Sampai kapan?

1382 Words
"Bi Min, apa Brian sudah pulang?" "Belum, Den." "Oh, baiklah." Zain kembali meneruskan sarapan paginya. Kali ini Zain bahagia sebab sudah ada yang menemaninya di samping yaitu sang istri tercinta. Dia tidak sarapan pagi dengan keluarga besarnya lagi tapi ia memulainya dengan keluarga kecil. Zain berharap semoga kelak Alisya bisa memberinya keturunan. Dengan begitu ia akan merasa lebih bahagia dari ini. "Makan yang banyak ya, sayang. Dari kemarin kamu makan nya sedikit." Zain menambahkan nasi dan lauk untuk Alisya. "Udah cukup, Kak. Ini kelebihan namanya." Alisya protes. Gadis cantik itu memang tidak selalu makam dengan porsi banyak. Apalagi ini melebihi takarannya. Benar-benar ya Zain itu. "Gak apa-apa, biar kamu gemuk." "Ih, gak mau gemuk ah, nanti jelek lagi." Alisya cemberut. Zain terkekeh, "Gak jelek kok, kamu tetap bidadari ku yang cantik dan sempurna." "Apaan sih, Kak." Zain berhasil membuat Alisya tersipu. Mereka kembali meneruskan sarapannya hingga habis. *** Sudah mau berangkat, tapi Brian belum juga pulang. Kemana anak itu? Zain mengangkat lengannya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Kalau sampai Brian belum pulang juga, bisa bisa dia telat. "Aduh, dimana sih Brian itu?" gerutu Zain. "Gak coba Kakak hubungi aja Brian nya?" kata Alisya. "Ah, kamu benar juga." Zain merogoh saku celana mengambil sebuah ponsel dan mencari kontak Brian. Zain mulai menghubunginya. Sampai beberapa kali pun handphone Brian sepertinya tidak aktif. Kemana anak itu? Lantas, Zain menghubungi papi nya. "Halo, Pi. Apa Brian masih di sana?" tanya Zain. "Brian? Dia sudah pulang dari tadi," jawab sang papi dari sambungan telpon itu. "Oh, baik Pi, makasih ya, mungkin Brian masih dalam perjalanan." "Oh, oke, oke!" Zain menutup telpon itu kembali memandang istrinya yang terlihat sangat cantik. "Gimana?" tanya Alisya dengan nada suara yang lembut bagi Zain. "Kata papi sih udah dari pagi. Mungkin Brian sedang dalam perjalanan." Zain terus menatap Alisya hingga dalam. "Kak, jangan terus liatin aku kayak gitu dong. Malu ih." Ya Allah Alisya, kamu itu sangat cantik kalau tersipu seperti itu. "Malu kenapa? Habisnya kamu cantik sih. Aku jadi gak mau pergi dari sini!!" "Loh, terus di sana nanti gimana?" "Ah, ingin rasanya aku suruh Brian lagi di sana. Tapi aku kasian sama dia. Masa dia harus ngurus semua kantor sekaligus? Kan gak adil juga," jelas Zain. "Emangnya kantor papi itu banyan ya?" tanya Alisya ingin tahu. "Ada tiga sih. Masing-masing sudah ada bagiannya. Hanya aja papi lagi sibuk ngurusin pindahan ke sana. Papi juga sudah memutuskan buat tinggal di sana, di tempat lahirnya. Sejak Kakek meninggal, perusahaan itu seperti seadanya saja. Makanya papi mau tinggal di sana itu sekalian ngurus kantor peninggalan kakek. Sayang juga kan kalo sampai bangkrut?" Zain kembali menjelaskan sampai Alisya paham. Alisya mengangguk, "Oh, jadi karena itu papi pindah!!" "Iya ... ah, iya, kayaknya aku udah terlambat ini. Maafkan aku ya karena harus tinggalin kamu sendirian. Aku cuma takut kamu gak betah di sana, lagian percuma juga. Aku bakalan sibuk kalo udah ada di sana. Maafin aku ya, Alisya." Zain menggenggam tangan Alisya. Alisya tersenyum manis, "Gak apa-apa kak, aku paham kok!!" "Terimakasih, sayang. Kalau ada sesuatu kamu hubungi Brian saja. Nih nomornya." Zain kembali membuka kunci layar ponsel itu dan mencari kontak Brian. Alisya terkesiap. Ia tidak mau Zain tahu kalau ia masih menyimpan nomor Brian di ponselnya. "Ah kak, maaf, kakak kirimin aja nanti, lagian ini udah siang. Takut nanti kakak ketinggalan pesawat," kata Alisya mencoba untuk menolak Zain dengan cara lain. "Oh iya, kamu benar. Kalo gitu nanti aku kirim nomor Brian ke ponsel kamu ya, sayang. Aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik ya?!" Zain mengecup kening Alisya sepintas. Karena dia sudah terlambat. Alisya tersenyum, membantu memasukkan barang Zain ke dalam bagasi mobil. "Hati-hati ya, Kak." Zain mengangguk, keduanya melambaikan tangan sampai mobil Zain menghilang dari pandangan Alisya. Saat Alisya hendak berbalik, saat itu juga mobil Brian datang. Brian turun dari mobil itu tapi tidak melihat ke arah Alisya. "Brian." Alisya memanggilnya namun Brian tetap berjalan. Pria itu semakin dingin terhadapnya. Ting!! Pesan masuk dari ponsel Alisya. Rupanya itu Zain. Zain mengirimkan nomor Brian lewat pesan. Alisya hanya menatap ponsel itu dengan pikiran kosong. Entahlah, tapi Alisya harus segera mengganti nama itu dengan nama yang lain. "Adik ipar" Alisya menamakan kontak Brian dengan nama barunya. Lantas, Alisya segera masuk ke dalam, mengingat Brian sudah pulang, ia cemas kalau Brian belum sarapan. "Bi, Brian kemana?" tanya Alisya kepada bi Min. Pekerja rumah tangga di rumah itu. "Den Brian masuk ke kamarnya, Nyonya. Mungkin Aden lagi bersiap buat berangkat ke kantor," jawab bi Min. "Oh, gitu. Apa dia sudah sarapan?" tanya Alisya lagi. Bi Min menggeleng, "Saya kurang tahu. Mungkin belum." "Oh, baik bi, makasih ya!!" "Saya permisi mau ke dapur dulu, Nya." Alisya mengangguk. Ia segera menyiapkan makan untuk Brian lengkap dengan lauknya. Tak lama, Brian turun dengan penampilan sangat rapih dan memang dia harus berangkat ke kantor pagi ini. "Brian, sini sarapan dulu." Alisya menyambut Brian tapi Brian seolah tidak melihatnya. Menjawab pun enggan. Alisya hanya bisa menghembuskan napas mencoba untuk sabar. 'Gapapa, Bri. Aku mengerti.' *** Di dalam mobil, nampak Brian menghapus jejak air matanya yang dari tadi terjatuh begitu deras. Mau sampai kapan dirinya akan begini? "Kenapa menyakitkan sekali!! Melihat Kak Zain cium Alisya aja aku udah sesakit ini, apalagi kalau sampai Alisya mengandung anaknya Kak Zain? Rasanya aku tidak sanggup menghadapi semua kenyataan ini." Tring!! Brian melihat siapa yang sudah menghubunginya saat seperti ini. "Ada apa Kinan?" Ternyata itu telpon dari Kinan. Brian mencoba untuk tidak mengeluarkan suara serak karena habis menangis. "Bri, kamu itu gimana sih? Bukanya kamu mau ke Apartemen dulu jemput aku?" 'Ya Tuhan, aku hampir lupa kalah Kinan belum tahu posisi kantor.' "I-iya, Ki. Aku ke sana sekarang. Kamu tunggu ya!!" "Kamu pasti lupa deh," gerutu Kinan. "Iya, iya, aku minta maaf. Tadi ada urusan dulu." "Mm, baiklah. Cepetan ya, aku udah gak sabar liat kantor baru kita." Kinan sudah menutup telponnya di sana. Sementara Brian mendesah tak percaya. Bahkan saat di kantor baru pun Kinan terdengar begitu menyebalkan. "Aku menyesal karena sudah menerima dia menjadi sekretaris ku." Tak lama Brian pun sampai di Apartemen kantor untuk menjemput Kinan. Rupanya benar, gadis itu sudah menunggunya terlalu lama. Kinan langsung masuk ke dalam mobil. Ia sedikit memperhatikan Brian. "Bri, kenapa sama mata kamu? Kayaknya kamu habis nangis, kenapa? Apa kamu lagi ada masalah?" tanya kinan. "Nangis? Yang benar saja? Aku hanya kurang tidur semalam," jawabnya. "Masa sih?" padahal jelas-jelas Kinan melihat bulu mata itu seperti basah. Apa Brian menyembunyikan sesuatu darinya? Sampai di kantor. Brian mendapat penyambutan dari semua karyawan dan Brian nampak begitu ramah. Sikap inilah yang diinginkan Kinan, tapi kenapa saat bersamanya sikap Brian berubah? "Ini ruangan kamu, Kinan. Ruangan kamu tepat bersebelahan dengan ruanganku. Kalau ada apa-apa kau bisa meminta bantuan ku." Kinan mengangguk dengan senang. Ternyata ruangannya tidak jauh dengan Brian. Dengan begitu, Kinan bisa melihat Brian kapan saja dia mau. "Baiklah, Bri. Selamat bekerja." Brian mengangguk dan segera masuk ke ruangannya. Tapi sebelum itu, nampak seorang perempuan memanggil Brian. "Pak Brian." Brian menoleh, "Hani, ada apa? Masuk!!" Brian malah menyuruhnya masuk. 'Ah, mungkin itu urusan kantor. Wajar aja sih.' batin Kinan mencoba untuk berpikir positif. "Ini hasil selama Bapak berada di Paris." Perempuan bernama Hani itu memberikan berkas kepada Brian. "Ah, iya." Brian menerima dan langsung membuka berkas itu. Selama ia berada di Paris memang Hani lah yang menggantikannya. Dan terlihat dari hasil selama satu bulan ini sangat memuaskan. "Bagus, Hani. Kamu emang karyawan yang pintar. Eumm, bagaimana kalau saya angkat kamu sebagai sekretaris saya mulai hari ini?" Hani melotot, apa ini mimpi? Apa benar yang dikatakan Brian tadi? "Euh, aduh, gimana ya Pak, bukankah Bapak sudah dapat sekretaris baru? Lagipula keahlian saya tidak setinggi itu," jawab Hani. Ia menolak. "Tidak apa-apa, kau bisa belajar. Lagipula saya tidak yakin kalau Kinan bisa bekerja sebaik kamu. Bagaimana? Apa kamu bersedia?" tanya Brian lagi. Hani berpikir sejenak. "Umm, lalu gimana sama ibu Kinan nanti?" 'Benar kata mami, Hani itu wanita yang baik. Bahkan saat seperti ini saja dia masih memikirkan perasaan orang lain.' "Soal Kinan itu urusan saya nanti. Saya kasih kamu waktu sampai jam istirahat. Kamu bisa memutuskannya nanti." Hani mengangguk pelan. "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi!" Hani keluar dari ruangan itu lalu mengangguk sopan kepada Kinan. "Apa aja yang dia bicarakan sama Brian? Jangan sampai mereka membicarakan sesuatu." Ya, Kinan memang selalu berpikir negatif tentang semua orang termasuk Hani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD