“Ini pekerjaan pertamamu lagi Miss Nadia. Pagi ini kamu ikut meeting dengan Mr. James. Pelajari materi ini dengan teliti, jangan sampai ada yang keliru, di sini beberapa poin pentingnya sudah saya tandai. Kamu bisa tanyakan padaku jika tidak mengerti.”
Nadia tersenyum tipis kemudian mengangguk kecil setelah menerima beberapa dokumen dari tangan Mario. “Terima kasih Mr. Mario.” Ujarnya seraya membuka dokumen tersebut.
“Kamu bisa memanggilku Lutfi jika ingin, seperti yang dilakukan Jamal padaku.”
Senyuman Nadia kembali terbentuk, ia mendongak—menaap Mario untuk kedua kalinya. “Tidak perlu, Mario saja. Di lingkungan kerja semua orang memanggilmu begitukan? Mungkin nanti di lingkungan berbeda aku akan memanggilmu dengan sebutan Lutfi.”
Mario mengangguk kecil sebagai respons. “Ada yang ingin ditanyakan?”
Nadia menggeleng kecil. “Sampai saat ini belum. Aku cukup memahaminya.”
Kekehan renyah mengalun dari Mario. “Aku lupa kamu sudah terlatih bertahun-tahun menjadi sekretaris. Maaf.”
Nadia terkekeh pelan menanggapinya.
“Kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku.” Pamit Mario yang hanya mendapatkan anggukan kecil dari Nadia.
Tidak lama setelah itu Mario menghentikan langkahnya kembali kemudian berbalik. “Oh ya Miss Nadia.”
“Ya Mr. Mario?”
“Jamal bilang sesibuk apapun pekerjaanmu jangan lupa berdzikir, perbanyak berdo’a, jangan sampai terlambat shalat dan makan.”
Wajah Nadia mendadak panas mendengar kalimat itu, ia mengulum bibir, menahan senyumannya, debaran jantungnya dan rasa malu yang mendadak menyelimuti hatinya. Oh… ini sungguh mengejutkan. Tidak pernah sedikitpun Nadia berpikir Jamal akan memberinya perhatian semanis itu terhadapnya. Namun beberapa saat kemudian senyumannya mengembang lebar, diiringi dengan anggukan kecil.
Sementara itu di dalam ruangannya James bersandar pada kursi kebesarannya dengan kedua tangan menyilang mengamati seluruh gerak-gerik Nadia. Ia mengamati dengan lamat bagaimana Nadia tersenyum pada Mario dan cara Nadia berbicara pada asistennya itu. Perempuan itu tampak tenang, juga sangat ramah, apalagi ia bisa melihat Nadia yang juga tersipu dan menahan senyuman malu bersama Mario. Sebelah alisnya naik, matanya kemudian menyipit heran melihat interaksi yang terjadi antara asisten dan sekretarisnya itu. Kenapa mereka tampak sangat akrab? Apa yang membuat perempuan itu tersipu?
James mendesis kecil, kemudian berpaling. Tidak penting. Pikir James. Setelah itu menegakkan punggung membaca dokumen yang terbuka di hadapannya lagi. Ya… memang tidak penting. Apapun itu ia tidak peduli, yang terpenting dan yang harus ia pikirkan adalah cara membuat perempuan itu pergi dan tidak ingin kembali lagi ke sini.
Clek!
“Mr. James. Miss Nadia tidak memerlukan pengarahan lagi, anda tidak perlu mengkhawatirkannya, Miss Nadia pasti bekerja dengan baik.”
James mendesis tajam, kedua matanya mendelik menatap tajam Mario. “Siapa bilang aku mengkhawatirkannya?”
“Aku khawatir pekerjaanku terganggu, aku tidak mau membuang waktu hanya untuk berbasa-basi menjelaskan ini dan itu.” Lanjut James tajam.
“Ah begitu.” Mario tersenyum tipis. “Kalau itu anda tidak perlu mengkhawatirkannya, anda bisa mengandalkan Miss Nadia.”
“Bagus.” Ujar James kemudian bangkit. “Urus semua dokumen itu untukku, aku akan pergi rapat dengannya sekarang.”
“Baik Mr. James.”
Di sisi lain Nadia masih mempelajari dokumen yang baru saja Mario berikan, ia membuka satu persatu halaman dari dokumen berupa proposal suatu proyek itu dengan seksama, dengan sesekali mengulang dan membuka kembali bagian sebelumnya.
James memperhatikan itu dari pintu, ia melihat bagaimana Nadia memindai dokumen di tangannya itu, menandainya dengan sesekali menaikkan alis dan mengerutkan kening. Terlihat sangat fokus dan profesional. Apa yang sedang coba kau pikirkan James? Lupakan. Kau harus segera menyingkirkannya.
“Oh Mr. James. Berangkat meeting sekarang?” tanya Nadia seraya bangkit dari tempat duduknya. Tak ada tanggapan apapun dari James, lelaki itu hanya melenggang begitu saja melewati Nadia.
Nadia segera mengambil barang pentingnya, kemudian mengejar langkah lebar James yang kini telah berada di dalam lift. Baru saja Nadia hendak memasuki lift tersebut, perkataan James menghentikannya.
“Gunakan lift lain.”
Senyuman tipis Nadia berikan pada James yang masih memandangnya dengan tajam. “Tidak apa-apa Mr. James, saya gunakan lift ini saja. Saya tidak merasa terganggu.”
“Saya yang terganggu.” Ucap James tegas dan dingin.
“Mr. James saya—.”
“Keluar.” Tekan James. “Aku tidak mau dipandang seperti lelaki c***l lagi.”
Nadia mematung, tubuhnya kaku, jantungnya berdebar kencang, otaknya seperti berhenti bekerja, tidak ada yang bisa ia katakan lagi, perkataan James menohoknya, benar-benar mengiris hati, membuatnya merasa bersalah. Apakah perlakuannya pada James sudah sangat berlebihan kemarin? Sampai James saja berbicara seperti itu.
Iris mata mereka bertemu beberapa saat, ia berusaha mencari jawaban dari tatapan dingin dan tajam itu, sampai akhirnya Nadia mundur satu langkah setelah James memalingkan wajah.
Setelah pintu lift tertutup James menarik ujung bibirnya. Sungguh ia begitu puas dengan ekspresi bersalah Nadia, ia sangat puas dengan reaksi perempuan itu terhadap ucapannya. Ia sangat penasaran, apa yang akan perempuan itu perbuat terhadapnya? Akankah perempuan itu bersikap baik dan meminta maaf? Atau justru tetap bertahan dengan ego yang sangat tinggi?
Beberapa saat setelah James sampai di ruang rapat, Nadia pun sampai di ruangan yang sama kemudian duduk di samping James, tempat yang biasanya di tempati oleh Mario.
“Silahkan mulai.” Ujar Nadia kemudian memberikan sebuah tablet PC pada James beserta pen-nya. Tapi James tidak kunjung menerima pen tersebut dari tangan Nadia sampai Nadia kemudian menatap James, melihat lelaki itu yang ternyata tidak mengindahkan keberadaannya sama sekali.
“Mr. James.” Panggil Nadia setengah berbisik.
“Letakkan saja.” James berkata tanpa menatapnya. “Aku tidak mau bersentuhan denganmu.”
Tenang Nadia, tahan... jangan emosi. Nadia tersenyum sesaat lalu meletakkan pen yang kemudian James ambil. Padahal sudah biasa ia melakukan hal itu pada Jatmiko dulu, tidak ada masalah juga. Tapi kenapa James...?
Astagfirullah. Berhenti Nadia. Justru ini bagus. Bukankah sejak awal ini yang kamu inginkan? Sudah seharusnya kamu jaga jarak dengan lelaki ini. Nadia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya lagi, berusaha menenangkan diri. Setelah itu ia fokus pada meeting setelah sebelumnya melirik James sesaat.
Tapi James memang aneh. Pikir Nadia.
Satu jam berlalu, klien pun telah selesai melakukan presentasinya, beberapa saat James masih diam menatap tablet PC di hadapannya, meninjau kembali proposal ajuan kliennya itu. Masih ada beberapa bagian yang membuatnya ragu untuk berinvestasi pada kliennya ini, banyak hal yang masih terasa kosong dan riskan, selain itu ada beberapa kekurangan, tapi baginya ini akan menjadi resiko yang sangat besar.
“Menurut saya lahan yang akan perusahaan anda gunakan tidak strategis, terlalu jauh dari perkotaan, akses jalan pun tidak cukup baik. Selain itu anda juga menggunakan lahan dimana tempat beribadah berada, rasanya tidak etis kita meruntuhkan mesjid lalu membangun sebuah sirkuit, terlebih lagi mesjid itu adalah mesjid Agung yang biasa warga desa tersebut gunakan untuk peringatan keagamaan yang besar. Hal ini akan menjadi masalah besar dan berdampak buruk juga untuk reputasi perusahaan kami.”
James menatap lamat Nadia yang mulai mengemukakan pendapatnya. Tepat sasaran, sama seperti yang ia pikirkan.
“Pertimbangkan kembali perihal tempat, untuk kali ini kami menolak kerja sama ini.”
Semua yang menjadi ganjalannya sudah Nadia sampaikan dengan baik dan jelas, bahkan hingga kedetail terkecil yang menjadi pertimbangannya juga. Nadia... perempuan itu benar-benar berpengalaman, dia sangat profesional.
Pantas Jatmiko ingin Nadia bekerja untuknya.
Tidak-tidak. James mengalihkan pandangan ke arah lain, lalu mengatur napas sesaat. Membuang semua pemikiran anehnya itu. Meskipun memang Jatmiko mempekerjakan Nadia untuknya karena kinerja yang perempuan itu miliki, tapi tetap saja ia masih penasaran kenapa ayahnya begitu membela Nadia? Kemampuannya bahkan hanya kemampuan biasa yang bisa ia temukan dimanapun. Tapi ayahnya bertingkah seolah Nadia adalah batu permata yang tidak boleh menghilang sama sekali.
“Saya rasa saya harus mendengar pendapat Mr. James sendiri. Bukan dari sekretarisnya.”
Nadia menghembuskan napas pelan, lalu menatap James yang hanya fokus ke arah tablet PC-nya.
“Mr. James.” Panggil Nadia. Tidak ada respons, James tampak masih mengamati beberapa hal dari dalam tablet PC-nya. James memang sudah biasa seperti itu di tengah rapat, tapi sekarang Nadia sudah sangat sebal dengan tingkah klien yang kini tengah tersenyum meremehkannya.
“Mr. James.” Kali ini Nadia menggoyangkan lengan James. Membuat lelaki itu menoleh.
“Klien membutuhkan pendapat anda.”
James kemudian mengalihkan pandangan pada kliennya itu. “Saya sependapat dengan sekretaris saya.”
“Lagipula tidak banyak keuntungan yang bisa saya dapatkan dari project ini. Silahkan pertimbangkan kembali jika memang masih ingin menjalin kerja sama dengan kami.”
Nadia tersenyum ke arah kliennya yang sudah tampak mati kutu itu. Sungguh, ia sangat puas dengan jawaban James. Ia pikir James akan meruntuhkan rasa percaya dirinya. Tapi ternyata tidak. James kali ini benar-benar profesional.
Selesai rapat keduanya melenggang pergi bersama keluar dari ruangan tersebut. Seperti biasa Nadia berjalan dua langkah di belakang James seraya mengotak atik ponselnya.
“Mr. James sekretaris Mr. Wang mengatakan bahwa Mr. Wang sudah dalam perjalanan menuju kemari. Jika tidak ada kendala, sekitar lima belas menit lagi sampai. Apakah anda ingin memajukan jadwal meeting dengan Mr. Wang?”
“Tidak. Lakukan sesuai jadwal.”
“Kalau begitu apakah Mr. Wang tidak apa-apa kalau terlalu lama menunggu?”
“Bukan urusanku.”
“Mr. James.”
“Aku bilang lakukan sesuai jadwal Nadia. Apa kamu masih tidak mengerti?”
Dug!
“Argh.”
James memegangi hidung, Nadia memegangi keningnya. Baru saja, mereka berbenturan cukup keras ketika James tiba-tiba menghentikan langkah kemudian berbalik cepat. Sementara Nadia yang melangkah cepat mengimbangi langkah James belum siap menghentikan langkahnya. Sehingga tabrakan itu pun tidak bisa mereka elakkan.
Beberapa saat Nadia mengelus keningnya dengan sesekali mendesis kesakitan, beberapa saat kemudian mendongak, menatap James yang juga terdengar masih meringis kesakitan.
Seketika bola mata Nadia membulat.
“Mr. James. Darah!”