Fatma menarik napas lega saat berhasil menyelesaikan semua administrasi. Meskipun kakinya masih terasa nyeri bekas benturan tadi, ia mencoba mengabaikannya. Yang lebih sakit adalah rasa malunya dan kemarahan yang tertahan. Baru kali ini ia dibentak sedingin itu.
Ia berjalan menuju area pantry, tempat Dita berjanji menunggunya. Aroma kopi dan roti panggang yang samar-samar tercium membuatnya sedikit rileks. Fatma duduk di salah satu kursi kayu, mengeluarkan ponsel usangnya, dan menatap pantulan dirinya di layar yang gelap. Pipi tembamnya tidak lagi menunjukkan keceriaan, ada kerutan khawatir di dahinya.
"Dasar bos es," gumamnya lagi, menghela napas. "Sumpah, di Jakarta ini orang-orangnya kenapa ya? Baru ketemu udah kayak mau makan orang."
Tak lama kemudian, Dita muncul, mengenakan seragam housekeeping-nya. Ia membawa nampan berisi dua piring nasi dan lauk sederhana.
"Hei, Si Gemoy," sapa Dita. "Udah, nggak usah dipikirin lagi. Dia memang begitu."
"Dit, dia itu pemilik hotel?" Fatma bertanya dengan suara tertahan. "Ya ampun, kenapa dia bisa seketus itu?"
Dita menaruh piring di depan Fatma. "Makan dulu, nanti aku ceritain. Di sini banyak mata-mata, Fat."
Fatma menurut, dan saat ia mulai menyuap makanannya, Dita berbisik.
"Pak Ivan itu ... dibilang dingin ya memang dingin. Tapi ada cerita di baliknya. Dia memang jarang bicara, apalagi sama karyawan biasa kayak kita. Dia cuma fokus kerja, kerja, dan kerja."
"Tapi harusnya dia nggak perlu bentak-bentak, kan?"
"Memang. Tapi ya mau gimana lagi. Dia Ivan Abimana, salah satu pewaris Hotel Pelangi Samudra. Semua orang takut, Fat. Jangan sampai kamu cari gara-gara lagi sama dia, ya. Nanti kamu nggak jadi kerja malah."
Kata-kata Dita menusuk kekhawatiran Fatma. Ia harus bekerja. Ia butuh uang untuk biaya hidupnya dan misi pencarian ayahnya.
"Aku janji, Dit. Aku akan menghindarinya sejauh mungkin," ucap Fatma dengan tekad.
"Bagus. Karena dia itu bagai hantu. Tiba-tiba muncul, bikin aura ruangan beku, terus hilang lagi. Udah, yuk kita ke kos kamu istirahat di sana aja. Besok kamu orientasi."
Sementara itu, Ivan sudah berada di mobil mewahnya, Mercedes-Benz hitam yang melaju mulus membelah padatnya lalu lintas Jakarta. Namun, tujuannya bukan lagi kantor, melainkan gym pribadinya.
Kepalanya masih penuh dengan amarah dan frustrasi yang tidak tersalurkan. Wajah gadis Office Girl itu, entah kenapa masih berkelebat. Terutama mata yang membulat penuh ketakutan bercampur sedikit pemberontakan itu. Ia membenci dirinya karena sudah melampiaskan kekesalan pada orang yang tidak bersalah.
'Ivan, kamu terlalu keras.' Suara kecil di kepalanya berbisik.
'Tidak. Itu adalah peringatan.' Ivan membela diri dalam hati. 'Semua orang harus tahu batas. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun mendekat.'
Pikirannya kembali ke masa lalu, ke peristiwa yang membangun dinding es di hatinya. Tiga tahun lalu, sebuah kecelakaan. Rasa bersalah itu adalah palu godam yang menghancurkan semua kehangatan dalam dirinya. Janjinya saat itu adalah, tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi kelekatan, karena setiap orang yang ia cintai pasti akan terluka.
"Sialan!" Ivan memukul setir mobil dengan keras.
Ivan tiba di gym-nya. Ia langsung melahap sesi latihan beban yang brutal, memaksa fisiknya untuk bekerja keras hingga kelelahan, berharap rasa sakit fisik bisa mengusir gejolak batinnya.
Saat istirahat, ia menyeka keringat dan melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah tampan dengan rahang keras dan mata yang dingin.
"Kamu hanya bisa memberi sepuluh persen, Ivan," bisiknya pada pantulan itu. "Sepuluh persen. Tidak lebih."
Sepuluh persen yang ia maksud adalah fokusnya pada pekerjaan, pada keluarga, dan pada hal-hal yang tidak melibatkan komitmen emosional yang mendalam. Ia akan menjaga batas itu mati-matian. Termasuk menjaga jarak dengan karyawan baru bernama Fatma yang entah kenapa, berhasil membuatnya keluar dari fokusnya walau hanya beberapa detik.
***
Keesokan harinya, Fatma datang dengan semangat baru. Ia mengenakan seragam Office Girl baru yang rapi, celana panjang dan kemeja polos. Ia sudah memutuskan untuk bersikap sangat profesional. Mencari nafkah, mencari informasi tentang Ayah, dan menghindari Pak Ivan.
Sesi orientasi untuk karyawan baru dimulai di aula kecil lantai satu. Ada sekitar dua puluh orang, termasuk beberapa Office Boy (OB) dan Office Girl (OG).
"Oke, selamat datang di Hotel Pelangi Samudra!" sapa seorang manajer training dengan ramah. "Kita akan mulai dengan perkenalan struktur organisasi ...."
Fatma mencatat dengan serius. Tiba-tiba, pintu aula terbuka. Seorang pria tinggi dengan jas mahal masuk. Semua mata tertuju padanya. Sontak, suasana yang tadinya ramai menjadi hening.
Pria itu adalah Ivan Abimana.
Ivan berdiri di depan, wajahnya datar. "Maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan bahwa semua karyawan baru memahami standar kerja di sini." Suaranya dingin, memotong suasana hangat orientasi.
Fatma menunduk seketika, pura-pura sangat fokus pada catatan di tangannya. Ia mencoba menyembunyikan pipinya yang memerah karena rasa malu dan ketakutan.
Ivan melangkah di depan barisan. Matanya yang tajam menyapu setiap wajah, dan Fatma yakin, Ivan tahu persis siapa dia.
"Saya hanya akan katakan ini sekali." Ivan memulai, auranya yang dingin langsung membuat aula terasa kaku. "Hotel ini adalah yang bintang 5 terbaik di kota. Di sini, tidak ada ruang untuk kesalahan. Anda harus bekerja seratus persen. Tidak boleh main-main apalagi bersikap ceroboh."
Fatma, yang masih menunduk, tanpa sadar terkejut mendengar kata "ceroboh". Apa pria itu masih mengingat kejadian kemarin? Jika iya, habislah Fatma.
Tiba-tiba, langkah Ivan terhenti. Tepat di depannya.
Fatma menahan napas. Ia bisa merasakan tatapan Ivan di ubun-ubunnya.
"Fatma Zahrotunnisa," panggil Ivan, suaranya seperti bilah es.
Fatma mendongak, matanya membulat lagi. "Y-ya, Pak?"
Ivan menunjuk ke arahnya dengan telunjuk. "Mulai hari ini, kamu ditempatkan di lantai teratas. Kantor Direktur Utama, di bawah pengawasan saya langsung."
Aula seketika berbisik-bisik. Lantai teratas adalah sarang macan, area paling steril dan paling dingin di hotel, tempat yang harus dihindari oleh karyawan baru.
Fatma melongo. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin protes, tapi takut.
"Kenapa, Pak?" Ia memberanikan diri bertanya, lirih.
Ivan hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Saya ingin memastikan Office Girl yang ceroboh tidak mengacaukan lantai lain. Kamu harus belajar disiplin."
Ivan tidak memberi Fatma kesempatan untuk menjawab. Ia menoleh ke manajer training. "Sesi orientasi selesai. Langsung kirim dia ke atas. Beri dia kunci dan instruksi."
Ivan berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Fatma yang terpaku dengan rasa tidak percaya. Janji untuk menghindari bos freezer itu sudah hancur. Ia tidak hanya akan bertemu, tapi ia akan bekerja di bawah hidung pria es itu.
'Ya Allah, cobaan apa lagi ini?' Fatma memejamkan mata sejenak, menahan isak tangis yang akan meledak. Ia tahu, ini bukan hanya hukuman, tapi juga takdir yang akan mengubah segalanya.