Dari Freezer, Jadi Microwave

1410 Words
Fatma menggumam begitu saat menutup pintu kantor Ivan pelan-pelan, memastikan tidak ada suara yang akan mengundang tatapan setajam belati itu. Ia bersandar pada dinding, memeluk nampan kosong, mencoba menstabilkan degup jantungnya yang seperti tabuhan drum konser dangdut. "Napas, Fatma napas. Hidup kamu teh masih panjang." Lantai eksekutif tetap sunyi, hanya terdengar suara lembut AC dan langkah pelan para staf yang terlihat seperti sedang audisi jadi ninja profesional. Fatma baru saja hendak kembali ke pantry ketika suara pintu kaca kantor Ivan terbuka sedikit. "Fatma." Ia langsung berdiri tegak, hampir menjatuhkan baki lagi. Terkejut. Ivan keluar setengah, hanya menampakkan separuh tubuhnya. Kemeja putihnya rapi sempurna, lengan tersingkap sampai siku, memperlihatkan otot yang tegang dan urat yang sedikit menonjol. Ekspresi wajahnya tetap sama, sedingin freezer hotel. "Tolong ambilkan laporan dari meja Rina," katanya singkat. "Yang warna biru." Fatma mengangguk cepat, seperti burung merpati yang terlalu semangat. "Siap, Pak!" Ia melesat pergi, baru sadar lima langkah kemudian bahwa ia tidak tahu laporan biru yang mana. "Rinaaaa ...," gumamnya panik. Untungnya sekretaris itu mengerti kondisi mental Office Girl baru yang hampir meledak. Rina langsung menunjuk tumpukan dokumen tanpa basa-basi. Saat kembali ke kantor Ivan, Fatma mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya. "Pak, ini laporannya." Ia menyerahkannya dengan kedua tangan, sangat hati-hati. Ivan mengambil tanpa melihatnya. "Simpan di meja kecil," katanya pelan. Fatma menelan ludah. Meja kecil itu ada di dekat Ivan. Dekat sekali. Tepat di samping kursi kerjanya. Ia melangkah maju dengan sangat perlahan, seolah lantai di bawahnya adalah ranjau aktif. Begitu ia meletakkan laporan itu, tangan gemetarnya tanpa sengaja menyentuh sisi meja, dan membuat bolpoin khusus Ivan bergerak beberapa milimeter. Catat, hanya beberapa milimeter. Ivan menghentikan gerakan mengetiknya. Suasana seisi ruangan langsung berubah. Fatma bisa mendengar detak jantungnya sendiri sampai ke tenggorokan. Ivan menatap bolpoin itu. Lalu menatap Fatma. Tatapan itu ... ah, kalau bisa dimasukkan ke botol, mungkin bisa dijual sebagai "Es Kutub Utara Premium". "Fatma," katanya perlahan, nada suaranya turun dua oktaf. "Posisi pena itu ...." Fatma buru-buru memperbaiki posisi pena itu, tangan gemetar seperti pegang mixer tanpa listrik. Tapi bukannya kembali ke posisi awal, ia malah membuatnya semakin miring. Ivan menutup mata, menarik napas panjang seolah sedang mencoba menerima takdir. "Biarkan saya," katanya akhirnya. "T-tentu, Pak!" Fatma mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, sampai betisnya menabrak sofa kulit. Ia hampir tersungkur, tapi menahan diri agar tidak membuat kerusakan ketiga. Ivan tidak menegurnya lagi. Ia hanya mengatur pena itu dengan ketelitian seorang dokter bedah jantung. "Mulai sekarang," kata Ivan sambil tetap menatap meja, tidak memandang Fatma. "Jangan menyentuh apapun di meja kerja saya tanpa instruksi." "Baik, Pak." "Nggak boleh panik." "Baik, Pak." "Jangan gemeteran kayak gitu." Fatma menelan ludah. "Saya usahakan, Pak." Untuk pertama kalinya, sudut bibir Ivan sedikit bergerak, sangat sedikit. Tidak sampai senyum. Tapi seperti otot wajahnya lupa cara bersikap dingin selama setengah detik. Namun, ia cepat menormalkan bibirnya. "Kembali bekerja." Fatma membungkuk kecil. Kenapa ia harus membungkuk? Tidak tahu, pokoknya ia reflek, lalu berjalan mundur ... sampai menabrak pintu dengan punggungnya. DUGH! Ivan menghela napas. "Jangan membungkuk seperti itu. Kamu bukan samurai!" "M-maaf, Pak." Baru satu langkah, kakinya hampir tersandung lagi. Ia berhasil menahan diri agar tidak jatuh, tapi wajahnya sudah panas menahan malu. Ivan hendak kembali mengetik, tetapi ponselnya berdering. Nada khusus yang berbeda dari dering biasanya. Ia melihat layar. Sejenak, tatapannya yang dingin itu melunak, walau hanya sedikit. Lalu ia menekan tombol hijau. Bukan telepon biasa. Video call. Wajah seorang bocah laki-laki berumur sekitar tujuh tahun muncul di layar. Rambut hitam acak-acakan, pipi chubby, mata bulat cerah. "Om Ivan!!" Bocah itu berseru riang. "Om di mana? Akhtar kangen!" Ivan tersenyum. Benar-benar tersenyum. Hangat. Tulus. Bukan sekadar gerakan bibir dingin tanpa makna. "Akhtar," sapa Ivan lembut, suaranya berubah setara dengan cuaca yang sedang panas, Tiba-tiba hujan dan ada pelangi. "Kamu sudah pulang sekolah?" "Udah! Liat nih, Akhtar bikin robot dari lego!" Bocah itu mengangkat bangunan lego yang tidak terlalu rapi, tapi penuh semangat. Ivan mengangguk, matanya lembut. "Wah. Bagus sekali. Kamu semakin jago." Fatma yang tadi masih berada di depan pintu karena menunggu izin keluar, tanpa sengaja terpaku. Ini pertama kalinya ia melihat sisi Ivan yang seperti itu. Senyum. Suara hangat. Tatapan penuh kasih sayang. Ini orang yang sama? Benar-benar bertolak belakang dengan Ivan versi "freezer hotel" yang baru saja mengomelinya soal posisi pena bergeser dua milimeter. "Om kapan ke rumah Akhtar? Bunda bilang Om sibuk terus!" rengek Akhtar. Ivan merendahkan suaranya. "Om ke rumah nanti sore atau malam, ya? Kita makan bareng. Mau ayam goreng?" "MAU!" Akhtar bersorak. Fatma tidak sengaja tersenyum melihat pemandangan itu. Ada getaran hangat yang merayap pelan di dadanya. "Pasti salah lihat, dia orang yang beda," gumamnya lirih. Tepat setelah itu, Ivan menoleh. Tatapannya langsung kembali ke mode kutub utara dalam waktu kurang dari satu detik. Ia menatap Fatma dengan mata gelap, tajam, dingin, seolah senyum yang ia tunjukkan tiga detik lalu hanyalah ilusi optik. "Kenapa kamu masih di sini?" Suaranya kembali datar dan menusuk. Fatma langsung tersentak. "Maaf, Pak! Saya ... saya pikir Bapak belum mengizinkan saya keluar." Ivan memejamkan mata sejenak, mengembus napas pendek yang berbahaya. "Keluar." Fatma hampir lompat karena kaget. "I-iya, Pak!" Ia buru-buru membuka pintu dan keluar lebih cepat dari kecepatan cahaya, lalu menutup pintu tanpa suara. Begitu pintu menutup sepenuhnya, napas Fatma tercekat. Sekarang ia baru zadar, ia telah melihat sesuatu yang sepertinya tidak boleh ia lihat. Sisi hangat Ivan Abimana yang mungkin coba ia sembunyikan dari seluruh dunia. Ia menempelkan punggung ke dinding koridor dan memegang dadanya yang masih berdetak cepat. "Ya ampun Fatma! Kamu baru aja lihat freezer berubah jadi microwave!" "Sadar Fatma, sadar!" Fatma bergumam sendiri sambil menepuk pipi tembamnya. "Jangan terpesona sama sikap manis bos itu yang cuma beberapa detik. Ini baru hari pertama. Nanti dia berubah lagi jadi freezer hotel. Apa besok aku harus datang bawa jimat? Garam? Kemenyan? Atau Air bunga tujuh rupa? Biar nggak sial terus ketemu dia?" Fatma kembali menggeleng frustasi. "Aaah ... lieur Gusti. Kenapa punya bos yang aneh kayak gini!" *** Waktu menunjukkan pukul 12.05. Fatma baru saja selesai mengisi kembali pelembap udara di kantor Ivan ketika Rina muncul dari balik pintu, memegangi map tebal di dadanya. "Fatma," panggil Rina, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Makan siang bareng di pantry, yuk. Aku bawa ayam rica, pedes banget!" Fatma tersenyum kecil, merasa tersentuh atas ajakan itu. "Wah ... terima kasih, Rina. Tapi aku nggak bisa. Aku udah janji makan sama Dita di kos. Dia nungguin.” "Oh, Dita yang OG itu? Dia teman sekos kamu?" "Iya. Aku kerja di sini diajak dia. Sama-sama dari Lembang, dan teman aku dari masih balita." Rina mengangguk sambil tertawa. "Baiklah. Lain kali ya." Fatma pun keluar dari area staff. Begitu melangkah ke halaman belakang hotel, angin panas Jakarta menghantam wajahnya. Tentu sangat jauh berbeda dengan sejuknya angin Lembang walau di siang hari. "Duh ... panas pisan," keluhnya sambil mengikat rambutnya yang tadi sempat berantakan. Perjalanannya hanya sepuluh menit, tapi kalau matahari lagi galak begini, rasanya jauh lebih lama. Namanya juga anak kos, jalan kaki dulu, ngeluh belakangan. Begitu sampai di kos, Fatma langsung membuka pintu kamar dan mendapati aroma bawang tumis yang akrab. Dita sedang duduk bersila di lantai, makan sambil nonton HP. "Meni lama kamu teh," katanya tanpa melihat. "Eta panas pisan di jalan. Rambut udah bau matahari!" Fatma duduk sambil mengacak rambutnya. Dita menoleh, mendengus. "Kenapa nggak naik Ojol?" Fatma menatapnya dengan horor dramatis. "Hah? Duit ti mana? Anak kos hemat atuh. Ojol mah kalau darurat doang, Dit." Dita ngakak. "Bener banget!" Mereka makan bersama, dan Fatma langsung curhat soal pagi tadi. 'Aduh Dit, tadi teh aku diomelin Pak Ivan. Gara-gara pena geser saeutik, langsung ditatap kayak kriminal kelas berat." Dita langsung ketawa lepas. "Udah biasa, Fat. Kamu masih baru. Pak Ivan tuh ramah cuma buat keluarganya." Fatma manyun. "Iya, tapi tadi aku lihat dia video call sama keponakannya. Buset ... langsung berubah. Mukana jadi lembut, sumpah beda pisan." Dita hampir keselek saking ngakaknya. "Awas terpesona. Gitu-gitu, dia idaman banyak cewek." "Astaghfirullah. Ngelantur kamu mah." Dita mendekat dengan muka jail. "Enggak ih ... siapa tahu aja kamu teh punya suami kayak Pak Ivan." Fatma langsung jerit kecil sambil memukul bantal. "Amit-amit ya Allah, Gusti! Ih embung! Suami model freezer hotel kayak kitu mah. Ganteng sih ... tapi sieun!" Dita sampai nangis ketawa. "Biasanya tuh yaaa, yang suka ngomong nggak mau, bakalan dikabulin sama Allah." "Diiit!" Fatma melempar sendok plastik. Mereka berdua pun pecah tawa lagi, khas anak kos yang sederhana, bawel, tapi hangat. Setelah tawa keduanya mereda, Fatma menatap Dita. "Dit, bener ya nanti kamu bantuin aku cari ayahku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD