Part 4: Prasangka

1199 Words
Siapkan ruang meeting. Pastikan ruangan meeting sudah siap saat aku sampai dan kamu pun harus berada di ruangan meeting. Membuka acara. Jangan menghindariku. Sebuah pesan Nadia terima dari James dua menit lalu. Tingkahmu mempertegas semuanya Nadia. Katakan. Apa yang kau rahasiakan dariku? Dimana dan bagaimana pertemuan kita terjadi? Nadia menghentikan kegiatannya merapihkan meja, saat pikirannya kembali memutar untaian kata yang James ucapkan dalam mimpinya semalam. Ya... mimpi itu kembali hadir, James kembali mengganggu hingga di dalam mimpinya. Nadia memejamkan matanya seraya menarik napas panjang, sebelum menghembuskannya lagi, berusaha keras menepis semua perasaan buruk yang menghinggapinya. Setelah itu ia kembali merapihkan meja dengan cepat, hingga beberapa saat kemudian satu persatu orang penting datang memenuhi ruangan meeting tersebut. Setelah semua kursi penuh, barulah James muncul didampingi oleh Mario di sampingnya. “Selamat pagi Mr. James.” Sapa Nadia seraya membungkuk kecil. Tidak ada tanggapan, lelaki itu hanya memandangnya sesaat sebelum duduk di kursi besarnya. Nadia kembali menghembuskan napas sebelum akhirnya membuka meeting sesuai perintah yang sudah James berikan padanya. Risih, sungguh. Ini bukan pertama kalinya ia berdiri dihadapan banyak orang di tengah meeting seperti ini. Ia sudah sering sekali melakukannya ketika bekerja di kantor pusat. Akan tetapi tatapan James padanya benar-benar membuatnya tidak nyaman, lelaki itu tanpa malu, bahkan dengan sengaja memindai tubuhnya, seolah ingin menelanjanginya dengan tatapan tersebut. Jika bukan di tempat umum, jika bukan sedang dihadapan orang-orang penting, ia pastikan tidak akan membiarkan James melecehkannya seperti ini. Ia pasti tidak akan segan menghunuskan kata-kata tajam pada lelaki itu. Beruntunglah pembukaan berjalan singkat, sehingga ia tidak perlu lama-lama berdiri dihadapan James. Ia kemudian duduk di salah satu sudut ruangan, bersiap untuk menyimak dan merangkum seluruh isi pertemuan. Beruntunglah kali ini James tidak memperhatikannya lagi. Lelaki itu kini menyimak meeting dengan tenang, meski dengan tatapan tajam yang tidak juga berubah. Tunggu, James juga memindai penampilan karyawannya yang sedang melakukan presentasi. Padahal karyawan itu adalah seorang laki-laki, bukan perempuan sepertinya. Apakah ini kebiasaan James? Apakah tadi ia hanya terlalu percaya diri dan terlalu menaruh prasangka buruk pada James? Nadia... Apa yang kamu pikirkan tadi? Kenapa kamu berpikiran buruk pada seseorang yang bahkan belum kamu kenal? Bagaimana pun Mr. James adalah laki-laki berpendidikan. Dia tidak mungkin melakukan hal yang buruk seperti itu kan? pikir Nadia. Benar. Tidak mungkin Mr. James begitu. Astagfirullah... Ini pasti pengaruh buruk dari mimpi itu. Setelah dua jam, meeting akhirnya selesai dengan tenang. Ya... tenang. Nadia merasakan ketenangan itu setelah sadar bahwa James tidak benar-benar telah melecehkannya. Nadia segera bangkit begitu James bangkit dari tempat duduknya. Tanpa menunggu perintah ia berjalan cepat untuk membuka pintu kemudian berjalan ke arah lift dan menekan tombolnya. Setelah itu mereka hanya diam di depan lift, menunggu pintu lift terbuka. "Cantik." Nadia terkesiap mendengar suara bariton itu, "Penampilanmu cukup menarik Miss Nadia." Kepala Nadia berpaling, menatap James yang memberinya tatapan intens diiringi dengan sebuah seringaian tipis. Tenangkan dirimu Nadia, tenang. Jangan terpancing lagi. Profesional saja. Jangan membuat masalah. Batin Nadia lagi. Nadia tersenyum tipis. “Terima kasih atas pujiannya Mr. James. Penampilan anda pun sungguh luar biasa.” “Tidak perlu memuji dan mengagumiku begitu, aku memang selalu terlihat luar biasa.” James kembali menyeringai. “Tapi khusus untukmu, aku akan menerima pujianmu cantik. Sungguh suatu kehormatan dipuji oleh perempuan cantik sepertimu.” Ding! “Silahkan Mr. James, pintu lift-nya sudah terbuka.” Nadia mengabaikan pujian James. James pun melangkah memasuki lift tersebut beriringan dengan Mario. “Kenapa masih berdiri di sana? Masuk.” Nadia tersenyum simpul. “Terima kasih Mr. James. Tapi rasanya tidaklah pantas seorang perempuan berada di dalam sebuah ruangan yang sama dengan laki-laki yang bukan mahram-nya.” “Kita tidak berdua, ada Mario.” “Sekali lagi terima kasih atas ajakan anda Mr. James.” James mendengus seraya menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam. “Masuk. sebelum aku marah.” Nadia bergeming. “Saya akan menggunakan lift lain Mr. James.” Ucap Nadia kemudian menekan tombol agar pintu lift itu segera tertutup. Nadia kembali menghembuskan napas perlahan. Tidak, ia tidak bisa berada di sekitar lelaki yang terlalu sering memandang fisiknya seperti James. Ia tidak mau hal-hal yang selama ini ia hindari terjadi di luar kendalinya, apalagi James sudah sangat berani hampir memegang wajahnya di pertemuan pertama mereka. Tidak, ia tidak ingin hal itu kembali terjadi. *** James mengatupkan rahang seraya mengepalkan kedua tangan. Dadanya memanas, gejolak emosinya mulai meletup-letup. Tidak terima dengan penolakan yang dilakukan perempuan itu. Harga dirinya yang begitu tinggi benar-benar terluka. “Sialan! Perempuan itu, berani-beraninya dia menolakku.” Umpat James setengah menggeram. “Lihat saja nanti, akan kupastikan seluruh harga dirimu itu hancur, dan kamu akan bertekuk lutut di bawah kakiku Nadia.” Rahang James semakin mengatup, dengan d**a yang naik turun, menahan luapan emosi. “Mr. James, maaf sebelumnya tapi anda bahkan tidak pernah menyukai ada orang lain di dalam lift yang sama dengan anda, kecuali saya. Lalu mengapa anda repot-repot mengajak Miss Nadia?” James menarik ujung bibirnya. “Kamu benar Mario. Kenapa aku harus repot-repot mengajak perempuan itu?” Mario pun mengangguk keci. “Jadi saya pikir anda tidak perlu merasa terganggu. Bisa saja Miss Nadia mengetahui kebiasaan anda dan dia tidak ingin anda merasa tidak nyaman karena keberadaannya.” Desisan kencang keluar dari mulut James. “Seharusnya dia tersanjung dengan ajakanku yang tidak sembarangan orang dapatkan ini. Bukan menolak seolah aku memiliki virus yang bisa menularinya.” Mario bergumam pelan. “Mungkin Miss Nadia segan pada anda. Bagaimanapun semua orang tahu bahwa anda adalah laki-laki terhormat yang layak dihormati sekalipun mereka tidak mengatakannya secara langsung. Saya yakin Miss Nadia hanya gengsi untuk mengatakannya dan memilih menghindar seperti itu untuk menghormati privasi anda. Bukankah ucapanku terdengar masuk akal?” James menarik ujung bibirnya. “Kamu benar Mario. Mereka memang harus mengormatiku.” “Benar. Mereka harus seperti itu.” “Tapi tetap saja. Aku kesal.” "Oh ya." James menoleh ke arah Mario. “Tentang permintaanku, kamu sudah menyelesaikannya Mario? Aku ingin informasi tentang perempuan itu sedetail mungkin. Sampai ke akar-akarnya.” “Sudah saya lakukan Mr. James. Saya hanya perlu mengambil beberapa dokumen dari tangan kanan saya sebagai pelengkap.” “Bagus. Serahkan sebelum makan siang.” “Baik Mr. James.” James tidak berhenti memandangi Nadia yang duduk di meja kerja tepat di depan ruangannya. Sejak pertemuan mereka, paras perempuan itu benar-benar mencuri perhatiannya, bahkan bisa di bilang sangat mengganggunya. Parahnya setelah pertemuan pertama mereka, sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan mata hanya karena memikirkan paras perempuan itu. Tidak, bukan hanya karena cantik. Tapi karena ia sangat yakin mereka pernah bertemu sebelumnya. Sayang ingatannya tidak sebagus itu untuk menggali lebih dalam pada masa lalunya. Tok tok! James menghembuskan napas lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu, menatap Mario yang masuk dengan tumpukan berkas di tangannya. “Mr. James, ini laporan yang anda minta.” James dengan segala rasa penasarannya segera membuka dokumen yang Mario berikan. Ia membaca baris demi baris biodata, jurnal dan portofolio milik perempuan itu. Memindainya dengan teliti, membacanya tanpa terlewat satu informasi pun. James menarik ujung bibirnya, terkekeh kecil sesaat sebelum melirik Mario sesaat. “Wow. Kamu yakin ini benar Mario?” Mario mengangguk kecil. “Saya sangat yakin Mr. James. Orangku tidak mungkin salah.” James kembali terkekeh kecil kemudian menyeringai setelah menemukan ide gila dalam pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD