Tak bisa memejamkan mata, pria itu terbangun dari tempat tidur lalu keluar dari kamarnya. Ditambah dengan perutnya yang merasa lapar, pria itu lantas berjalan menuju dapur. Langkahnya terhenti. Di sana lah tempat ia melihat apa yang membuat hatinya sakit. Memejamkan mata, menarik napas dalam. Tidak selera juga, pria itu memutuskan untuk kembali. Namun, saat melewati ruangan kerja sang kakak, pria itu berhenti lagi. Melihat Zain sedang sibuk menelpon, ia pun tidak ingin mengganggunya. Brian kembali melangkah. "Brian ..." Sayang sekali, rupanya Zain melihatnya di sana. Pintu itu sedikit terbuka, siapapun yang melewatinya pasti akan kelihatan. Dan Zain sudah menutup sambungan telepon itu. Brian menoleh, membuka pintu itu dan segera masuk. Ia heran, apa sesibuk inikah Zain sekarang?

