Part 7: Keras Kepala

1721 Words
Perkiraan James meleset. Keesokan harinya Nadia tidak datang, dua hingga tiga hari berikutnya pun Nadia tidak muncul sama sekali. Jangankan muncul, ada kabar mengenai perempuan itu saja tidak. Nadia bahkan tidak repot-repot menyerahkan pekerjaannya pada Mario, atau sekedar untuk berbasa-basi. Nadia benar-benar pergi dari perusahaannya, seolah tidak membutuhkan sedikitpun kebaikan hatinya. James murka, dadanya semakin bergemuruh atas keangkuhan yang Nadia perlihatkan padanya. Ia kesal. Tidak pernah ada satu pun perempuan yang berani melawannya seperti ini. Terlebih ketika ia memberikan suatu kebaikan kecil, memberikan pilihan yang tidak pernah sama sekali ia berikan pada orang lain. Akan tetapi sejak awal Nadia memang berbeda, perempuan itu benar-benar keras. Ia bahkan merasa hati perempuan itu lebih keras daripada batu. Tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, perempuan besar kepala. Itulah yang James pikirkan mengenai Nadia. “Mr. James, maafkan kelancangan saya. Tapi Senin pekan depan kita akan ada meeting bersama Mr. Wang, dan meeting lanjutan bersama Mr. Huang. Oleh karena itu dengan berat hati saya mengatakan pada anda bahwa kita memerlukan Miss Nadia.” James mendelik, menatap tajam Mario dengan rahang mengatup. “Tidak. Sampai kapanpun kita tidak memerlukannya, aku tidak membutuhkan perempuan keras kepala seperti dia. Aku tidak akan membuat perempuan itu semakin besar kepala dan tinggi hati. Lagi pula kita bisa mencari translator yang lebih baik, dan lebih profesional, pasti akan banyak yang berminat bekerja di perusahaan ini. Jadi daripada terus memikirkan perempuan tidak tahu diuntung itu, carikan aku translator lain.” “Sekali lagi mohon maaf Mr. James. Namun menurut track record yang saya ketahui, Mr. Wang hanya percaya pada Miss Nadia sebagai translator untuknya. Hal ini telah dibuktikan di perusahaan pusat. Saya mohon pertimbangkan lagi Mr. James. Ini juga demi kelancaran bisnis perusahaan anda, Mr. James. Sebab hanya Mr. Wang penyedia werehouse terbaik di China.” Nadia, Nadia, Nadia! Apa sih hebatnya perempuan itu sampai orang-orang begitu mempercayainya? Apa spesialnya perempuan berhati batu itu? “Mr. James.” Panggilan Mario menyadarkannya, ia kembali mendongak menatap asisten pribadinya itu. “Kamu sudah tahu sendiri jawabanku Mario. Sekali tidak, tetap tidak. Kamu seperti tidak mengenalku saja.” James mendengus kecil. “Jika dia ingin kembali ke perusahaan ini, dia harus mengikuti seluruh aturan yang kubuat. Tidak ada tawar menawar! Titik! Lanjutkan kembali pekerjaanmu.” Ia muak! Sungguh! Sangat muak! Selalu saja, Nadia dan Nadia lagi. Ia yakin masih banyak translator terbaik di luar sana, tidak harus selalu Nadia. Tidak harus selalu perempuan itu. James mendengus, kedua tangannya menyilang di d**a. Ia harus benar-benar tegas. Ia harus memberikan pelajaran pada perempuan itu. Ia tidak akan membiarkan perempuan itu masuk ke perusahaan ini lagi dengan mudah. Mario menghembuskan napas pelan, beruntunglah ia sudah terlatih kuat secara mental untuk menghadapi James. Jika tidak, ia sudah pasti akan meninggalkan bos keras kepalanya itu sekarang juga. Tepatnya, bos keras kepala yang selalu menambah beban pekerjaannya hanya demi memenuhi ego, seperti saat ini. Kekanak-kanakan. Sekarang weekend-nya akan benar-benar buruk. Bukannya bisa istirahat sejenak, ia justru harus menghabiskan waktu dengan mencari translator untuk bos-nya yang pemilih itu. Meskipun ya… Pencarian yang ia tahu pada akhirnya hanya akan menjadi pekerjaan yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu. Tapi mau bagaimana lagi? Ia masih membutuhkan uang untuk bertahan hidup. “Mr. James, jam kerja telah usai. Jika anda memberi izin saya ingin menyelesaikan seluruh pekerjaan saya dari rumah Mr. James.” James mengangguk kecil. “Oh ya, kamu juga mengatakan akan mengunjungi sahabatmu kan weekend ini? Pergilah, lagipula weekend ini aku tidak memiliki banyak pekerjaankan?” “Tapi saya harus segera mendapatkan translator baru Mr. James. Menuju Senin hanya tersisa dua hari saja.” “Tidak masalah. Kamu bisa mencarinya sambil menemui saudara-saudaramu.” Ini salah satu sisi positifnya James yang selalu Mario syukuri. James sebenarnya tidak seegois itu, James selalu berbaik hati memberinya waktu untuk istirahat dari pekerjaan, James juga sering sekali memberikan bonus tambahan untuknya. Sekalipun James mengoleksi semua sifat buruk yang ada di bumi ini, tapi hal itu tidak berlaku untuk para karyawan yang bekerja dengan baik untuk James. Makanya ia cukup heran dengan sikap James pada Nadia yang sangat tidak profesional itu. Ini pertama kalinya James memperlakukan perempuan seperti ini. Ini juga pertama kalinya James tidak profesional. Biasanya bagi James yang penting pekerjaannya bagus dan profesional, James tidak pernah memedulikan sifat dan sikap orang di luar itu. Barulah ketika pekerjaannya menurut James tidak layak, James akan memecatnya. Tapi Nadia? Pekerjaan Nadia rapih, problem solving-nya juga begitu bagus. Aneh, seperti ada yang tidak beres dengan James. Mario menghembuskan napas. Sudahlah ia enggan memikirkannya lagi. Ia sudah terlalu pusing dengan semua keadaan ini. Setelah berbasa-basi sesaat akhirnya Mario beranjak meninggalkan James dengan jari yang sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya, iseng membuat status di social medianya. Dicari segera, translator Mandarin-Indonesia. Ting! Baru saja Mario hendak mengantongi benda tersebut, ia sudah menerima sebuah pesan dari seorang sahabatnya. Jamal: Aku ada satu kenalan, dia pandai bahasa Mandarin, kebetulan dia juga sedang mencari pekerjaan. Kamu bisa datang ke pondok untuk bertemu dengannya. Besok. Mario tersenyum tipis. Senang sekaligus lega saat membacanya. Ia pun segera membalas pesan tersebut, menyanggupi undangan sang sahabat. *** Tiga hari tanpa pekerjaan membuat Nadia risau. Sungguh ia ketakutan dengan waktu yang berlalu tanpa bisa ia tahan. Hari pertama tidak bekerja ia masih merasa baik-baik saja, dengan senang hati ia membuat CV lalu mengirimkannya ke beberapa perusahaan, ia juga sempat membuat akun di sebuah web khusus untuk mencari pekerjaan, ia bahkan membuat profil terbaik yang bisa ia lakukan. Hari kedua Nadia mulai merasa risau, setelah tujuh tahun bekerja tanpa kesulitan, ia tidak menyadari ternyata mendapatkan pekerjaan bisa sesulit ini. Ternyata melamar pekerjaan meskipun dengan banyak kelebihan dan pengalaman yang ia punya tidaklah mudah. Ia pikir setelah mengirim lamaran ia akan segera mendapatkan panggilan kerja. Tapi ternyata tidak. “Jika berdasarkan semua yang telah kamu lakukan padaku kemarin, seharusnya aku memang sudah memecatmu, aku bahkan bisa membuatmu tidak diterima di perusahaan manapun karena sudah mencoreng nama baikku.” Nadia menggeleng kecil. Tidak, tidak mungkin James benar-benar melakukannya kan? Tidak mungkin. “Ini baru satu hari. Mungkin aku harus menunggu lagi. Ya… menunggu sebentar lagi.” Tapi sampai kapan ia harus menunggu? Apakah mencari pekerjaan memang sesulit ini? Bisa menunggu begitu lama? Ia sungguh sangat khawatir tidak segera mendapatkan pekerjaan, terlebih sebenarnya ia tidak pernah memiliki pengalaman sedikitpun dalam melamar pekerjaan. Hari ketiga daripada Nadia merasakan risau terus menerus, ia memutuskan untuk pergi ke pondok pesantren milik keluarga Alifa pada sore hari, untuk mengikuti kajian sekaligus menenangkan diri. Selain itu ia berniat menemui Abidah—pemilik pondok pesantren yang belum sempat ia temui lagi beberapa minggu terakhir ini. “Assalamu’alaikum Umi.” “Wa’alaikumsalam.” “Nak Nadia! Masyaallah.” sambut Abidah yang tanpa sengaja bertemu di halaman area pesantren. “Kalian mantapkan dulu hafalannya, bada asyar nanti temui Umi untuk murojaah ya? Umi pulang dulu.” pamit Umi pada segerombolan santriwati. “Apa kabar Nak? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Nadia tersenyum tipis. “Nadia baik Umi. Alhamdulillah sehat. Bagaimana keadaan Umi?” “Alhamdulillah Umi juga baik nak. Ayo duduk sini.” Abidah duduk di sebuah kursi tepat di depan rumah. “Alifa, sini nak. Lihat siapa yang datang.” Suara langkah kaki terdengar mendekat begitu tergesa. Tidak lama kemudian Alifa muncul seraya tersenyum lebar. “Kak Nanad!” Nadia tersenyum. “Hai Alifa.” “Akhirnya Kak Nanad beneran maen ke sini lagi. Seneng banget.” Alifa memeluknya sesaat sebelum duduk di samping Abidah. “Tapi tunggu. Kak. Kok ke sini hari kerja? Memangnya sedang tidak ada pekerjaan kak?” Seulas senyuman muncul dari bibir Nadia. “Kakak sudah tidak bekerja di sana lagi.” “Loh kok?” Nadia terdiam, ia mengatur napasnya sesaat. Tidak lama setelah itu genggaman tangan ia dapatkan dari Abidah. “Sabar ya nak.” “Umi.” Nadia mengangkat kepala, menatap ke arah perempuan paruh baya itu. “Aku merasa Bos-ku dzolim, dia begitu kejam Umi. Dia memintaku membuka hijab jika masih ingin aku bekerja untuknya. Tidak salah bukan aku memilih berhenti demi mempertahankan hijabku?” Abidah terperangah sesaat, lalu tersenyum. “Tidak nak, tidak. sudah seharusnya kamu lebih takut pada Allah daripada manusia.” Abidah menatap Nadia lamat. “Lalu bagaimana utangmu nak? Apa kamu memiliki keringanan untuk itu?” Nadia menghembuskan napasnya lagi kemudian Nadia mulai menceritakan masalah yang terjadi padanya. Dari mulai masalah di restoran hingga insiden pemunduran diri tiga hari lalu. Semuanya Nadia ceritakan dengan detail tanpa ditambah dan dikurangi sedikitpun. “Kamu sudah memilih jalan yang benar nak. Sudah seharusnya kamu seperti itu, melindungi kesucian dan kehormatanmu. Hanya saja mungkin Bos-mu itu sedikit tersinggung dengan sikap yang kamu berikan. Makanya seperti itu. Sudah... jangan terlalu dipikirkan nak, kamu sudah bebas dari bos itu, kamu bisa mencari pekerjaan yang lain.” Nadia mengangguk kecil. “Tapi sekarang aku risau Umi, aku takut tidak bisa melunasi utangku jika aku tidak bekerja di sana. Bunga-nya begitu besar dan aku tidak yakin aku bisa menutup utangku itu.” “Kalau kamu naik pesawat apakah kamu mengenal pilotnya Nadia?” Nadia mendongakkan kepala ketika mendengar suara bariton yang cukup ia kenal di ambang pintu. Keningnya mengerut sesaat, bingung mendengar pertanyaan tersebut. Nadia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak Mas.” “Tapi kamu merasa aman kan saat terbang di dalam pesawat?” Nadia mengangguk. Keningnya bertautan, masih tidak mengerti arah pembicaraan tersebut. “Lantas kenapa kamu harus merisaukan kehidupanmu di dunia ini? Padahal kamu memiliki Allah yang bisa mengatur jalan hidupmu.” Seketika Nadia bungkam mendengar pernyataan tersebut, begitu pula dengan Abidah dan Alifa. “Berdo’alah, banyak-banyak meminta pertolongan pada Allah dan selalu ingatlah Allah disetiap langkahmu. Allah pasti akan mempermudah urusanmu, Allah pasti akan menolongmu. Sampai sini, Mas rasa kamu sudah cukup mengertikan?” Nadia kemudian mengangguk kecil seraya menundukkan pandangannya. Malu setelah mendengar penuturan itu. “Mengerti Mas Jamal.” “Oh ya hampir lupa. Nadia, besok datanglah lagi ke sini. Temanku sedang membutuhkan seorang translator dan baru saja aku merekomendasikanmu untuk bekerja dengannya. Kamu keberatan?” Senyuman Nadia merekah sempurna setelah mendengar kalimat tersebut. Ia tidak menduga akhirnya ia mendapatkan angin segar menerpa tubuhnya. Ia akan segera bekerja lagi! “Tentu, tidak apa-apa Mas. Tidak apa-apa. Terima kasih banyak.” “Bagus, kalau begitu Mas pamit mau ke mesjid. Assalamu’alaikum.” “Waalaikumsalam.” Nadia menatap Abidah dan Alifa yang juga memberikan senyuman padanya secara bergantian. “Alhamdulillah ya nak.” Nadia kembali mengangguk. “Alhamdulillah Umi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD