Maila memelototi layar laptop berkali-kali, matanya sesekali dikerjabkan memastikan apa yang ia lihat benar-benar nyata. Flashdisknya kosong melompong. Seperti ada tamparan yang baru saja mendarat pada jiwa. Tubuhnya senasib dengan daun-daun penghijau halaman sekolah, lemas karena terkena terik matahari.
"Darel!" Meja tak berdosa menjadi pelampiasan, permukaan wajahnya yang terlapisi kain batik dengan motif candi Borobudur itu digebrak, bunyi gaduh menggetarkan engsel jendela. Anak-anak sedang menunggu jemputan di luar. Guru-guru kelas sibuk menyiapkan kegiatan untuk hari esok. Kepala sekolah telah jengkar dari tempat duduk, entah pergi ke tempat mana— ia tidak pamit. Hanya Maila yang terpenjara di ruang kantor itu, terpenjara sebab data-data yang diumpamakan sebagai nyawa melayang tanpa ia ketahui bagaimana proses perginya.
"Ini pasti ulah lelaki itu!" umpatnya sambil meremas taplak meja. Haruskah ia pergi ke kafe untuk menuntut Darel? Bukankah lelaki beraroma kopi itu baru saja datang menemuinya? Dan tidak ia sambut dengan senyuman? Maila putus asa. Ia duduk, mengumpulkan remah-remah napasnya yang sempat tersendat. d**a kirinya dipukul-pukul lembut supaya tenang.
Instalasi Dapodik kelar, harusnya siang itu ia bisa mencicil data siswa untuk diinputkan kedalam aplikasi langsung sesuai rombel (rombongan kelas), tidak acak.
Maila mengambil data Kartu Keluarga dan Akta Lahir anak-anak baru. Marah tidak akan menyelesaikan masalah hari itu, emosinya justru akan mempersulit embusan napas. Maila sudah terbiasa menguasai detak jantung. Ia tidak mau sakit, hanya gegara pemuda yang tidak dikenal. Pasti ada jalan bagi setiap masalah yang menghadang. Nanti sore ia berniat menemui Darel, meminta pertanggungjawaban.
Jari-jari mulai bekerja, menekan tombol-tombol huruf sesuai dengan nama dan angka yang dibutuhkan. Ia mengurutkan berdasar data anak yang masuk terlebih dahulu. Data anak per jenjang kelas bisa ia mintakan salinan di Bu Fafa, selaku tendik juga, yang lebih fokus mengurus keuangan dan administrasi bulanan anak-anak. Sayangnya, Bu Fafa sedang cuti bulan itu.
Pekerjaan Maila terpusat pada pengolahan data online yang nantinya akan dikirim ke pusat database dinas pendidikan di Jakarta, baik dari segi PTK, maupun Sarpras, kelak data-data tersebut digunakan sebagai penentu bantuan operasional sekolah tahun depan, jika data telat disinkronkan sesuai jadwal yang ditentukan, maka dana tersebut tidak akan cair. Bisa dikatakan Maila adalah sumber keuangan dan jatuh hidupnya sekolah.
Tanpa ia sadari, waktu pulang telah berakhir dua jam lalu, guru-guru telah mengasingkan diri dari kelas, mereka meramaikan atap rumah masing-masing. Maila, masih terjaga di kantor bersama hening yang menyisir kedamaian. Debu-debu tampak diembus angin, halaman kosong, taman bermain tak berpenghuni, dan sampah daun-daun kering berserakan. Maila bangkit usai mematikan laptop. Ia bersiap pulang, mengunci pintu, lalu menutup gerbang sekolah, satu jam lagi penjaga sekolah akan datang untuk memeriksa seluruh ruang dan menghidupkan lampu. Maila tidak perlu repot mengunci gerbang utama.
Harusnya Maila pulang, sayangnya ia takut dengan pikiran-pikiran yang akan menghantui jika dirinya tidak melakukan apa-apa. Kehilangan data merupakan momok menyeramkan apalagi sampai dilamunkan, bagi segelintir orang itu tidak masalah, namun bagi Maila, ia bisa mengalirkan embun-embun bening di sela kecemasan. Akhirnya pergi ke perpustakaan daerah, mencari buku bacaan untuk merefresh penat dan mengubur emosinya dalam-dalam merupakan pilihan tepat.
Jiwa raganya berhadapan dengan rak buku-buku sastra, matanya membaca satu persatu judul, sementara jari telunjuk menyentuh buku-buku tersebut bergantian dengan lembut, ia tak peduli dengan orang lain yang ikut memilah buku bacaan di sisinya, hingga tanpa disadari tubuhnya menabrak seorang laki-laki. Sebuah buku psikologis anak remaja jatuh terkulai di lantai, disusul novel karya Ahmad Tohari. Keseimbangan laki-laki itu hilang karena kaki kanannya pincang, ia pun roboh.
"Maaf—" kata diungkap beberengan dengan mata saling bertautan. Seperkian detik ada adegan berkelebat dari alam lalu mereka. Hujan dan sepeda motor jatuh menjadi pengalaman unik yang sukar dilupakan.
"Beruntung kita bertemu di sini," laki-laki itu bersuara. Kemejanya dikibaskan, barangkali ada debu yang tongkrong diam-diam, dua buku yang jatuh dipungut. Maila menelan air liur.
"Panggil Gilang, ayo duduk, ada hal yang ingin saya sampaikan padamu," ia berbicara formal. Maila mendadak bungkam usai melihat langkah kaki Gilang yang terpincang-pincang menuju tempat duduk, sebuah kursi dan meja ditata secara berkelompok supaya pembaca yang singgah dapat bersantai, di sana juga mereka akan dipameri nuansa alam luar dari jendela kaca. Maila duduk mendekat jendela, ia memang suka tempat itu sejak dulu. Gilang pun merupakan anggota perpustakaan yang menyukai posisi meja kursi itu.
"Bagaimana keadaanmu? Ada yang luka parah?" ia bersimpati, buku diletakkan di atas meja.
"Seperti yang Anda lihat, baik-baik saja."
"Tapi rautmu mengatakan tidak,"
Jujur alam raya tahu ia baru saja kehilangan data-data penting.
"Maaf kemarin sebenarnya saya yang salah, saya kaget karena ada kendaraan mendahului tiba-tiba,"
"Saya juga salah, langsung meninggalkanmu hari itu," kata Gilang dengan jeda tarikan napas, ia embuskan lalu kembali bersuara, "ada masalah dengan sepeda motormu? Biar saya bantu perbaiki,"
Maila menggeleng, "Tidak apa-apa, semuanya beres. Hari itu saya susah mengontrol emosi jadi bicara kurang sopan."
Gilang tersenyum, ia menikmati kecantikan Maila saat berbicara. Kipas angin membuat rambutnya terurai ke depan, poninya berantakan, tapi mengesankan manis. Seragam yang dikenakan menampilkan sebuah karisma. Aroma parfum bahkan masih tercium sama— bertahun-tahun lamanya tidak berubah. Sebenarnya ia sudah tahu identitas Maila sejak pertama kali pergi ke perpustakaan tersebut. Mereka menyukai tempat duduk yang sama, dekat dengan jendela. Tanpa Maila tahu, dahulu Gilang sering menunggu dirinya selesai membaca agar bisa duduk di tempatnya. Aroma parfumnya masih tercium dan Maila tanpa sengaja meninggalkan jejak kartu anggota perpustakaan di meja. Hari itu Gilang memberikan kartu tersebut ke penjaga perpustakaan untuk dikembalikan kepada Maila di hari selanjutnya.
"Waktu sering tidak memihak kepada orang yang buru-buru, pengalamanmu misalnya," Gilang bicara seolah mereka telah akrab. Maila mendengar seksama, sebenarnya ia agak cangung, namun tidak enak juga jika meninggalkan pergi. "Lain kali berusahalah lebih tenang agar bisa berhati-hati, jangan buru-buru saat mengendarai sepeda motor!" kalimat yang diucap berbunyi nasihat.
Maila menatap jendela, ada lampu alam yang mulai menguning di ufuk barat. Atap-atap rumah dan jalanan raya disapu cahaya keemasan. Burung-burung di kabel listrik mulai tinggalkan kenang, pulang ke sangkar masing-masing. Deru kendaraan masih ramai dan bising, meski perasaan anak adam dipenuhi rasa letih.
"Saya tidak suka buru-buru, tapi deadline membuat saya kehilangan akal!"
"Tanggung jawab tidak akan pernah salah jika diatur sebaik mungkin," ungkap Gilang lanjut. Seolah ia paham apa yang sedang dialami oleh Maila. Ia bahkan bisa membaca ketidaktenangan pikiran Maila saat itu, tatapan yang kosong berusaha buang sesal, bibir yang terkunci rapat tidak tahu akan berbagi keresahan pada siapa.
"Maila, kau sedang ada masalah?" Gilang membelah tema pembicaraan. Ia anggap masalah kecelakaan kemarin tuntas dengan pertemuan hari itu. Ia mengubah simpati untuk memperkenalkan dirinya lebih dalam, seorang Gilang, pemuda berlensa cokelat yang amat antusias memperhatikan Maila sejak lama.
"Eh, psikologi—" Maila memalingkan pandangan, ia membaca judul buku di atas meja. "Kau seorang psikolog?" Gilang mengangguk, "aura tidak tenangku pasti terbaca jelas!" kembali Gilang mengangguk, kali ini digiring sebuah senyum.
"Dataku hilang, ada SK guru-guru, SK tugas mengajar, SK yayasan pusat, SK dapodik, data siswa, data surat-surat penting, proposal— dan—" Maila menelungkupkan kepalanya, ia terisak. Sedihnya dibuang di tempat itu, di sebuah kursi dekat jendela bersaksikan rak-rak buku, dan seperti yang sudah-sudah dengan tatapan Gilang, meski Maila tidak pernah menyadarinya. "Apa yang harus kulakukan? Mungkin data itu dihapus oleh laki-laki penjual kopi sialan itu!" cetusnya asal.
"Maksudmu pemilik kafe?" Gilang mengingat pemuda ketus di depan kafe mereka berteduh.
"Ah aku bicara apa?" Maila mengangkat kepala, ia seka air matanya dengan ujung jempol, lalu pura-pura tersenyum. "Hari ini aku kurang fokus, baiklah kita damai." Kata Maila santai, ia memulangkan topik yang sudah dipendam Gilang.
"Ceritakan padaku, barangkali aku bisa membantumu. Meski kita belum akrab, tapi aku anggota perpus tetap di sini, setiap akhir pekan dan waktu-waktu senggang seperti hari ini, pasti berkunjung, anggap saja kita keluarga seatap di perpustakaan," Gilang membuka ruang hatinya lebar-lebar tanpa peduli kalimat Maila sebelumnya.
"Aku harus berhati-hati dengan seorang psikolog, bukan? Orang-orang seperti dirimu pandai membaca pikiran lawan bicara," kalimatnya membuat Gilang tersenyum, manis sekali.
"Aku bukan orang yang mengerikan, jadi tenang saja!"
"Tanpa sengaja sudah kukatakan masalahku," Maila masuk melalui pintu yang dibuka Gilang lebar-lebar.
"Kau tahu? Orang tidak mudah menghancurkan barang yang bukan miliknya, pernah tidak dirimu menemukan barang milik orang lain?"
Maila mengangguk.
"Kau tahu jawabannya, pertama kau heran benda apa yang kau temui, lalu ada dua kemungkinan, membiarkan atau menyimpan untuk dikembalikan kepada pemiliknya! Jarang ada orang yang langsung menghancurkan barang temuan, sekalipun itu seorang maling! Maling akan berpikir sejenak sebelum membelanjakan uang atau hasil curian mereka," kata Gilang optimis. Mata Maila langsung berbinar, laki-laki muda yang baru dikenalnya memberikan harapan bagi data-datanya yang hilang. Ia setuju dengan pendapat yang diurai Gilang.
"Aku pamit, ada orang yang ingin kutemui." Maila beranjak, ia melupakan niatnya untuk meminjam buku. Gilang setuju.
Mereka berdua keluar bersamaan. Gilang memberikan buku pinjamannya kepada petugas untuk dicatat, sementara Maila langsung ke parkiran. Tanpa Maila ketahui, Gilang berjalan setengah berlari dengan menyeret langkah pincangnya demi menyeimbangkan langkah dengannya.
Alam memutar kenangan, lagu Dere mengalun dari dalam gedung perpustakaan. Entah sejak kapan gerimis menyerbuk di permukaan bumi. Udara dingin memeluk erak bersama tenggelamnya matahari. Pertemuan Maila dengan Gilang, lagi-lagi disaksikan serbukan hujan. Maila mengulurkan tangannya sambil menatap langit, ia biarkan titik-titik air membelai telapaknya yang ditiduri temaram.
"Aku ada jas hujan jika kau tidak membawanya," kata Gilang sambil mengurai sebuah senyum. Tentu Maila tidak membawa, sebab baginya bulan-bulan ini hujan tidak akan pernah turun, rupanya Maila salah, tidak ada yang bisa mengatur cuaca kecuali pemilik-Nya.
"Bawalah!" Gilang mengulurkan jas hujan yang baru saja diambil dari jog motor.
"Dirimu?"
"Kau lebih membutuhkan, hati-hati di jalan, jangan buru-buru apalagi melamun." Gilang sungguh simpati, ia menatap wajah lalu melambaikan tangan. Gerimis hari itu terbilang amat manis dan indah baginya. Maila membalas dengan lambaian tangan juga.
"Kukembalikan akhir pekan! Kita bertemu di sini ya?" teriak Maila, Gilang pura-pura tidak mendengar, ia menyalakan sepeda motornya lalu pergi, dalam hatinya ia sangat senang dengan kalimat terakhir yang diucap Maila.
Air langit membuat Maila malas pergi ke kafe, ia pulang ke rumah mengenakan jas hujan yang dipinjami Gilang.