Perkataan Ivan membuat sendok di tangan Nyonya Widyawati berhenti tepat di udara.
Beberapa detik hening.
Tidak ada suara selain denting jam dinding yang berdetak lambat, terlalu lambat. Seolah menegaskan betapa ucapan Ivan barusan baru saja mengubah arah seluruh percakapan.
Widyawati perlahan menurunkan sendoknya.
Tatapannya membeku.
"Mama nggak lupa, Ivan!" Suaranya sangat lembut, tapi justru itulah tanda paling berbahaya.
Ivan meremas jari-jarinya sendiri di bawah meja. "Lalu, kenapa Mama menghalangiku untuk mendekati Dheandra?"
"Kamu harus sadar, Ivan," potong Widyawati. "Dheandra tidak mencintai kamu. Kamu pikir hati wanita yang sudah dihancurkan akan mudah menerima pria lain di hidupnya? Enggak, Ivan. Kamu juga jangan melupakan hal itu!"
Ivan tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di wajahnya, bukan marah, bukan pun luka, melainkan kepastian yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Ma," ucap Ivan perahan. "Aku tahu Dheandra nggak mencintai aku. Aku nggak pernah maksa. Tapi aku juga tahu, dia nggak bakal balik sama Ervan."
"Karena mereka cerai?" Widyawati mencibir pelan. "Perceraian tidak otomatis membebaskan seseorang dari luka, Ivan. Dia mungkin tidak kembali ke Ervan, tapi itu bukan bararti dia akan berlari ke kamu."
Ivan mengusap wajahnya kasar, frustasi. "Ma, aku nggak pernah bilang aku mau dia jadi milik aku."
"Maka berhentilah bertingkah seperti kamu memilikinya!" bentak Widyawati, lalu merendahkan suara. "Hentikan sebelum kamu terluka lagi." Ucapan itu menusuk Ivan seperti belati.
Trauma itu.
Kejadian itu.
Hal yang membuat dirinya kehilangan kendali bertahun-tahun lalu.
"Mama cuma takut kamu jatuh ke lubang yang sama," lanjut Wiyawati, lebih pelan. "Apa kamu mau seperti dulu? Mama tidak sanggup melihat kamu hancur lagi."
Ivan menunduk. Rahangnya mengeras.
Ia tahu ibunya berbicara benar.
Tapi ia juga tahu, ia sudah terlalu jauh ikut campur dalam urusan kakak dan kakak iparnya.
Sekilas wajah Dheandra terlintas, diikuti rasa ketidakberdayaan yang sama menyakitkannya dengan kerinduan yang tak pernah terucap.
"Aku cuma mau dia aman," katanya lirih. "Itu saja."
Widyawati menatapnya lama.
"Aman?" ulangnya dengan nada getir. "Lalu bagaimana dengan kamu, Ivan? Siapa yang jaga kamu?"
Ivan menegakkan punggungnya, matanya dingin. "Aku nggak perlu dijaga."
Tetapi, Widyawati tahu, kalimat itu hanyalah tameng rapuh.
Ia mendesah pelan, kemudian menyisir rambutnya yang rapi dengan jemarinya, tanda bahwa ia menyerah sementara.
"Oke," katanya akhirnya. "Papa kamu dulu juga keras kepala seperti kamu. Dan lihat apa yang terjadi."
Ivan terdiam.
Nama "Papa" selalu membawa badai baru.
"Mama cuma minta satu hal," lanjutnya pelan, mencondongkan tubuh. "Berhenti berharap pada orang yang jelas-jelas tidak bisa kamu miliki."
Ivan berdiri begitu cepat hingga kursi makannya bergeser dan bergesekan dengan lantai marmer, menimbulkan suara yang mengoyak ketenangan ruangan mewah itu.
"Aku pergi, Ma!"
Bukan teriakan.
Tapi cukup keras untuk membuat udara di meja makan semakin panas.
Widyawati tidak bergerak, tapi tubuhnya tampak menegang. Tatapannya mengikuti pergerakan Ivan seperti seekor elang yang mengawasi mangsanya yang hendak lepas.
"Ivan—"
"Aku pergi sebelum Mama bilang hal yang lebih menyakitkan," potong Ivan cepat, meraih jasnya. "Kaena kalau Mama terus bahas ini, aku—"
Ia menghentikan kalimatnya sendiri.
Pundaknya naik turun, napasnya terdengar jelas.
Widyawati mengeraskan wajah, menyembunyikan kegelisahannya.
"Kalau kamu pergi sekarang, masalah ini nggak akan selesai."
"Memang nggak akan pernah selesai." Ivan menatap ibunya, mata hitamnya menyala oleh sesuatu yang sudah lama ia kubur. "Karena Mama selalu lihat aku sebagai ancaman. Sebagai masalah. Sebagai bom waktu."
"Ivan—"
"Kalau aku dekati Dheandra, itu salah."
"Kalau aku menjauh, itu salah."
"Kalau aku peduli, Mama bilang aku terluka."
"Kalau aku nggak peduli, Mama bilang aku nggak punya hati."
Setiap kata jatuh seperti serpihan kaca, tajam dan dingin.
"Apa sih, Ma?" Suranya pecah, meski ia berusaha menahan. "Apa lagi yang Mama mau dari aku?"
Widyawati tidak menjawab.
Ia hanya diam, dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun.
Ivan menghela napas panjang, menahan gemetar di tangannya.
"Aku akan antar Dheandra ke persidangan besok," ujarnya pelan, tapi tegas. "Kalau Mama mau ikut, ikut. Kalau nggak, itu juga bukan masalah."
"Jangan buat dirimu terlihat seperti suaminya, Ivan," bisik Widyawati, akhirnya bersuara.
Ivan tertawa hambar. "Ervan udah nggak peduli sama Dheandra. Sama seperti Ervan yang nggak peduli lagi sama keluarga ini."
"Dan kamu?" Widyawati menantang. "Kamu peduli?"
Ivan terdiam lama.
Wajah Dheandra kembali muncul dalam pikirannya, wajah yang lelah tapi tetap kuat, wanita yang berusaha bertahan tanpa siapa pun.
"Aku cuma ingin memperbaiki apa yang keluarga ini hancurkan," jawabnya akhirnya.
Tetapi di mata Widyawati, terdengar jauh lebih berbahaya daripada sekadar cinta.
Ivan memalingkan wajah. "Aku berangkat ke hotel."
Ia berbalik menuju pintu, langkahnya besar-besar, mencoba menjauh dari tatapan ibunya yang terasa seperti belati yang mengupas lapisan jiwanya satu per satu.
Tetapi, ketika ia baru dua langkah dari pintu,
"Ivan."
Ia berhenti. Punggungnya menegang.
"Jangan ulangi kesalahan kakakmu." Suara Widyawati melemah, hampir seperti bisikan. "Mama tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."
Ivan memejamkan mata.
Lalu, tanpa menoleh, ia berkata, "Aku tidak melakukan kesalahan, Ma." Ia pun pergi.
Pintu menutup pelan di belakangnya, menyisakan Nyonya Widyawati Abimana sendirian.
Wanita itu menatap cangkir tehnya yang sudah dingin, matanya bergetar, bibirnya gemetar, tanda halus bahwa ketakutannya lebih besar daripada amarahnya.
***
Di saat yang sama Ivan sedang berhadapan dengan ibunya, Fatma dan Dita baru saja menyelesaikan perjalanan panjang mereka dari kosan ke Hotel Pelangi Samudra.
Tepat pukul delapan pagi, Fatma tiba di lantai eksekutif. Ia segera menukar pakaian OG-nya.
Rina, Sekretaris Ivan, sudah duduk di mejanya.
"Kamu kenapa, Fat? Matamu kayak mata burung hantu semalaman nggak tidur," tegur Rina, suaranya pelan dan profesional.
"Enggak apa-apa. Semalam cuma kebanyakan mikir," dusta Fatma, berusaha fokus menyusun pena dan kertas di meja Rina yang baru ia bersihkan.
Pukul sembilan pagi, lantai eksekutif terasa lebih sunyi dari biasanya. Fatma dan Rina bekerja dalam keheningan. Fatma berharap hari ini ia bisa melewati jam kerjanya tanpa insiden. Ia sudah menyimpan kopi pagi Ivan sebelum pria itu datang.
"Ya Allah, tolong dong. Hari ini jangan ada huru-hara lagi, aku nggak mau berhadapan lagi sama freezer hotel itu," gumamnya nyaris seperti bisikan sambil merapikan meja resepsionis mini di depan ruang kerja Ivan.
Beberapa menit kemudian, lift lantai eksekutif berbunyi 'ting' khas dan begitu jernih, memantul ke seluruh lorong tenang yang berkarpet tebal.
Rina spontan menoleh.
Fatma mendadak menegakkan punggungnya, napasnya terasa pendek.
Lift terbuka, dan Ivan Abimana keluar.
Baju kemeja biru gelap, jas, dasi rapi, rambutnya sedikit basah seolah terburu-buru habis mandi, dan ekspresinya ... astaga ... lebih berbahaya dari kemarin. Jauh lebih berbahaya.
Bukan marah.
Bukan dingin.
Tapi lelah, seperti marah, dan fokus pada sesuatu yang jelas bukan pekerjaan.
Tatapan Ivan langsung tertuju pada Fatma.
Fatma sempat menelan ludah. Seluruh tubuhnya kaku seperti ada yang merantai. Serbet kecilnya hampir jatuh dari tangan.
"Pagi, Pak Ivan," sapa Rina sopan.
Ivan tidak menjawab.
Ia tidak perlu menjawab.
Kakinya melangkah lurus menuju meja Rina, tepat ke arah Fatma berdiri.
Fatma mundur setengah langkah tanpa sadar, tapi Ivan lebih cepat. Ia berhenti hanya satu meter darinya.
Tatapan itu ... tatapan yang Fatma lihat kemarin. Tatapan yang mengandung ancaman, kecemasan, dan rahasia yang jauh lebih berat dari apa pun yang pernah ia dengar.
Rina perlahan bangkit dari kursinya, membaca situasinya dengan cepat.
"Saya ambil print-an untuk meeting jam sebelas, Pak."
Rina meraih map dan kabur dengan elegan, meninggalkan keduanya di ruang kecil itu.
Kini tersisa Fatma dan Ivan. Tentunya dengan aura keheningan yang lebih menakutkan daripada bentakan.
"Kamu, ikut saya. Sekarang!" kata Ivan akhirnya.
Fatma membeku. "Ke—ke mana, Pak?"
"Kamar VVIP!"