“Nadia teman Mas namanya Luthfi, Luthfian. Dia orangnya baik, meskipun kehidupannya sangat kekinian dan lama hidup di luar negeri. Tapi Luthfi sangat paham agama. Mas yakin Luthfi akan menjagamu, juga menghormatimu. Selain itu Luthfi juga tidak pernah putus komunikasi dengan Mas selama ini, jadi Mas tahu betul bagaimana kehidupan Luthfi.”
“Mas harap kamu betah bekerja dengan Luthfi dan Mas do’akan semoga Bos kamu nanti tidak seperti bos kamu sebelumnya ya. Karena dari yang Mas simak dari Luthfi, Bos-nya Luthfi cukup baik. Tidak pernah membatasi waktu shalat setiap waktunya, bahkan tidak pernah melarang Luthfi jika ingin mengikuti kajian.”
Nadia mengulum bibir, tersenyum malu lalu mengangguk kecil begitu mendengar penuturan Jamal. Bahagia, sangat bahagia. Bukan... ia bukan bahagia karena akan mendapatkan pekerjaan. Sejujurnya ia bahagia karena Jamal yang begitu perhatian padanya. Hatinya menghangat, bahagia sekaligus salah tingkah dengan setiap perhatian yang Jamal berikan padanya ini. Terlebih kalimat yang Jamal ucapkan selalu halus, nada bicara yang lelaki itu berikan terhadapnya pun selalu lembut. Hingga secara sadar Nadia selalu merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih kencang setiap kali mendengar lelaki itu berbicara. Beruntunglah Jamal berjalan beberapa langkah di depan Nadia, sehingga lelaki itu tidak akan menyadari dirinya yang sudah salah tingkah ini.
“Nad, Nadia.” Jamal menghentikan langkahnya, membuat Nadia pun dengan cepat menghentikan langkah sebelum menabrak punggung lelaki itu. “Kamu tidak mendengarkan Mas bicara?”
“A—aku, aku dengar Mas.”
Jamal kembali melangkah, Nadia pun kembali mengekorinya.
“Lalu kenapa kamu tidak memberi respons? Jika kamu keberatan menerima tawaran ini tidak apa-apa. Kamu bisa mencari pekerjaan lain yang lebih nyaman.”
“Tidak Mas, tidak. Pilihan Mas Jamal sudah yang paling tepat Mas, aku yakin pilihan Mas untukku ini juga tepat.”
“Jangan berkata begitu Nadia, tepat dan tidak tepatnya suatu pilihan bukan karena manusia yang pandai memilih. Semuanya takdir dari Allah. Kalau memang cocok berarti itu sudah pilihan terbaik yang Allah berikan, qadarulllah kamu bisa mendapatkannya, bukan karena pilihan Mas, apalagi kuasa Mas.”
Nadia mengatupkan bibirnya, malu dengan penuturan yang baru saja ia kemukakan. “Maaf Mas.”
“Tidak perlu meminta maaf. Itu dia... Luthfi.” Ujar Jamal.
“Assalamu’alaikum!” Sapa Jamal.
“Waalaikumsalam Al-Ustadz, lama kita tidak bertemu secara langsung begini. Bagaimana kabarmu? Kabar Umi dan Alifa?”
Nadia mematung di tempat. Waktu seketika terasa terhenti. Senyum yang sebelumnya terukir cantik di wajah Nadia perlahan luntur tak bersisa. Kebahagiaan yang sebelumnya ia rasakan pun perlahan menguap habis, hilang tak bersisa. Nadia mematung, terkejut, jantungnya terasa jatuh hingga ke dasar perut begitu iris matanya menangkap sosok yang ia kenal. Matanya mengerjap, Nadia meneguk ludah kasar seraya membasahi bibirnya sesaat. Rasa gugup, rasa takut perlahan kembali bersarang dalam benaknya. Terlebih ketika iris matanya bertemu dengan iris mata tajam sosok itu.
“Miss Nadia.”
Tunggu, bukankah tadi Jamal bilang seseorang yang bernama Luthfi yang mencarinya? Kenapa justru....
“Mr. Mario?” suara Nadia tercekat di tenggorokan.
Kenapa justru asisten pribadi dari mantan bos kejamnya yang datang ke sini? Kenapa justru dia? Ia pikir ia tidak akan pernah bertemu dengan orang-orang dari perusahaan itu lagi. Terlebih... ini Mario. Asisten pribadi James, orang terdekat James saat di kantor.
Tunggu. Ini pasti salah. orang yang akan mereka temui pasti bukan Mario. Orang yang menunggunya mungkin sedang pergi ke tempat lain.
“Loh Luthfi, Nadia kalian sudah saling kenal?” tanya Jamal.
Harapan Nadia terhempas seketika mendengar kalimat itu. Jadi maksudnya orang yang Jamal maksud ini adalah Mario? Benar-benar Mario asisten mantan bos-nya?
Semesta pasti sedang bercanda. Bagaimana bisa ia yang sangat menghindari perusahaan itu justru kembali berurusan dengan perusahaan yang sama?
“Jamal, boleh aku berbicara dengan Nadia berdua?” Tanya Mario. “Di taman belakang kok, bukan di ruangan tertutup.” Tambah Mario saat melihat Jamal yang akan memberikan penolakan.
Jamal tidak langsung pergi, lelaki itu memandang ke arah Mario dan Nadia terlebih dahulu secara bergantian selama beberapa saat, sebelum ia mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan keduanya.
Nadia duduk berhadapan dengan Mario di sebuah kursi memanjang di area taman belakang pondok itu. Beberapa saat keduanya masih diam, baik Nadia maupun Mario masih sangat terkejut dengan pertemuan yang tidak pernah mereka duga selama ini.
“Aku tidak tahu kamu mengenal Jamal juga Miss Nadia.”
“Saya juga tidak tahu anda sahabat Mas Jamal Mr. Mario.” Nadia menghembuskan napas pelan. “Jika saya tahu Luthfi yang Mas Jamal maksud adalah anda, saya mungkin akan menolak pertemuan ini.”
“Calm down Nadia, kamu bisa berbicara santai denganku.”
Nadia mengalihkan pandangan ke arah lain seraya menghembuskan napas.
“Namaku Luthfian Mario Handoyo jika kamu lupa, sahabat-sahabatku di Indonesia memang lebih akrab memanggilku Luthfi. Panggilan Mario itu dari Mr. James dan hanya berlaku di lingkungan pekerjaan saja.” Mario pun kemudian menghembuskan napas pelan, lalu menatap Nadia kembali.
“Aku minta maaf padamu mewakili Mr. James, Miss Nadia. Mr. James pasti sudah banyak melukai perasaanmu selama kamu bekerja dengannya.” Ujar Mario. “Kamu harus tahu Miss Nadia, biasanya Mr. James tidak seperti itu. Mr. James biasanya cukup baik apalagi pada perempuan. Mr. James juga sebelumnya tidak pernah mempermasalahkan hijab, Mr. James justru sering kali memuji perempuan mandiri apalagi dengan hijab yang mereka kenakan. Makanya aku sangat terkejut ketika secara tiba-tiba Mr. James memintamu menanggalkan hijab.” Mario menjeda ucapannya, menghembuskan napas pelan.
“Aku akui Mr. James sudah sangat keterlaluan memperlakukanmu hingga seperti itu Miss Nadia, untuk itu sekali lagi aku meminta maaf mewakili Mr. James, Miss Nadia. Aku mohon maafkan Mr. James dan....” Mario menatap Nadia dengan tatapan teduh.
“Kembalilah ke perusahaan.”
Nadia meneguk ludah kasar—gugup, kedua tangannya berkeringat dingin, saling menggenggam, meremat kencang. Kepalanya tertunduk, pandangannya beralih ke arah lain sesaat sebelum menghembuskan napas berat.
“Insyaallah... saya sudah memaafkan semua ucapan Mr. James, Mr. Mario. Saya tidak akan memikirkannya lagi. Tapi saya tidak bisa kembali ke perushaan jika Mr. James masih menginginkan saya menanggalkan hijab saya.”
“Sebab sampai kapanpun, sekalipun taruhannya nyawa. Saya tidak akan pernah menanggalkan lagi hijab yang sudah saya kenakan untuk lelaki yang bukan mahram.” Lanjut Nadia dengan tegas.
“Tapi kamu tahu sendiri bukan bagaimana Mr. Wang dan Mr. Huang? Mereka tidak akan pernah mau bekerja sama dengan perusahaan cabang jika bukan kamu yang menangani mereka. Tanpa harus aku jelaskan lebih detail lagi kamu bahkan sudah sangat mengenal beliau-beliau itu bukan?”
Nadia mendongak, memberanikan diri menatap Mario lagi. “Sekarang urusan mereka bukan urusan saya lagi Mr. Mario. Berjalan dan tidaknya kerjasama perusahaan cabang dengan perusahaan Mr. Wang dan Mr. Huang bukan lagi sesuatu yang harus saya pikirkan. Saya sudah tidak memiliki kepentingan dan tanggungjawab untuk hal itu.”
“Miss Nadia.... tolong pikirkanlah baik-baik terlebih dahulu. Kalau kamu tidak bisa bekerja demi Mr. James, setidaknya pikirkanlah Pak Jatmiko. Bukankah kamu salah satu karyawan kepercayaan Pak Jatmiko? Beliau bahkan dengan percaya diri mengirimmu ke cabang dengan harapan bisa mengubah citra perusahaan menjadi lebih baik. Miss Nadia… Jika Pak Jatmiko tahu kamu sudah keluar dari perusahaan kira-kira bagaimana perasaan Pak Jatmiko?” Mario menjeda ucapannya sesaat. “Baliau... pasti akan sangat kecewa dan yang terpenting... beliau pasti akan sangat sedih.”
“Mr. Mario ini bukan tentang Pak Jatmiko. Tapi Mr. James masalahnya.”
“Dua hari... pikirkanlah selama dua hari Miss Nadia. Aku mohon.”
Nadia menutup mulutnya, berhenti mendebat. Kepalanya mendadak pening, bingung antara kembali ataukah justru tetap pada pendiriannya. Sesungguhnya jika memikirkan Jatmiko ia memang ingin kembali ke perusahaan. Tapi masalahnya ini ada di James. Atasannya secara langsung sekarang itu James, bos tidak berperasaan yang benar-benar sangat jahat. Bukan lagi Jatmiko yang memperlakukannya dengan baik.
***
Alunan musik dari piringan hitam mengalun lembut memenuhi setiap penjuru ruangan unit apartemen mewah itu. Menemani tuan pemiliknya melamun, menatap hiruk-pikuk kota dengan sebuah gelas berisi cairan bening di tangan kanan. Tatapannya kosong, begitu juga dengan pikirannya.
Bukan, ia melamun bukan karena tidak ada yang harus ia pikirkan, namun karena ia enggan memikirkan apapun. Tubuhnya dan pikirannya sudah terlalu lelah, sudah menuntut haknya untuk di istirahatkan.
Bahkan ketika suara password yang ditekan di pintu utama terdengar ia tidak repot-repot berbalik. Ia tetap pada posisinya, tanpa ada niat untuk beranjak.
“James Rajaswa!”
Tepat seperti dugaan James, yang datang adalah ayahnya—Jatmiko.
“Bisa-bisanya kamu memecat Nadia? Apa kamu tidak tahu seberapa pentingnya Nadia di perusahaan kita hah?!”
James menghembuskan napas, malas. Lagi dan lagi, Nadia.
“Aku tidak memecatnya, dia yang memundurkan diri.”
“Tapi kamu yang menyebabkan dia memundurkan diri James! Apa kamu sudah gila? Memintanya menanggalkan hijab? Perintah macam apa itu? Kamu benar-benar tidak waras!”
James berbalik menatap Jatmiko yang menatapnya dengan murka. “Kenapa Papa tidak tanyakan dulu apa penyebabku meminta itu padanya? Pa! Dia sudah kurang ajar padaku! Aku sudah dipermalukan perempuan itu di depan umum!”
“Tapi yang kamu lakukan padanya tidak sebanding James! Kamu sudah benar-benar keterlaluan. Dimana akal sehatmu saat meminta itu pada Nadia? Dimana?!”
James mendesis lalu terkekeh sengau. Tidak habis pikir dengan luapan emosi yang Jatmiko berikan. “Pa sebenarnya Nadia ini siapa sih? Kenapa Papa begitu membelanya? Kenapa semua orang memaksaku harus mempertahankannya?”
“Pa sadarlah! Aku yang anak Papa. Perempuan itu hanya karyawan yang kebetulan memiliki prestasi. Tapi tetap saja, dia hanya karyawan! Orang-orang di luar sana akan mampu merebut posisinya, akan mampu berada di posisi perempuan itu juga!”
“Kamu tidak tahu apapun James! Pokoknya Papa tidak mau tahu. Mulai minggu depan Nadia akan bekerja lagi denganmu. Titik. Tidak ada bantahan.”
“Dan kalau sampai Nadia pergi lagi, Papa tidak akan pernah ragu lagi untuk mengirimmu ke perusahaan kita yang tempatnya sangat terpencil dari kota! Papa akan membuat kamu merasakan hidup menderita!”
“Pa jangan bercanda.” James menatap berang, tidak terima dengan keputusan sepihak itu. “Papa aku ini anak Papa! Kenapa Papa lebih membela perempuan itu daripada membelaku?!”
“Papa bilang tidak ada bantahan lagi James. Kamu tidak memiliki pilihan lain selain menerima bekerja dengan Nadia lagi.”