Belum siap menerima kenyataan

1093 Words
Brian memasuki kamarnya dan menutup pintu kamar itu perlahan. Tubuhnya seakan lemas, ia terjatuh bersamaan dengan rasa kecewanya. "Kenapa? Kau ... Alisya, aku telah menunggumu selama ini. Sekarang apa? Kenyataannya kau malah menikah dengan Kakakku sendiri." "Aarrgghh ..." Brian memukul, hingga menarik rambutnya frustasi. Sungguh, keadaannya saat ini sedang tidak stabil. Brian memutuskan untuk segera pergi ke rumah kedua orang tuanya. Ia belum sempat ke sana, hanya demi ketidaksabaran dirinya bertemu dengan wanita yang selama ini ia tunggu. Brian bangkit dengan terpaksa. Kepalanya terasa begitu berat. Keadaan saat ini telah menjadi guncangan hatinya yang lemah. Ia tidak harus memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang, pergi dari sana dan tidak untuk melihat gadis yang bernama Alisya. Itu sangat menyakitkan. "Boy, kau mau kemana? Ini sudah malam," seru Zain. "Aku mau ke rumah Ayah, dari tadi belum sempat ke sana," jawab Brian dingin. "Baiklah, tapi setidaknya makan malam terlebih dahulu. Sejak datang tadi, aku tidak melihat kamu memakan apapun." "Tidak. Aku tidak lapar. Nanti saja," jawabnya kosong. Brian kembali melangkah, tatapannya beralih. Sejak tadi, ia tak mau melihat gadis di samping Kakaknya. Itu artinya, Brian sudah tidak mau melihat Alisya. "Anak itu. Selalu saja begitu," gerutu Zain kembali ke tempatnya. Zain kembali melanjutkan makan malam yang sudah tersedia. Sementara Alisya hanya mengaduk-ngaduk makan saja sejak melihat sikap Brian yang dingin. "Hey, ada apa? Apa kamu sakit, sayang?" tanya Zain mengusap kepala Alisya. "Ah, tidak Kak. Hanya saja sepertinya badanku kurang enak." Alisya menunduk. "Kalau begitu, aku antar kamu ke kamar. Istirahatlah dengan cukup." Alisya mengangguk patuh, bagaimanapun ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada Zain. Zain mengantar Alisya dan memastikan Alisya untuk segera menutup matanya. Setelah itu Zain akan kembali ke ruangannya untuk melihat perkembangan kantor selama di sini. Zain berdiri hendak pergi dari sana. Namun, tangan itu sudah menggapainya, membuat Zain menghentikan langkah itu dan kembali untuk duduk. "Kenapa? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Zain. Alisya menggeleng, "Kak, apa Kakak mau melakukannya sekarang?" Zain mengernyit, "Kenapa tiba-tiba?" Zain memperhatikan wajah Alisya yang terlihat ragu. "Tidurlah, jangan berpikir macam-macam. Jika saatnya sudah tepat, aku akan memberikan nafkah bathin untukmu. Aku hanya tidak mau memaksamu dan aku akan menunggumu sampai siap nanti." Alisya tersenyum. Beruntunglah dia mempunyai suami seperti Zain. Rupanya pria itu begitu pengertian. *** "Brian? Kapan kamu pulang, Nak?" Ayu tidak tahu anaknya akan kembali ke Jakarta hari ini karena Brian ataupun Zain tidak memberi kabar sebelumnya. Ayu menyambut Brian dengan senang. Ia ingat jika Brian akan memberi kabar gembira saat kedatangannya kelak. Namun, dari raut wajah Brian sepertinya Ayu tidak yakin jika putra bungsunya sedang baik-baik saja. Brian nampak seperti sedang banyak pikiran. "Loh, Brian? Kau sudah kembali rupanya. Gimana, gimana? Kantor di Paris lancar?" tanya sang papi menyambut kedatangan Brian. Brian tersenyum. Sedangkan Ayu, sang mami menyenggol tangan suaminya. "Papi ini, apa nggak sebaiknya Brian suruh masuk dulu? Sepertinya Brian capek!!" mami paling mengerti. "Ah, iya. Papi hampir lupa, saking senengnya liat anak bungsu kita pulang papi jadi lupa kalau kamu masih di luar." Vian membawa anak bungsunya itu untuk masuk ke dalam. Akan tetapi Brian seperti tidak bersemangat. "Apa kamu sudah ke rumah kakakmu?" Brian hanya mengangguk dengan sikap dinginnya. Ada apa ini? Kenapa sikap Brian berbeda tidak seperti biasanya? "Pi, Mi, apa aku bisa tinggal di tempat lain? Atau ... aku di sini aja gimana? Aku gak mau tinggal sama Kak Zain juga kakak ipar." Brian mulai membuka suara. "Loh, emangnya kenapa? Gak betah?" "Bukan gitu, Mi. Aku cuma gak nyaman aja tinggal sama mereka. Mereka kan pengantin baru, aku cuma nggak mau mereka terganggu," jawab Brian. "Jangan punya pikiran seperti itu, Bri. Kakakmu sebentar lagi akan papi suruh mengurus kantor di Paris selama papi sama mami ngurus pindahan ke sana. Lagipula rumah ini sudah papi jual dan rumah papi di Paris hampir selesai. Sebaiknya kamu tinggal sama kakakmu, papi cuma gak mau kamu tinggal di luaran sana sendirian." Vian menjelaskan kepada putra bungsunya. "Eh, iya, bukanya kamu mau ajak kami buat lamar calon istrimu, Bri? Kapan itu?" tanya Ayu tiba-tiba. Ingatan sang mami memanglah sangat kuat. Brian menundukkan kepalanya, ia menghembuskan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang mami. "Kayaknya gak jadi, Mi. Ternyata dia sudah memilih pria lain untuk dijadikannya suami." Brian nampak menyedihkan. Ayu mengerti. Mungkin itu sebabnya sikap Brian berubah. "Oh, jadi karena itu kamu nampak berbeda hari ini, Bri. Sudahlah, jangan dipikirkan. Lagian masih banyak kok gadis yang mau sama kamu, contohnya Hani, temen kantor kamu itu. Dia baik kok, cantik dan juga sopan anaknya. Mami suka." 'Masalahnya aku gak cinta sama Hani dan wanita yang aku pikirkan sekarang hanya Alisya.' batin Brian bergumam. "Iya, buat apa kamu nunggu perempuan yang sudah mengkhianati kamu, Bri. Sebaiknya kamu buka lembaran baru untuk perempuan lain," timbal sang papi. Brian hanya tersenyum pahit. Masalahnya ini semua juga karena mereka menjodohkan Alisya dengan Zain. Kalau saja Brian tahu kalau perempuan itu Alisya, Brian akan menolak dan tidak menyetujui perjodohan itu. Sekarang, dia bisa apa? Semua sudah terjadi. Alisya juga sudah sah menjadi istri kakaknya. "Pi, Mi, aku mau tidur di sini malam ini boleh? Hanya malam ini aja, besok aku pulang sebelum Kak Zain berangkat ke Paris," pinta Brian. Brian hanya tidak mau malam ini melihat kemesraan mereka apalagi ini malam pertama untuk mereka. Hatinya tidak kuat menahan rasa sakit itu. Ia butuh waktu untuk menerima semua ini. "Tentu, tapi sebelum itu kamu harus kasih tahu Zain kalau malam ini kamu tidur di sini. Jangan sampai kakakmu khawatir karena kamu gak pulang," kata Ayu. "Baiklah, aku bakal kasih tahu Kak Zain kalau aku di sini sampai besok pagi." Brian memutuskan untuk segera naik ke lantai atas. Hari ini ia begitu lelah. "Sayang sekali ya, Pi. Padahal Brian sudah menunggu lama untuk meminang calon istrinya." "Namanya juga bukan jodoh." *** Ting!!! Ada pesan masuk di sana. Zain membuka kunci layar ponselnya dan melihat isi pesan itu. "Siapa yang kirim kakak pesan malam-malam?" tanya Alisya yang kini berada di samping Zain. "Brian. Malam ini dia tidur di rumah papi, katanya dia akan pulang sebelum aku berangkat ke Paris," jawab Zain. Alisya mengangguk dengan pikiran berkecamuk. Apa segitu sakitnya Brian sampai dia tidak mau pulang ke rumah malam ini? 'Ini semua bukan mauku, Bri. Maaf jika aku sudah menyakitimu.' "Hei, kamu kenapa lagi? Apa kepalamu sudah baikan?" tanya Zain ketika melihat Alisya melamun. Alisya tersenyum, "Ah, nggak papa kok, Kak. Kepalaku juga sudah mendingan." "Syukurlah, sebaiknya kamu tidur besok kan harus siapin keperluan aku. Maaf karena selalu merepotkanmu, Alisya." Zain mengusap kepala Alisya dengan lembut. "Gak apa-apa kok, lagian ini memang sudah tugasku, Kak." Zain tersenyum senang, pria itu menunggu sampai Alisya menutup matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD