Harus Bawa Jimat!

1550 Words
Dita yang sedang mengunyah langsung berhenti. Ia menatap Fatma, lalu meletakkan sendoknya perlahan. "Tentu, Fat," jawabnya pelan. "Kamu bilang itu yang mau kamu lakukan setelah dapat kerja tetap. Sekarang kamu udah kerja, tinggal cari waktunya." Fatma mengangguk kecil. "Iya. Soalnya aku pengen lihat yang belum pernah aku lihat. Waktu itu cuma dengar cerita dari Amih." "Sudah ada petunjuk?" tanya Dita. Fatma memijat pelipis, wajahnya berubah muram. "Ada sih. Amih cuma bilang ayah dimakamkan di Jakarta. Tapi nggak bilang di mana. Dan sebelum Amih meninggal ...." Suaranya melemah. "Amih cuma nitip pesan, ‘Kalau sudah dewasa, cari ayahmu. Minta maaf, bukan buat dia, tapi buat hatimu sendiri.’" "Fat!" Dita menatap Fatma lama. Ya, bukan orang yang masih hidup yang Fatma cari, tapi seseorang yang sudah meninggal dunia sejak 13 tahun lalu. Dita tersenyum, sebelum akhirnya menjawil pipi tembamnya. "Jangan sedih. Jadi OG tuh berat, tapi kamu kuat. Kita bakal cari sama-sama. Kita kan bestie dari orok." Fatma tersenyum. "Hatur nuhun, Dit." "Yowes, sekarang makan. Nanti kamu balik kerja telat, bos freezer hotel ngamuk lagi." Fatma mendengus. "Amit-amit!" *** Pukul 13.05, Fatma kembali berjalan menuju hotel. Matahari masih terlalu panasan kayak habis ditinggal pacar. Ia menunduk sambil menutupi wajah dengan tangan. Begitu memasuki lobi karyawan, Fatma menghela napas lega. AC langsung menyapa seperti mantan pacar yang tiba-tiba baik tanpa alasan. Baru saja ia hendak melangkah ke pantry untuk ganti sepatu, suara seseorang memanggil. "Fatma!" Ia menoleh. Itu Pak Aji, supervisor housekeeping, pria berusia lima puluhan dengan kumis tebal dan gaya bicara seperti narator film silat. "Ada tugas mendadak," kata Pak Aji sambil menyerahkan kotak berisi air mineral premium dalam botol kaca. "Tolong antarkan minuman ini ke ruang meeting lantai eksekutif. Meeting-nya Pak Ivan sama partner dari luar negeri. Hati-hati. Barangnya mahal." Jantung Fatma berasa langsung turun ke betis. "P-Pak Ivan?" ulangnya dengan suara bergetar. Pak Aji mengangguk. Fatma ingin menangis di tempat. "Pak ... saya takut. Barusan pagi aja saya hampir bikin bolpoin beliau trauma." Pak Aji menepuk bahunya. "Tenang, kamu cuma tinggal taruh minumannya aja dan pergi. Nggak usah kontak mata. Anggap dia patung lilin." "I-iya, Pak." Fatma mengangkat kotak itu, berjalan pelan ke lift seperti mau menghadiri sidang vonis hukuman mati. Saat pintu lift terbuka di lantai eksekutif, koridor terasa lebih sunyi dari biasanya. Bahkan sepatu hak Rina pun tidak terdengar. Ruang meeting berada di ujung. Fatma mengintip dari kaca kecil pintu. Ia melihat Ivan duduk di posisi paling depan, wajah serius. Di sampingnya, dua orang tamu asing terlihat sedang menjelaskan sesuatu di layar. Fatma menghela napas dalam. "Bismillah. Maju, Fatma. Modal nekat." Ia mengetuk perlahan. Tiga kepala menoleh. Termasuk Ivan. Tatapan freezer hotel edisi premium langsung menghantamnya. Jantung Fatma melompat kayak kucing kejedot. Ia menunduk dalam-dalam, membuka pintu, dan melangkah masuk. Ia menaruh empat botol air mineral satu per satu di meja. Pelan. Sangat pelan. Bahkan terlalu pelan. Saking pelannya, tangan Fatma bergetar, dan— BLIP! Salah satu botol air hampir terpeleset dari genggaman. Fatma menahan dengan jari kelingking. Ingat, jari kelingking. Itu ... botol kaca, nyaris jatuh dan pecah. Isi botol bergoyang heboh seperti mau keluar panggung. Tamu asing itu sampai berhenti bicara. Ivan mengangkat alis sedikit, seolah sudah melihat tragedi ini sebelum terjadi. Fatma segera menaruh botol itu di meja dengan kecepatan cahaya. "Ma—maaf, Pak, Bu, Tuan, Nyonya, semua!" ucapnya cepat. Ia membungkuk, lagi. Ivan mengusap wajah. "Fatma ...." Suara itu saja sudah bikin lutut Fatma goyah. "Ya, Pak?" jawabnya lirih. "Jangan membungkuk. Kamu bukan murid kelas taekwondo." "Oh. I-iya Pak." "Dan kamu boleh keluar." "S-siap, Pak." Fatma berbalik. Baru tiga langkah, ujung sepatunya tersangkut karpet tebal mewah itu .... TRIP! Fatma terhuyung ke depan. Veteran OG mana pun pasti sudah jatuh. Tapi entah bagaimana Fatma mampu menyeimbangkan diri dengan gerakan aneh mirip pemain akrobat miskin latihan. Ia berdiri tegak lagi. Hening. Tamu-tamu asing itu menahan tawa. Ivan menutup mata. "Fatma. Keluar. Perlahan. Jangan berlari." "Baik, Pak!" Fatma keluar sambil menahan napas, menutup pintu ... dan langsung bersandar ke dinding lagi. "Gusti ... tadi itu apa?" gumamnya. "Aib nasional!" Ia menutup wajah dengan kedua tangan. "Kalau begini aku bakal viral di sosmed hotel!" Fatma kemudian menyadari satu hal. Sebelum ia keluar, ia sempat menangkap ekspresi Ivan. Sepersekian detik. Persis sebelum tatapannya kembali sedingin kutub. Sepertinya ... Ivan sedang menahan tawa. Bukan mengejek. Tapi, beneran menahan tawa. Fatma menutup mulutnya. "Astaga ... freezer itu punya selera humor?!" Ia menggeleng keras. "Fatma, jangan halu. Halu itu mahal. Nanti kepincut, malah repot ngadepin freezer hotel tiap hari!" Akan tetapi, d**a Fatma terasa hangat, dan Aneh. Fatma berjalan kembali ke pantry dengan langkah lemas, lalu bergumam pelan, "Besok aku harus bawa jimat beneran." *** Di sisi lain, di dalam ruang meeting, salah satu tamu bertanya pada Ivan sambil tersenyum lebar. "Is she new staff?" Ivan hanya menjawab singkat, tanpa ekspresi. "Unfortunately." Tetapi, sudut bibirnya bergerak. Hanya sedikit. Tapi jelas. *** Pukul 15.00. Fatma berjalan mondar-mandir di depan pintu kantor Ivan. Kini ia dalam misi meletakkan cangkir teh Earl Grey dengan suhu sempurna, tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, tanpa gula, di cangkir porselen putih polos. Setelah serangkaian tragedi pagi hari, ini adalah kesempatan Fatma untuk membuktikan bahwa dia tidak sepenuhnya ceroboh. Ia mengetuk pelan. "Masuk!" Suara Ivan datar dari dalam. Fatma membuka pintu, bergerak sehalus mungkin. Ia melihat Ivan sedang berbicara di telepon dengan bahasa asing yang cepat dan serius, sambil memandangi layar laptopnya. Meja kerjanya, setelah insiden pena, kini tampak seperti monumen yang dilindungi. Tidak ada satu pun benda yang berani bergerak dari tempatnya. Fatma berhasil meletakkan baki teh dengan sukses di meja kecil yang "terkutuk" di samping kursi Ivan. Ia bahkan tidak menyentuh pinggiran meja. Skor untuk Fatma. Saat ia hendak berbalik, pandangannya tak sengaja tertuju pada sebuah bingkai foto kecil di sudut meja, tersembunyi sebagian di balik monitor. Dalam bingkai itu, ada foto Ivan yang sedang tersenyum lebar, menggendong seorang anak laki-laki dengan rambut acak-acakan, Akhtar, anak yang tadi meneleponnya. Ivan yang di foto itu tampak begitu muda, tanpa garis-garis ketegangan di wajahnya. Ada dua wanita cantik berdiri di samping mereka, tersenyum hangat. Yang satu masih muda, yang satu lagi wanita paruh baya. Itu mungkin ibu Akhtar dan ibunya Ivan. Lalu, ke mana ayah anak bernama Akhtar itu, jika Ivan adalah omnya? 'Freezer hotel ini punya keluarga,' batin Fatma. Kontras antara Ivan yang dingin dan Ivan yang hangat membuatnya bingung. Tiba-tiba, Ivan menutup teleponnya dengan bentakan dalam bahasa Inggris yang cepat, lalu menghela napas panjang. Ia menyentuh pangkal hidungnya, terlihat sangat lelah dan tertekan. Kelelahan itu begitu nyata hingga aura dinginnya seolah meredup. "Pak!" Fatma refleks memanggil, entah mengapa ia merasa simpati. Ivan mengangkat kepala. Tatapan dinginnya kembali, seolah ia baru saja menutup tirai yang memperlihatkan sisi manusianya. "Ya? Ada lagi?" tanyanya, sedikit tajam. "T-tidak, Pak. Hanya ... teh Anda." Fatma tergagap, menyesali kebodohannya. "Terima kasih. Sekarang, keluar," perintah Ivan tanpa emosi, mengangkat cangkir tehnya, dan langsung menyesapnya. Fatma cepat-cepat berbalik. Kali ini, ia berjalan mundur ke pintu dengan sangat hati-hati, memastikan kakinya tidak menyentuh karpet yang "sial" itu lagi. Ia menutup pintu tanpa suara, dan bersandar pada dinding, jelas kelelahan mental. Lima belas menit kemudian, saat Fatma sedang mengepel lantai marmer di koridor, Rina muncul, wajahnya tegang. "Fatma, berhenti sebentar!" Rina berbisik, nadanya kembali cepat dan serius. "Ada tugas darurat. Kurir yang harusnya mengambil dokumen ini kena macet total. Pak Ivan butuh dokumen ini sampai ke tangan Mr. Pramudya di Hotel Emerald, Sudirman, sekarang juga!" Rina menyodorkan sebuah map tebal berwarna biru tua. Map yang sama dengan yang tadi ia ambilkan dari meja Rina. "Kamu harus mengantarnya. Tidak ada waktu lagi. Ini sangat rahasia," tegas Rina. Mata Fatma melebar. "S-saya, Rina? Tapi ... saya 'kan Office Girl. Saya nggak biasa di luar. Gimana kalau hilang?" "Justru itu. Tidak ada yang akan curiga Office Girl membawa dokumen penting. Ini 'kamuflase' yang sempurna!" Rina menjelaskan dengan mata melirik ke sekitar. "Naik taksi atau ojol tercepat, aku yang pesankan. Semua biaya akan diganti. Ini alamatnya. Pastikan kamu serahkan langsung ke tangan Mr. Pramudya, personal and confidential." Di atas map biru tua itu, Fatma membaca sebuah label kecil, "Lampiran Arsip Yayasan & Proyek Pelangi 2012". Jantungnya berdesir. 2012? Itu tahun Ayahnya meninggal. "Cepat, Fatma. Ini masalah jutaan dolar," desak Rina. Fatma menelan ludah, mengangguk cepat, dan langsung berlari ke locker untuk berganti pakaian. Misi penyelamatan kehormatan, sekaligus misi paling berbahaya yang pernah ia hadapi, baru saja dimulai. Di lobby utama hotel, Fatma menunggu ojek online yang sudah dipesan Rina. Ia memegang map biru itu erat-erat di dadanya, seolah-olah itu adalah nyawanya. Ia duduk di jok motor, tubuhnya kaku, merasakan macetnya Jakarta yang membuatnya panik. "Pak, bisa cepat sedikit?" pintanya pada pengendara ojek. "Waduh, Neng, ini udah ngebut mentok. Ini jalanan Jakarta!" jawab si Bapak ojek. Fatma hanya bisa berdoa, takut terlambat dan membuat si "Freezer Hotel" mengaum lagi. Setelah perjalanan yang terasa sangat lama, ia tiba di Hotel Emerald. Ia melesat ke lobby, menanyakan ruangan Mr. Pramudya. Setelah proses verifikasi yang cukup ketat, ia diizinkan naik ke lantai executive lounge. Saat Fatma menyerahkan map biru itu ke tangan Mr. Pramudya, seorang pria tua yang tenang dan berwibawa, ia merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. "Terima kasih, Nak. Kamu sudah menyelamatkan hari kami," kata Mr. Pramudya ramah. Fatma hanya tersenyum lega. "Sama-sama, Pak. Saya permisi." Setelah misinya mengantarkan dokumen selesai, Fatma segera kembali. Namun, saat ia keluar dari lift di lantai bawah, alangkah terkejutnya saat ia melihat seseorang yang ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD