Suasana penyambutan di lobi perusahaan itu terasa mencekam. Aura gelap, dan hawa dingin bahkan masih terasa kental menguar dari sang pemimpin perusahaan.
James masih berdiri berhadapan dengan seorang karyawan perempuan yang datang terlambat. Lelaki itu benar-benar tanpa rasa belas kasih sama sekali. Dia bahkan tidak tampak iba melihat tubuh bergetar dan air mata yang mengalir dari karyawan yang terlambat itu. James justru semakin menatapnya lekat, semakin menghunuskan tatapan tajamnya.
“Saya rasa saya sudah memberikan intruksi dengan jelas, saya sudah mengatakan bahwa saya tidak menyukai pegawai yang datang terlambat. Apapun alasannya.”
“Apakah instruksi saya belum kau terima? Atau kau ini buta dan tuli sampai tidak mengindahkan semua yang saya instruksikan?”
“Ah! Atau kau sengaja ingin mencari perhatian saya?” James menyeringai, lalu mendekat ke arah karyawan perempuan itu dengan kedua tangan di kantung celana. Memindai penampilan perempuan itu menilai dengan tatapan mencemooh.
“Tidak tahu diri, memang kau pikir kau ini siapa? Sadar dirilah, kau bahkan tidak cantik, penampilanmu tidak menarik. Kau juga hanya pegawai rendahan. Tidak akan pernah pantas bahkan hanya untuk bermimpi bersanding dengan saya yang memiliki segalanya ini.”
Oh! Selain congkak dan pongah, ternyata dia juga gemar membanggakan diri sendiri. Lengkap sudah seluruh sifat buruk pemimpin barunya.
Nadia mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar kalimat tajam itu. Sebagai perempuan, hatinya benar-benar sakit. Ia tidak terima karyawan itu diperlakukan demikian. Nadia menghembuskan napas perlahan kemudian memasang senyum kembali lalu berjalan mendekat ke arah James. Tanpa sadar ketegangan di lobi utama perusahaan semakin meningkat tajam.
“Mr. James. Selamat datang. Perkanalkan saya Nadia, sekretaris utama anda.”
“Saya tidak pernah mengijinkan siapapun menginterupsi ucapan saya.”
Nadia mempertahankan senyumannya, berusaha menebalkan kesabaran untuk menghadapi lelaki itu. “Perkataan anda sebelumnya benar Mr. James, jabatan karyawan tersebut sangat rendah, sehingga menurut saya jabatan anda terlalu tinggi untuk mengurusi hal kecil seperti ini. Biarkan saya sebagai sekretaris anda yang akan mendisiplinkannya secara langsung.”
“Pecat dia.”
Beberapa orang memekik tertahan, terutama karyawan perempuan itu. Sudah ia duga, James akan sekejam ini, seharusnya mereka semua mendengarkannya dan tidak membuat ulah. Sebab jika sudah kejadian seperti ini, siapa yang akan di rugikan? Mereka sendiri bukan?
Nadia melirik karyawan perempuan itu sesaat sebelum menatap James kembali dengan senyuman tipis. “Saya akan melakukan yang terbaik untuk anda.” Ujar Nadia lalu melangkah mundur lalu merentangkan tangan kanan. “Silahkan Mr. James. Saya antar keruangan anda terlebih dahulu.”
“Tidak. Tunggu. Dengar! Dengar juga untuk kalian semua. Kalau memang kalian tidak bisa mengikuti cara kerja saya, silahkan ajukan surat pengunduran kalian hari ini juga. Saya tidak membutuhkan karyawan yang tidak kompeten.”
James mendengus kecil sebelum beranjak meninggalkan area lobi dengan masih memberikan tatapan tajam. Nadia menghembuskan napas pelan, lalu menatap karyawan perempuan itu yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kembalilah ke ruanganmu.” Ujar Nadia lalu mengalihkan pada semua orang. “Kalian juga, pelajari kembali do and don’t yang sudah saya berikan untuk kalian semua.” Lanjutnya sebelum melebarkan langkah mengejar langkah James dengan asisten pribadinya yang sudah meninggalkan lobi kantor.
Semua orang yang berada di lobi menghembuskan napas pelan. “Pantas Bu Nadia sangat tegas. Ternyata ketegasan Bu Nadia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tegasnya Mr. James.”
“Aku menyesal kemarin mengumpatinya secara diam-diam. Padahal Bu Nadia melakukan itu juga bermaksud baik demi kita semua.”
“Kalian benar. Kemarin tidak seharusnya kita menggunjingnya seperti itu.”
“Hei kalian! Kembali ke ruangan kalian sekarang.” Tegur salah satu karyawan lain.
“Baik Bu.”
***
“Aku tidak menyangka masih ada yang berani terlambat.” Gumam James begitu memasuki lift. “Bukankah aku sudah menyampaikan padamu hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan di bawah kepemimpinanku?”
Luthfian Mario Handoyo—Mario, asisten James. Lelaki itu mengangguk kecil. “Sekretaris anda, Miss Nadia juga sudah mengumumkannya secara langsung dan menyeluruh. Bahkan Miss Nadia mengumumkannya sendiri tanpa perantara orang lain. Namun sepertinya dibanding mendengarkan perintah Miss Nadia, mereka lebih banyak yang mencibir dan tidak mendengarkan perintahnya. Dari yang kudengar, kebanyakan karyawan di sini memang sulit di atur. Entah karena pemimpin sebelumnya terlalu santai atau bagaimana. Tapi banyak dari mereka justru menganggap aturan yang disampaikan Miss Nadia hanya bualan dan angin lalu semata. Saya menduga hal ini terjadi karena Miss Nadia juga baru di sini, sebab melihat track record-nya di perusahaan pusat, pekerjaan Miss Nadia selalu rapih, bahkan dinilai menjadi pekerja terbaik. Selain itu di pusat, tidak pernah ada karyawan yang berlaku buruk padanya.”
"Ini artinya aku harus benar-benar membasmi orang-orang yang tidak kompeten. Aku tidak membutuhkan orang-orang yang tidak mendengarkan perintahku."
"Apa yang harus saya lakukan Mr. James?"
James menghembuskan napas. “Perlihatkan CCTV di semua pintu masuk perusahaan.”
Mario mengulurkan sebuah tablet PC di tangannya pada James. Membiarkan James melihat sendiri beberapa orang yang terlambat dan secara sembunyi-sembunyi datang melalui pintu belakang.
“Ternyata tidak hanya satu orang?” James menoleh pada Mario lalu memberikan tablet PC itu kembali.
James mendengus kecil. “Pantas saja Papa memintaku untuk pulang dan mengurus perusahaan di sini. Ternyata benar-benar buruk.”
“Tidak hanya itu Mr. James. Perusahaan ini bahkan tidak memiliki kemajuan yang signifikan. Penghasilan pertahun saja hampir tidak mengalami peningkatan.”
“Sepertinya aku harus bekerja keras.” Ujar James.
Mario mengangguk kecil lalu mempersilahkan James keluar dari lift lebih dulu. Keduanya kembali berbicara tanpa menghentikan langkah menuju ruang kerja.
“Oh ya Mario. Segera rilis aturan terbaru yang lebih ketat lagi. Aku harus memberi mereka pelajaran, selanjutnya untuk mengatasi titip absen, mulai sekarang ubah absensi mereka dengan scan iris mata. Sepertinya di sini dengan tanda pegawai saja tidak akan cukup.”
“Miss Nadia sudah mengusulkannya dan sekarang semuanya sedang dalam proses.”
James menoleh dengan cepat ke arah Mario. “Nadia?”
Mario mengangguk kecil. kemudian memberikan kembali tablet PC di tangannya, menunjukan biodata dan resume seluruh prestasi yang perempuan itu berikan untuk perusahaan.
Kening James mendadak berkerut sesaat sebelum menoleh pada Mario. Ia pun kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dengan jari lain yang terus menggulir layar benda pipih di tangannya.
“Papa sengaja mengirimnya?”
“Benar Mr. James. Mr. Rajaswa sengaja melepas Miss Nadia dari pusat untuk mendampingi anda di sini sebagai Sekretaris utama. Hal itu dilakukan Mr. Rajaswa karena Mr. Rajaswa menganggap Miss Nadia mampu mendampingi anda mengubah sekaligus mengembangkan perusahaan.”
“Masuk akal. Masa kerjanya juga cukup lama.”
“Tapi kenapa aku tidak mengenalnya sama sekali?” lanjut James setengah bergumam pelan.
“Pertama karena anda jarang pulang ke Indonesia, kedua anda jarang ikut serta di setiap pesta yang diadakan perusahaan, ketiga karena pekerjaan Miss Nadia dengan anda tidak bersinggungan sama sekali.”
James menghembuskan napas. “Panggil dia sekarang. Aku penasaran pada sesuatu.”
Kening Mario bertautan. “Maaf Mr. James? Penasaran?”
“Ikuti saja perintahku.”
“Ah ya, maafkan saya Mr. James. Akan segera saya panggilkan.”
Sepeninggal Mario, James kembali membaca biodata dan portofolio milik sekretaris barunya itu. Sampai iris matanya kemudian berhenti tepat di potret Nadia yang terpasang di profil tersebut. Ia memiringkan wajah, kembali memandang potret itu lamat dengan kening yang bertautan.
Kenapa ia merasa tidak asing dengan wajah itu?
***
Nadia berjalan ke kanan dan ke kiri di depan meja kerjanya. Kedua tangannya pun bertaut, gugup, sekaligus bingung. Apalagi setelah tanpa sengaja mendengar percakapan James dengan Mario yang akan memperketat aturan. Ia tahu seharusnya ia segera menghadap James untuk meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi. Tapi menurut Jatmiko, James tidak menyukai seseorang yang meminta maaf untuk kesalahan orang lain.
Apa yang harus kulakukan sekarang. Berpikir Nadia. Cepat pikirkan sesuatu. Batin Nadia.
“Miss Nadia.”
“Ya?” dengan cepat Nadia berbalik kemudian sedikit membungkuk. “Mr. Mario.”
“Mr. James memanggilmu.”
Nadia mengangguk kaku, kemudian membasahi bibirnya sesaat sebelum mengekori Mario. Apa yang akan lelaki itu lakukan? Kenapa perasaannya mendadak buruk?
“Mr. James. Saya datang bersama Miss Nadia.”
Kedua kalinya iris mata mereka bertemu. Nadia terdiam di tempat, begitu juga dengan James. Lelaki itu tampak mengamatinya beberapa waktu sebelum kemudian mengalihkan pandangan pada Mario.
“Mario, urus karyawan yang terlambat hari ini. Pastikan tidak ada yang lolos.”
“Mr. James maaf menyela.” Ujar Nadia cepat. “Tapi apa tidak sebaiknya saya yang melakukannya? Saya diberi tugas secara langsung oleh Pak Jatmiko untuk melakukan hal tersebut.”
James mendelik, menatap pada Nadia. “Kamu pikir saya akan percaya pada pekerjaan orang baru sepertimu?”
“Maaf Mr. James.” Setelah itu Nadia mengatupkan bibir, lalu menghembuskan napas lagi. Seharusnya ia tidak perlu banyak berbicara. Tempramen lelaki itu benar-benar buruk.
“Lakukan sekarang Mario, katakan pada mereka aku tidak akan pernah segan memecat siapapun yang melanggar aturanku.”
“Baik Mr. James. Laksanakan. Kalau begitu saya permisi.” Ujar Mario kemudian beranjak tanpa bantahan lagi.
“Dan kamu.”
“Ya, Mr. James?”
James tidak langsung menjawab, lelaki itu menatapnya lagi dengan lamat selama beberapa saat sebelum kemudian bangkit lalu berjalan ke arahnya.
Alarm tanda bahaya dalam kepala Nadia berbunyi. Tanpa sadar ia mundur dan meneguk ludah kasar ketika tatapan mereka tidak juga terputus.
“Kita pernah bertemu.”
Nadia terkesiap, ia menahan napas. “Tidak.”
“Aku tidak sedang bertanya, itu adalah pernyataan. Kita pernah bertemu.”
Nadia kembali meneguk ludah kasar, keringat dingin pun perlahan mulai bercucuran. Ia begitu panik, ketakutan. Tidak, jangan sampai mereka benar-benar pernah bertemu di masa lalu. Tidak. Hembusan napas pelan keluar dari hidung Nadia. Sebelum kemudian membalas ucapan James.
“Pertemuan terjadi ketika dua belah pihak saling berhadapan dan berinteraksi. Jika anda mengatakan kita pernah bertemu itu berarti ada sangkut pautnya dengan saya, namun karena saya merasa kita tidak pernah bertemu dengan anda, maka sangat wajar bukan ketika saya mengatakan tidak? Meskipun anda tidak bertanya, namun sangatlah wajar saya berusaha memberitahu anda bukan?” ucap Nadia dengan tenang, diakhiri senyuman tipis.
Senyuman Nadia tersungging. “Sebelumnya kita tidak pernah bertemu sama sekali Mr. James. Ini adalah pertemuan pertama kita.”
James menyeringai kemudian berjalan mendekat lalu menundukan kepala begitu mereka berhadapan. Nadia memalingkan wajah saat tangan James terangkat hendak memegang wajahnya.
“Jangan kurang ajar Mr. James. Kita bukan mahram.”
Lelaki itu menyeringai kembali, kemudian mundur satu langkah. Lalu memindai penampilannya kembali dengan tatapan menelisik, tampak seperti akan menelanjanginya.
“Tapi reaksimu berkata lain, Nadia. Aku yakin, kita pernah bertemu.”