Mereka bersama-sama ke istal untuk mengembalikan kuda dan berjalan menelusuri taman. Oberon mengurut pelipisnya. Pria itu semakin tak bisa menahan hasratnya, libidonya semakin meningkat saat melihat bibir semerah cherry milik Joanna.
Gadis itu berbelok menuju ke Paviliun dan melambaikan tangannya pada Oberon
“Aa-ayo melakukannya,” ujar Oberon tak berani menatap gadis di depannya. Pikirannya dipenuhi dengan gambaran Joanna yang menari gemulai dengan pakaian tipis. Pikiran random itu memenuhi kepalanya
Ujung bibir Joanna terangkat. Gadis itu menarik leher tebal Oberon dan kembali menciumnya. Harum vanilla yang menguar dari tubuh Joanna membuat pria itu mencium kasar ceruk leher gadis dalam gendongannya.
Oberon tak bisa lagi berpikir jernih dan membawa Joanna masuk ke dalam Paviliun. Para pengawal membukakan pintu dengan menundukkan kepala tak berani melihat apa yang tengah diperbuat Tuan dan Nyonyanya.
Joanna mendorong Oberon keatas ranjang, naik keatas tubuh kekar pria itu dan menempelkan bibirnya ke daun telinga pria dibawahnya. Bukan bisikan, namun jilatan yang diberikan Joanna membuat Bulu roma pria itu berdiri. dan saat bibir Joanna mulai turun mengecupi tengkuknya, Oberon berhasil mengeluarkan suaranya
“A-apa yang kau lakukan?”
Joanna tak mengindahkan perkataan Oberon. Dia malah membuka kancing pria itu satu persatu dan melepas kemeja hitam yang melilit tubuh Oberon lalu melemparkannya kesamping tempat tidur. Jari jemarinya begitu terampil tak ada yang bisa menghentikannya
Ia mencium dan meninggalkan tanda di ceruk leher pria itu. Demi Tuhan, Oberon sudah tidak dapat lagi berpikir jernih. Jantungnya berdetak kian cepat dan hawa panas mulai menjalar disekujur tubuhnya. ini adalah kali pertama untuknya. Walau dikelilingi banyak gadis, sebenarnya Oberon tak terlalu tertarik dengan mereka. Ia lebih tertarik untuk menebas leher para musuh di medan perang.
Dagu Oberon terangkat dan tubuhnya menggelinjang saat Joanna menyapu kedua putingnya secara bergantian. Lidah gadis itu begitu terampil memainkan milik Oberon.
“Ah,…. Berhenti,” desisnya
Joanna menghentikan hisapannya, lalu menatap tajam pria dibawahnya. “Kau ingin aku berhenti?”
Gadis itu menyapu d**a bidang Oberon dengan jari jemarinya yang ramping terampil. Terlihat guratan luka disana-sini. Hampir seluruh tubuhnya tampak memiliki luka teriris benda tajam. Luka yang didapatnya saat Zarek dengan sengaja mengirimnya ke medan perang diusia lima belas tahun.
Pria itu menarik Joanna yang beranjak untuk meninggalkannya. Membuat gadis itu terseret dan kembali duduk diatas perut kotak Oberon. Ia menggeleng pelan, “Jangan pergi!” ucapnya lirih
Joanna menyeringai. Ia menatap lekat tubuh Oberon dan dengan sengaja bergeser semakin kebawah
“Kuharap kau tidak melakukan ini karena Zarek.” Oberon memalingkan mukanya menatap langit-langit ruangan.
Joanna mencengkram kuat rahang pria di depannya dan membaliknya, “Kau harus menatapku saat berbicara!”
“Siapa Zarek?” tanyanya lagi
Oberon membelalakkan matanya. “Pamanmu!” gertaknya
Alis Joanna bertaut, “Kenapa aku harus melakukan ini untuknya? Aku melakukan ini karena tubuhmu sangat sexy”
Gadis itu mengulum lembut bibir Oberon. Jari jemarinya tak berhenti memainkan putting pria itu. Joanna merasa ada sesuatu yang menekan pahanya. Sesuatu dari balik celana Oberon mengeras dan menyembul keluar.
Gadis itu menyeringai, dia tak pernah gagal membuat pria mendesis nikmat. Tentu saja ia memiliki banyak pengalaman dengan pria Amerika di abad 21
Dengan cepat jari Joanna melepas celana Oberon dan mulai bermain main dengan milik pria itu membuatnya mengerang kenikmatan. Joanna menggigit bibir bawahnya, erangan Oberon membuat libidonya naik. Tanpa ragu ia memasukkan milik Oberon ke dalam miliknya
Pria itu mendongak keatas dan matanya terpejam. Garis rahangnya yang tegas terlihat begitu sexy membuat Joanna memberikan gigitan-gigitan kecil disana. Gadis itu bergerak dengan lihai tak memberi kesempatan Oberon untuk beristirahat.
“AHH!” pria itu tak bisa membendungnya lagi dan berteriak keras
“Hei,…. Jangan berteriak seperti itu. Pengawal akan mengira aku tengah menyerangmu,” gertak Joanna sambil mengerutkan keningnya
Oberon beranjak dan menggendong tubuh polos Joanna. “Kau memang menyerangku,” ucapnya
Pria itu mencium leher gadis dalam dekapannya dan menghempaskannya keatas ranjang, “Dengan siapa kau biasa melakukannya?” Oberon memegangi kepala ranjang mewahnya bersiap untuk kembali menghujani milik Joanna
“Ini kali pertama untukku. Apa kau tidak melihat darah diatas perutmu?” Joanna mendesis saat Oberon kembali meleburkan diri ke dalam miliknya.
Alis Oberon bertaut, “Lalu kenapa kau sangat mahir?”
Joanna menyeringai, “Aku mempelajarinya dari tumpukan novel dewasa dibawah tempat tidur”
Pemilik asli tubuh ini pasti sangat menyukai Oberon. Ia bahkan mempelajari cara menyenangkan prianya dari berbagai buku yang ia sembunyikan dibawah tempat tidur. Sayangnya ia tak pernah memiliki kesempatan untuk mempraktekkan itu sampai akhir hayatnya. ‘Kasihan sekali,’ ucap Joanna dalam hati
Oberon memejamkan matanya dan dagunya kembali terangkat saat mencapai kenikmatan. Ia ambruk kesamping gadis itu, memeluknya erat dan tertidur. Kehangatan tubuh Joanna membuatnya semakin lelap.
***
Mata Joanna menyipit saat sinar mentari pagi menerobos gorden jendela menimpa paras cantiknya. “Astaga! Tubuhku remuk redam! Siapa sangka kau lebih jago dari Marco,” ucapnya dalam hati. Saat menggeser tubuhnya ke pinggir kasur, sebuah tangan besar yang melingkar di perutnya menahan gadis itu.
“Kau bahkan tak mau melepasku sekarang?” bisiknya sambil menoleh kebelakang mendapati sosok pria dengan badan bagian atas yang terekspos jelas, menampilkan otot-otot kuat dan perut sixpack. Wajahnya setampan Dewa Ares dengan rahang tegas dan mata tertutup dengan bulu mata hitam panjang. Tertegun melihat pemandangan yang begitu menakjubkan di depannya, Joanna tak sadar saat sosok itu tersenyum tipis
“Apa yang kau lihat?” tanya Oberon dengan suara berat khas seseorang yang baru bangun tidur. Terdengar sexy
Joanna terkesiap, “KAU! Aku melihatmu. Bagaimana kau bisa setampan ini? Tubuhmu dan wajahmu adalah perpaduan sempurna melebihi Dewa Ares,” jawabnya
Oberon memalingkan mukanya malu. Apalagi saat sadar mereka tengah berada di bawah selimut tak berbusana sama sekali.
Joanna menarik tubuh Oberon dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan pria itu. Gadis itu sekarang menutup matanya erat merasakan kehangatan tubuh pria besar yang mengungkungnya. “Hangat,” ujarnya membuat muka Oberon menjadi merah padam
Joanna mendongak memperhatikan diam-diam pria yang mengungkungnya. Gadis itu melihat pipi Oberon berubah kemerahan hingga ke telinganya, “Ah, lucu sekali,” gumamnya dalam hati, seraya ditariknya dagu Oberon kemudian kembali menyesap bibir tebal pria itu.
“Bukannya kau harus pergi bekerja? Maksudku mengurus permasalahan di Istana atau apapun itu,” tanya Joanna. Gadis itu merangkak naik keatas tubuh Oberon jari jemarinya mengusap lembut rambut pria itu lalu menariknya keras. “Mau bermain lagi nanti malam?” bisiknya
“AHHH!” Oberon meringis karena tarikan kasar di kulit kepalanya lalu mengangguk mengiyakan.
‘Aku seperti tidak bermartabat saat bersamanya. Anehnya, aku menyukai itu,’ ucap Oberon dalam hati.
“Pakai pakaianmu, aku akan mengantarmu kembali ke Istana. Kudengar kolam pemandian di Istana jauh lebih besar dari kolam pemandian di Paviliun ini. Kita bisa melakukannya lagi disana.” Joanna beranjak mengambil gaun tidurnya
Oberon turut memakai jubahnya dengan cepat. Mereka berjalan keluar Paviliun melewati hamparan taman bunga yang menerbakkan bau wangi di pagi hari.
Gadis yang berdiri menunggu di samping danau langsung menarik perhatian Joanna. "Angelina," ucapnya dalam hati
Sedang Angelina menggemeretakkan gigi mencoba menahan kemarahan saat melihat Oberon keluar dari Paviliun Arsenik di pagi buta ini.
“Kenapa anda keluar dari Paviliun itu Kaisar?” ucap Angelina menahan air mata
Wajah Joanna berubah, senyuman menghiasi bibir sexynya. “Persis seperti yang ada dalam benakmu Lady,” jawabnya
Napas Angelina menderu menguapkan kekesalan, “Benarkah itu Kaisar?” matanya menatap Oberon mengharapkan sebuah bantahan
Namun Oberon malah mengangguk mengiyakan.
Joanna menyeringai puas. “Tentu saja benar!. Kuberitau satu hal, Oberon memiliki tubuh yang luar biasa sexy dan dia terus mengerang nikmat semalam,” bisik Joanna tepat di daun telinga Angelina. Gadis itu menarik jubah Oberon memperlihatkan d**a bidang pria itu. “Kau ingin melihatnya Lady?” tanyanya mengejek
Angelina memalingkan mukanya dan berlari meninggalkan Istana. ‘Gadis sialan yang sangat tidak bermartabat. Aku akan membalasmu nanti,’ ucapnya dalam hati
Oberon sedikit memijat kepalanya melihat tingkah laku Joanna. “Jangan memprovokasinya nanti kau sendiri yang akan kesusahan,” ucapnya. Pria itu kembali mengancingkan pakaiannya. Jika itu dilakukan oleh orang lain, pasti Oberon sudah langsung menebas leher orang yang berani membuka jubahnya di tempat seterbuka itu. Anehnya pria itu sama sekali tak merasa terhina saat Joanna yang melakukannya
“Gadis itu berada di sini sepagi ini, malam itu juga. Sebenarnya apa hubungan kalian?” tanya Joanna memulai pertengkaran
Alis Oberon bertaut kebingungan, “A-Aku tak memiliki hubungan apapun dengannya,” jawabnya tergagap
Dahi Joanna berkerut kesal. “Lupakan soal kolam pemandian. Aku sudah tidak berselera. Pergi sana!” gertaknya
Gadis itu kembali ke Paviliun dengan kesal. Tidak benar-benar kesal, justru sangat bahagia karena berhasil membuat Angelina marah bahkan sampai menangis. Lalu ia tertawa puas, “Ha,… ha… ha….”