Fatma masih terpaku, ia terkejut melihat seseorang.
Di area drop-off lobi yang sibuk, berdiri membelakanginya, seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang sangat familier. Pria itu mengenakan jas berwarna gelap yang elegan, dan rambutnya yang mulai memutih di pelipis ditata rapi.
Tetapi, bukan pakaiannya yang membuat Fatma membeku di tempat. Itu adalah garis bahu yang lebar dan sedikit miring, persis seperti yang selalu diceritakan Amih. Itu adalah gaya berdirinya yang tegap, dan sedikit cara mencondongkan kepala saat sedang berbicara dengan seorang sopir yang membukakan pintu mobil mewah.
Jantung Fatma serasa berhenti. Ia memejamkan mata, membuka lagi. Tidak mungkin.
Ia hanya pernah melihat wajah Ayahnya dalam foto usang berbingkai kayu. Namun, postur ini, siluet ini ... identik dengan pria di foto itu. Ayahnya. Ayah yang ia pikir hanya tinggal nama di nisan, yang bahkan belum ia temukan.
"Ayah?" desis Fatma, suaranya tercekat.
Tanpa berpikir, Fatma menjatuhkan tas kecilnya dan mulai berlari, menerobos kerumunan tamu hotel. Ia harus memastikan. Ia harus melihat wajahnya.
"Pak! T-tunggu!" serunya, tapi suaranya tenggelam oleh deru mesin mobil dan klakson taksi di jalanan Sudirman.
Pria itu sudah melangkah masuk ke dalam mobil. Fatma mendorong badannya melewati sepasang turis yang membawa koper besar.
Saat ia mencapai ambang pintu keluar, mobil mewah dengan kaca gelap itu sudah bergerak perlahan, siap bergabung dengan kemacetan. Fatma berlari sekuat tenaga ke tepi jalan, mencoba menembus kaca gelap mobil itu.
Ia berhasil mengejar mobil itu beberapa langkah. Dari jarak sedekat ini, ia hanya bisa melihat sekilas bagian belakang kepala pria itu yang menoleh sedikit ke arah jendela, mungkin karena terganggu oleh suara Fatma.
Itu dia. Lekuk telinga yang sedikit lancip. Amih pernah bercerita, itu adalah ciri khas Ayahnya. Namun, hanya sepersekian detik. Mobil itu melaju, didorong oleh laju lalu lintas yang mendadak kosong. Dalam sekejap, mobil itu menghilang di balik kerumunan bus Transjakarta dan gedung-gedung tinggi.
Fatma berhenti. Ia berdiri di tengah trotoar yang panas, napasnya tersengal, dadanya sakit. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada. Pria itu sudah benar-benar hilang, seolah hanya bayangan yang tertiup angin.
Kakinya lemas. Fatma menunduk, melihat telapak tangannya yang gemetar.
"Aku ... aku gila," bisiknya, kepalanya berdenyut.
Wajah Dita, yang baru saja bercerita sambil tertawa tentang rencana mencari makam Ayahnya, tiba-tiba muncul di benaknya.
'Dit, bener ya nanti kamu bantuin aku cari ayahku!'
Stres, kelelahan, rasa malu bertemu Ivan, dan obrolan yang intens tentang Ayahnya. Itu pasti hanya halusinasi. Otaknya memainkan trik kotor. Ia terlalu memikirkan sosok Ayah, hingga setiap pria paruh baya dengan postur yang mirip terlihat seperti Ayahnya.
Fatma tertawa sinis, tawa yang terdengar lebih mirip isakan. "Lieur ... ayah teh di kuburan, Fatma. Kamu teh sudah mulai nggak waras."
Ia segera memungut tasnya yang terjatuh di depan pintu hotel tadi. Perasaan hampa dan malu bercampur jadi satu. Ia tidak boleh kembali ke Hotel Pelangi Samudra dengan kondisi seperti ini.
Ia menarik napas panjang, memasukkan kembali emosinya ke kotak beku yang baru ia ciptakan. Ia harus bersikap profesional. Tugasnya sudah selesai. Sekarang, kembali ke Hotel Pelangi Samudra, dan menghadapi "Freezer Hotel" dengan cangkir teh yang sudah kosong.
Mimpi buruk pencarian itu bisa menunggu. Yang lebih mendesak adalah memastikan tidak ada bolpoin yang bergeser lagi dari tempatnya.
***
Fatma kembali ke Hotel Pelangi Samudra sekitar pukul 17.30, hampir mendekati jam pulang. Ia langsung menuju lantai eksekutif.
Koridor sudah mulai sepi. Rina sudah pulang. Hanya ada Ivan di kantornya, tampak masih sibuk.
Fatma mengetuk dan masuk. "Pak Ivan, dokumen sudah berhasil saya serahkan ke Mr. Pramudya. Langsung di tangannya," lapornya, nadanya bangga karena berhasil menuntaskan tugas.
Ivan mengangkat wajahnya dari laptop. Ia menatap Fatma lama, tatapan yang mengukur, tanpa ekspresi yang bisa dibaca.
"Bagus," katanya singkat. "Kamu boleh pulang."
Kekecewaan Fatma melintas di wajahnya. Setelah panik melihat seseorang yang ia pikir mirip dengan ayahnya, dan berjuang menghadapi macet, hanya kata 'bagus' yang ia dapatkan?
"Baik, Pak. Permisi," ucap Fatma, lalu berbalik.
"Tunggu, Fatma."
Fatma membeku. Ia berbalik, jantungnya kembali berdetak kencang.
Ivan bangkit dari kursinya. Ia berjalan pelan ke arah Fatma. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang.
"Saya tahu ini bukan tugasmu," ujar Ivan, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. "Dan saya tahu kamu sudah menghadapi hari yang ... sangat sulit."
Fatma hanya bisa menunduk.
"Ambil ini!" Ivan menyodorkan tiga lembar uang seratus ribuan. "Itu untuk ongkos ojek dan bonus karena kamu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. Saya butuh dokumen itu tepat waktu."
Fatma menggeleng. "Tidak, Pak. Saya hanya menjalankan tugas. Uang ojek sudah cukup."
"Ambil!" Ivan bersikeras, nadanya kembali menjadi perintah. "Anggap ini bayaran untuk keributan yang sudah kamu saksikan di sini. Saya tidak suka utang."
Fatma ragu, lalu mengambil uang itu dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Pak."
Fatma menggenggam uang itu erat-erat, seperti benda kecil yang tiba-tiba terasa terlalu berat untuk dibawa. Ia ingin tersenyum, mengucapkan terima kasih dengan tulus, tapi tenggorokannya tercekat. Hari ini benar-benar menguras tenaganya.
Ia membungkuk sedikit. "Kalau begitu saya pamit, Pak."
Namun, Fatma belum sempat melangkah. Ivan kembali memanggilnya.
"Fatma."
Suara itu membuat Fatma berhenti dengan cepat, hampir terlalu cepat. Ia menoleh. Ivan berdiri tidak jauh darinya, kedua tangannya masuk ke saku celana, bahunya sedikit menunduk, postur yang jarang sekali ia tampilkan. Biasanya, Ivan selalu berdiri seperti garis lurus yang tidak bisa dibengkokkan siapa pun.
"Kamu tadi kenapa lama sekali?" tanya Ivan tiba-tiba.
Fatma mengedip, panik kecil muncul. "Saya ... macet, Pak. Jalannya padat."
Ivan mengamati wajahnya, lama, seolah-olah ia membaca sesuatu yang Fatma tak ingin tunjukkan. "Wajahmu pucat."
Fatma langsung menyentuh pipinya, refleks. "Oh. Enggak apa-apa, Pak. Cuma capek sedikit."
Ivan mendekat satu langkah. Fatma bisa merasakan hawa dingin dari AC bercampur wangi parfum mahal yang khas dari pria itu. Kedekatan itu membuat napasnya tercekat.
"Kamu gemetaran."
Fatma meremas strap tasnya lebih kencang. "Iya, Pak Ivan. Saya cuma ... ya tadi di jalan agak chaos."
Ivan tidak menambahkan komentar. Tapi tatapan itu, di balik mata dinginnya ada sesuatu yang tidak ia perlihatkan ke siapa pun, perhatian kecil yang tidak sengaja lolos.
"Kalau kamu merasa tidak sehat, bilang. Jangan paksakan diri," katanya datar, tapi ada tepi lembut dalam ucapannya.
Fatma menelan ludah. "Saya baik-baik saja, Pak. Serius."
Ivan menatapnya sejenak, kemudian menarik napas dan memalingkan wajah. "Sudah. Pulang."
Fatma mengangguk kecil dan akhirnya melangkah keluar. Ia menutup pintu kantor pelan, khawatir menimbulkan suara.
Begitu pintu menutup penuh, Ivan tetap berdiri di tempat. Tatapannya kosong menembus kaca jendela, tapi pikirannya tidak.
Dia sadar sejak Fatma datang kembali ke hotel, ada sesuatu yang berbeda. Mata Fatma sedikit merah, langkahnya tidak secepat biasanya, dan ia terlihat mencoba menata napas.
"Mungkin memang hari yang buruk," gumam Ivan pelan, hampir tidak terdengar.
Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang jarang muncul, merenungkan sesuatu yang mengganggunya.
Kenapa aku peduli?
Ia mengembuskan napas keras. Kembali ke kursinya, menutup laptop dengan sedikit kekuatan. Tangan kirinya mengusap alis, pertanda pikirannya tidak tenang.