Selalu Diawasi

1555 Words

Fatma terpaku. Nada Ivan tidak meninggi, tapi justru karena itulah jantungnya seperti meloncat ke tenggorokan. "K—kamar VVIP?!" Fatma mengulang kalimat itu, menelan ludah yang terasa seperti menelan silet. "Kenapa kamu polos sekali. Ikut ke ruanganku, memangnya ke mana lagi!" Fatma menutup mulutnya buru-buru, pipinya sudah panas sendiri. "Ma—maaf, Pak," gumamnya setengah mati. Ivan tidak menanggapi. Ia bahkan tidak menoleh lagi, hanya berjalan menuju pintu ruangannya. Satu tangan mendorong pintu, tangan satunya mengisyaratkan Fatma untuk mengikuti. Cepat. Tanpa suara, tanpa protes. Fatma tahu betul apa artinya itu. Tanda bahaya tingkat dewa. Ia bergegas, hampir tersandung ujung karpet, lalu masuk ke ruangan Ivan yang luas dan sunyi. Pintu tertutup di belakang mereka, menelan sega

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD