Part 6: Pilihan Kejam

1361 Words
Nadia benar-benar risau memikirkan kejadian itu. Ia merasa bersalah pada James karena telah mempermalukan lelaki itu. Sekarang ia sadar, ia salah. Ia tidak seharusnya bertindak sekasar itu pada James. Apalagi mereka berada di ruang public dan yang dilakukan James pun mungkin saja hanya spontanitas semata. Seharusnya ia bisa lebih tenang lalu menegur James dengan lebih lembut. Bukan dengan kata-k********r seperti kemarin. Sehingga saat ini juga ia bertekad harus meminta maaf pada lelaki itu sebelum keadaan semakin rumit. Nadia menarik napas panjang kemudian memasuki ruangan James dengan tablet PC di dalam pelukannya. Sayang, tidak ada James di ruangan itu. Hanya ada Mario yang sedang sibuk di meja kerjanya. Hembusan napas kecewa keluar dari hidung Nadia. Padahal ini kesempatan bagus, tapi ternyata James tak ada. “Mr. Mario. Maaf menyela, saya ingin bertanya. Kemana Mr. James?” “Oh, Miss Nadia. Mr. James sedang keluar. Kebetulan sekali kamu ke sini.” Ujar Mario setelah mendongakkan kepala. “Mr. James memberikan sebuah pesan khusus untuk anda.” Setelah meletakkan nampan di atas meja kerja James ia berbalik menghadap Mario. “Apa itu? Silahkan katakan Mr. Mario.” Mario bangkit, berjalan ke arahnya. Kening Nadia mengerut Ketika melihat Mario menghembuskan napas beberapa kali, heran. Seperti ada masalah serius. “Ada apa Mr. Mario? Anda membuat saya gugup.” “Ini mungkin akan sedikit menyinggungmu. Tapi secara terpaksa aku harus menyampaikannya.” Kening Nadia semakin bertautan. Tidak biasanya Mario berbasa-basi seperti ini. “Mr. James tidak ingin memiliki sekretaris yang berhijab. Jika kamu masih ingin bekerja di sini silahkan tanggalkan hijabmu, jika tidak silahkan kamu pergi dan lunasi utangmu secepatnya.” Semua rasa bersalah dalam benak Nadia menguap begitu saja, tidak tersisa seolah tidak pernah ada rasa bersalah yang bersemayam dalam hatinya. Kini hanya amarah dan rasa sakit hati yang tersisa. Dadanya mencelos kosong mendengar hal itu. Apa katanya tadi? James tidak ingin memiliki sekretaris yang berjilbab? Maksud James, dia ingin memecatnya? Begitu? Nadia memejamkan mata sesaat kemudian menghembuskan napas berat sebelum menatap tajam Mario. “Dimana dia sekarang?” “Tenangkan dirimu terlebih dulu Miss Nadia.” “Saya tidak bisa tenang Mr. Mario. Saya harus tahu alasan logis Mr. James melakukan ini! Saya tidak bisa diberhentikan secara tidak hormat seperti ini!” “Miss Nadia.” Tegur Mario. “Saya tidak pernah mengatakan akan memberhentikanmu.” Nadia berbalik menatap ke arah James yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. “Apakah ada kata-kata yang disampaikan Mario yang menyatakan aku menghentikanmu secara tidak terhormat? Tidak bukan?” Rahang Nadia mengatup, amarahnya meluap melihat wajah datar tanpa rasa bersalah yang James perlihatkan padanya. Apa katanya? Dia tidak memecatnya? Hah! Omong kosong! Sudah jelas ia berhijab. Iblis memanglah iblis! “Dengan memberikan pilihan seperti itu, secara tidak langsung anda ingin memecat saya.” James menyeringai. Puas melihat wajah marah Nadia yang memerah padam, kedua tangan terkepal, tatapan mata tajam dan rahang yang mengatup. James tidak pernah merasa sepuas ini melihat ekspresi marah seseorang, tapi kali ini ia bersumpah ia benar-benar puas melihat bagaimana wajah Nadia diselimuti amarah karena ulahnya. Sudah ia katakan, jangan pernah macam-macam padanya dan jangan pernah berani membantahnya bukan? Apalagi perempuan itu sudah berhasil mempermalukannya di depan umum. Jangan harap ia masih berbaik hati. “Jika berdasarkan semua yang telah kau lakukan kemarin, seharusnya saya memang sudah memecatmu, saya bahkan bisa membuatmu tidak diterima di perusahaan manapun karena sudah mencoreng nama baik saya. Tapi sekarang saya justru sedang berbaik hati padamu dengan memberimu pilihan itu.” Nadia mendelik, menatap James berang. “Maksud anda pilihan kejam itu? Anda pikir bagiku itu pilihan? Bukan!” “Jangan sok suci! Karena kau tahu? Sebodoh-bodohnya saya pada pengetahuan agama, saya tahu bahwa sebagai umat yang baik sebaiknya menjaga lisan dan berprasangka buruk pada orang lain itu adalah perbuatan yang salah, apalagi sampai merugikan! "Asal kau tahu Nadia, kau bukan perempuan berhijab pertama yang pernah kutemui, kau juga bukan perempuan pertama yang pernah bekerja sama denganku. Tapi kau... perempuan paling kasar, paling kurang ajar, dan paling tidak tahu diri yang pernah aku temukan. Hijabmu ini, tidak pantas kau gunakan dengan hati buruk yang bersarang di dalam dadamu!” Kedua tangan Nadia semakin terkepal erat hingga buku-buku jemarinya memutih. Hatinya benar-benar tercabik, sakit dan juga bergemuruh, meletupkan amarah. “Anda pikir anda siapa bisa menilai hati saya? Beraninya orang sombong, congkak, tidak berperasaan, sok kuasa dan gila hormat seperti anda menilai saya seperti itu? Saya sok suci? Benar! Saya memang sok suci! Di sini anda yang paling suci, dan anda yang selalu benar. Anda pikir saya bisa semudah itu melepaskan hijab hanya demi bekerja di sini? Begitu?” Nadia menyeringai. “Anda salah Mr. James yang terhormat. Saya tidak akan pernah satu kalipun mengabulkan permintaan anda.” “Dengar Mr. James. Mulai detik ini saya yang memilih keluar dari perusahaan ini. Bukan anda yang memecat saya!” Bukannya tersinggung, James justru terkekeh setelah Nadia menghentikan ucapannya. James tertawa puas. “Wow, aku sangat tersanjung. Baru beberapa hari bekerja denganku tapi kamu sudah cukup mengenalku rupanya.” James berjalan mendekat ke arah Nadia dengan seringaian tipis yang mematikan. “Yakin kau yang akan memilih keluar? Kau tahu resiko yang kau tanggung jika memundurkan diri?” “Apalagi kau memiliki utang yang sangat besar pada perusahaan.” James mendesis tajam, tersenyum puas melihat wajah terkejut Nadia. Tentu, sudah seharusnya Nadia terkejut dengan informasi itu, sebab selama ini tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Mr. dan Mrs. Rajaswa. “Bukankah lebih baik kau melepaskan hijabmu itu? Hm?” Nadia gentar sesaat, matanya bergetar takut. Tapi kemudian matanya kembali menajam. Keputusannya sudah bulat. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi membuka hijab hanya untuk lelaki sepertimu.” James tertawa sengau. “Oh ya? Jadi lebih memilih memundurkan diri tanpa pesangon?” James berjalan mendekat secara perlahan, membuat suara gema dari langkah sepatu itu terasa begitu mengintimidasinya. “Lalu dengan apa kau akan melunasi utang? Sepertinya kau lupa, tentang bunga yang harus kau bayar jika kau bukan lagi bagian dari perusahaan ini.” James kembali menyeringai. Merasa menang melihat wajah pucat Nadia “Setiap saat utangmu akan terus bertambah dan akan semakin membengkak dengan bunga yang juga harus kau tanggung.” James menjeda kalimatnya sesaat, seraya menyerukan wajah, menatap Nadia lebih dekat. “Masih yakin, ingin pergi dari perusahaan?” Tidak ada jawaban. James menyeringai lagi seraya menegakkan punggungnya. Setelah itu kembali duduk di balik meja kerja, kemudian mengambil sebuah dokumen dari dalam laci, dan dilemparkannya ke atas meja. “Tanda tangan ini, jika memang kau akan keluar dari perusahaan ini. Sebagai jaminan, bahwa hidupmu adalah milik perusahaan ini sampai kau mampu melunasi seluruh utang-utangmu." James mendongak pongah. "Tapi ya... jika memang kau memilih bertahan, segeralah tanggalkan hijabmu. Buka di depan mataku saat ini juga!” Rahang Nadia mengatup, ia merasa terhina mendengar kalimat tersebut. Ia bagaikan ditelanjangi, bagaikan dipermalukan di depan umum. Nadia mendengus kecil, setelah itu ia meraih bolpoin tersebut lalu membubuhkan sebuah tanda tangan di atas dokumen perjanjian itu tanpa membacanya sama sekali. “Tidak ada keraguan sedikitpun dalam hatiku untuk keluar dari perusahaan ini. Dengar Mr. James. Aku, tidak akan pernah takut pada ancamanmu. Kau pun harus tahu Mr. James. Hartamu, kejayaanmu hanya sesaat. Tidak akan pernah kau bawa mati! Pemimpin dzolim sepertimu lambat laun akan hancur. Akan segera hancur! Camkan itu.” “Permisi.” Pamit Nadia dengan sedikit sisa rasa sopannya, setelah itu ia beranjak pergi dari ruangan James, menuju meja kerjanya, mengambil sling bag yang tergeletak di atas meja, kemudian beranjak pergi tanpa berbalik lagi. Bahkan beberapa staff hanya mampu menatap, tidak berani menegur sama sekali. Sungguh, ia tidak akan mempedulikan itu, ia pun tidak menyesal melepaskan pekerjaan itu. Sementara di dalam ruangan, James menyeringai kecil melihat Nadia pergi. “Mr. James. Apa tidak sebaiknya kita susul. Bagaimana pun kita membutuhkannya untuk melanjutkan kerja sama kita dengan Mr. Huang.” James mendongak, menatap Mario tajam. “Tidak, kau salah Mario. Bukan kita yang akan membutuhkan perempuan itu. Tapi dia yang akan membutuhkan pekerjaan di perusahaan ini! Lihat saja. Besok dia pasti kembali. Dia akan menyesal mengambil keputusan yang salah!” Perempuan tidak tahu diri. Kau pikir dengan sombong begitu masalahmu akan selesai? Aku bersumpah akan membuatmu merangkak datang lagi padaku meminta pekerjaan Nadia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD