menahan nafasnya. Permaisuri sudah gila? Berani sekali dia memanggil Kaisar tanpa embel-embel Yang Mulia, Tuan atau gelar penghormatan lainnya? Terlebih Permaisuri memanggil Kaisar dengan nama aslinya. Selain Princess Marie, tak ada seorangpun di Istana yang berani memanggil nama asli Kaisar. “Apanya yang bagaimana Permaisuri?” tanya Oberon dengan lembut Ada apa dengan Kaisar? Tanya semua pelayan dalam hati masing-masing. Permaisuri Joanna baru saja bersikap tidak sopan padanya. Tapi alih-alih dihukum, Permaisuri malah mendapat tatapan cemas dari Kaisar. “MORIS! Moris marah padaku karena aku tidak mendengar perkataannya. Bagaimana ini Oberon?” ucap Joanna dengan cemas Andreas menghela nafas dan memutar matanya kesal. “Kukira masalah serius!” Senyum manis terbit dari bibir Oberon dan semua pelayan terpaku melihat adegan itu. Bukan hanya karena senyuman manis yang jarang Kaisar tunjukkan, tapi perlakuan Kaisar yang sangat berbeda pada Permaisuri yang membuat mereka tertegun. Tak bisa dijelaskan, Kaisar terlihat begitu mencintai gadis di depannya yang tengah menangis dengan wajah panik “Apa yang disukai Moris?” ujar Oberon sambil membungkuk untuk menghapus air mata Joanna Gadis itu terkesiap dan mencoba mencari ingatan dari pemilik asli tubuhnya. “Kucing! Moris menyukai kucing! Belikan aku kucing Oberon! Kucing yang paling lucu. Kucing yang bisa membuat Moris memaafkanku.” Joanna menarik tangan lelaki itu mencoba mengajaknya ke pusat kota untuk membeli kucing Dengan ragu Oberon menghentikan tarikan tangan Joanna. “Aku harus bertemu delegasi dari kerajaan Nuvoleon sebentar lagi. Andreas akan mengantarmu,” ucap Oberon sembari menepuk pundak pengawal setianya itu Walau terlihat tidak suka, namun Andreas tidak akan mungkin menolak perintah Kaisarnya. “Hamba Andreas de Coigny, siap melayani anda Permaisuri,” ujar Andreas dengan suara tegas “Andreas adalah orang kepercayaanku,” ujar Oberon sambil menatap Joanna. “Dia akan memilihkan kucing terbaik untuk Moris,” tambahnya Joanna mengangguk dan tangisnya perlahan mulai berhenti “Aku harus ke ruang pertemuan sekarang. Jika kau butuh sesuatu kau bisa mengatakannya pada Andreas. Dia akan jadi pengawalmu saat aku tidak bisa menemanimu,” ucap Oberon kemudian berlalu meninggalkan Joanna bersama sang Jenderal “Hamba akan mengantarkan anda ke pusat kota. Ayo berangkat sekarang,” jelas Andreas dengan nada ketus Melihat tatapan ketus pria itu mengingatkan Joanna pada managernya, Steven. Dulu ia sering bertengkar dengan Steven. Pria itu membenci Joanna tanpa alasan membuat mereka sering beradu argument sampai beradu tinju Akhirnya mereka berangkat ke pusat kota menggunakan kereta kuda milik Oberon. Joanna menatap lekat Andreas yang duduk di depannya. “Kau sama tampannya dengan Oberon!” ucapnya membuat Pria itu mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?” matanya nyalang menatap dengan tidak suka Bibir Joanna melengkung menatap lekat pria yang duduk tegap dengan melipat kedua tangannya itu. “KAU, ternyata sangat tampan jika dilihat dari dekat. Kau masih tak paham ucapanku?” Andreas menghunuskan pedangnya ke leher Joanna membuat gadis itu menyeringai kesal “Anda harus berhati-hati dengan ucapan anda!” seru Andreas dengan wajah semerah cherry sampai ke telinganya. “Kau semakin tampan saat marah Jenderal” tegas Joanna dengan kilatan tajam dimatanya. Kakinya dengan cepat menendang lengan Andreas dan pedang pria itu jatuh ke bawah kakinya Ternyata tendangan Joanna begitu kuat hingga membuat lengan Andreas berdenyut, dan sekarang gadis itu kembali menyeringai “KAU!!!” Andreas berdiri dan mencengkram kuat leher Joanna saat kereta kuda yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti “Kita sudah sampai Permaisuri … Jenderal…” ucap sang kusir sembari membukakan pintu. Lelaki tua itu langsung membalikkan badannya saat melihat cengkraman tangan Andreas di leher Joanna. Gadis itu tertawa lirih dan menampik tangan Andreas dengan keras lalu bergegas menuruni kereta kuda “Kau menyebalkan! Aku akan membuat Oberon memecatmu!” ucap Joanna dalam hati. “Hei! Pakai topi ini atau orang-orang akan tau jika ada seorang Permaisuri tengah menghabiskan uang kerajaan untuk berbelanja,” ucap Andreas sembari memakaikan topi besar yang menjuntai untuk menutupi separuh wajah Joanna. “Cih!” keluh Joanna sembari membenarkan topinya Joanna mengerucutkan bibirnya kesal, dan bergegas memasuki sebuah toko bertulis ‘Pet Shop’ di depannya. Toko itu terlihat elit bahkan kesan mahalnya sudah terlihat dari pemilihan gagang pintunya “Jangan disini. Aku tau tempat yang lebih baik,” Andreas menarik tangan Joanna dan menggiringnya menuju ke sebuah jalan sempit disamping toko roti ‘La Pastry Bakery’ melewati sebuah gang kecil yang becek hingga membawa mereka ke jajaran toko yang jauh dari kata elit Papan nama ditoko itu terbuat dari kayu yang sudah lapuk dan terlihat akan jatuh menimpa orang yang berlalu lalang dibawahnya. “Kenapa kita ke tempat seperti ini? Oberon memberiku banyak uang. Kita bisa membeli di tempat yang tadi,” ucap Joanna sembari menjinjing gaunnya agar tidak terkena lumpur Andreas memandang dengan tidak suka. “Itu uang rakyat, bukan uang Kaisar. Jangan terbiasa menghambur-hamburkannya,” ketusnya Joanna menarik nafas panjang dan masuk ke dalam toko dengan kesal. Bahkan pintu kayu itu berdecit saat ia mendorongnya Di dalam toko tampak seorang wanita yang terlihat tujuh tahun lebih tua darinya tengah mengelap meja. Wanita itu terkejut melihat kedatangan Joanna di toko tuanya. Begitu kontras, gaun mewah Joanna sangat tidak cocok untuk berada disana. “Ada yang bisa saya bantu nona?” ucapnya dengan lembut. Lalu senyumnya merekah saat melihat sosok dibelakang Joanna. “Andreas…!,” panggilnya Joanna menoleh kebelakang dan mendapati Andreas tengah melambaikan tangannya sembari tersenyum canggung. “Ya! Hai Audrey…,” sapanya singkat “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lagi pada Joanna yang tengah membenarkan topinya Gadis itu mengangguk. “Ya! Aku mau seekor kucing yang sangat lucu. Bahkan lebih lucu dariku,” Audery mengangguk dan tersenyum lembut. Lalu membawakan kucing-kucingnya ke depan Joanna. Walau sebuah toko tua, namun kucing disana terawat dengan baik dan tempatnya juga bersih. Sayangnya Joanna merasa kucing-kucing itu tak cukup lucu untuk membuat Moris memaafkannya. Semangatnya hilang dan ia kembali mengerucutkan bibirnya kesal. Ia sudah hampir meninggalkan toko saat matanya tak sengaja melihat seekor kucing putih berbulu lebat tengah bergelantungan di tirai jendela. Kepalanya dibawah dan ekornya di atas. Matanya hitam berbinar, dan lidahnya menjulur seolah mengejek kedatangan Joanna “Aku mau yang itu!” Joanna merebahkan dirinya ke kursi kayu di dekat pintu lalu melipat kedua tangan dan menyilangkan kakinya. Jika Joanna sudah melakukan itu, berarti sudah tidak ada orang lain yang bisa merubah keputusannya. Bahkan Tuhan sekalipun. Andreas mengurut keningnya. “Tidak! Kau tidak boleh membeli yang itu. Pilih yang lain,” ucapnya dengan ketus. Namun Joanna bergeming dan membuang mukanya tidak peduli Alis Audrey bertaut panik. “Ta-tapi kucing ini milik mendiang suami saya. Maafkan saya nona, tapi saya tidak bisa menjualnya,” ucap wanita itu dengan wajah sendu “Aku tidak peduli! Aku mau yang itu! Toh suamimu sudah mati!” ucap Joanna acuh “KAU!” Andreas kembali mencengkram kuat leher Joanna. Namun gadis itu malah menyeringai. “Kenapa? Kau kan yang memaksaku untuk membeli kucing disini. Ck,” gerutunya Audrey berlari dengan panik mencoba menghentikan amukan Andreas sebisa mungkin. Akhirnya wanita itu setuju untuk menjual kucingnya pada Joanna membuat guratan senyuman di bibir manis gadis keras kepala itu “Saya yakin anda bisa merawatnya dengan baik. Maaf karena tidak mengenali anda Permaisuri,’ ucap Audrey dengan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat “Ya!, Aku memaafkanmu,” jawab Joanna dengan muka tebalnya Bukan tanpa sebab, Joanna sengaja melakukan itu untuk mencari tau kelemahan Andreas. Perkiraannya benar, Andreas menyukai janda cantik itu dan ia akan memanfaatkan situasi ini Akhirnya mereka kembali ke Istana setelah membeli sebuah pita besar berwarna merah muda. Joanna terlihat sangat senang. Namun tidak dengan Andreas, pria itu sangat menyesali keputusannya untuk mengajak Joanna ke toko Audrey. “Tunggu pembalasanku,” gumamnya sembari mengelus kucing putih dalam pangkuannya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD