Part 3: Mimpi Buruk

1849 Words
Nadia bergerak gelisah di tengah tidurnya. Kakinya terus bergerak, kedua tangannya mencengkram selimut dengan kepala menggeleng terus-menerus. Keringat dingin bahkan terus bercucuran, mulutnya sesekali terbuka lalu tertutup kembali, megap-megap, dan seolah ingin berbicara namun tertahan. “Menarik, aku yakin sekali kita pernah bertemu Nadia. Tatapan matamu tidak asing.” “Semakin kamu membantah membuatku semakin yakin. Kita pernah bertemu sebelumnya.” “Sekalipun kamu terus berbohong. Sekuat apapun kamu menutupinya, kupastikan aku akan tahu. Kapan dan dimana kita berdua pernah bertemu.” “Aku akan segera mengetahuinya.” Nadia bergerak semakin gelisah, kepalanya menggeleng kecil, napasnya pun semakin tersengal. “Kak! Kak Nanad!” “Kak Nanad bangun.” Seketika kesadaran Nadia tertarik, kedua mata Nadia terbuka lebar dengan tubuh terdiam kaku. “Astagfirullah. Ya Allah.” Nadia mengatur napas, dengan tangan kanan yang menepuk d**a kiri secara perlahan, menenangkan diri. “Minum dulu Kak.” Nadia mengambil segelas air itu, meneguknya sesaat kemudian mengatur napasnya lagi. Setelah lebih tenang Nadia terdiam, ia kembali termenung memikirkan mimpinya yang terasa sangat menakutkan itu. “Kak Nanad kenapa Kak? Hm? Kak Nanad mimpi buruk ya?” Iris mata Nadia bergerak gelisah. Demi apapun. Nadia tidak pernah mempimpikan siapapun seorang lelaki seperti itu. Terlebih mimpi yang membuatnya ketakutan dan sampai terbangun di bawah rasa takut. Tapi mengapa setelah bertemu dengan James, ia mempimpikan lelaki itu? Mr. James, kenapa dia sangat mengganggu? Sungguh, begitu James mengatakan mereka pernah bertemu, ketakutan dalam dirinya perlahan tumbuh. Ia sangat takut ia benar-benar pernah bertemu dengan James di masa lalu, ia takut lelaki itu memiliki suatu keterkaitan dengannya di masa lalu. Meskipun mulanya ia cukup yakin tak pernah bertemu dengan lelaki itu, tapi sungguh ia takut. Ia takut mereka benar-benar pernah bertemu dan ia tidak menyadarinya. Tidak. Tidak mungkin dan jangan. Jangan sampai aku pernah bertemu dengannya di masa lalu. Pikir Nadia. Beberapa saat kemudian Nadia termenung kembali, dengan mengepalkan kedua tangannya, menahan serangan panik yang tiba-tiba datang mendera. Apa benar aku dan dia memang pernah bertemu? Tapi kapan? Apakah...? Kepala Nadia menggeleng kuat, tidak! Tidak mungkin. Ini pertemuan pertama kami, lelaki itu pasti hanya mengada-ada saja. Ya... pasti hanya mengada ada! Hanya mencari perhatian. Itu hanya sebuah modus biasa dari seorang buaya. Pikir Nadia. “Kak Nanad.” Panggil perempuan muda itu lagi, dia Alifa Zahra Farzan, anak dari seorang guru yang membimbingnya ilmu agama. “Kak Nanad kenapa?” Kepala Nadia menggeleng kecil kemudian tersenyum. “Tidak apa-apa Alifa, aku hanya... bermimpi buruk.” Alifa menghembuskan napas seraya mengelus bahunya. “Meludah tiga kali ke kiri Kak, lalu berdo’a.” Nadia mengikuti ucapan Alifa, kemudian mengikuti do’a yang diucapkan perempuan muda itu. “Ayo sekarang kita wudlu, lalu salat malam.” Nadia mengangguk kecil, kemudian keluar dari dalam selimut mengikuti langkah Alifa yang sudah terlebih dahulu berjalan ke kamar mandi kamar kosnya. Beberapa waktu mereka melakukan salat dua rakaat, setelahnya Nadia menengadahkan kedua tangan, mulai berdo’a, memohon ampun, hingga memohon pertolongan, dengan kedua tangan yang kemudian bergetar dan air mata yang menggenang. Ya Allah, sesungguhnya aku hanyalah mahkluk lemah yang tidak memiliki daya dan upaya, maka dari itu hamba memohon ampun, maafkan seluruh dosaku, seluruh dosa orangtuaku dan orang-orang yang kusayangi. Berikanlah kami perlindungan, pertolongan dan selalu iringilah setiap langkah kami agar kami selalu berada di jalan-Mu. “Aamiin.” Hening selama beberapa saat, sampai kemudian Nadia membuka mata lalu duduk berhadapan dengan Alifa yang tersenyum tipis padanya. “Sudah lebih tenang?” tanya perempuan itu. Nadia mengangguk kecil. “Ini pertama kalinya aku melihat Kak Nanad bermimpi buruk. Apa sering seperti ini Kak kalau aku tidak menginap?” “Tidak Fa, ini pertama kalinya aku