Gelap, sunyi, basah, suara derap langkah kaki diiringi dengan tetesan air menggema, mencekam, mencekik, menarik semua oksigen di sekitarnya.
“Aku mohon… Tuan. Aku mohon jangan membunuhku. Tuan… saya mas—ARGH!”
Keringat dingin mulai bercucuran, seluruh tubuhnya bahkan mulai bergetar hebat, bola matanya terus bergerak liar, sementara kedua tangan membekap mulutnya sendiri, menahan isak tangis yang hampir lolos. Tidak lama setelah itu kedua matanya menggelap.
“James! Mr. James!”
Seketika kesadaran James tertarik. Kedua matanya terbuka, tubuhnya terduduk dengan napas memburu. Bola mata itu bergerak liar, menoleh ke kanan dan ke kiri, kedua tangan terulur menutup kedua telinga. Berusaha menghilangkan suara-suara aneh yang terus berdenging di telinganya.
“Airnya… airnya Mario. Airnya menetes. Tutup krannya. Tutup sekarang!”
“Tidak ada kran terbuka Mr. James. Semuanya tertutup. Tidak ada air menetes.”
Tetesan air itu masih terdengar begitu jelas di telinga James. Bahkan saat kepala James menggeleng dengan kedua mata terpejam, suara itu masih terdengar menggema di telinganya. Rasa takut dan suasana mencekam yang sebelumnya ia rasakan kembali menghantuinya, mencekiknya dengan erat, hingga terasa benar-benar nyata.
“Atur napas Mr. James. Inhale… exhale… sekali lagi.”
James mengatur napasnya sesuai perintah Mario, beberapa kali sampai kemudian James mulai tenang. Tubuhnya yang tegang melemas, bahunya yang kaku pun perlahan turun. James kembali berbaring dan menutup mata dengan tenang.
“Sebaiknya anda istirahat Mr. James. Biar saya yang meng-handle perusahaan. Saya akan pergi setelah Dokter Indra datang.”
Hening. Tidak ada tanggapan sedikitpun dari James.
“Apa yang terjadi Mr. James? Tidak biasanya anda begini lagi.”
“Aku hanya terlalu banyak tidur.”
“Semalam kita mengobrol sampai larut jika anda lupa. Saya bahkan kembali ke kamar hampir jam dua pagi.”
Minggu malam memang tidak biasanya James mengundang Mario datang ke unit apartemen pribadinya. Selama di Indonesia mereka memang tinggal terpisah, tidak seperti saat di Australia. Sehingga Mario tidak pernah datang ke hunia pribadi bos-nya itu jika tidak ada undangan secara langsung.
“Sejak kapan mimpi itu datang lagi Mr. James?” tanya Mario, tapi tidak ada respons sama sekali dari James. “Seharusnya anda katakana pada saya, agar anda segera mendapatkan penanganan.”
“Kemarin. Papa datang dan… kamu tahulah, tepat seperti yang kamu katakan. Papa marah besar setelah tahu Nadia keluar dari perusahaan.” Ujar James kemudian bangkit, lalu meneguk segelas air di nakas samping tempat tidurnya.
“Itu yang membuat anda semalaman melamun?” Mario membasahi bibir sesaat, menatap James lagi.
“Sebaiknya anda katakana pada keluarga anda tentang kondisi anda ini Mr. James. Setiap kali Pak Jatmi—.”
“Sudahlah jangan dibahas.” James bangkit.
“Anda mau kemana?”
“Aku akan siap-siap. Sebaiknya kamu keluar dari kamarku, lalu pesan makanan.”
“Mr. James sebaiknya anda istirahat saja.”
“Tidak. Aku akan pergi ke kantor.”
“Anda setidaknya harus menemui Dokter Indra dulu.”
James menatap Mario, mendengus kecil sesaat sebelum beranjak pergi ke kamar mandi.
“Mr. James.”
“Aku akan menemuinya nanti.”
Mario pun menghembuskan napas pelan dengan kedua mata yang tak lepas menatap punggung James, menatap iba pada lelaki bertubuh tinggi tegap itu tanpa mengatakan apapun lagi.
***
Di depan kantor, Nadia masih memandangi gedung kantor itu dalam diam. Ia masih tidak menduga pada akhirnya ia akan kembali ke kantor ini dan bekerja lagi tanpa harus memenuhi permintaan gila bos-nya. Tidak, keputusan ini tidak begitu saja ia buat. Keputusan ini ia ambil setelah kemarin Jatmiko tiba-tiba datang mengunjunginya dan memintanya kembali bekerja seperti sedia kala.
“Saya benar-benar merasa malu dengan semua hal yang telah James lakukan padamu Nadia, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas nama James. Saya harap kamu mau memaafkan anak itu.”
Nadia tersenyum caggung. “Bapak tidak perlu meminta maaf seperti ini Pak. Saya sudah memaafkan Mr. James kok. Saya sudah tidak memikirkannya lagi.”
“Kalau begitu kamu mau ya kembali ke perusahaan?”
“Tidak bisa Pak. Karena sampai kapanpun saya tidak bisa memenuhi keinginan Mr. James.”
“Kamu tidak perlu mengikuti kemauannya. Kamu ini orangku, kamu tidak perlu mengikuti keinginannya, selain itu tidak ada yang berhak memecatmu selain aku. Jadi bekerjalah seperti biasanya.”
“Tapi Pak.”
“James memang sangat keras, dia begitu tegas dan sangat sensitive. Dia mudah tersinggung dan mudah tersulut emosi. Sehingga akan mudah sekali emosinya terpancing walaupun karena hal sepele. Karena itulah saya harap kamu bisa lebih sabar dan lebih tenang lagi untuk menghadapinya. Jangan membantah ucapannya, jangan mencoba melawannya dengan ucapan keras atau bahkan kekerasan. Kamu juga harus bisa bersikap lebih fleksibel dengannya Nad. Tidak bisa samakan dengan ketika bekerja dengan saya.”
Jatmiko menghembuskan napas dan semakin menatapnya dengan intens. “Namun satu hal yang pasti, James bukan laki-laki b******n. James tidak akan macam-macam padamu. Saya jamin itu.”
“Sampai sini, kamu mengerti poin yang saya ucapkan?”
Tidak ada celah bagi Nadia untuk membantah ucapan Jatmiko. Nadia hanya menghembuskan napas pelan kemudian dengan terpaksa mengangguk kecil. Ia tidak tega, ia tidak sanggup untuk menolak lagi atau membantah Jatmiko yang selama ini sudah begitu baik terhadapnya.
“Saya yakin kamu pasti mengerti. Saya juga sangat yakin kamu adalah partner terbaik untuk James. Kamu pasti bisa bekerja dengannya.”
Benarkah? Apakah aku bisa melakukannya?
Kamu pasti bisa Nadia. Aku yakin, kamu bisa.
Nadia mengangguk kecil, memberi semangat pada dirinya sendiri. Tepat ketika Nadia hendak melangkahkan kaki, sebuah mobil mewah yang sangat ia kenal berhenti tepat dihadapannya. Ya… mobil siapa lagi? Tentu saja James. Lelaki itu keluar dari dalam kendaraan tersebut dengan stelan jas yang sudah sangat rapih, rambutnya pun seperti biasa, tertata dengan sama rapihnya. Sekilas tampak tidak ada yang berbeda, tapi baginya ada sesuatu yang lain hari ini, hanya satu. Tatapannya… tatapan lelaki itu tidak setajam biasanya.
Nadia segera menundukkan pandangan, membungkuk kecil ketika James mulai berjalan ke arahnya.
“Selamat pa—gi.” Nadia menegakkan tubuhnya, menatap punggung James yang melewatinya begitu saja. Nadia kembali terdiam, menatap punggung tegap itu. Mr. James… sepertinya dia masih marah. Pikir Nadia.
“Selamat pagi Miss Nadia.”
Nadia menoleh ke kiri, menatap Mario yang kini tengah tersenyum padanya.
“Selamat datang kembali dan selamat bekerja.”
Senyuman Nadia tersungging tipis. “Terima kasih Mr. Mario.”
Mario mengangguk kecil. “Semoga kita bisa bekerjasama lebih baik lagi. Ayo pekerjaanmu sudah menunggu.”
Keduanya kemudian berjalan bersama ke arah James yang sudah berdiri di depan lift, lalu kemudian berhenti tepat dua langkah di belakang lelaki itu. Tanpa sadar Nadia meneguk ludah kasar, sungguh ia sangat gugup, ia masih belum bisa memprediksi hal apa lagi yang akan lelaki itu lakukan padanya dan kalimat seperti apa yang akan lelaki itu katakan untuk pertama kalinya.
Ding!
James memasuki lift diikuti oleh Mario di belakangnya. Tanpa berpikir lebih banyak Nadia pun mengekorinya. Namun beberapa detik kemudian James keluar lagi dari dalam lift diikuti oleh Mario yang tampak kebingungan.
“Mr. James, kena—.”
Baru saja Nadia akan melayangkan pertanyaan, James sudah memasuki lift lain. Meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.
Ada apa ini? Ada apa dengan James? Apa dia sangat membencinya sampai menghindar begitu? Tapi… bukankah seharusnya ia yang benci pada James? Bukankah ia yang seharusnya bersikap dingin pada lelaki itu? Atau... Apakah ini bentuk balas dendam James?
Nadia mengangkat pandangannya, tepat saat pintu tertutup iris mata mereka bertemu, James menatapnya dingin, dengan ekspresi yang begitu datar.
Nadia mencelos, perasaannya mendadak kosong, dadanya serasa dilubangi—menganga lebar.
Tunggu. Tidak. Seharusnya ia tidak merasakan hal ini. Bukankah hal ini yang memang ia inginkan? Tapi kenapa sekarang ia merasa tersinggung? Kenapa ia merasa tidak terima dengan tindakan James?
Sementara di sisi lain. James menarik tipis ujung bibirnya. Puas melihat ekspresi kebingungan Nadia.
“Mr. James apakah anda sedang menghindari Miss Nadia? Kenapa kita pindah lift?”
James melirik Mario sesaat, kemudian terkekeh kecil. “Aku hanya berusaha menghormatinya.” Ujar James sarkas. “Bukankah sejak awal memang ini yang dia mau?”
“Tapi tadi Miss Nadia sudah secara suka rela satu lift dengan anda.”
“Benarkah?” James menyeringai kecil. “Kamu jangan pernah lupa Mario, tidak hanya dia yang tidak suka satu lift dengan orang asing. Tapi aku pun sama. Lagipula….”
Ding!
“Dia tidak pantas berada di sampingku.”
Tepat setelah lift terbuka, James kembali berhadapan dengan Nadia yang sudah menunggunya di depan lift. Waktu serasa berhenti ketika tatapan mereka kembali bertemu. Keduanya saling bertatapan, intens dan begitu dalam.
James maju dua langkah, berhenti tepat di depan Nadia dengan tatapan yang tidak kunjung ia lepaskan.
Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu bertahan lama bekerja di sini Nadia. Aku akan membuatmu keluar secara suka rela dan pergi secepatnya.