Sunyi menyelimuti mereka. Kini ke duanya melangkah ke luar dari jalan penuh kerikil itu menuju jalan utama tempat Jaehan memarkirkan mobilnya. Di sisinya ada Krystal yang melangkah dengan raut lesu dan murung. Ke dua mata gadis itu sembab dengan bibir memucat.
Hujan telah reda sejak tadi—saat Krystal masih dalam pelukan Jaehan tuk menenangkan diri.
"Jadi kau mengikutiku lagi, ya?" tanya Krystal sambil menatap Jaehan di sampingnya.
Jaehan mengangguk tanpa ragu. " Kali ini aku melakukannya dengan baik."
"Mungkin aku akan baik-baik saja jika kau mengatakan alasannya," kata Krystal.
"Aku tidak yakin kau akan baik-baik saja jika mengetahui alasannya." Ada nada gurau yang terselip dari ucapan Jaehan.
"Aku akan berusaha untuk baik-baik saja." Krystal memaksakan senyum tipis.
Cepat atau lambat pasti Krystal akan mengetahuinya. Jaehan pastikan itu. Hanya saja ada dua kemungkinan, antara Krystal yang tau dengan sendirinya atau Jaehan yang akan mengatakannya secara langsung. Namun, pilihan ke dua kecil kemungkinannya. Bagaimana pun juga Jaehan sangat menjaga jati dirinya sebagai makhluk mitologi yang dianggap tabu di kehidupan manusia.
"Mungkin karena aku peduli denganmu?" ujar Jaehan tidak yakin dengan nada bertanya. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya mengenai Orlan yang mengintai Krystal di setiap ada kesempatan. Bagaimana pun juga kepercayaan Krystal padanya seolah-olah dimulai dari nol.
"Bukan berarti kau menyukaiku, 'kan?" tanya Krystal. Tubuhnya menyerong dengan kepala menatap Jaehan dari bawah. Laki-laki itu langsung memundurkan sedikit tubuhnya karena terkejut dengan pergerakan tiba-tiba Krystal.
Jaehan menggeleng setelah memahami situasi. Krystal memang manis dengan sikap ketusnya, tapi itu bukan alasan yang cukup kuat bagi Jaehan untuk menyukai Krystal dalam artian jatuh cinta.
Tanpa sadar Krystal menghela napas lega. Setidaknya yang dikatakan Bu Zei beberapa waktu lalu itu tidak benar.
"Sekarang kau lega, ya?" tanya Jaehan seraya mengulum senyum. Setidaknya Krystal tak lagi larut dalam kesedihannya.
Krystal mengangguk seraya tersenyum simpul. Perasaannya jauh lebih baik. Mengenai ayahnya yang akan pergi dari kota ini, bukan berarti itu akhir dari hubungan mereka bukan? Setidaknya Krystal akan menghubungi ayahnya melalui ponsel. Krystal pun berharap ayahnya perlahan merubah tabiat buruknya di tempat perantauannya yang baru.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang," ujar Jaehan seraya membukakan pintu untuk Krystal. Disusul dirinya kemudian.
Mobil putih hitam legamnya membelah kota dengan kecepatan sedang.
Krystal menyandarkan tubuhnya yang terasa pegal dan lemas. Dia memejamkan mata dan tanpa sadar tertidur.
Jaehan diam-diam tersenyum dan membelokkan mobilnya. Mengurungkan niat awalnya untuk mengantar Krystal ke rumah.
Kurang lebih dua jam kemudian mobil Jaehan sudah terparkir di sebuah tempat yang tak terlihat banyak manusia. Hanya beberapa orang, seperti anak-anak kecil yang tengah bermain takraw di hamparan pasir dan para nelayan yang baru saja pulang melaut.
Jaehan menatap Krystal yang tidur pulas. Di perjalanan tadi dia sempat menutup tubuh Krystal menggunakan jaketnya yang dia dapat di bagasi, entah sudah berapa lama benda itu di sana. Setidaknya cukup bersih karena masih dalam Tote bag.
Langit menampakkan warna kemerah-merahan. Di ufuk barat mulai menampakkan tanda-tanda bahwa sang bagaskara akan bersembunyi.
Maka Jaehan membiarkan Krystal tetap pulas. Sedang dia keluar menikmati angin sepoi-sepoi sambil menikmati rokok di antara jarinya. Tubuhnya dia sandarkan di kap mobil.
Hampir sejam Jaehan bertahan di posisi itu dan sudah menghabiskan beberapa batang rokok.
"Aku membencinya."
Jaehan menoleh saat sebuah tangan merebut rokok di bibirnya dan menginjaknya di atas pasir kemudian gadis itu memungutnya dan menarik tangan Jaehan dan menaruh sisa-sisa rokok itu di telapak Jaehan.
"Buang ini kalau kau menemukan tempat sampah," kata Krystal sambil ikut bersandar seraya bersidekap d**a.
Jaehan menatap sisa-sisa rokok itu di telapak tangannya, lalu menyembunyikan genggamannya di belakang tubuh. Sisa-sisa rokok itu melebur dengan sendirinya di tangan Jaehan dan hilang tanpa sisa.
"Terima kasih sudah membawaku ke mari," kata Krystal tulus. Dia berkata sungguh-sungguh meski sempat terkejut saat membuka mata. Bukan rumahnya yang dia lihat pertama kali, melainkan hamparan laut tanpa ujung yang diperindah dengan penampakan sunset.
"Apa kau suka?" tanya Jaehan dan dibalas anggukan oleh Krystal.
"Aku sangat menyukainya walaupun aku tidak suka pantai."
Jaehan tersenyum. Gadis yang blak-blakan tapi dia menyukainya.
Jaehan mengerjap saat merasakan bahunya ditempati oleh kepala seseorang. Anak rambut gadis itu menari-nari ditiup angin, tak jarang menampar pipi Jaehan yang diam-diam mengulum senyum.
"Pinjam bahumu sebentar, ya. Aku butuh tempat sandaran berhubung hanya kau di sampingku. Walaupun nanti atau besok aku akan menyesalinya," ucap Krystal dengan nada rendah.
Tangan Jaehan melingkar di bahu Krystal dan menarik gadis itu agar lebih dekat dengannya.
"Bahuku selalu siap untukmu, kapan pun kau mau," kata Jaehan dengan nada bercanda. Krystal menanggapinya dengan dengkusan.
"Kau pernah memiliki pacar?" tanya Jaehan tiba-tiba.
Krystal menggeleng di bahu Jaehan. "Tidak ada laki-laki yang menyukai gadis kaku dan penuh kecurigaan," kata Krystal enteng.
"Tapi sekarang kau berbicara santai," kata Jaehan.
Krystal mengedikkan bahu. Dia pun tidak tau kenapa bisa berbicara santai dengan Jaehan. Meski Krystal masih memikirkan obrolannya dengan Bu Zei tempo lalu.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Krystal.
"Aku pernah memiliki pacar."
"Pernah?" timpal Krystal tidak yakin. Pasalnya Jaehan terlihat gemar mendekati banyak perempuan.
"Aku baru sekali mencintai wanita seumur hidupku," kata Jaehan dengan nada berat. Membicarakan hal ini mau tidak mau mengingatkannya dengan sosok itu, juga masa lalu.
Krystal mengerjap, mencerna ucapan Jaehan yang terdengar ambigu.
"Ucapanmu seolah kau telah hidup dalam jangka waktu yang lama," kata Krystal pelan.
Jaehan tersenyum pahit.
"Dia sosok yang bagaimana?" tanya Krystal. "Kau tidak harus menjawabnya jika itu memberatkanmu." Sebab tujuan Krystal menanyakan hal ini pun karena penasaran mengenai Jaehan meski terasa tak sopan membahas masa lalunya.
Jaehan menarik napas panjang. Baru memikirkannya saja dia sudah merasa lelah dan berkeringat.
"Tidak perlu dijawab," kata Krystal. Sebagaimana dirinya yang tak menyukai jika masa lalunya dipertanyakan, maka Krystal pun tak ingin orang lain merasakannya.
"Aku tak keberatan untuk membahasnya."
Krystal menarik kepalanya sambil menatap Jaehan dari samping. "Sorot matamu mengatakan yang sebaliknya."
Jaehan mengerjap. "Benarkah? Ada apa dengan mataku?"
Tangan Krystal bergerak memperbaiki tatanan rambut Jaehan yang acak-acak karena angin, lalu beralih menatapnya. "Terlihat penuh kesedihan dan kerinduan. Jadi tanpa kau ceritakan pun aku sudah dapat menyimpulkan."
Jaehan menahan tangan Krystal di kepalanya, lalu menarik Krystal agar lebih dekat dengannya.
"Lalu bagaimana dengan sekarang?" tanyanya sambil menatap Krystal tepat di bola matanya. Matanya mengerling jahil dan menggoda seraya tersenyum miring.