bermimpi seburuk ini.” Nadia tersenyum tipis. “Mungkin Kakak hanya terlalu lelah saja, karena seminggu ini di tempat kerja baru pekerjaan Kakak sangat banyak.” Alifa mengangguk kecil. “Sebenarnya bisa saja Kak Nad cerita pada Alifa, tapi ada baiknya mimpi buruk tidak boleh diceritakan. Ayo Kak tidur lagi. Masih sempat. Biar aku yang tidur di tempat Kakak, Kak Nanad pindah.” Tidak banyak membantah, Nadia kemudian tidur di tempat Alifa tidur. Nadia mulai memejamkan matanya kembali seraya mengatur napas. Mencoba menetralisir rasa gundah dan khawatir dengan melafalkan nama Sang Pencipta. Sampai ia kemudian kembali terlelap tidur. Keesokan paginya Nadia sudah berdiri tegak kembali seolah mimpi buruk itu tidak pernah terjadi, iris matanya perlahan bergerak menatap bayangan di cermin setelah mematut diri, memoleskan make up tipis di wajahnya itu. I’m fine. Tidak akan terjadi apapun Nadia. Tenanglah, mimpi hanyalah bunga tidur. Pikir Nadia kemudian mengangguk kecil. “Kak Nanad sudah mau pergi ke kantor?” Nadia tersenyum pada Alifa. “Iya Fa, kalau kamu masih mau di sini tidak apa-apa. Santai saja.” “Tidak Kak, Alifa harus kembali ke pondok. Kasihan Umi tidak ada yang bantu, Mas Jamal pasti sibuk.” Alifa menepuk bahu Nadia. “Kak Nanad kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk berbicara dengan Alifa ya kak? Alifa memang tidak banyak membantu, tapi setidaknya Alifa bisa menjadi pendengar yang baik.” Nadia kembali tersenyum simpul. “Terima kasih Alifa.” “Oh ya, atau Kak Nanad berkunjung ke pondok. Umi sudah sangat merindukan Kak Nanad. Umi juga berpesan jangan lupa ikut kajian di pondok. Dua minggu belakangan ini Kak Nanad tidak ke pondok.” “Akhir-akhir ini Kakak sibuk. Seperti yang kamu tahu Fa, Kakak pindah kantor jadi harus membereskan beberapa hal.” Nadia menghembuskan napas. “Tapi Kakak tahu seharusnya itu tidak jadi alasan. Insya Allah minggu ini Kakak datang ya.” Alifa mengangguk kecil. “Kalau begitu Alifa pulang sekarang ya Kak. Jangan lupa makanannya dihabiskan.” “Tentang mimpi semalam, jangan dipikirkan Kak. Jangan biarkan mimpi buruk menguasai Kakak dan membuat perasaan Kakak semakin buruk.” Senyuman tipis terukir di wajah cantik Nadia, lega sekaligus bahagia dengan ungkapan penuh perhatian itu. “Terima kasih Alifa. Maaf ya Kakak tidak bisa mengantar. Hati-hati di jalan.” Setelah mengucapkan salam perempuan muda itu pun beranjak meninggalkan kamar kosannya. Sementara Nadia kembali bercermin, menatap bayangannya sendiri. Benar, aku tidak boleh terpengaruh. Pikir Nadia Akan tetapi keyakinan dalam hatinya seketika runtuh ketika dirinya berada di dalam ruangan lelaki bernama James itu. Ya... memang, lelaki itu belum menunjukkan batang hidungnya. Namun ketika melihat tempat duduknya saja, bulu kuduknya seketika meremang. Mimpi buruk yang ia alami pun seketika kembali dalam benaknya. Mimpi itu, mimpi buruk yang terasa seperti nyata. Sekuat apapun kamu menutupinya, kupastikan aku akan tahu. Kapan dan dimana kita berdua pernah bertemu. Tubuh Nadia terkesiap ketika bayangan James dalam mimpinya muncul. Seketika Nadia meletakkan makanan di atas nampan yang ia bawa ke atas meja dengan cepat, setelah itu ia mengambil beberapa dokumen di atas mejanya lalu diletakkanlah dokumen-dokumen tersebut di atas meja James. Kemudian ia beranjak dengan langkah lebar menuju lift seraya mengotak-atik ponselnya. Aku harus menghindari Mr. James. Aku harus menghindarinya. Tekad Nadia. Aku tidak bisa melihatnya dalam keadaan waswas seperti ini, yang ada dia akan semakin curiga. Beruntunglah, pintu lift itu tertutup ketika James keluar dari dalam lift lain. Nadia menghela napas panjang, lega. Ya... lega. Setidaknya untuk hari ini ia bisa menghindari James dan semua tingkah ajaibnya. Seperti yang ia harapkan. Senyuman Nadia terbentuk karena perasaan lega itu, dengan suka cita ia membaca sebuah dokumen di dalam tablet PC-nya dan sesekali menyapa para karyawan yang berada di lift yang sama dengannya. Sampai beberapa menit ia merasa begitu tenang, sebelum sebuah panggilan dari Mario ia terima. “Assalamu’alaikum. Hallo Mr. Mario.” “Ini saya.” Suara bariton yang sangat ia kenal terdengar di ujung panggilan, suara bariton yang muncul di mimpi buruknya—suara James. Saat ucapan lelaki itu dilanjut, kedua mata Nadia membola. Tubuhnya seketika kaku di tempat. Napas Nadia tercekat, dinginnya James menusuk sampai ke ulu hatinya. *** James dan Mario berjalan beriringan menuju ruangan pribadi James. Langkah keduanya begitu lebar, bahkan hingga ketukan sepatunya saja terdengar begitu mengintimidasi. “Pukul 9 kita akan melakukan cek ke pabrik, pukul 11 anda mendapatkan undangan makan siang dari CEO Perkasa Group. Kemudian pukul 5 sore Mr. Rajaswa mengundang anda untuk makan bersama di rumah utama.” Langkah kaki James terhenti tepat di depan meja kerja Nadia. Napasnya berhembus sesaat kemudian menoleh ke arah Mario. “Kemana perempuan ini?” “Oh ya, Miss Nadia mengatakan hari ini akan memantau langsung beberapa divisi yang bermasalah. Hari ini Miss Nadia akan melakukan monitoring dan audit yang sudah dijadwalkan sejak dua hari lalu, hal itu harus segera dilakukan sebab menurutnya ada beberapa kejanggalan yang harus segera diselesaikan.” “Kemudian untuk laporan-laporan yang anda minta, Miss Nadia mengatakan sudah meletakkannya di atas meja, berikut dengan kopi dan kudapan lainnya.” James menaikkan satu alisnya kemudian terkekeh kecil. “Kenapa aku merasa dia sedang menghindariku?” “Maaf?” James hanya menarik ujung bibirnya sesaat sebelum menatap Mario lagi. “Hubungi perempuan itu.” Mario patuh, lelaki itu segera menghubungi Nadia. Namun ketika salam terdengar James segera merebut benda pipih tersebut. “Ini saya, hubungi saya secara langsung untuk mengonfirmasi apapun tentang pekerjaan, tidak melalui Mario atau siapapun kecuali saya sedang dalam kesibukan lain. Kamu harus ingat, saya tidak suka kopi dingin, saya juga tidak suka makanan yang sudah keluar dari kemasannya lebih dari satu menit. Kamu harus menyiapkan semua makanan dan minuman saya tepat ketika saya datang ke kantor. Selain itu saya tidak suka kamu meletakkan begitu saja dokumen penting di atas meja tanpa pengawasan. Terakhir, saya tidak suka meja sekretaris kosong ketika saya sampai. Mengerti?!” Helaan napas pelan terdengar, beberapa saat Nadia tidak langsung menjawab. "Mengerti Miss Nadia?! Jangan sampai saya harus mengatakannya dua kali!" "Mengerti Mr. James." James kemudian mendesis. “Jangan pernah berpikir kamu bisa menghindariku Nadia. Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya.” lanjut James sebelum memutus sambungan telepon tersebut, tanpa repot menunggu respons perempuan itu. Dengusan keluar dari hidung James begitu ia duduk di bangku kerjanya. “Dia pikir, dia bisa menghindariku seperti ini?” gumam James seraya menyeringai. “Mr. James, biasanya anda sangat muak dengan sekretaris perempuan dan anda justru tidak suka berinteraksi dengan sekretaris anda secara langsung.” “Benarkah?” James menarik ujung bibirnya. “Mungkin... karena perempuan itu berbeda?” James terkekeh, ia hanya merasa terhibur dengan tingkah perempuan itu. “Oh ya Mario.” James menegakkan posisi duduknya, menghadap Mario. “Ya Mr. James?” “Kamu sudah bekerja berapa tahun denganku?” Kening Mario mengerut sesaat, heran dengan pertanyaan bosnya itu. “Hampir sepuluh tahun Mr. James. Apakah ada sesuatu?” James menatap lekat pada Mario. “Kita pernah bertemu dengan perempuan itu di suatu tempat kan?” “Miss Nadia?” James mengangguk kecil. “Saya tidak yakin Mr. James. Tapi memang sejak saya melihatnya, saya merasa wajah Miss Nadia terasa cukup familiar. Seperti bukan pertama kalinya saya bertemu dengan Miss Nadia.” Gothca! Benar bukan? Ini bukan hanya perasaannya saja. Mereka memang pernah bertemu. Sebab kalau hanya perasaannya saja, Mario tidak mungkin memikirkan hal yang sama dengan yang ia pikirkan saat ini. James menarik ujung bibirnya, tersenyum seperti iblis. “Mario.” “Ya… Mr. James.” “Selidiki seluk-beluk kehidupan perempuan itu.” Kamu tidak akan pernah bisa menghindariku Nadia. Aku akan segera ingat dan temukan rahasiamu!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD