Part 11: Insiden

1497 Words
“Argh! Pelan! Tidak bisakah kau lebih lembut? Nadia! Sakit!” “Tidak bisakah anda diam? Saya bilang diam dan duduk tegak. Kenapa ribut sekali? Saya juga sudah pelan-pelan, anda saja yang lebay.” “Apa kau bilang? Lebay? Coba sini aku benturkan kepalaku pada hidungmu.” James berdecak. “Kepalamu benar-benar sekeras batu. Kau harus tahu itu.” “Kalau kepalaku lembek apa bedanya dengan tanah liat?” James menghunuskan tatapan tajam. “Masih bisa menjawabku?! Kau! Kau ini benar-benar—Ahh! Kenapa ditekan?” Seru James saat Nadia meletakkan kompresan di atas hidungnya dengan kasar. “Diam. Waktu kita tidak banyak. Jangan sampai anda mimisan lagi.” “Memang ini salah siapa?” James mendecak lagi. “Sudahlah, sebaiknya cari Dokternya sampai ketemu. Bukannya sembuh, bisa-bisa aku stress menghadapimu yang terus mengomel.” Nadia menghembuskan napas. Membuang jauh-jauh kesal yang entah mengapa mudah sekali tersulut saat bersama James. “Maaf Mr. James, sabar dulu… sebentar. Supaya rasa sakitnya cepat menghilang. Kalau Mr. James berbicara terus nanti proses sembuhnya lama.” Ucap Nadia lebih lembut. Desisan terdengar dari James. “Sebenarnya siapa yang bos di sini? Kenapa kau yang lebih galak?” Nadia tidak menanggapi, daripada tambah jengkelkan? Ia hanya diam, menunggu kompresan itu bekerja. Selama menunggu, tanpa sadar Nadia bersenandung, menyanyikan sebuah lagu masa kecil yang selalu ibunya nyanyikan ketika ia sakit. James terdiam mendengarnya. Beberapa waktu James terlena, ia bahkan memejamkan mata menikmati senandungan kecil itu. Tapi tunggu, ia seperti mengenal lagu itu dan juga suara indahnya. Seketika James membuka mata, menatap Nadia yang kini berjarak satu jengkal dari wajahnya. Hening. Baik Nadia maupun James hanya diam di posisi sama. Keduanya sama-sama terkejut dengan jarak yang begitu dekat. James termangu, mengagumi mata dan bulu mata Nadia. Mata bulat dengan iris kecoklatan dan bulu mata lentik serta alis yang terbentuk rapih alami. Benar-benar indah… sangat cantik. Terasa sangat teguh dan penuh kelembutan. Tunggu. Tidak. Ini bukan saatnya. “Ekhm.” James mengalihkan pandangan. “Kamu pikir aku anak kecil sampai dinyanyikan lagu begitu?” “Hah? Oh itu ibuku. Maksudku ketika aku kecil ibuku sering bernyanyi saat aku sakit.” “Aku bukan anak kecil yang perlu dinyany—.” James kembali mematung saat tanpa sengaja tangannya saling bergenggaman dengan milik Nadia ketika mengambil kompres. Dua detik kemudian James melepaskannya kemudian mundur, menjauh dari Nadia. Saat itu pula ia menyadari ada Mario di ambang pintu. James berdiri kemudian beranjak pergi bersama asisten pribadinya itu. “Mr. James anda baik-baik saja?” Mario menatap James lalu melirik Nadia bergantian. “Saya dengar dari karyawan hidung anda berdarah.” Lanjutnya kemudian beranjak mengikuti langkah James, meninggalkan Nadia yang masih mematung di tempat. “Bukan apa-apa. Apa Dokter Indra sudah sampai?” “Dokter Indra sudah di ruangan anda.” “Mr. Wang?” “Mr. Wang juga sudah sampai. Saya sudah mengarahkan Mr. Wang untuk menikmati makan siang terlebih dahulu bersama rombongannya. Saya juga sudah mengatakan kalau anda tidak bisa ditemui di luar janji karena ada pekerjaan penting lain.” James mengangguk kecil. “Mana dokumen perjanjian dengan Mr. Wang?” Mario memberikan tablet PC di tangannya. “Tunggu Mr. James.” Lirikan tajam James berikan. Tidak suka jika pekerjaannya diinterupsi. “Hidung anda masih memerah. Bukankah sebaiknya kita kembali ke klinik dan mengompresnya lagi?” “Tidak apa-apa.” “Apa benturannya sangat keras sampai anda mimisan?” “Tidak juga. Hanya saja kepala perempuan itu benar-benar sekeras batu. Pantas saja dia pembangkang.” Mario meringis, heran. Bukankah kepala memang keras? “Bagaimana bisa anda berbenturan dengan Miss Nadia Mr. James? Bertahun-tahun saya bekerja dengan anda tidak pernah ada kejadian seperti ini.” James menoleh, menatap Mario malas. “Kenapa hari ini kamu cerewet sekali Mario?” “Maaf. Saya hanya ingin tahu karena pasti Ibu anda akan bertanya pada saya saat mengetahuinya.” “Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku baik-baik saja.” “Tapi sebagai sahabat saya cukup senang melihatnya.” James mendelik lagi. “Kau senang aku celaka?” Mario terkekeh kecil. “Saya senang hubungan kalian jadi terlihat lebih baik dari sebelumnya.” “Omong kosong. Diam. Jangan mengoceh lagi.” James kemudian fokus pada benda pipih di tangannya. Namun konsentrasinya terganggu dengan ucapan Mario. Benarkah hubungannya dengan Nadia terlihat lebih baik? Seketika bayangan wajah Nadia dengan jarak dekat terbayang kembali dalam benaknya. Mata bulat dengan iris mata kecoklatan, bulu mata lentik dan alis sempurna. Tidak lupa tangan yang tidak sengaja ia pegang, kecil, dingin, begitu lembut dan... Terasa pas dalam genggamannya. Gila kau James! Apa yang kau pikirkan? *** “Saya sangat terkejut saat Mario mengatakan mimpi buruk anda kembali lagi James. Apa pemicunya sama seperti dulu?” “Mungkin. Tapi memang kemarin Papa membentakku.” “Coba ceritakan padaku apa yang terjadi.” James tidak langsung menjawab. Lelaki itu mengatur napas selama beberapa waktu sebelum menatap Indra kembali. “Ya... begitu, semuanya terjadi begitu saja karena karyawan kesayangannya memutuskan untuk berhenti bekerja. Papa datang dan memarahiku. Sudah.” “Lalu apa yang kamu rasakan?” “Kesal. Tentu saja. Bagaimana pun aku adalah anaknya tapi jusru perempuan itu yang mendapatkan pembelaan. Aku marah.” “Lalu?” “Tidak ada lagi.” “Mr. James tidak bisa tidur.” Mario menyela. “Aku memang memiliki insomnia.” “Tidak, ini berbeda. Sepanjang malam Mr. James hanya melamun, bahkan saat aku ajak bicara pun pembicaraan kami tidak nyambung. Padahal biasanya jika hanya insomnia biasa kita masih bisa membicarakan pekerjaan.” Mario melirik James. “Awalnya aku pikir Mr. James hanya sedang tidak konsentrasi karena memang kami sedang banyak sekali pekerjaan. Tapi besoknya aku melihat Mr. James tidur dalam keadaan tidak tenang.” Indra mengalihkan pandangannya pada James yang tidak melakukan pembelaan apapun. “Apa yang kamu mimpikan? Apakah ada tambahan?” “Tidak. Masih mimpi yang sama dan aku selalu terbangun saat adegan yang sama juga.” “Saat seseorang menutup matamu?” James mengangguk kecil. Indra menghembuskan napas panjang. Bertahun-tahun menangani James dan masih saja dalam keadaan yang sama. Keadaan James tidak ada kemajuan sama sekali, namun sisi baiknya adalah kesehatan mental James pun tidak menurun. Indra dibuat bingung oleh James. Segala cara sudah dicoba tapi tetap tidak ada hasil. “Apa yang harus aku lakukan?” “Seperti yang selalu aku katakan padamu. Salah satu cara agar kamu sembuh total cuma satu. Kamu harus mengingat masa lalumu, agar kamu bisa mulai menyelesaikan masalah itu dan mengatasi semuanya. Kamu harus memvalidasi semua perasaanmu saat kejadian itu terjadi agar traumamu hilang.” “Bagaimana kalau Mr. James tidak mengingatnya Dok?” Tanya Mario. “Ini sudah berapa puluh tahun sejak kejadian itu.” “Kamu harus memiliki penawar, yang bisa menenangkan perasaanmu.” “Penawar?” Indra mengangguk. “Agar perhatianmu teralihkan, tapi hal ini juga tidak menjamin traumamu akan sembuh. Karena bagaimana pun pengalihan atau pelarian tetap bukan obat terbaik.” Indra memperhatikan James beberapa saat. Secara fisik James memang baik-baik saja, bahkan terlihat sangat hebat. Tapi meskipun begitu ia tetap tidak bisa mengabaikan kesehatan mentalnya. James sakit, dan harus diobati. “James, apa tidak sebaiknya kamu berbicara dengan Pak Jatmiko tentang ini? Aku rasa beliau harus tahu keadaanmu. Selain itu, siapa tahu kamu memiliki sedikit pencerahan tentang masa lalumu itu kan?” James menghembuskan napas. “Tidak. Aku tidak mau orang lain selain kalian berdua tahu masalah ini.” “Terima kasih Dokter Indra. Sudah waktunya saya kembali bekerja.” Indra hanya menghela napas panjang. Sudah terbiasa dengan James yang seperti ini. Selalu saja menghindar setiap kali berbicara tentang Jatmiko. Setelah berbincang sesaat dengan Mario, Indra beranjak pergi. “Apakah saya harus mendampingi anda meeting dengan Mr. Wang? Atau langsung pergi ke pabrik saja?” “Pabrik saja. Aku mendapatkan protes di sosial media tentang ordeldil dengan kualitas buruk. Salah satu artis juga menghubungiku secara langsung dan mengatakan beberapa fungsi kendaraannya sudah memburuk padahal pemakaian motornya belum sampai dua bulan. Pastikan semuanya dengan teliti dan jangan sungkan pecat mereka yang curang. Kamu tidak lupa bagaimana aku bekerja kan Mario?” “Baik Mr. James. Kalau begitu saya akan bersiap.” James mengangguk kecil, sebelum beranjak dari ruangannya. Begitu keluar ruangan sambutan dari Nadia seharusnya ia dapatkan, tapi kali ini tidak. Nadia terlihat sedang melamun dengan kedua tangan saling bergenggaman. Dengusan kecil keluar dari hidung James. Ia memutuskan untuk melewatinya begitu saja. Tapi ternyata saat ia lewat pun Nadia hanya diam. Sangat tenggelam dalam lamunannya. Kesal. James kembali ke meja Nadia dan mengetuknya dua kali. “Niat bekerja tidak?” “Hah? Oh! Mr. James.” Nadia berdiri cepat. “Anda mau keman—oh saya lupa, meeting dengan Mr. Wang.” Nadia segera mengambil beberapa dokumen dan perlengkapan meeting mereka. Sebelah alis James naik. Heran dengan tingkah aneh perempuan itu. “Mari Mr. James.” James bergeming. “Mr. James?” Nadia berbalik, menghadap James saat menyadari lelaki itu hanya diam. Pandangan mereka bertemu. James berjalan mendekat. Tatapan Nadia bergetar, mulai liar, bergerak panik menghindari tatapannya. Ada apa dengan perempuan itu? “Nadia, kau—.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD