Udara terhirup segar. Kendaraan tidak seramai di jalan utama kota. Burung-burung liar beranjangsana memburu makan. Padi-padi kian detik, bertambah tunduk. Gosip-gosip yang digelar di halaman rumah bubar dalam kesibukan. Anak-anak kecil mulai bergurau di bangku masing-masing. Sementara Maila— ia merekam daun-daun penghijau jalanan kering di pinggiran kota. Maila menyaksikan tukang sapu jalanan kota mulai menggesekkan lidi. Roda sepeda motornya berpacu cepat mengimbangi waktu yang kian lewat. Helm yang ia kenakan menghalau debu singgah di atas kelopak matanya.
Dua hari silam, ia mendapatkan undangan sosialisasi dapodik tahun ajaran baru. Harusnya tidak perlu susah payah hadir dalam acara tersebut, sebab Maila telah hapal prosedur pengisiannya. Sayang, karena ia utusan kecamatan, diberi tanggung jawab mewakili kegiatan, meski berat maka ia datang. Dinas pendidikan ingin mengabarkan bahwa aplikasi dapodik terkini telah disinkronkan dengan dinas kependudukan Indonesia. Artinya, data yang diinputkan tidak boleh salah satu titik pun, jika ada kekeliruan, sulit dibaca sisitem online. Narasumber hari itu bukan hanya operator dinas pendidikan saja melainkan operator kependudukan juga. Maila mulai bingung dengan kebijakan pemerintah. Ia tak mengerti dengan maksud kemudahan akses di era digital, sementara guru-guru di kecamatannya tinggal, masih buta mengenal tut tut keyboard.
Hari itu Maila duduk di meja paling depan, mendengar dengan seksama setiap penjelasan yang diurai. Operator-operator yang mewakili kecamatan lain terlihat bingung. Mereka dituntut bekerja keras memasukkan data siswa tanpa ada kesalahan sedikit pun, dengan tidak mempertimbangkan kondisi lapangan. Di jenjang PAUD, meliputi KB dan TK, masih ditemukan beberapa orang tua yang belum mengurus akta kelahiran anak-anak mereka. Pekerjaan memasukkan nomor KK, nomor NIK anak, data orang tua lengkap dengan semua pernak-pernik riwayat hidup, merupakan hal melelahkan. Rasanya tak imbang jika dikaitkan dengan upah yang dikantongi mereka.
"Apakah jika kami memasukkan data salah tidak bisa direvisi kembali?" tanya seorang guru berkacamata tebal usai mengangkat tangan di udara.
"Bisa, buka vervalpd dengan memasukkan username dan password operator sekolah bapak dan ibu!" lalu narasumber menjelaskan dengan memberi contoh.
"Kalau dipikir-pikir seluruh beban data sekolah diberikan kepada operator sekolah Anak Usia Dini, enak ya jadi operator jenjang selanjutnya, mereka tinggal tarik data. Tidak adil sekali ya, kami masih sering dipandang sebelah mata yang mengatakan bahwa kami tidak penting!" guru di sebelah Maila angkat bicara. Ia ungkap tekanan tanggung jawabnya yang berat.
"Iya, Pak. Sudah begitu yang mendapatkan insentif operator, hanya jenjang SD, SMP dan seterusnya, lah kami? Kami yang susah payah memasukkan data, tidak pernah dapat apa-apa!" seru guru lain yang duduk di paling belakang. Mereka protes dengan ketidakimbangan pekerjaan yang diberikan, sementara upah yang didapat tak cukup memenuhi hidup mereka. Bayangkan, betapa minimnya gaji seorang guru TK. Mereka guru-guru tanpa kenal hutang budi ini mendapat uang lelah berpijak dari angka dua ratus ribu rupiah sampai tujuh ratus ribu. Ironi bukan? Lama-lama tidak ada guru yang mau mengabdikan ilmunya di jenjang anak-anak, jika dinas pendidikan belum memaksimalkan imbalan. Maila tidak menyalahkan guru-guru tersebut, dalam batinnya ia mendukung mereka. Meskipun Maila duduk di sekolah favorit, bagaimanapun juga guru-guru lain merupakan saudara seperjuangannya.
Dinas pendidikan lagi-lagi memberikan janji tentang kesejahteraan guru. Entah kapan terealisasikan.
"Kami akan menambah kuota insentif guru setiap tahunnya, semoga bisa merata sampai kepada sahabat data semuanya," kalimat penenang yang justru dicibir diam-diam. Insentif diberikan kepada mereka-mereka yang sudah mendapatkan ijazah linier, jika dalam lembaga ada yang belum S1, maka insentif diberikan kepada mereka yang pengabdiannya sudah lama.
Sosialisasi dapodik usai. Ia pulang membawa catatan poin-poin penting yang kelak akan dibagikan kepada operator-operator sekolah di lembaga lain. Perihal data yang sudah sinkron dengan dinas kependudukan juga perihal akses operator yang dibatasi, yakni mulai detik itu operator sekolah tidak bisa menambahkan PTK. Jika ada yang ingin menambah guru harus pergi menghadap operator dinas pendidikan kota lengkap membawa persyaratan.
Maila kurang fokus mengendarai sepeda motor, matanya dirasa sepat. Kantuk datang tiba-tiba. Matanya mengalirkan cairan, ia tidak sedang menangis, namun lelah karena beberapa hari lalu sibuk memelototi layar desktop. Ia memarkir sepeda motornya di halaman kafe Darel. Suasana siang itu masih sepi. Mobil Darel terparkir rapi, membiarkan debu dan daun-daun singgah pada tubuh kotornya. Maila menyandarkan badannya pada roling door, ia menelungkupkan kepala, mata dipejamkan. Suara adzan dzuhur terdengar sayup-sayup.
Darel yang semula rebahan di sofa mendadak bangkit, menyadari ada hal ganjil di layar CCTV-nya. Ia sangat mengenal fisik perempuan yang beberapa hari lalu mengabaikannya. Dianggapnya Maila menangis depan kafenya. Ia berusaha tidak peduli, justru mematikan CCTV. Tubuh dibanting ke atas sofa, ia berselancar di dunia maya. Tiba-tiba ia ingat dengan data Maila yang dihapusnya. Entah mengapa, ada iba dan penyesalan yang mengalir dari hulu perasaan. Darel keluar melalui pintu samping, ia mendekati Maila yang masih menundukkan kepala.
Sepeda motor diparkir sembarang, ransel dikalungkan pada leher spion, sementara helmnya diletakkan di pangkuan tempat duduk. Angin berembus menggoyangkan helai-helai rambut Maila.
"Ada masalah apa lagi? Berdiri! Jangan menangis di depan kafeku! Kau bisa mendatangkan kesialan bagi para pelanggan!" gertak Darel dengan suara tinggi.
Maila diam saja.
"Gadis ketus! Kubilang berdiri!" Darel berkacak pinggang. Kaos oblong serupa tanah liat dengan stelan celana cekak menambah kesan garang pada wajahnya.
Suara berisik Darel mengusik gendang telinga Maila. Dagunya diangkat, sementara mata dikerjabkan. Bibirnya menguap, tangan kirinya digunakan untuk membekap. Napas ditarik pelan kemudian diembuskan untuk menetralisir keadaan. Emosi perasaannya ia tata sebelum terpancing lebih dalam. Dirinya tidak mau marah karena pria tidak penting tersebut.
"Numpang sebentar, tak ada tempat layak untuk disinggahi," alasan Maila lembut, bukan! Lebih tepat bersuara layu. Lelah benar-benar merasuk pada jiwa sekaligus raganya dengan utuh. Seolah tak ada sisa tenaga yang diberikan takdir. Maila merasa tubuhnya seringan kapas.
Darel meluruskan kacakan pinggangnya. Ia menghela napas sebelum bersuara. Manik matanya menelisik wajah Maila yang begitu melas. Beberapa helai rambut menutup kecantikannya. Wajahnya terlihat kontras dengan kemeja biru yang dikenakan. Kekusutan aura Maila membuat sepatu pantofel dan rok hitam seatas mata kakinya kehilangan wibawa. Aroma parfum Maila mengendap di lubang hidung Darel ketika gadis itu bangkit.
"Permisi! Saya pamit pulang." Maila berbicara formal. Ia melupakan flashdisk, ia juga lupa data-data di dalamnya. Kalimat yang diucap Gilang membuatnya ragu bahwa Darel mengosongkan isi benda itu. Terlebih Darel telah memberikannya langsung. Menurutnya jika Darel bermaksud jahat, pasti flashdisk itu sudah dibuang di tong sampah. Ia akhirnya menyakini bahwa dirinya salah sentuh menu format sewaktu mengeluarkan flashdisk di laptop fotokopin dekat kantor dinas pendidikan.
Malam seusai bertemu dengan Gilang, ia banyak berpikir mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada nasib flashdisknya. Barangkali memang benar, orang akan berpikir terlebih dahulu sebelum menghancurkan barang yang bukan miliknya.
"Istirahat dulu kau kelihatan lelah! Kau bisa celaka lagi jika menyetir sambil ngantuk!" simpati Darel. Ia tidak bermaksud berbuat baik, hanya saja tidak tega menyaksikan mata letih Maila saat itu. Mata jernih dengan pupil agak kecoklatan, berkelopak panjang yang mengombak seperti kelopak mawar terjungkir, dialisi tajam bak lembar tubuh bunga melati, yang menit itu dikeringkan kemarau lelah berkepanjangan. Ia tidak tega— mengingat kemungkinan besar jantung Maila lemah. Ah, sejak kapan dirinya percaya dengan Farel? Dokter muda itu dianggapnya b******k! Bahkan jika bisa ingin sekali ia robek surat akta lahir Farel yang mengabadikan nama mirip sekali dengannya. Gegara Maila, ia mengingat seorang kakak yang bahkan tidak dianggapnya hidup.
"Bagaimana saya bisa istirahat jika dirimu teriak-teriak tidak jelas?" Maila berkata satire.
Darel kembali menghela napas.
"Kalau pelangganmu kena sial?"
Lalu mata Darel mendelik. Ia tidak tahu jika diam-diam gadis itu merekam kalimatnya sedari tadi.
"Terserahlah, mau pergi juga tidak apa-apa!"
"Baiklah, saya pamit dulu!" Maila bersiap menaiki sepeda motornya, memakai helm.
"Flashdisk! Aku pinjam flashdiskmu yang kemarin!"
Ingatan Maila berputar pada data-data yang merupakan nyawa bagi instansi pendidikannya itu. Ia menstandar motornya lagi, kemudian mendekati pemuda beraroma kopi tersebut, "kau bilang apa barusan? Pinjam?" mata Maila melotot garang.
Darel merasa tertekan, ia bingung dengan kalimat apa yang akan dikeluarkan. Reflek tubuhnya berputar menuju pintu. Ia masuk ke kafe, membiarkan Maila mengikutinya. Maila menempatkan pantatnya pada sebuah kursi, ia lepas helm dan meletakkan di atas meja kaca hitam. Darel masuk ke ruang pribadinya, mengambil laptop.
"Kau pinjam dan mengosongkannya tanpa ijin?" Maila berteriak ketika melihat pemuda itu keluar bersama laptop di tangan. Ia duduk di kursi seberang Maila, saling berhadapan, helm diletakkan di meja sebelah, lalu laptop dibiarkan menjadi pagar di antara tubuh mereka.
"Dareeelll!!!" Selalu ada teriakan dari bibir Maila ketika mereka bertemu.
"Aku tidak menghapus! Mana flashdiskmu, biar kukembalikan data-datamu!"
"Rel! Aku sudah berprasangka baik padamu! Aku tidak mau berpikir dirimu menghapus dataku, maka dari kemarin aku tidak ke kafe ini. Rupanya aku salah menilaimu, Rel!"
"Terserah, kamu mau menilaiku apa! Mana flashdiskmu?" Darel membuka telapak tangannya, ia julurkan menghadap Maila.
"Kau tahu betapa susahnya aku kemarin, Rel?" Maila protes, matanya berkaca-kaca. Entah kenapa ia sangat sebal. "Aku terlanjur memasukkan data dengan manual, Rel? Aku minta salinan file ke sana sini! Perasaanku kacau karena takut data-dataku hilang! Tapi kau seenaknya mengosongkan flashdisk yang bukan milikmu itu?" Maila sangat geram.
"Aku tidak menghapusnya! Aku hanya memindahkan! Toh file ini juga tidak mungkin laku dijual bukan?"
Plak!
Untuk kedua kali dalam bulan itu Darel merasakan tamparan, satu dari ayahnya, dua dari gadis yang dikenalnya tanpa sengaja.
"Malulah sama foto yang kau pajang, Rel!" Maila menunjuk wajah Soekarno. "Kau tak pantas menempatkan orang itu di sini! Belajarlah bersikap baik kepada orang lain, Rel!"
"Apa kau sendiri sudah bersikap baik? Kau menabrakku tanpa ganti rugi! Kau tahu kopi itu panas baru saja diseduh? Perutku kepanasan!"
"Sudah sembuh kan? Bagaimana jika data-data hilang itu tidak kembali? Bagaimana aku mempertanggungjawabkan proposal-proposalku? Bagaimana ke depannya aku membuat surat-surat penting sekolah? Bagaimana jika sekolahku mau mengajukan akreditasi? Apa yang harus aku katakan kepada asesor? Apakah semudah menamparmu, Rel? TIDAK!" Maila menangis. "Aku kecewa bahkan pada orang yang belum kukenal jauh!" Air mata bermuara pada dagunya. Ia menyeka sejenak lalu membuka tas, mengambil flashdisk kemudian mengulurkan pada Darel.
"Kembalikan dataku, tanpa ada yang terlewat!" bahasa Maila seperti sebuah ancaman.
Darel menerima tanpa berkata apa pun. Dalam hatinya ia merasa bersalah, namun juga tidak terima atas perlakuan Maila yang berlebihan memojokkannya.
"Kau tak akan pernah mengerti lelahnya menjadi guru TK!" Maila bangkit dan memukul meja tak bersalah.
"Apa harus aku hargai? Berapa rupiah?" Mulut Darel tidak tahan. Ia mulai mengucap semau dirinya.
Rizam masuk ke kafe, hari itu ia datang lebih awal karena ingin belanja beberapa bahan terlebih dahulu. Matanya menyorot dua anak Adam yang sedang berselisih. Telinganya menjadi perekam pertikaian mereka. Rizam mendekat, ia berusaha menenangkan perasaan bosnya. Ia paham betul karakter Darel yang emosional semenjak mengalami masalah dengan keluarga. Darel sosok keras kepala yang susah diatur dan bertindak semau diri saat dirinya marah, ia bahkan tidak peduli dengan perasaan orang lain, termasuk air mata Maila ketika itu.
"Rel! Jika di dunia ini nilai sesuatu semuanya bisa dihargai dengan mata uang, tidak perlu ada guru dan siswa di instansi pendidikan!"
Darel tidak mengerti dengan apa yang Maila ucap.
"Hei! Gadis bodoh! Harusnya kau berterimakasih padaku karena aku masih menyimpan flashdisk dan data-datamu! Kenapa kemarin tidak aku buang saja ke tempat sampah!"
"Buang saja! Dan seharusnya aku tidak menumpang istirahat di halaman kafemu ini!"
"b*****h!" Darel meninju laptopnya sendiri, kemudian ia lempar laptopnya ke lantai. Layar laptop pecah. Flashdisk terlempar tepat di depan kaki Rizam. Kursi-kursi lain yang masih di atas meja seolah tidak mau ikut campur dalam pertengkaran mereka. Debu-debu sisa kemarin hinggap erat pada lekuk-lekuk tubuh kayu. Beberapa cangkir di bar yang masih menyisakan ampas, tampak ragu membersihkan diri. Mereka tidak mau ikut berisik pada waktu tersebut, atau bisa dikatakan harusnya mereka tidak ada di dalam kafe.
Darel tidak terkontrol.
"Rel, masuk ke ruanganmu!"
Maila kaget melihat perlakuan Darel. Napasnya mulai memburu. Ia menyentuh d**a kirinya, menepuk pelan kemudian kembali duduk. Saat itu Darel kembali sadar bahwa gadis yang dia marahi mempunyai masalah pada jantungnya. Kepalanya dirasa berat, ia tidak peduli, masuk ke ruang pribadi, melempar tubuh ke sofa, menyalakan lagu, kemudian memejamkan mata.
Rizam mengambil air putih. "Minumlah, tenangkan dirimu!" Lalu ia ingat obrolan Darel seputar orang yang lemah jantung, pasti yang dimaksud adalah gadis yang kini berada di depannya.
"Tarik napasmu pelan-pelan!" nasihat Rizam.
Maila abai, ia memakai helmnya kemudian keluar dari kafe. Pintu dibanting, suaranya memantul pada roling door di sebelah.