Silvia tidak tahu sudah berapa jam dia tertidur. Dia hanya tahu saat terbangun kepalanya terasa berat. Perlahan dia mencoba mengangkat tubuhnya, yang begitu terasa ringan agar bisa duduk. Setelah berhasil duduk, ia terdiam beberapa saat. Menarik napas tidak terlalu dalam, khawatir sakit kepalanya masih bertahan. Perutnya ikut terasa nyeri, antara nyeri karena lapar dan nyeri di bawah perut yang cukup lama tak pernah mampir beberapa bulan ini. Dia menarik napas, mengembuskan secara perlahan. Begitu beberapa kali hingga nyeri di perutnya berangsur pulih. Perlahan dia mencoba bangkit untuk meraih air minum di atas meja rias dan obat pereda rasa nyeri yang cukup lama tidak pernah ia konsumsi lagi. Saat berdiri cairan hangat dan agak kental terasa mengalir dari pusat tubuhnya. Haaah...Datang

