Sore yang cerah, Mario sibuk membereskan meja kerjanya, padahal jam pulang masih lima menit lagi. "Weh tumben bos udah nangkring disini aja?" Mario tersenyum kecil, "doain gue aja mending." Jawab Mario, ia segera menempelkan jarinya pada mesin absen. Semoga hari ini kamu bisa Nerima aku nan. Lima belas menit berselang Mario sudah sampai didepan kantor Kinan, ia mengetuk setir dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang kotak merah yang sudah 2 tahun ini ia simpan karena selalu mendapat penolakan dari calon si penerima. Mata Mario memicing saat melihat Desi keluar kantor seorang diri, tak ada sosok Kinan disana. Tergesa ia keluar dari mobilnya. "Hai Des!" "Ih ya ampun!" Desi mengusap dadanya, kaget. "Sory ngagetin ya?" "Itu tau!" Beo Desi kesal, "Kinan udah pulang duluan

