Sudah sejak satu bulan yang lalu Kinan disibukkan dengan persiapan pernikahannya, segala sesuatunya terasa mudah, memang ia tidak ingin pernikahan mewah apalagi waktu yang mereka miliki hanya sebentar tidak lebih dari dua bulan, Pio lah yang berkuasa menentukan tanggal yang herannya lagi diterima baik oleh ibunda. Memasuki bulan pertama Kinan masih sedikit santai, memasuki bulan kedua dirinya mulai sibuk, padahal undangan hanya untuk dua ratus orang saja, namun Pio ingin semuanya terlihat sempurna, termasuk pemilihan gaun yang sangat alot karena lelaki itu sering mendadak berubah pikiran. Kini... Tinggal dua hari lagi pernikahan mereka, undangan sudah disebar, mereka tidak memakai istilah pingit karena Pio saat ini masih berdiam diri di rumah Kinan setelah acara pengajian. "Bang cek ged

