“Seratus ribu dollar Mario? Serius?” James terkekeh kecil kemudian melirik ke arah Nadia yang berada di meja kerjanya. “Hampir satu koma lima milyar.” Ujar James lalu menatap Mario.
“Kemana uang-uang itu? Kamu sudah menyelidikinya?”
Mario mengangguk kecil. “Saya dan orang-orang saya sudah menyelidikinya, Miss Nadia memiliki utang itu setelah satu bulan bekerja.”
Kening James mengerut. “Satu bulan? Seratus ribu dollar?” James terkekeh kosong. “Bagaimana bisa dia berutang pada perusahaan sebanyak itu?”
“Mr. Rajaswa sendiri yang menanda tangani struk pemberian uang tersebut Mr. James.”
“Papa dengan mudah memberikan uang sebanyak itu?”
Mario mengangguk lagi.
“Kenapa?” James heran.
“Maaf Mr. James untuk alasan tersebut saya kurang tahu. Saya sudah bertanya pada pihak lain di perusahaan pusat pun tidak ada yang mengetahui alasan Mr. Rajaswa memberikan uang tersebut.”
Tidak pernah ayahnya sebaik ini pada seseorang. Bahkan pada asisten pribadinya pun tidak sampai seperti ini. Tapi pada Nadia?
Ini aneh.
“Mama tahu?”
“Mrs. Rajaswa menjadi saksi transaksi tersebut.”
James mendengus kecil. Apa hebatnya perempuan itu sampai orangtuaku begitu percaya padanya? James menatap Mario lagi. “Kemana perginya uang itu?”
“Satu kali lagi, Maaf Mr. James. Untuk itu saya juga tidak mengetahuinya. Tidak ada data yang bisa kami ungkapkan untuk itu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin mencarinya tapi uang itu seolah hilang begitu saja. Tanpa jejak sama sekali.”
“Kami hanya berhasil mengumpulkan data pembayaran utang tersebut. Anda bisa melihatnya di bagian lampiran. Dari hasil penyelidikan saya gaji Miss Nadia di potong lima puluh persen setiap bulannya dan dia hanya akan menerima tiga puluh persen dari bonus dan tunjangan lainnya. Tujuh puluh persennya sama, digunakan untuk membayar utang. Hal itulah yang membuat utangnya tersisa lima ratus juta saja dari total selama tujuh tahun dia bekerja. Hal itu juga yang mematahkan dugaan saya mengenai gaya hidup Miss Nadia.”
James mendongak lagi menatap Mario. “Apa yang kamu pikirkan?”
“Saya berpikir mungkin saja kita pernah bertemu Miss Nadia di suatu tempat expensive yang sering kali anda kunjungi, sebab bagaimana pun anda tidak pernah pergi ke tempat yang biasa saja. namun dugaan saya ternyata salah. Miss Nadia bahkan tidak pernah ke acara-acara atau pesta mewah jika bukan dibiayai dari kantor.”
Hening. James menatap kosong ke arah dinding kaca di depannya. Kenapa aku merasa banyak yang ditutupi? Rahasia seperti apa yang perempuan itu sembunyikan? Pikir James.
Dugaan-dugaan mulai liar dalam pikiran James. Ia tahu betul tabiat orangtuanya, terutama ayahnya. Ayahnya sangat perhitungan dan tidak mudah mempercayai seseorang. Orang perhitungan seperti ayahnya tidak mungkin memberikan sesuatu secara cuma-cuma pada orang asing. Rasanya sangat mustahil ayahnya melakukan kebaikan secara cuma-cuma begitu.
Pandangan James teralih, pada Nadia yang berada di meja kerjanya.
Apa yang sudah kau berikan pada Papa-ku Nadia? Apa yang sudah kau lakukan pada Papa-ku sampai memberikan imbalan padamu sebanyak itu?
James tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
“Anda akan pergi kemana Mr. James? Pukul satu siang ini anda ada meeting dengan client dari Hongkong.”
“Makan siang.”
James meninggalkan ruang kerjanya dengan langkah yang begitu santai, diikuti oleh Mario satu langkah di belakangnya. Menghampiri Nadia yang masih tampak sibuk dengan ponselnya sendiri.
“Miss Nadia. Ayo makan siang.” Mario yang berbicara.
“Maaf?”
Kening James bertautan. “Apa? Ingin membantah lagi?”
“Saya rasa makan di restoran itu tidak masalah, toh restoran itu ruang publik yang akan banyak orang. Kamu tidak perlu takut saya akan macam-macam dan terjadi fitnah seperti yang kamu takutkan itu.”
Nadia tersenyum tipis. “Saya tidak bermaksud begitu Mr. James. Saya hanya tidak terbiasa makan di restoran.” Jawabnya jujur.
“Saya tidak mau tahu, saya mau kamu ikut. karena ada beberapa hal yang harus kita bicarakan sebelum meeting.”
Tidak langsung ada jawaban. Nadia termenung beberapa saat. “Baiklah. Saya akan segera bersiap.”
“Kita berangkat sekarang.”
“Ah begitu. Baik Mr. James.” Nadia buru-buru meraihkan mejanya, mengambil barang pribadinya lalu menyampirkan sebuah sling bag di bahu dan membawa sebuah tablet PC di tangan.
“Mari Mr. James.”
“Tunggu Nadia.”
“Ya?” Nadia kembali tersenyum santun. “Ada yang bisa saya bantu Mr. James?”
“Belajarlah untuk tidak selalu membantah. Saya bukan seseorang yang selalu memberikan toleransi.”
Kedua mata Nadia mengerjap, terkejut dengan nada bicara James yang mendadak melembut.
“Baik Mr. James.”
***
Nadia menghembuskan napas perlahan begitu duduk di salah satu kursi restoran itu. Sungguh, ia sebenarnya hampir tidak pernah makan siang di restoran mewah. Hari-harinya selalu ia habiskan dengan makan-makanan gratis di kantin kantor, terkadang makan di tempat atau meminta diantarkan ke mejanya. Jika tidak begitu ia akan memesan makanan termurah yang ada di sekeliling kantor, atau mencari makanan dengan voucher diskon tertinggi.
Bukan karena ia tidak ingin makan-makanan enak. Tapi Nadia cukup sadar diri bahwa keadaannya tidaklah pas untuk menghambur-hamburkan uang hanya untuk sepotong makanan mewah. Selama bertahun-tahun bekerja gajinya bahkan masih terkena potongan, ia tidak bisa terlalu boros apalagi hanya urusan makanan.
“Miss Nadia, segeralah pesan sesuatu.” Ujar Mario.
Nadia menghela napas. Mahal-mahal sekali. Satu menu bisa aku pakai makan selama tiga hari. ujar Nadia dalam hati saat melihat daftar menu di tangannya. Menu termurah mereka seharga lima puluh ribu dan itu pun hanya segelas jus.
Bolehkah ia hanya diam dan menemani saja?
“Belajarlah untuk tidak selalu membantahku.”
Oh! Sungguh menyebalkan. Bagaimana bisa ia mendapatkan bos seperti James? Tidak bisakah ia kembali memiliki bos sebaik Jatmiko?
Tanpa sadar Nadia menoleh menatap ke arah James. Tepat saat itu pandangan mereka bertemu. Lagi-lagi... ia mendapati James yang tengah mengamatinya. Sama seperti beberapa jam lalu di kantor. James kemudian menyeringai kecil.
Nadia meneguk ludah kasar sebelum mengalihkan pandangan. Apa yang sedang lelaki itu pikirkan? Kenapa dia sangat aneh?
“Miss Nadia, sudah memutuskan pesananmu?” tanya Mario.
Nadia berdehem sesaat lalu mengangguk. “Saya ingin salad saja dan segelas air putih.”
Setelah itu Mario menyebutkan pesanannya beserta pesanan James.
Sementara itu James hanya diam, ia mengamati penampilan Nadia dari atas sampai ke bawah, memindai penampilan perempuan itu berulang kali, lalu melihat beberapa barang yang perempuan itu bawa dan pakai.
Tidak ada yang istimewa, barang-barang yang perempuan itu pakai pun tidak ada yang spesial, bukan barang-barang mahal yang sangat expensive sama seperti yang Mario katakan. Lalu untuk apa uang yang perempuan itu pinjam ke perusahaan jika bukan untuk berfoya-foya?
James memindai penampilan Nadia lagi, sampai kemudian iris mereka bertemu. Saling menatap satu sama lain.
Sebenarnya rahasia macam apa yang kau simpan Nadia? James menyeringai. Aku penasaran apa yang sebenarnya tidak aku tahu darimu?
“Tambah makanan lain Nadia, makanan berat.”
“Tidak. Terima kasih Mr. James. Saya akan cukup hanya dengan memakan salad. Sudah menjadi kebiasaan.”
James tidak percaya, ia menatap Nadia lamat. Berusaha memindari wajah Nadia, mencari kebohongan dari perempuan itu.
“Mr. James. Ini adalah proposal yang akan kita bicarakan nanti. Silahkan anda tinjau ulang.”
James mengalihkan perhatiannya pada Mario, lalu mengambil tablet PC dari tangan asistennya itu. Memindainya sesaat. Melupakan Nadia yang kini menghembuskan napas lega. “Translator perusahaan sudah siap? Aku rasa kita akan membutuhkannya.”
“Perusahaan tidak memiliki translator Mr. James. Saya yang akan menjadi translator anda.” Ujar Nadia. “Pak Jatmiko dan beberapa perusahaan besar tidak menyukai adanya translator dari luar perusahaan. Sebab yang akan kita bicarakan adalah hal yang sangat penting dan rahasia, beliau dan klien kita takut bahwa rencana bisnis antara dua perusahaan akan bocor ke tangan rival bisnis kita jika menggunakan translator asing di luar perusahaan .”
Sebelah alis James naik, ia menatap Nadia penuh antisipasi. “Benarkah? Hm. Bahasa asing apa saja yang kamu kuasai?”
“Tidak banyak Mr. James. Hanya bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Korea dan sedikit bahasa Spanyol.”
James menatap Nadia lagi lamat. “Oh menarik.”
Perbincangan mereka kembali berlanjut mengenai persiapan meeting mendatang, di tengah percakapan mereka hidangan datang, ketiganya mulai menyantap makan siang tersebut dengan sesekali masih tetap membicarakan pekerjaan.
“Saya rasa tidak akan buruk dengan menyediakan tempat ibadah di sebuah arena balapan, tidak perlu mewah yang terpenting layak. Bagaimana usulan saya Mr. James? Bukankah tidak buruk? ”
James mengangguk kecil lalu menoleh pada Nadia. Tepat saat itu ia melihat noda putih di ujung bibir, sisa saus dari salad yang perempuan itu makan. Tanpa sadar tangannya terulur, menyeka cairan putih itu.
Plak!
Nadia dengan cepat menepis tangannya dengan kasar, bahkan bunyi tepisan tersebut terdengar menggema, menjadi pusat perhatian orang lain. “Jangan kurang aja Mr. James. Sudah saya katakan kita bukan mahram. Tidak sepantasnya anda menyentuh saya seperti itu!"
James tertegun, ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya refleks bermaksud menolong. Ketika matanya bergulir, saat itu juga ia menyadari mereka kini benar-benar menjadi pusat perhatian. Semua orang menatapnya, mencela dengan sesekali saling berbisik.
Tangan James terkepal, tidak suka mendapatkan tatapan penuh cemooh seperti itu. Tatapan tajam kembali James layangkan pada Nadia.
“Kenapa kamu berkata seolah aku adalah penjahat kelamin paling keji di bumi ini?”
“Aku hanya berniat menolong.” Lanjut James.
Bisikan-bisikan dari pengunjung lain terdengar semakin jelas, semua orang menuding James benar-benar melakukan pelecehan.
“Lelaki itu pasti biasanya kurang ajar, lihat saja reaksi perempuan itu. Ketakutan sekali. Jangan-jangan perempuan itu memang pernah dilecehkan?”
“Seharusnya dia bisa lebih menghormati perempuan itu. Sudah tahu pakai hijab, main sentuh saja.”
“Sepertinya lelaki itu bukan lelaki baik-baik.”
Telinga James memanas, rahangnya mengatup. Kedua tangan James pun mengepal sempurna. “Puas kamu mendengar saya digunjing begitu? Sudah puas?” desis James.
Nadia bergeming. Bingung, ia juga sungguh terkejut dengan perbuatan dan perkataannya sendiri.
Dengusan keluar dari hidung James. Apalagi saat mereka benar-benar menjadi pusat perhatian. “Kamu sengaja ingin mempermalukan saya Nadia?” James menggeram dalam. “Iya? Kamu ingin mempermalukanku?!”
Mata Nadia mengerjap. “Ti—tidak Mr. James. Sa—saya tidak bermaksud demikian saya—.”
“Sialan! Pergi sana, saya tidak butuh orang berpemikiran sempit sepertimu.”
Nadia menatapnya dengan kedua tangan bertautan. “Mr. James.”
“Tidak mau pergi?!” Tak ada jawaban dari Nadia. Setelahnya James beranjak dengan langkah lebar, meninggalkan Nadia yang berusaha mengejarnya dari belakang.
Tapi apakah James peduli? Tidak. Nadia bahkan ditinggalkan begitu saja di parkiran restoran.
“Sialan! Tidak pernah ada yang berani mempermalukanku seperti itu!” Geram James. "Nadia. Perempuan tidak tahu terima kasih."
“Mr. James. Diminum. Tenangkan diri anda.” Mario datang dengan segelas air.
James meneguknya cepat, setelah itu ia ia lemparkan gelasnya begitu saja.
“Sialan! Nadia. Awas saja.” Rahang James bergertak, kedua tangannya pun mengepal hingga buku-bukunya memutih. Dadanya panas, bergemuruh penuh amarah.
Perempuan tidak tahu diuntung itu. Aku pastikan akan memberikanmu pelajaran! Kau akan habis di tanganku.
“Mario.”
“Ya Mr. James?”
“Pecat perempuan itu!”