Sementara itu, Fatma sudah berada di dalam lift, menahan napas panjang. Begitu pintu lift menutup, lututnya langsung goyah. Ia bersandar pada dinding lift, menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Astagaaa ...," keluhnya pelan.
Hari ini terlalu banyak kejutan.
Ia melihat seseorang yang mirip Ayahnya. Ia hampir menangis di trotoar Sudirman. Lalu Ivan bersikap, baik. Benarkah? Sepertinya mustahil.
Tetapi, bukan baik dingin yang biasanya ia tunjukkan. Ini lain.
Fatma menutup mata sambil mendesah frustrasi. "Apa sih, Fat? Jangan GR. Dia cuma bos. Bos yang ... ya ... gitu deh."
Lift berhenti di lantai dasar. Fatma keluar sambil mencoba menetralkan langkahnya, tapi pikirannya terus ribut sendiri.
Fatma berjalan keluar dari area staf dengan langkah gontai. Pikirannya masih berputar-putar, seperti kaset rusak. Sosok pria di lobi tadi, siluet itu, telinga itu, ia mencoba memaksa otaknya untuk berhenti memikirkan semuanya, tapi bayangannya terus kembali.
Ia tidak sadar bahwa ada seseorang yang memanggil dari jauh.
"Fat! Fatmaaa! Heh, Fat!"
Namun, Fatma terus melangkah lurus, tanpa menengok.
Dita, yang barusan turun bareng OG untuk bertukar shift memutar bola matanya. "Ih, ngalamun naon sih b***k ieu," gumamnya sambil setengah berlari mengejar Fatma.
Sesampainya di area parkir basement tempat karyawan biasa menunggu ojek, Dita menepuk lengan Fatma cukup keras.
"FATMA!"
Fatma tersentak, hampir menjatuhkan tasnya. "Hah?! A-apa, Dit?"
"Ya ampun .. maneh kunaon? Dari tadi aku panggil kayak manggil orang kesurupan!" Dita mengamati wajah Fatma dan langsung mengerutkan kening. "Kamu pucat banget. Kamu sakit?"
Fatma menggeleng cepat, tapi dagunya bergetar. Dita langsung tahu, ini bukan capek biasa.
"Kita duduk dulu," kata Dita tegas sambil menarik tangan Fatma menuju bangku beton di pojok basement.
Begitu mereka duduk, Fatma mengembuskan napas panjang, seolah baru bisa bernapas kembali. Dita menunggu tanpa mendesak.
"Dit ...." Suara Fatma hampir tak terdengar. "Tadi aku lihat seseorang."
Dita mengerutkan kening. "Seseorang siapa? Klien? Kejadian buruk?"
Fatma menelan ludah. "Aku lihat seorang bapak-bapak, mirip ayah aku."
Dita langsung diam. Kalimat itu cukup untuk membuat suasana sekitar tiba-tiba hening, meski suara mesin mobil dan motor tetap ramai.
"Kamu yakin?" tanya Dita pelan.
"Teuing atuh, lieur," jawab Fatma, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku teh cuma lihat dari belakang. Tapi bahunya, cara berdirinya, semuanya sama persis kayak cerita Amih. Bahkan cara dia miringin kepala pas ngobrol sama sopir, Dit, itu sama. Persis."
Dita meraih tangan Fatma. "Fat, ceuk aku mah kamu teh stress. Belum lagi obrolan tadi siang soal makam ayah kamu. Kadang otak kita suka nakal kalau kita lagi capek."
"Mereunan!" seru Fatma, bersandar ke dinding. "Aku tahu mungkin cuma salah lihat. Tapi Dit, rasanya teh kayak nyata banget. Kayak ... kayak aku benar-benar lihat dia."
Dita mengusap punggung tangan Fatma pelan. "Kalau pun itu cuma salah lihat, wajar. Kamu lagi banyak beban. Tapi kalau pun itu beneran, ya kita cari tau pelan-pelan. Jangan dipendam sendiri."
Fatma menunduk, berusaha ceria tapi suaranya bergetar. "Ah ... tapi maenya jelema nu geus paeh bisa hirup deui. Asa teu mungkin."
Dita baru hendak membalas, tapi langkah sepatu terdengar dari arah pintu masuk basement.
Mereka berdua menoleh secara refleks.
Ivan.
Dengan setelan kerjanya yang masih rapi, memegang kunci mobil, wajah lelah yang ia sembunyikan di balik ekspresinya yang datar. Ia tampak jelas baru turun dari lift karyawan, jalur yang jarang ia gunakan kecuali sedang tergesa pulang cepat.
Dita dan Fatma sontak berdiri tegak bak prajurit yang tertangkap basah sedang tidur saat piket.
"P-Pak Ivan?" cicit Fatma. Jantungnya yang tadi baru saja tenang, kini kembali maraton.
Ivan tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, memutar kunci mobil mewah di jarinya. Matanya yang tajam menyapu Dita sekilas, lalu berhenti tepat di wajah Fatma yang masih pucat pasi.
"Kenapa kalian masih di sini?" tanyanya datar. Suaranya menggema di dinding beton basement yang dingin.
"Eh, anu, Pak ...." Dita yang biasanya cerewet mendadak gagap, tapi insting pelindungnya muncul. "Ini Fatma, Pak. Katanya agak pusing. Jadi kami duduk sebentar sebelum pulang. Kebetulan kosan kami dekat kok, Pak, cuma di belakang jalan besar situ."
Ivan melangkah mendekat. Fatma otomatis mundur selangkah, tapi punggungnya membentur dinding.
"Pusing?" Ivan mengulangi satu kata itu. Ia menatap Fatma lekat-lekat. "Kamu memang terlihat kacau sejak kembali dari Hotel Emerald."
"Saya baik-baik saja, Pak. Cuma butuh angin," elak Fatma cepat. "Ayo Dit, kita jalan kaki aja pelan-pelan."
"Jalan kaki?" Ivan mengangkat alis. "Dengan muka sepucat mayat begitu? Nanti kamu pingsan di pinggir jalan, orang-orang pikir pegawai hotel saya tidak dikasih makan."
Ivan menekan tombol pada kunci mobilnya. Sebuah sedan hitam mengkilap yang terparkir tak jauh dari mereka berbunyi bip-bip.
"Masuk. Kalian berdua," perintah Ivan singkat. "Saya antar sampai depan gang kosan kalian."
Dita melongo. "Eh? S-saya juga, Pak? Tapi motor saya ...."
"Tinggal saja. Besok pagi juga masih ada di sini," potong Ivan tak terbantahkan. "Cepat masuk. Saya tidak punya waktu seharian menunggu kalian bengong."
Dita menyikut pinggang Fatma keras-keras, matanya berbinar panik sekaligus takjub. ‘Gila Fat, rejeki nomplok! Nebeng mobil Sultan!’ kodenya lewat mata.
Mau tak mau, Fatma menurut. Mereka berdua berjalan menuju mobil. Karena terbiasa naik taksi online, Dita langsung membuka pintu belakang, dan Fatma pun ikut masuk ke kursi belakang bersamanya.
Ivan sudah duduk di kursi kemudi. Namun, ia tidak menyalakan mesin. Ia menoleh ke belakang, menatap mereka berdua lewat spion tengah dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Kalian ngapain di situ?" tanya Ivan dingin.
Dita dan Fatma saling pandang bingung. "Lho? Kan mau numpang, Pak!" cicit Dita.
Ivan memutar badannya sedikit ke belakang, satu alisnya naik.
"Emangnya saya supir kalian?" Suaranya datar tapi menohok. "Kenapa dua-duanya di belakang? Saya bukan sopir taksi online."
Dita terkesiap. Wajahnya pucat seketika. "Astaga! M-maaf, Pak! Kebiasaan!"
Sadar bahwa duduk di depan samping "Freezer Hotel" adalah posisi paling mematikan, Dita dengan gerakan kilat mendorong bahu Fatma.
"Fatma di depan, Pak!" seru Dita cepat. "Dia kan yang sakit! Biar kena AC langsung! Sana Fat, pindah!"
"Hah?! Kok aku?!" Fatma melotot, panik setengah mati. Ia menahan pintu agar tidak didorong keluar.
"Udah sana! Buruan, Pak Ivan nungguin!" Dita tanpa ampun mendorong punggung Fatma keluar dari pintu belakang. "Jangan bikin Bos marah!"
Fatma terhuyung keluar dari mobil, menatap Dita dengan tatapan, 'Tega kamu sama bestie'. Tapi Dita sudah menutup pintu belakang dan duduk manis sambil nyengir kuda, mengamankan posisi aman di belakang.
Dengan lutut gemetar, Fatma membuka pintu depan.
Ia duduk di samping Ivan. Jarak mereka begitu dekat. Aroma parfum wood dan citrus mahal milik Ivan langsung memenuhi indra penciumannya, membuatnya semakin pusing karena gugup.
"Maaf, Pak," cicit Fatma sambil menarik sabuk pengaman. Tangannya gemetar hebat sampai ia kesulitan memasukkan kepala sabuk ke kuncinya.
Tiba-tiba, tangan Ivan terulur. Fatma menahan napas. Namun, Ivan hanya mengambil sabuk itu dari tangan Fatma yang gemetar, lalu 'KLIK' menguncinya dengan gerakan tegas.
"Jangan grogi. Saya nggak gigit, nggak doyan daging manusia," ujar Ivan datar, lalu mulai menjalankan mobil.
Fatma membeku. Wajahnya panas bukan main. Di kursi belakang, Dita menahan napas melihat adegan itu, ingin sekali menjerit tapi takut dipecat.
Mobil melaju keluar basement. Suasana di dalam kabin begitu hening dan awkward. Fatma duduk tegak kaku seperti patung, matanya lurus ke dasbor.
"Kosan kalian di Gang Melati, kan?" tanya Ivan memecah keheningan.
Fatma terlonjak kaget. "K-kok Bapak tahu?"
"Saya baca data karyawan, Fatma. Saya tahu alamat semua staf saya," jawab Ivan santai, matanya tetap fokus ke jalan.
"O-oh ...." Fatma mati kutu. Jantungnya berdegup kencang karena posisi duduk ini membuatnya bisa melihat profil wajah Ivan dengan sangat jelas. Rahang tegas, hidung mancung, dan ... gurat lelah di matanya.
"Ngomong-ngomong ...." Suara Ivan berubah lebih serius. "Tadi siang, sopir saya lapor. Katanya dia melihat kamu lari-lari kayak orang kesurupan di lobi Hotel Emerald. Sampai ke pinggir jalan raya. Ada apa?"
Dita di belakang langsung memajukan kepalanya sedikit. "Nah, iya Fat! Tadi kamu belum jawab. Ngapain lari-lari?"
Fatma merasa terpojok. Di samping bos, di belakang ada "CCTV berjalan".
"Saya ... saya salah lihat orang, Pak. Saya pikir itu penagih utang di kampung. Jadi saya panik," dusta Fatma.
Ivan melirik sekilas ke arah Fatma. Tatapannya skeptis. "Penagih utang? Di lobi hotel bintang lima? Kamu punya bakat mengarang cerita fiksi, Fatma."
Fatma menunduk, meremas tangannya.
Tepat saat itu, layar besar di dashboard mobi yang posisinya tepat di depan mata Fatma menyala terang. Ponsel Ivan terhubung ke sistem audio mobil.
Tulisan di layar itu begitu besar dan jelas.
Incoming Call: "Mama."
Ivan menekan tombol terima di setir.
"Ya, Ma?" jawab Ivan.
"Ivan, kamu di mana? Mama udah atur pertemuan dengan anaknya Tante Mel ...."
"Ma, stop! Aku udah muak Mama kayak gini terus."
"Tapi kamu harus segera menikah, Ivan!"
"Nggak!" Ivan meninggikan suaranya, Fatma dan Dita yang diam mendengarkan terdiam.
Jantung kedua gadis itu berdetak dua kali lebih cepat. Apa pria itu lupa bahwa audio ponselnya terhubung juga dengan speaker mobil?
"Sekali pun besok kiamat, aku nggak akan nikah, Ma. Kecuali ...."
Ivan menjeda kalimatnya, menggenggam kemudi dengan erat. Garis wajahnya semakin mengeras.
"Kecuali apa?" tanya Widyawati, ibunya tak sabar.
"Kecuali aku menikah sama Dheandra!"