"Katanya ada petugas kebersihan sekolah kita yang ditangkap polisi," bisik Giiz. Seperti biasa, gadis itu akan selalu menyampaikan gosip tanpa melihat situasi dan kondisi.
Krystal berdeham sebagai jawaban. Sekarang mata pelajaran matematika, pelajaran yang sangat dia benci. Sedangkan guru yang menerangkan ialah Bu Zei, guru yang pernah dilihat Krystal tengah bersama Jaehan di ruangan gurunya itu. Sebenarnya itu bukan masalah, Krystal bahkan berlaku seolah-olah dia tidak pernah melihat kejadian itu. Hanya saja, entah hanya perasaannya atau memang benar, Krystal merasa jika Bu Zei kerap menatapnya. Krystal harap hal itu sebagai bentuk kesadaran Bu Zei terhadap eksistensi Krystal dalam kelas, bukan mengenai kejadian di ruangannya itu.
Mata pelajaran yang sangat membosankan itu akhirnya selesai. Menyisakan siswa-siswi yang mengeluh.
"Krys, katanya saat penangkapan petugas kebersihan itu, ada alat bukti yang disita." Giiz menarik Krystal agar menghadapnya. "Maksudnya video hasil rekamannya di toilet kan?" tanya Giiz. Rautnya menyiratkan kekhawatiran.
Krystal menggeleng. Kemarin dia sudah mengecek flashdisk yang diperlihatkan oleh Jaehan. Krystal mengeceknya di ruang komputer MSS. Nyatanya isi dari flashdisk itu ialah rekaman saat Gin merekam—memanjat dinding toilet, serta memasang kamera tersembunyi miliknya. Krystal tidak tau bagaimana Jaehan mendapatkannya, dia pun enggan bertanya lebih lanjut.
Sedangkan kamera-kamera yang digunakan Gin merekam telah Jaehan bakar di hadapan Krystal saat gadis itu terus mempertanyakannya. Setidaknya dengan begitu Krystal dapat menghela napas lega. Karena bagaimana pun juga, dia tidak bisa mempercayai Jaehan begitu saja.
"Kedepannya kita harus lebih berhati-hati jika ke toilet," keluh Giiz.
Krystal mengangguk membenarkan.
Lelah memikirkan hal itu, Krystal berniat merebahkan kepalanya di atas meja. Namun sudut matanya tak sengaja menangkap pergerakan seseorang di jendela kelasnya. Ada seorang laki-laki yang mengamatinya dan langsung berbalik saat Krystal memergokinya.
"Kemarin aku melihat Jaehan di sebuah restoran." Giiz ikut merebahkan kepalanya di atas meja dan menjadikan tas Krystal sebagai bantal.
"Hm, lalu?" tanya Krystal. Gadis itu tak memikirkan lebih jauh mengenai laki-laki yang dia lihat di jendela tadi.
Kening Giiz mengerut dalam. Tangannya bergerak menggaruk kepalanya. "Eum, entah kenapa, Jaehan terlihat sangat berbeda ketika di sekolah dan di luar sekolah. Dia tampak seperti anak kuliahan semester 5. Terlihat lebih dewasa, berkharisma ...." Giiz menggantung ucapannya, dia menatap Krystal sejenak, kemudian kembali melanjutkan saat memastikan jika Krystal menyimak ucapannya. "Dia seperti bukan Jaehan yang kukenal."
Krystal mengerjap. Tidak terkejut dengan penjelasan Giiz. Bahkan dia pun merasakan hal serupa. Laki-laki itu penuh dengan teka-teki. Dimulai saat dia tiba-tiba duduk di meja Krystal dan menangkap tubuhnya yang hampir jatuh di tangga. Semuanya terasa seperti kebetulan dan disengaja.
Jaehan seperti sengaja mendekatinya dengan maksud tertentu. Begitulah pikir Krystal.
"Dia sedang bersama wanita cantik," celetuk Giiz. Ada nada kecewa yang terselip dari nada bicaranya. "Jika wanita itu pacarnya, aku sangat tidak menyetujuinya ...."
"Kenapa?" timpal Krystal.
"Dia memiliki latar belakang yang gelap," ucap Giiz sambil membetuk tanda kutip menggunakan jari telunjuk dan tengahnya saat menyebut kata gelap.
"Dan kau memikirkannya?" tanya Krystal lagi.
Giiz tak langsung menjawab. Butuh beberapa detik untuk menjawab pertanyaan Krystal dengan anggukan.
"Itu bukan urusan kita," ucap Krystal. Begitulah dia, enggan memikirkan sesuatu yang bukan ranahnya meski akhir-akhir ini dia sering mempertanyakan siapa sebenarnya Jaehan.
*************
Ke toilet sekolah menjadi hal canggung bagi siswa-siswi MSS saat ini mengingat kembali bahwa baru-baru ini ada petugas kebersihan yang ditangkap akibat perbuatan tidak senonohnya. Hal itu tidak berlaku pada Krystal. Gadis itu tetap ke toilet karena dia pikir toilet telah diamankan atau diperiksa dan dipastikan aman oleh petugas sekolah yang sempat melakukan pengecekan.
Suasana toilet benar-benar sepi. Krystal hanya ingin mencuci tangannya sambil merapikan rambutnya. Namun indra pendengarannya tak sengaja menangkap ringisan seseorang dan bentakan-bentakan yang terdengar samar-samar—seolah sengaja diredam agar tidak terdengar oleh orang lain.
Krystal menarik tisu lalu mengelap tangannya. Setelahnya dia melempar tisu itu ke tempat sampah terdekat. Ke dua kakinya melangkah ke sumber suara, tepatnya di toilet paling ujung.
"Kau memang cukup populer tapi bukan berarti kau bisa seenaknya memposting sesuatu tentangku!"
Krystal berdiri di depan pintu sambil bersidekap d**a dan mendengarkan semuanya.
"Hm, lalu kau pun tak boleh seenaknya melakukan ini padaku. Tiga lawan satu? Huh, sepengecut itukah kalian?"
Krystal berdecak pelan saat mengenali suara itu.
Tanpa menunggu lebih lama Krystal mengetuk pintu toilet itu dengan ketukan tak sabar.
"Buka atau aku dobrak?" ancam Krystal tak main-main.
"Phmmmm, Krys ...."
"Pergilah. Ini bukan urusanmu," teriak seseorang dari dalam sana.
Krystal menunduk sambil menatap sepatunya. Hari ini dia sedang menggunakan sepatu baru. Namun haruskah dia mengotori sepatunya hanya untuk mendobrak pintu ini?
Sejenak Krystal menatap pintu toilet itu, lalu melenggang menuju pintu keluar. Akan tetapi, berselang beberapa menit, Krystal memutar tubuh dan berlari ke arah pintu toilet tadi dan mendendangnya.
Mungkin ini terdengar berlebihan, karena yang terjadi sesuai dengan perkiraan Krystal. Pintu itu terbuka secara paksa dan menampakkan orang-orang di dalamnya. Tiga orang gadis tengah berdiri dengan raut terkejut dan menatap pintu dengan pandangan ngeri. Di sisi lain seorang siswi tengah berjongkok di lantai dengan tubuh basah kuyup.
Salah satu tangan pelakunya memegang gayung. Krystal langsung dapat menebak siapa pelaku penyiraman itu.
"Kau membawa baju ganti?" tanya Krystal.
Krystal berdecak saat gadis itu menggeleng. Ada kalanya dia sangat benci melihat sikap Lais yang lemah dan tidak tau situasi ini. Gadis itu selalu bersikap kasar dan semaunya padanya. Namun kenapa sikap temperamentalnya itu tidak dia gunakan saat dirundung? Krystal sadar jika itu tidak baik, hanya saja tidak bisakah Lais berprilaku tegas di depan para perundung ini?
Krystal mengalihkan perhatiannya. Pandangannya menyorot tiga siswi yang terdiam di sudut toilet. Mereka menatap Krystal dengan pandangan menantang bercampur segan dan takut.
"Dia sepupuku," kata Krystal sambil menunjuk Lais yang tengah mengibas-ngibaskan bajunya yang basah kuyup. Raut terkejut sempat terpantri di wajah mereka.
"Pacar Jaehan ternyata," celetuk salah satunya.
Krystal hampir saja mendengkus. Ternyata gosip murahan itu masih ada.
"Tolong jaga sepupumu dengan baik agar tidak menyulitkan kami."
Pandangan Krystal turun di name tag gadis itu. Dev Keazy namanya.
Setelahnya, ke tiga siswi itu melangkah keluar dan tidak mengindahkan peringatan Krystal yang meminta mereka agar meminta maaf pada Lais.
"Jangan mengasihaniku!" ketus Lais saat Krystal mengulurkan tangan, bermaksud membantunya untuk berdiri.
Alih-alih menerima uluran tangan Krystal, Lais malah menepis tangan sepupunya itu sambil mendengkus.
"Kenapa mereka melakukan ini padamu?" tanya Krystal.
Lais mendelik. "Kenapa tanya padaku? Seharusnya kau tanya mereka," ucapnya penuh emosi sambil mengambil tisu toilet dan mengelap sisa-sisa air di tubuhnya.
Bunyi tangkapan kamera membuat Lais langsung memfokuskan dirinya pada Krystal yang baru saja memotret foto dirinya yang basah kuyup.
"Kau mau meniru orang-orang sinting tadi ya? Hapus Krys!" geram Lais. Kekesalan gadis itu semakin jadi saat Krystal memasukkan ponselnya ke saku rok.
Krystal menggeleng. "Akan aku mempertimbangkan foto ini dan mengirimnya di grup chat keluarga besar kita."
Bola mata Lais langsung membola sempurna.
"Aku tidak menyangka kau selicik ini," geram Lais hampir menangis.
"Kau hanya perlu mengatakan alasan mereka melakukan hal ini padamu."
Senyap beberapa saat. Lais memainkan ujung roknya dengan gerakan memutar.
"Aku memposting video mereka di sosial media saat Dev mabuk dan berceloteh seperti orang gila."
Lantas Krystal tak mampu berkata-kata.
Krystal langsung memijit pelipisnya. Jika sudah begini, dia tidak tau harus memihak pada siapa. Dia sadar jika yang dilakukan Lais itu salah, tapi yang dilakukan Dev serta teman-temannya pun tak bisa dibenarkan.
"Aku ada Hoodie di loker. Ayo."
Lais menggeleng. "Kau ambilkan Hoodie itu dan bawa kemari," katanya.
"Di dekat loker ada kamar ganti, La." Kamar ganti yang dimaksud Krystal ialah tempat para siswi wanita mengganti baju saat jam pelajaran olahraga.
Lais menggeleng. "Mana mungkin aku menggunakan baju basah ke tempat loker!" sungutnya.
Krystal langsung melepas sweater rajutnya dan melempar ke arah Lais yang menerimanya dengan raut kesal.