PROLOG
"Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan. Melainkan menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah berjanji akan kembali."
---
Hujan turun sejak sore.
Rintiknya membasahi halaman rumah bercat putih yang berdiri sederhana di ujung sebuah g**g yang tak pernah benar-benar ramai. Air menetes dari ujung genting, membentuk genangan kecil di dekat taman yang ditanami bunga melati kesukaan ibunya.
Di dalam rumah, aroma sup ayam memenuhi udara.
Suara televisi terdengar lirih dari ruang keluarga.
Sesekali terdengar tawa ayahnya yang sedang menanggapi acara berita malam.
Rumah itu hangat.
Penuh kehidupan.
Namun di salah satu kamar di lantai dua, seorang perempuan duduk memeluk kedua lututnya di atas ranjang.
Clara.
Tatapannya tidak tertuju pada hujan yang turun di balik jendela.
Melainkan pada layar ponsel yang sejak tadi ia genggam.
Gelap.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada nama yang sejak lima hari terakhir terus ia tunggu.
Peter.
Ia mengusap layar ponselnya perlahan, lalu membuka ruang percakapan yang sudah sangat ia hafal.
Pesan terakhir berasal darinya.
«Clara
"Udah makan?"»
Pesan itu terkirim lima hari yang lalu.
Tanpa balasan.
Clara menggulir layar ke atas.
Seminggu lalu.
Dua minggu lalu.
Sebulan lalu.
Semakin jauh ia menggulir, percakapan itu berubah.
Yang dulu dipenuhi candaan, cerita panjang, dan ucapan selamat tidur, kini hanya menyisakan pesan-pesan singkat yang terasa semakin asing.
Entah sejak kapan semuanya berubah.
Entah sejak kapan Peter mulai menghilang sedikit demi sedikit.
---
"Clara..."
Suara lembut ibunya terdengar dari balik pintu.
"Nak, makan malam dulu."
Clara menoleh sekilas.
"Iya, Bu. Sebentar."
"Jangan lama-lama. Supnya nanti keburu dingin."
"Iya."
Langkah kaki ibunya menjauh.
Namun Clara tetap tidak bergerak.
Ia kembali menatap layar ponselnya.
Jarinya perlahan mengetik sesuatu.
"Kamu sibuk?"
Ia membaca kalimat itu berulang kali.
Lalu menghapusnya.
Mengetik lagi.
"Aku kangen."
Dihapus lagi.
Diganti.
"Apa aku salah?"
Kalimat itu bertahan sedikit lebih lama.
Sebelum akhirnya ikut terhapus.
Ia mengembuskan napas pelan.
Tak satu pun pesan berhasil ia kirim.
Karena ia mulai takut.
Takut jika yang ia dapatkan bukan balasan.
Melainkan keheningan.
---
"Clara!"
Kali ini suara ayahnya terdengar dari bawah.
"Ayo makan. Ibu nunggu."
"Iya, Yah."
Clara segera meletakkan ponselnya di atas kasur.
Ia berdiri, merapikan rambut yang sedikit berantakan, lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya terlihat pucat.
Sudah beberapa hari ia sulit tidur.
Nafsu makannya pun menghilang.
Namun ia tetap memaksakan seulas senyum sebelum membuka pintu kamar.
Jangan sampai Ayah dan Ibu khawatir.
---
Meja makan dipenuhi hidangan sederhana.
Sup ayam.
Tempe goreng.
Sambal terasi.
Dan ikan kembung favorit ayahnya.
"Kok sedikit banget nasinya?" tanya ibunya sambil memperhatikan piring Clara.
"Belum terlalu lapar."
"Kamu akhir-akhir ini sering bilang begitu."
Clara hanya tersenyum kecil.
"Aku memang belum lapar."
Ibunya tidak langsung percaya.
Seorang ibu selalu bisa membedakan mana senyum yang lahir dari kebahagiaan dan mana yang hanya dipaksakan.
Ayahnya menyendokkan kuah sup ke mangkuk Clara.
"Makan yang banyak. Badanmu makin kurus."
"Iya, Yah."
Namun hingga makan malam selesai, nasi di piringnya hampir tidak berkurang.
---
Malam semakin larut.
Rumah mulai sunyi.
Ayah dan ibunya telah masuk ke kamar masing-masing.
Clara kembali ke kamarnya.
Hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil ponsel.
Masih belum ada pesan.
Ia membuka jendela.
Udara dingin bercampur aroma tanah basah menyelinap masuk.
Di luar sana, hujan masih turun.
Ia memejamkan mata.
Dalam hati, ia mengulang doa yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
"Tolong... kirimkan satu pesan saja."
"Apa pun isinya."
"Marah pun tidak apa-apa."
"Asal jangan diam."
Karena diam...
Selalu berhasil membuat seseorang menciptakan ribuan jawaban yang belum tentu benar.
Dan Clara telah terlalu lama hidup bersama jawaban-jawaban yang ia ciptakan sendiri.
Ia belum tahu...
Bahwa lima hari tanpa kabar itu bukanlah awal dari perpisahan.
Melainkan awal dari sebuah kenyataan yang akan menghancurkan semua cerita yang selama ini ia percaya.
Barangkali, memang sejak awal... mereka tak pernah benar-benar ada.