Cemas

1178 Words
"Bagaimana? Apa keputusanmu, Hani?" Brian sudah memanggil Hani ke ruangannya sebab ada yang harus ia bicarakan mengenai jabatan yang akan ia naikan untuk gadis itu. "Saya ..." Tring!! Handphone Brian berbunyi, ada panggilan masuk di sana. Brian lantas menghentikan Hani untuk tidak menjawab pertanyaannya dulu dan lebih memilih mengangkat panggilan itu. "Sebentar, saya angkat telpon dulu." Hani mengangguk, "Baik, Pak." "Halo." "Iya bi, saya pulang sekarang." Brian menutup telpon itu, ia bergumam dalam hatinya. 'Ada apa ini? Kenapa musti aku yang harus mengatasinya?' "Kenapa Pak? Apa terjadi sesuatu?" tanya Hani cemas. "Kamu handle semuanya, saya ada urusan sebentar." "Baik, Pak." Lantas Brian keluar terburu-buru. Karena bagaimanapun dia tanggung jawabnya. Sementara itu, Kinan melihat Brian yang berlari keluar ruangannya. Gadis itu merasa aneh, ada apa dengan Brian? "Bri, tunggu!!" Kinan berteriak dan langsung mengejarnya. "Bri ..." Namun sepertinya Brian tidak mendengar. Bahkan pria itu langsung pergi dengan mobil yang ia kendarai sendiri. "Ada apa sih? Kenapa dia sampai terburu-buru seperti itu?" Kinan ingat jika Brian menyuruh Hani untuk masuk ke ruangannya. Setidaknya Hani tahu kemana Brian pergi dan terlihat terburu-buru. Gadis itu kembali untuk menemui Hani. Hani baru saja keluar dari ruangan Brian. Gadis itu membawa proposal di tangannya. "Hani." Kinan memanggil. Gadis itu berhenti, menoleh ke arahnya. "Iya, Bu?" "Ada apa sama Brian dan ... laporan apa yang kamu bawa itu?" tanya Kinan setelah melihat sesuatu di tangan Hani. "Ini ... bukan apa-apa, Bu. Hanya laporan waktu Pak Brian berada di Paris. Barusan Pak Brian dapat telpon, saya tidak tahu itu dari siapa, tapi Pak Brian nampak cemas dan tergesa-gesa. Mungkin itu kabar dari keluarga Pak Brian," jawab Hani. Setidaknya ia harus hati-hati sebab Kinan seperti terlalu ingin tahu soal Brian. "Oh, gitu. Oke, makasih Hani." Hani mengangguk, kembali ke ruangan kerjanya. Sementara Kinan masih berpikir. Ada apa ini? Apa sudah terjadi sesuatu sama Om atau Tante? *** "Ada apa ini? Kenapa bisa sampai seperti ini, Bi?" tanya Brian saat ia pulang ke rumah. Sebenarnya tadi ia mendapat kabar jika Alisya pingsan. Karena cemas, Brian pun langsung pulang dan menemuinya. Sesampainya di rumah, ternyata benar saja. Alisya belum sadarkan diri sampai sekarang. "Bibi juga gak tahu, Den. Waktu bibi ke dapur, Nyonya Alisya sudah pingsan," jawab Bi Min. "Udah kasih kabar sama Kak Zain?" Bi Min menggeleng, "Belum." "Baiklah, biar aku aja yang kasih tahu Kak Zain." Brian mengambil ponselnya di dalam saku celana itu, ia segera menghubungi Zain. Namun kali ini handphone Zain sedang tidak aktif. Mungkin pria itu sedang sibuk atau sedang ada meeting. Dan memang kebiasaan Zain selalu mematikan ponselnya saat ia sedang ada keperluan di kantor. "Ponsel Kak Zain gak aktif bi." Beberapa kali pun masih tetap sama. Mungkin Brian harus menemani Alisya kali ini. Walaupun malas, tapi dia adalah tanggung jawabnya. "Den, gak apa-apa kan Aden nunggu Nyonya di sini? Bibi mau telpon dokter sama buatkan minuman hangat dulu buat Nyonya. Apa Aden juga mau bibi buatkan?" tanya bibi. Namun Brian menggeleng. "Nggak bi, gak usah." "Baik, Den. Kalo gitu bibi tinggal sebentar ya?" "Iya." Begitu bi Min pergi, Brian memperhatikan Alisya yang masih menutup matanya. Jarak antara dia sama Alisya begitu jauh dan Brian hanya menunggunya dengan duduk di kursi itu sementara Alisya di atas tempat tidur. Gadis itu terlihat begitu cantik di mata Brian. Tapi tidak lagi dengan hatinya. Dulu, sebelum Alisya menikah dengan Zain, kakaknya, gadis itu ialah gadis paling cantik di mata maupun di hatinya. Tapi sekarang, bahkan hati Brian seakan tertutup untuk gadis itu. Tak lama, Alisya membuka matanya. Ia melihat ada Brian di sana. Akan tetapi Brian sudah berdiri dan bersiap untuk pergi. "Brian, tunggu. Apa kamu akan seperti ini terus?" tanya Alisya dengan suara seraknya. "Menurutmu?" Alisya kini sudah meneteskan air matanya. Gadis itu sudah tidak tahan melihat Brian terus mengacuhkannya walaupun hanya beberapa hari saja. Hatinya seakan hancur. Mengingat jika sikap Brian begitu hangat sebelum ia menikah. "Maafkan aku, Bri. Aku juga gak tahu kalau lelaki pilihan ayah itu Kak Zain. Dan aku juga gak bisa jelasin sama orang tua aku soal kamu sebab mereka tidak tahu kalau kita ada hubungan. Yang mereka tahu kamu itu temanku sewaktu kuliah. Tolong jangan begini Bri, jangan acuhin aku. Anggap aja aku ini kakak ipar mu dan bukan musuh mu. Kumohon Bri. Hiks." Alisya sudah menangis sampai Brian pun dapat mendengarnya. Brian menghembuskan napas panjang, kemudian pria itu berbalik, melihat Alisya yang sangat terpukul dengan keadaan ini. Ada sedikit perasaan tak tega di benak Brian. Alisya benar. Ini juga bukan murni kesalahannya sendiri. Namun ini semua karena Brian terlalu menunda-nunda lamaran itu. Saat hendak Brian akan berbicara, saat itu juga seorang dokter datang untuk memeriksa Alisya. Dokter cantik itu sudah mendekati Alisya. "Apa kepalamu begitu pusing, Nyonya?" tanya sang dokter. "Iya, dok." jawab Alisya. "Ada mual tidak?" Alisya menggeleng. Sementara Brian masih tetap ada di sana. Pria itu duduk dan memperhatikan saat dokter cantik itu memeriksa Alisya. Apa mungkin Alisya hamil? Nggak, itu tidak mungkin. Bukankah baru beberapa hari mereka menikah? Masa iya Alisya udah hamil saja? Pikiran Brian terus menjalar kemana-mana. Pria itu bahkan terus berpikir kalau Alisya sedang mengandung bayi kakaknya sendiri. "Bagaimana kondisi Nyonya, Dokter?" tanya bi Min. Pertanyaan bi Min mewakili Brian. Sebab, pria itu masih tidak mau mengeluarkan suara. "Nyonya hanya kelelahan saja. Darahnya sangat rendah, seharusnya Nyonya banyak istirahat. Mungkin Nyonya sedang banyak pikiran. Saya kasih obat juga vitaminnya ya, mohon untuk jaga kesehatan terutama jaga pola makan Anda, Nyonya." Dokter cantik itu menjelaskan. Semua sudah jelas kalau Alisya tidak hamil melainkan dia begitu banyak pikiran. Itupun menurut dokter. Karena sudah jelas, Brian pun segera pergi dari sana, karena menurutnya tidak ada urusan lagi dengan Alisya. "Den, mau kemana?" tanya bi Min. "Kantor," jawab Brian singkat. Bi Min tidak berpikir apapun, akan tetapi berbeda dengan Alisya. Gadis itu terlihat melamun sekarang. "Ini obatnya tolong diperhatikan ya, jangan sampai Nyonya telat meminumnya." "Baik, bu dokter. Kalau begitu mari, saya antar." Bi Min lantas mengantar dokter cantik yang memang sudah menjadi pegangan keluarga Vian. Sudah sepantasnya dokter cantik itu datang tepat waktu. Tak lama, Vian dan Ayu sudah datang untuk melihat keadaan Alisya. Kedua orang tua Zain begitu cemas terhadap menantunya. "Alisya, kamu gak apa-apa, Nak? Apa yang kamu rasakan sekarang, hmm? Apa kepalamu masih sakit?" tanya Ayu begitu cemasnya dia. Alisya tersenyum. "Sudah gak apa-apa kok, Mi. Aku baik-baik aja, mami sama papi gak usah cemas ya!!" "Papi pikir kamu itu hamil, Sya." Ayu memukul tangan suaminya. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. "Huss, papi itu bicara apa sih. Udah deh, Alisya lagi sakit begini malah berpikir macam-macam," gerutu sang mami. "Hehe, iya maaf mi, papi cuma semangat aja tadi." "Semangat sih semangat, tapi gak bicara sembarangan juga." "Iya, Mi. Oh iya, dimana Brian? Bukanya jagain kakak iparnya, ini malah ngilang." "Eh, iya ya, mana Brian? Apa dia tidak tahu kondisi kamu?" Vian dan Ayu memang tidak melihat Brian, bahkan sejak Brian pergi pun mereka tidak melihatnya juga. Mereka hanya dapat kabar itupun dari bi Min. "Brian udah pulang kok, Mi. Cuma dia udah kembali lagi ke kantornya. Mungkin dia lagi banyak kerjaan," jawab Alisya. "Dasar anak itu. Dia memang selalu mementingkan dirinya sendiri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD