Fatma menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berkejaran. Setelah menerima instruksi singkat dari manajer training yang tampak kasihan padanya, ia kini berdiri di depan lift khusus eksekutif.
"Lantai teratas," bisiknya, suaranya sedikit bergetar. Ia memasukkan kartu aksesnya. Pintu lift terbuka, dan ia melangkah masuk ke dalam kotak baja berlapis marmer yang sunyi.
Saat pintu lift terbuka di lantai eksekutif, suasana langsung berbeda. Keheningan yang mencekam menggantikan hiruk pikuk lantai bawah. Koridornya luas, dihiasi karpet tebal, dan hanya ada beberapa pintu tertutup. Udara di sini terasa dua kali lebih dingin dari ruangan kantor Ivan yang diceritakan Dita.
"Oke, Fatma. Kamu harus kuat. Ingat, kamu di sini buat Ayahmu," gumamnya, menguatkan diri.
Pekerjaan Fatma sebagai Office Girl di lantai ini ternyata sangat spesifik dan sangat ketat. Ia tidak boleh menyentuh berkas-berkas penting, hanya boleh membersihkan area-area yang sudah ditentukan, dan yang paling penting, ia harus bergerak seperti bayangan. Tidak boleh berisik, tidak boleh terlalu mencolok, dan dilarang keras berbicara kecuali ditanya.
Area utama adalah kantor Ivan. Sebuah ruangan kaca dengan pemandangan kota Jakarta yang spektakuler.
Fatma mulai bekerja. Ia membersihkan meja kopi dan merapikan sofa mewah di ruang tunggu direktur. Ia sangat hati-hati, takut menjatuhkan sesuatu yang mahal atau menimbulkan suara yang mengganggu keheningan.
Tiba-tiba, suara pintu diketuk pelan. Seorang sekretaris Ivan, wanita bernama Rina yang tampak selalu stres, masuk.
"Fatma, ini jadwal Pak Ivan untuk hari ini. Kamu harus pastikan semua kebutuhannya tersedia sebelum dia tiba," kata Rina, nadanya cepat dan tanpa emosi.
Fatma menerima secarik kertas. Matanya melebar membaca daftar yang terperinci.
Pukul 09.00: Air mineral suhu ruangan, bukan dingin. Dengan merek yang ditulis jelas, bahkan Fatma baru tahu bahwa di muka bumi ini ada air mineral jenis itu.
Pukul 10.30: Kopi black Americano tanpa gula, dari biji kopi Ethiopia yang baru digiling.
Pukul 13.00: Teh Earl Grey tanpa gula.
Ruangan: Suhu harus stabil 18°C dan ada pelembap udara yang bekerja.
Fatma mengerutkan kening. "Bu Rina, kenapa detail sekali? Apa Pak Ivan alergi sesuatu?"
Rina menghela napas lelah. "Pak Ivan bukan alergi, dia hanya ... sangat spesifik. Semua hal harus sempurna. Bahkan posisi pena di mejanya harus sejajar, di sebelah kanan mouse pad."
Rina kembali bicara, menegaskan satu hal penting untuk Fatma. "Jangan pernah mengubah susunan di meja kerja Pak Ivan, kecuali untuk membersihkan debu. Dan pastikan kamu melakukannya sebelum jam 8 pagi, sebelum dia datang."
"Baik, Bu Rina. Terima kasih," jawab Fatma, merasa sedikit terintimidasi.
"Oh ya, satu hal lagi. Jangan panggil saya Bu Rina seperti ini. Panggil Rina saja," ujarnya ramah.
"Aaah ... iya ... baik, Rina. Terima kasih," sahut Fatma.
"Sama-sama. Semangat, dan harus hati-hati. Kalau kamu ceroboh ...." Rina melirik ke sekitarnya, lalu menekankan suara, berbisik tepat di telinga Fatma. "Kalau kamu ceroboh, Pak Ivan bisa mengaum kayak macan."
Rina menepuk bahu Fatma singkat lalu segera beranjak kembali ke ruangannya, meninggalkan Fatma sendirian dengan jadwal rumit dan tugas yang mematikan.
Fatma menelan ludah. Ia memegang kertas jadwal Ivan seperti sedang memegang peta ranjau. Sambil mencoba menghafal setiap detail, ia mulai menjalankan tugas pertamanya. Ia bergerak ke pantry kecil yang mewah di lantai eksekutif. Semuanya serba otomatis dan mahal. Mencari merek air mineral asing yang diminta Ivan membutuhkan waktu lima menit. Mencari tahu cara menyetel pelembap udara di kantornya membutuhkan waktu sepuluh menit.
Saat ia sedang menyusun baki kopi untuk sesi Americano jam 10.30, dengan biji kopi Ethiopia yang harus ia giling sendiri, ia mendengar suara pintu lift berdenting. Jantungnya langsung melonjak.
Ivan Abimana datang.
Waktu baru menunjukkan pulul 08.50, sepuluh menit lebih cepat dari jadwal.
Fatma, panik, buru-buru menyusun cangkir dan peralatan. Ia mencoba menenangkan diri, tapi tangannya gemetar. Tiba-tiba, ia tak sengaja menjatuhkan penutup tempat gula yang terbuat dari keramik.
PRAANG!
Suara itu terdengar nyaring di keheningan lantai eksekutif.
Di ambang pintu kantornya, Ivan Abimana yang baru saja melepas jasnya, seketika berhenti. Matanya yang tajam langsung mengarah ke pantry. Ekspresinya mengeras.
Fatma membeku, ia hanya bisa menunduk menatap pecahan keramik di kakinya. Ia merasa sepasang mata dingin itu menembusnya.
Ivan berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti hukuman mati yang tertunda.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya, suaranya pelan, tapi mengandung ancaman yang lebih menakutkan daripada bentakan kemarin.
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Fatma menjawab tanpa berani mengangkat wajahnya. Ia segera berjongkok untuk memungut pecahan keramik itu.
"Tinggalkan." Ivan berkata tajam. "Kamu bisa melukai diri sendiri. Itu barang mahal, Fatma. Apa kamu tahu betapa mahalnya mengganti satu set peralatan di sini?"
Fatma meremas tangannya yang gemetar. Ia tahu dia telah membuat kesalahan lagi.
"Saya akan ganti, Pak," bisik Fatma.
Ivan mendengus. "Ganti? Dengan gaji Office Girl?" Ia menggelengkan kepala, tatapan kecewa itu lebih menyakitkan daripada kemarahan. "Kamu baru satu hari bekerja dan sudah membuat dua kesalahan. Satu, menabrak saya. Dua, merusak properti hotel. Apa standar kerjamu memang seceroboh ini?"
Rasa marah dan malu Fatma meluap. Ia mengangkat kepalanya. Air mata sudah bergenang, tapi kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena harga diri yang terluka.
"Pak!" Fatma mencoba bersikap setenang mungkin. "Saya minta maaf. Tapi saya hanya berusaha menjalankan tugas saya dengan benar. Saya juga manusia, Pak. Dan saya janji, saya akan ganti kerugian ini. Tidak peduli berapa harganya."
Ivan menatap mata tembam Fatma. Ia melihat genangan air mata itu, tapi di baliknya ada api perlawanan yang baru ia lihat. Gadis ini tidak hanya takut, dia juga berani. Kombinasi yang aneh.
"Saya tidak butuh uangmu!" Ivan memotong, nadanya sedikit melunak karena ia melihat kejujuran di mata Fatma. Namun, ia harus mempertahankan batasan. "Saya butuh tanggung jawab. Sekarang, kamu harus membersihkan pecahan itu, dan setelah itu kamu ikut saya. Kamu harus tahu apa yang kamu rusak."
Fatma hanya mengangguk. Setelah Ivan berbalik dan masuk ke kantornya, Fatma membersihkan pecahan itu dengan hati-hati. Ia merasa sangat kecil dan rapuh.
Setelah membersihkan, Fatma dipanggil ke dalam kantor Ivan yang sunyi. Pemandangan kota yang luas terasa ironis, seolah menertawakan penderitaannya.
"Duduk," perintah Ivan, menunjuk ke kursi di depannya.
Fatma duduk di ujung kursi, punggungnya tegak kaku.
Ivan memutar kursinya menghadap jendela sejenak, lalu kembali menghadap Fatma. Ia tampak tenang, tapi aura dinginnya tidak pernah hilang.
"Lantai ini adalah representasi dari standar Hotel Pelangi Samudra. Semua harus sempurna. Saya menempatkanmu di sini bukan untuk menghukummu, Fatma. Saya menempatkanmu di sini untuk mengawasimu. Karena jika kamu ceroboh di lantai ini, setidaknya kerusakan hanya terbatas pada area saya."
"Saya mengerti, Pak," kata Fatma.
"Bagus." Ivan mencondongkan tubuh ke depan, matanya menatap lurus ke mata Fatma, tatapan yang membuat Fatma merasa ditelanjangi. "Saya sudah baca berkasmu. Kamu datang ke Jakarta untuk mencari nafkah dan ... mencari tahu tentang Ayahmu."
Jantung Fatma mencelos. Bagaimana Ivan bisa begitu dingin dan langsung menusuk ke inti masalahnya?
"Itu urusan pribadi saya, Pak." Fatma memberanikan diri.
"Saat kamu bekerja untuk saya, tidak ada yang pribadi. Kamu bekerja di sini karena kamu butuh uang. Dan saya akan memastikan kamu bekerja untuk setiap rupiah yang kamu dapatkan. Tapi jika urusan pribadimu mengganggu kinerjamu, saya tidak akan ragu memecatmu."
Fatma mengepalkan tangan di bawah meja. "Urusan pribadi saya tidak akan mengganggu pekerjaan saya, Pak. Saya akan memastikan kopi bapak tepat waktu, ruangan bapak bersih, dan semua benda di sini tidak ada yang pecah lagi."
Ada sedikit jeda. Ivan terdiam. Di balik dinding esnya, ia merasakan kejujuran dan tekad Fatma. Sesuatu yang langka.
"Baik," kata Ivan. "Sekarang, kamu tahu jadwal saya. Lakukan pekerjaanmu. Jika ada yang kurang jelas, tanya Rina. Jangan pernah langsung ke saya."
"Baik, Pak." Fatma berdiri.
"Oh, satu hal lagi!" Ivan menambahkan. "Mulai sekarang, kamu harus bersikap lebih 'hati-hati' di sekitar saya. Jika saya melihatmu panik atau ceroboh lagi, saya akan menganggapmu tidak serius. Dan saya tidak suka orang yang tidak serius."
"Saya janji akan sangat hati-hati, Pak," ucap Fatma dengan ketulusan yang menusuk.
Ivan hanya mengangguk datar, lalu kembali fokus pada layar laptopnya, mengabaikan Fatma seolah gadis itu hanyalah udara.
Fatma keluar dari ruangan itu dengan napas lega bercampur amarah yang tertahan. Ia sudah berjanji, ia akan sangat hati-hati. Ia akan menjadi Office Girl terbaik dan tercepat, hanya agar dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dan menghindari pria es itu.
"Kasian banget yang jadi istrinya. Pasti emosi terus ngadepin suami yang mirip freezer hotel."